Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Bos Cantik


__ADS_3

Geng Naga Biru yang dibicarakan Sunakim sebenarnya adalah Gang yang sudah sangat lama dari dulu. Belakangan karena gang ini terlalu misterius, gang ini menjadi lebih tersembunyi bersama sejarah yang panjang, sampai sekarang jumlahnya tidak diketahui. Tapi Ketua Gereja yang berada di Gereja kota Intan ini malah adalah orang yang sangat terkenal, dia bernama Lalita Lovata. Salah satu dari sedikit bos wanita yang hebat, nama gerejanya bernama Gereja Desember, bertugas untuk melakukan pembunuhan.


Dia menggunakan satu tangannya yang tersisa untuk menelepon, ketika pihak sana mengangkat teleponnya, Sunakim langsung menangis dan berkata, “Kak Lalita, aku Sunakim dari klub Malam Tari! Aku dan teman-teman terkena masalah di sebuah salon, kami dihajar oleh seorang satpam. Banyak teman-teman kita yang menjadi cacat, aku juga kehilangan satu tangan, dadaku juga ditusuk!”


Toro mengerutkan kening karena suara yang terdengar begitu tragis, dia mendengus dan berkata, “Turunkan suaramu, apa kau masih menginginkan lidahmu?”


Sunakim langsung menunduk dan menurunkan suaranya, dia berkata, “Kak Lalita, bukan aku yang ingin merepotkanmu. Tapi orang di hadapanku ini bilang ingin bertemu denganmu. Kalau anda tidak datang, satu jam lagi dia akan menghancurkan kami, tolong selamatkan kami!” Permohonannya terdengar begitu kasihan.


“Oh! Oh!” Sunakim mengangguk, kemudian memberikan ponselnya ke arah Toro, dia berkata, “Kakak, Kak Lalita kami ingin berbicara denganmu!”


“Aku tidak ingin menghabiskan waktuku, cepat suruh dia datang!” Kata Toro sambil menyalakan sebatang rokok.


“Bocah, kamu akan menyesal jika tidak menjawabnya!” Dari ponselnya terdengar suara wanita yang lantang.


“Kakak, mohon anda jawab!” Kata Sunakim memohon kepada Toro.


Toro paling tidak suka dengan orang lemah, apalagi bos mereka adalah seorang wanita. Melihat sekumpulan orang lemah ini, dia mengaitkan dengan jari kaki dan ponsel langsung sampai ke tangannya, “Ini aku, ada apa?”


Suara lawan bicaranya terdengar tulus, dan juga dari jarak ini terdengar lantang, “Kamu yang melukai orangku?”

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya Toro dengan dengusan dingin.


Wanita itu melanjutkan, “Bagaimana kamu ingin menyelesaikan masalah ini?”


“Itu semua tergantung padamu. Kamu masih punya 48 menit, kalau kamu datang, ada cara untuk menyelesaikannya, kalau kamu tidak datang, ada cara lain juga!” Kata Toro yang tidak mau basa-basi lagi, dan langsung menutup teleponnya.


Toro berdiri dan melihat ke semua orang, dia berkata, “Semuanya diam di tempat, kalau sampai ada yang bergerak, maka……” Dia menggunakan tangannya untuk mematahkan sandaran tangan kayu dari sofa kulit itu, lalu melanjutkan, “Berdoalah untuk diri kalian sendiri!”


Kembali ke ruangannya, dia melihat Kirania sedang memegang ponsel dan berjalan mondar mandir, Toro lalu berkata, “Suruh pelanggan pergi semua, kalian juga pergi. Bila tidak ada telepon dariku, jangan kembali!”


Kirania menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku dengar bos mereka mau datang, lebih baik kita lapor polisi saja!”


Kirania tidak pernah diteriaki seperti ini, dia langsung marah, “Ini adalah salonku, kenapa aku harus pergi. Bagaimana aku menjadi bos kalau disuruh-suruh seperti ini!”


“Aku beri waktu 3 detik, kalau kamu tidak pergi, aku yang pergi. Apapun yang terjadi, aku tidak akan peduli!” Kata Toro tanpa ekspresi.


“Kamu…… dasar preman berengsek!” Kirania tidak pernah dimarahi dari kecil sampai sekarang bahkan oleh ayahnya sekalipun. Wajahnya menjadi pucat, air mata berputar di dalam matanya, dia mengambil tas dan kunci mobilnya, kemudian berkata kepada Felysia, “Beritahu semua pelanggan, malam ini kita akan tutup lebih awal. Besok kita akan datang mengambil mayatnya kalau dia mati!”


“Kamu berhati-hatilah!” Kata Felysia kepada Toro, kemudian mengikuti Kirania pergi.

__ADS_1


Toro merasa lega melihat Kirania dan Felysia pergi dari salon bersama pelanggannya. sekarang dia hanya perlu menunggu lawannya datang dan menyelesaikan masalah ini.


Setengah jam kemudian, pintu salon terbuka. Dua orang pria yang memakai jas biru tua berjalan di depan dan berdiri di samping pintu, kemudian diikuti oleh 6 orang yang berpakaian sama berjalan masuk dengan cepat, pria-pria ini bertubuh kekar. Kemudian terakhir masuk seorang wanita yang memakai baju hitam yang ketat dengan syal yang berwarna biru muda.


Sunakim yang melihat wanita itu, langsung berusaha bergerak ke arahnya, dia berkata, “Kak Lalita, anda akhirnya datang!”


Toro langsung menginjak punggung Sunakim dan hampir membuatnya muntah darah, dia berkata dengan dingin, “Ini bukan urusanmu lagi, diam kamu!”


Sunakim tidak bisa tidak mendengarnya, kaki di punggungnya itu terasa begitu berat. Lalita sedang menerka-nerka pria yang ada di depannya ini, matanya terlihat bersinar, pria ini bisa memakai seragam satpam dengan begitu tampan. Lalita tersenyum dan berkata, “Kamu melukai teman-temanku ini, sepertinya kamu hebat juga!”


Toro menatap ke Lalita, wanita yang tampangnya termasuk menengah ke atas. Namun bila dibandingkan dengan Kirania, ia masih kalah, kalau dengan Felysia seperti memiliki keunggulan masing-masing. Tapi karena memakai pakaian ketat, tubuhnya yang montok dan seksi terlihat begitu bagus. Terutama kulitnya yang seperti embun beku dan juga sepasang mata dingin di bawah alis hitam tipisnya itu, memberikan pesona yang tidak ada di wanita lain.


“Kamu sebagai kakak mereka tidak bisa mengatur anjing peliharaanmu dengan baik, aku hanya mewakilimu memberi mereka pelajaran saja!” Kata Toro yang tidak terpesona oleh kecantikan Lalita. Karena sekarang mereka saling berhadapan, dulu dia juga pernah bertemu banyak agen yang memiliki kecantikan luar biasa, tapi kalau sebagai musuh, dia tidak pernah mengasihaninya walaupun lawannya adalah wanita.


Lalita melihat sebentar dan duduk di sofa, “Aku sudah datang, bagaimana kamu ingin menyelesaikannya!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2