
Mereka semua kini sedang berkumpul di meja makan, menikmati sarapan seadanya yang sudah disiapkan oleh para pelayan yang bekerja di markas.
"Kau tidak makan?" tanya Davira menatap Rolan yang tidak kunjung duduk bergabung bersama mereka.
Pria itu malah sibuk menyesap rokoknya dan hanya memperhatikan mereka yang tengah menyantap makanan.
"Aku tidak lapar, kalian makanlah. Aku akan bekerja," Rolan pergi begitu saja meninggalkan ruang makan.
"Tidak tidak diracun kan?" bisik Dex merasa was-was.
"Berdoa saja agar tubuh kita kebal racun," sahut Mario kemudian tertawa.
"Apakah Jonathan sudah sadarkan diri?" tanya Luca yang sedari tadi hanya diam, pada akhirnya pria itu membuka mulutnya.
Davira menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu, aku belum memeriksanya."
"Ku harap dia akan segera bangun, aku tidak betah berada di sini," ucap Fedrix yang memang benar-benar jengah tinggal di markas orang lain.
Mario terkekeh, "Tidak betah? Ku pikir kau akan betah karena kau bisa melihat adegan dari film por*no secara langsung, tanpa sensor dan tanpa editan," kelakarnya kemudian tertawa.
"Fedrix hanya malu mengakuinya," ucap Dex menambahkan.
Luca geleng-geleng kepala mendengarnya, ia segera menyenggol pelan tangan Davira saat melihat seorang dokter pria yang berjalan ke arah mereka.
"Itu dokter Yasha," bisik Luca membuat Davira mengangkat kepalanya.
"Nona Davira, Tuan Xie sudah sadarkan diri. Tuan meminta anda untuk menemuinya, Nona bisa menyelesaikan sarapan terlebih dahulu."
Davira segera minum kemudian beranjak dari duduknya.
"Aku sudah selesai," ucap Davira lalu menatap teman-temannya.
"Aku akan menemui Nathan, habiskan makan kalian."
Davira buru-buru melangkahkan kakinya menuju ke kamar yang ditempati oleh Nathan, dokter Yasha masih mengekor di belakangnya.
Tanpa mengetuk, Davira langsung masuk ke dalam dan mendapati Nathan yang tengah duduk bersandar di atas ranjangnya. Di sebelahnya terlihat Paul yang tampaknya sibuk berbicara dengan seseorang di telepon.
Melihat kedatangan Davira membuat Paul segera beranjak pergi, tidak lupa Paul meminta Yasha untuk meninggalkan Davira dan Nathan berdua di dalam kamar agar keduanya bisa berbicara dengan bebas.
Netra Davira kini bertemu dengan netra milik Nathan, pandangan pria itu terkesan dingin, namun senyuman tipis terlihat di wajahnya yang tampan.
Davira tidak memperlihatkan ekspresi apapun, dia hanya menatap Nathan datar dengan kaki yang melangkah untuk mendekat.
"Kau tidak meninggalkanku," ucap Nathan sembari tersenyum tipis.
__ADS_1
Davira menarik kursi di dekatnya untuk ia duduki, ia mencoba untuk mengontrol perasaannya yang langsung berubah menjadi tidak karuan.
"Aku memerlukan bukti yang ada padamu, aku ingin tahu kebenarannya. Aku tidak bisa hidup dengan tenang jika aku masih belum mengetahui secara pasti siapa dalang di balik pembantaian keluargaku."
"Jadi kau akan mempercayaiku?
Davira melayangkan tatapan yang begitu dingin, tatapan yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Tergantung bukti yang akan kau tunjukan, aku tidak bisa mempercayaimu sepenuhnya. Jika kau menipuku, maka akan ku pastikan bahwa kau tidak akan pernah melihat diriku lagi. Dan aku akan sangat marah karena kau sudah mencoba untuk membuat nama Damian buruk di hadapanku."
Nathan hanya terkekeh kecil, namun hanya sebentar, karena kini wajahnya langsung berubah menjadi begitu serius.
"Kita akan ke Republik Dominika hari ini juga, kau ingin melihat bukti itu bukan?"
Davira mengernyit tidak setuju, "Kau gila? Kau baru saja sadarkan diri, sebaiknya sembuhkan dirimu terlebih dahulu baru bawa aku melihat bukti itu."
"Tapi kau menginginkan bukti itu secepatnya, aku tahu kau memang tidak mempercayaiku. Tapi aku senang karena setidaknya kau menungguku hingga aku sadarkan diri untuk melihat bukti itu, karena itu artinya kau sedang berusaha untuk mempercayaiku."
"Aku memang menginginkan bukti itu secepat mungkin, maka dari itu besok pagi mungkin kita sudah harus berangkat. Kau atur saja bagaimana caranya, tapi untuk hari ini ku sarankan agar kau istirahat. Ini bukan bentuk perhatian, jadi jangan salah paham."
