Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Organisasi Pembunuh Langit


__ADS_3

Kelas pertama hari ini adalah kelas seni. Toro tidak menyangka jurusan komputer harus belajar seni juga. Tapi karena dia ada urusan pagi hari, dia tidak bolos melainkan menyuruh Alura untuk minta ijin. Karena semalam jam 3 subuh dia mendapatkan satu pesan singkat, dia harus menjemput orang ke terminal bus.


Dari sebuah bus pariwisata, Novianto turun paling pertama. Toro menggenggam bahu bocah ini dan berkata, “Novianto, apakah kamu bisa lebih diandalkan lagi? Aku ingin mencarimu, tapi ternyata teleponmu tidak tersambung, kamu seperti menghilang dari dunia ini. Sekarang kamu mengirimkan satu pesan dan langsung pulang!”


“Kak Toro, Kak Toro!”


“Cepat bicara!”


“Bukan, genggaman kamu terlalu kuat!” Novianto akhirnya terlepas dari tangan Toro. Dia memijat bahunya sambil berteriak ke arah bus, “Cepat turun!”


Toro kemudian melihat Yanto turun dari bus diikuti oleh sekumpulan anak muda. Umur mereka terlihat tidak lebih dari 30 tahun, setelah dihitung total ada 15 orang. Semuanya adalah anak muda yang enerjik. Kemudian terakhir Hendrawan dan Herman juga turun dari bus.


“Sialan, jangan mempermalukan aku!”


“Sini, panggil kak Toro!”


“Kak Toro!”


Melihat orang-orang ini yang bersikap ceroboh, Toro menyalakan rokok sambil tersenyum. Karena di antaranya ada beberapa orang yang memiliki tubuh besar, kelihatan bukan orang baik. Dia mengangguk kepada mereka dan berkata, “Novianto, inikah kejutan yang ingin kamu berikan kepadaku?”


Orang-orang ini terlihat teratur, mereka berdiri 1 baris seperti militer. Tapi walaupun begitu, Toro tetap merasa baju bagus yang dipakai mereka terlihat tidak cocok. Ada satu orang yang terlihat misterius, dia memakai topi wanita dan menunduk. Setelah mendekat dia berbisik, “Bos, ini adalah kak Toro yang kamu bilang itu?”


Novianto ingin menepuk bahu orang itu tetapi dia berhasil menghindar. Orang itu berkata, “Atas dasar apa dia menjadi kakak kita?”


Hendrawan menyenggol lengan Toro sambil berkata, “Kak Toro, apakah kamu melihatnya? Mereka sedang menantangmu. Kalau tidak memberikan contoh kepada mereka, sangat susah membuat mereka salut!”


“Kalau begitu kita cari tempat lain!”


Toro membawa mereka ke sekitar kampus, daerah proyek bangunan yang terbengkalai. Kemudian dia menunjuk ke orang yang memakai topi itu, “Sini kamu!”


Orang itu berjalan mendekat dengan pelan, kemduian menunjukkan jari telunjuk ke arah Toro dan menyuruh Toro menyerangnya. Toro yang baru bergerak selangkah langsung mendengar Herman berkata, “Kak toro, dia seorang banci, kamu pelan dikit!”


“Apa?”


Toro sedikit kaget, tetapi lawannya sudah bergerak. Ketika dia mengeluarkan kedua tangan yang seperti ranting pohon itu, Toro sudah memastikan jenis kelamin orang ini. Tetapi dia juga seorang ahli, tangannya langsung menyerang wajah Toro.


Melihat kedua tangan yang menyerangnya seperti setan, Toro langsung menangkap pergelangan tangannya. Tapi dia menarik kembali tangannya, karena orang ini sudah mengarahkan kaki ke bagian vital tubuh bawahnya. Toro berkata dalam hati, orang ini beneran kejam sekali.


Setelah 20 jurus lebih, Toro memastikan orang ini adalah seorang wanita. Karena berhadapan dengan serangan dirinya yang ganas, tenaga lawannya sudah semakin berkurang. Tapi kecepatan wanita ini sangat cepat, hampir seperti yang ditampilkan di film-film. Kalau bukan Toro juga hebat, mungkin lehernya sudah patah dari tadi.

__ADS_1


“Kak Toro, namaku Darah Merah!” Ketika Toro memukul jatuh topinya, wanita itu tersenyum puas. Tetapi senyuman kepuasannya terlihat ganas. Karena wajah Darah Merah penuh dengan bekas luka dan sudah rusak total.


Toro mengambil topinya dan memakaikan ke kepala Darah Merah, “Maaf!”


“Tidak apa-apa!” Darah Merah tidak masalah, mungkin karena dia sudah terbiasa. Tapi Toro berani memastikan proses untuk menjadi terbiasa pasti sangat tidak enak. Kalau tidak, bagaimana mungkin seorang wanita bisa memiliki keahlian seperti ini.


“Kak Toro, namaku si Buas!” Orang ini memiliki tinggi 185 cm, tetapi beratnya mungkin mencapai 150 kg. Pakaian olahraga ditubuhnya seperti akan meledak. Dia mengulurkan tangan ke arah Toro, lengannya bahkan lebih besar dari kaki Toro. Toro berpikir dalam hati kalau orang ini bertarung dengan Beruang Hitam dari Geng Wustang, tidak tahu siapa yang lebih kuat.


Toro menjabat tangannya, seketika dia merasa seperti dijepit oleh tang, rasa sakit menusuk ke dalam jantungnya. Tenaganya lebih kuat dari Toro, walaupun Toro menggunakan segenap kekuatannya untuk menggenggamnya, dia juga merasa sedang menggenggam besi.


“Si Buas, sudah cukup!”


Ketika Darah merah berbicara, orang yang menjuluki diri si buas baru melepaskan genggamannya. Dia tersenyum dengan gigi kuningnya, “Kak Toro, maaf!”


“Tidak apa-apa!” Toro memasukkan tangannya ke dalam kantong untuk menutupi gemetarnya. Tidak disangka tenaga manusia bisa sebesar ini. Setelah sudah stabil kembali, dia menyalakan sebatang rokok dan berkata, “Kalian memang hebat!”


“Kak toro, masih ada aku!” Setelah terdengar suara, dari depannya terlihat sebuah tinju besar yang diarahkan ke wajahnya. Bekas luka di tangannya itu terlihat begitu jelas, seperti sisik naga yang berwarna hitam,  tinjunya juga tidak pelan.


Pong!


Toro langsung mencoba menangkap tinju itu, tubuhnya tidak tertahan dan mundur 2 langkah. Kekuatannya begitu dahsyat. Tetapi lawannya juga mundur 2 langkah dan tersenyum jahat, “Namaku Tinju besi!”


Toro mengangguk, “Beneran sebuah kejutan, dengan adanya mereka, semuanya menjadi lebih gampang.” Setelah terdiam sejenak, dia tersenyum, “Novianto, mereka memanggilmu kakak, apakah kekuatan kamu lebih hebat dari mereka?”


“Tidak!” Kata Novianto dengan santai, “Tapi, siapa suruh ayahku adalah raja penjara di Golania. Kali ini kalau bukan aku yang menjemput mereka, mungkin mereka tidak akan kabur segampang ini!”


“Kabur dari penjara?” Toro teringat penjara Golania dengan penjagaan yang ketat itu, orang-orang ini beneran bukan orang biasa. Kabur dari penjara seperti itu, Toro memiliki keyakinan 80%. Tapi kalau sekaligus membawa beberapa orang untuk kabur, itu lain cerita. Sepertinya memang ada bantuan dari Michael.


Seorang anak muda yang biasa tiba-tiba muncul di belakang Toro. Toro langsung bergerak dari tempat dia berdiri. Tapi ketika dia menghindarinya, dia bisa merasakan sebuah kaki yang kuat berada di belakangnya tadi. Semen yang kuat ini muncul bekas injakan sedalam 3 inchi.


Melihat Toro menghindar, anak muda itu tersenyum dan berkata, “Kak Toro, namaku Macan Hitam. Mohon bantuannya!”


Toro melambaikan tangannya dan berkata, “Sudah cukup bukan? Kalau kalian 15 menyerang satu per satu, sudah pasti sampai siang. Lebih baik simpan waktunya untuk makan dan kerja!”


Seorang anak muda dengan rambut merah mengeluh dengan wajah kesal, “Kenapa begitu?”


“Sini Gorila Merah, aku akan berlatih denganmu!” Kata Si Buas sembari berjalan ke depannya.


“Pergi sana!”

__ADS_1


Toro tertawa dengan keras dan berkata, “Sudahlah, kalian semua pasti capek sepanjang jalan. Ayo kita makan dulu!”


Toro sangat mengerti, kalau ingin membangun geng di pinggiran barat sini, dia harus memiliki tempat sendiri sebagai pusatnya. Pinggiran barat sini bahkan tidak memiliki geng kelas dua, jadi dia memutuskan akan membangun bisnis organisasi hitam dengan baik di sini.