Nathan hanya tersenyum kecil mendengarnya, Davira kembali lagi seperti dulu. Dingin dan dipenuhi dengan amarah, sekarang Nathan hanya berharap agar Davira akan mempercayainya dan berhenti membencinya setelah melihat semua bukti yang sudah ia cari dengan susah payah selama berbulan-bulan sejak pembantaian keluarga Handoko.
Sedangkan di meja makan, kini Jakob hanya diam sembari meneguk birnya sembari sesekali menyesap rokoknya. Dia bahkan tidak menghabiskan sarapannya.
"Bagaimana jika yang dikatakan oleh Jonathan benar-benar kebenaran?"
Luca mendengus kasar, "Tapi Davira akan meninggalkan kita, dia akan kembali bersama Jonathan."
"Ku rasa itu bukan masalah, kita terbiasa melakukan pekerjaan kita berlima sebelum Davira datang. Jadi aku merasa tidak keberatan dengan keputusannya," ucap Dex membuat wajah Luca semakin terlihat kusut.
"Davira memiliki perasaan kepada Jonathan, kembali kepada Jonathan adalah keputusan yang akan membuat Davira bahagia, dan aku menghargai keputusannya," Liam segera berdiri karena makanan di piringnya sudah habis.
"Bagaimana denganmu, Tuan? Apakah kau akan melepaskan Davira begitu saja? Aku merasa bahwa Jonathan bukanlah pria yang baik sekalipun dia telah membunuh Damian untuk Davira."
Jonathan menghembuskan asap rokoknya secara perlahan lalu menatap Luca dan juga yang lainnya.
"Lalu kau pikir kita ini adalah pria yang baik? Kita semua berada di dalam lingkungan yang sama, bersama siapapun Davira, sama saja. Tidak ada yang baik untuknya, dan jika Davira ingin pria yang baik, maka dia harus keluar dari lingkungan seperti ini terlebih dahulu. Sedangkan hal itu tidak mungkin terjadi bukan? Jadi biarkan saja dia memilih, tugas kita sebagai teman hanya membantunya."
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan high heels membuat semua yang berada di sana sontak menoleh untuk melihat ke arah asal suara.
"Siapa wanita itu?" tanya Liam yang masih berdiri di tempatnya.
"Siapapun wanita itu, dia cantik. Wajahnya terlihat seperti polos tetap licik," Mario tertawa dengan mata yang tidak lepas dari sosok wanita berparas cantik yang tidak lain adalah Emma.
Emma mengernyit melihat mereka semua, ia sontak menatap Rolan untuk meminta penjelasan.
__ADS_1
"Mereka adalah teman-teman Tuan Xie, mereka datang bersama dengan Paul dan mereka semua sama-sama terluka," ucap Rolan menjelaskan.
"Bagaimana bisa Jakob dan Nathan bekerjasama untuk melawan Aaron?" batinnya merasa kesal.
Emma cukup kebingungan, ia hanya menatap Jakob sekilas kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari-cari seorang wanita yang ia harap tidak ada di sana.
"Apa yang Nona cari?" tanya Lydia, seorang pengawal pribadi yang mulai sekarang akan terus mendampinginya.
Emma tidak menjawabnya, ia malah kembali beralih menatap Rolan.
"Apakan seorang wanita juga ikut bersama mereka?"
"Yang Nona maksud adalah kekasih Tuan Xie yang bernama Davira?"
Mendengar hal itu membuat emosi Emma tentu saja langsung tersulut.
"Dia bukan kekasih Nathan!" bentak Emma membuat yang memperhatikan terperanjat kaget.
"Sudah ku duga dia tidak sepolos wajahnya," bisik Mario kepada Dex.
"Siapa dia itu? Aku merasa penasaran."
"Aku tidak mengenalnya, tapi aku tahu dia adalah putri tunggal Tuan Scott," sahut Jakob dengan santai.
"Apa yang dia lakukan di sini? Apakah dia memiliki hubungan dengan Jonathan?"
"Sepertinya begitu."
"Antar aku ke kamar Nathan, dan jangan sekali-sekali kau menyebut Davira sebagai kekasih Nathan lagi!"
Rolan berdecak, "Tapi Paul yang mengatakannya kepada saya, Nona."
"Aku tidak peduli!"
Rolan hanya bisa menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya terlebih dahulu untuk menuntun Emma menuju ke kamar Nathan.
Wajah jijik Emma saat melewati beberapa ruangan tidak dapat disembunyikan, beberapa kali ia menggerutu, merasa sangat tidak nyaman dengan suara yang ia dengar.
"Ini kamarnya?" tanya Emma saat Rolan berhenti di depan pintu yang tampak sedikit berdebu.
"Iya, Nona."
"Kau membiarkan Nathan tidur di kamar yang tidak layak," gumam Emma merasa tidak suka.
"Ingin bagaimana lagi? Jika ingin protes, jangan kepada saya. Ini adalah kamar paling bagus di markas ini."
__ADS_1
Emma memutar bola matanya kemudian membuka pintu kamar itu, matanya langsung melihat ke arah Nathan dan juga Davira yang duduk di sebelah ranjang.
"Kenapa pembunuh nenek Gayatri ada di sini, Nathan?"