Pinggiran barat lebih banyak orang miskin, standar kehidupan mereka di bawah rata-rata. Tempat ini tidak bisa dihancurkan dan dibangun ulang semua karena tempat yang tidak diatur. Jadi penuh dengan orang berjudi, memakai PSK dan menggunakan narkoba. Tempat ini juga dinamakan daerah distrik merah. Narkoba di sini sangat banyak macamnya, orang yang menggunakannya juga ada puluh ribuan. Kebanyakan narkoba dari sini berasal dari tempat disko yang bernama “Banara”.


Malam ini, Toro membawa Turman dan Alura duduk di tempat disko ini. Mereka melihat banyak orang-orang yang membawa tas hitam kecil dan sedang menjual berbagai macam narkoba. Mereka sama sekali tidak perlu takut, seperti memang seharusnya!


“Bos, melihat kalian bertiga sepertinya bosan. Aku akan menjual murah kepadamu, aku jamin kamu bisa membereskan wanita-wanita itu dengan cepat. Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Hargaku sangat adil, semua yang membelinya selalu bilang baik!” Seorang anak muda berumur 27 28 tahun memberikan sebungkus ‘Bubuk K’ di atas meja mereka.


Toro mengisap rokoknya dan bertanya, “Berapa?”


“Melihat tampang bos yang familiar, satu bungkus kecil 240 ribu, bungkus yang besar berisi 10 bungkus kecil. Aku hitung 2 juta saja, gimana?”


“Aku sering datang, satu bungkus kecil 40 ribu, aku akan membeli satu bungkus besar!” Kata Toro sambil tersenyum, walaupun dia tidak pernah menyentuh barang ini, tapi dia sering melihatnya di Israel. Barang seperti ini modalnya hanya beberapa belas ribu saja.


“Sialan, bercanda apa kamu. Aku ambil barang saja butuh 100 ribu. Kalau tidak mengerti gak usah keluar main!” Anak muda itu langsung menyimpan kembali Bubuk K, kemudian melanjutkan ke meja lain.


“Kak Toro, satu bungkus kecil 40 ribu, lebih baik kamu pergi rampok saja!” Kata Alura dengan ekspresi yang seperti sangat tahu, “Walaupun aku tidak menyentuh barang seperti ini di Geng Wustang, tetapi harganya tidak mungkin lebih rendah dari 80 ribu!”


Toro tersenyum, “Aku kan tidak beli. Ei, Alura, apakah kamu bisa menghubungi penjualnya untukku, aku ingin melakukannya.”


Alura berpikir sebentar dan mengangguk, “Aku akan mencobanya, tapi tidak berani jamin bisa mendapatkannya!”


Toro tidak berbicara, dia tahu Alura hanya mengelabuinya saja. Jalur untuk pengambilan barang seperti ini adalah rahasia geng. Orang yang memakai narkoba juga hanya segitu saja, kalau dia membeli kepadamu, dia tidak akan beli di tempat lain lagi. Sama seperti membeli semangka, kalau kamu menanyakan kepada penjual semangka di mana dia mengambil semangkanya, hanya sedikit orang bodoh yang akan memberitahumu.


“Kak Toro, kenapa kita mau mengerjakan barang yang mencelakakan orang ini?” Tanya Turman yang tidak mengerti.


“Aku hanya ingin melihat jalur distribusinya saja. Tenang saja, kita tidak akan menyentuh barang seperti narkoba ini!” Kata Toro dengan santai. Sebenarnya dia ingin mengetahui dari mulut Alura, apakah narkoba ini berasal dari Geng Wustang.


Bahkan Toro mulai tidak percaya kepada Alura, dia curiga Alura adalah utusan Geng Wustang untuk mengawasinya. Sekarang dengan tambahan orang yang dibawa oleh Novianto, kalau mereka menyerang Geng Wustang dengan orang-orang ini, sama saja mengetuk batu dengan telur. Jadi dia ingin mulai dari Alura, kalau bocah ini tidak mendukungnya, dia hanya bisa minta maaf.


“Sudah malam, ayo kita pulang!” Toro membawa mereka keluar dari sini. Dia memberitahu mereka berdua, hari ini dia hanya datang untuk melihat tempatnya. Tapi sepertinya air di sini terlalu dalam, kekuatan di belakangnya pasti sangat besar. Lebih baik dia mulai dari sekitar sekolah saja.


Setelah Toro kembali, dia langsung mengirimkan pesan kepada Novianto, dia menyuruh mereka untuk memeriksa kondisinya, di belakang ini ada orang atau kekuatan seperti apa. Tidak peduli Geng Wustang atau bukan, dia ingin menyerang tempat ini. Siapa suruh bisnis di tempat ini begitu bagus. Kekuatan Geng Wustang tidak berada di pinggiran barat, jadi dia tidak terlalu takut.


 


 

__ADS_1


__ADS_2