
Hanya saja Toro tidak ingin merusak perawan kecil ini, dia tidak bisa memberikan romantisme dan cinta yang diinginkan perempuan kecil, lebih baik dia tinggalkan untuk para perjaka saja. Kalau mau mencari, Toro tentu akan mencari Raisa Larson. Sekarang dia menjadi guru di universitas Intan dan juga sudah cerai, dia yang kesepian pasti tidak akan menolak.
“Achiu! Achiu!” Raisa yang sedang duduk di sofa tiba-tiba bersin dua kali, dia berpikir dalam hati : Siapa yang memikirkanku!
Makan malam berlangsung sampai jam 10 lebih, ketika Toro dan yang lain ingin pulang ke rumah, dari tempat yang tidak jauh dari restoran ada sebuah pertarungan. Di bawah cahaya lampu malam, Toro melihat mereka menggunakan pisau, setiap pihak membawa kurang lebih 50-60 orang, ini adalah pertarungan yang sangat sengit.
Melihat pisau putih berubah menjadi merah, diikuti suara jeritan dan tabrakan senjata, pertarungan yang tidak ada hentinya itu membuat Turman dan beberapa wanita lain terkejut. Tidak seperti Toro dan Alura gendut yang sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini.
Tapi walaupun terkejut, tapi mereka juga tidak lari, malahan sangat tertarik untuk menonton, Toro berkata, “Turman, apakah kamu kenal orang-orang itu?”
Turman mengangguk dan berkata, “Itu Sutomo dan Indra. Mereka selalu bertarung sejak aku masuk ke sekolah ini. Hari ini kalau bukan kamu masuk rumah sakit, besok dia yang masuk. Mereka tidak saling menyukai!”
Toro tersenyum, Sutomo punya dukungan Geng Wustang dan Indra punya dukungan Geng Tiga Sakti, tentu saja kekuatan mereka imbang. Geng besar tidak bertarung, tetapi yang lebih kecil yang sering bertarung, hal seperti ini sering terjadi di organisasi hitam. Jadi setiap kali kita melihat pertarungan, semua itu hanyalah orang-orang biasa, orang-orang penting tidak pernah terlibat dalam pertarungan yang tidak berguna seperti ini.
Pertarungan itu berlangsung selama 20 menit, setelah 3 mobil polisi datang, semuanya baru bubar. Hanya tersisa beberapa orang yang terbaring di atas darah, senjata juga berserakan di mana-mana.
Seorang polisi paruh baya langsung menendang beberapa orang yang masih ingin bertarung, lalu kondisinya dengan cepat terkontrol. Dia melepaskan topinya dan berkata, “Sialan, satu hari tidak tahu mau berkelahi berapa kali, aku harus datang berkali-kali. Bawa yang tidak terluka, yang terluka tunggu ambulan datang. Kalau terjadi masalah besar, aku akan menembak kalian!’
“Turman, kamu tahu siapa Sutomo?”
Turman menggelengkan kepalanya dan bilang mana mungkin dia kenal orang seperti itu. Tapi salah satu dari perempuan yang dibawa Jenifer berkata, “Aku kenal, aku pernah pacaran dengannya, dulu dia tidak begini, suatu hari……”
Toro menyuruhnya berhenti, dia tidak ingin mendengar perubahan Sutomo dan percintaan mereka, dia berkata, “Apakah kamu berkenan untuk memanggilnya keluar? Aku ada urusan dengannya!”
“Urusan apa?”
“Kamu juga tidak mengerti kalau aku cerita. Kamu kasih tahu saja bisa atau tidak, kalau bisa ini akan menjadi milikmu!”
Toro sembari berkata dia mengeluarkan 400 ribu dan memberikannya, perempuan itu masih malu dan menahan diri. Tetapi Alura langsung menggenggam tangannya dan berkata, “Kalian juga tahu Kak Toro adalah generasi kedua yang kaya, urusannya bisa selesai sudah cukup, uang pasti ada!”
Perempuan itu menundukkan kepalanya dan terus menggenggam 400 ribu itu, dia berkata, “Baiklah, aku coba dulu. Sekarang aku sudah jarang berhubungan dengannya, tidak tahu dia sudah ganti nomor atau tidak.”
“Terima kasih!” Kata Toro sambil tersenyum.
Setelah membawa Jenifer dan beberapa perempuan pulang, Alura diusir oleh ibu penjaga asrama. Mereka bertiga terpaksa muter di lapangan untuk menghilangkan mabuk, tetapi tujuan utamanya adalah agar Gunawan dan Listo tidak mendengarnya, karena tidak harus menyeret mereka ke dalam hal ini.
__ADS_1
Turman bertanya kepada Toro dengan bingung, “Kak Toro, kenapa kamu ingin bertemu dengannya? Apakah ingin bertarung dengannya?”
Toro menepuk Pundak anak kecil yang tidak tahu apapun ini, dia berkata, “Turman, oh iya, pisau tajam. Aku selalu lupa kamu sudah punya julukan sekarang. Pemikiranku sangat sederhana, aku ingin menjaga hubungan dengan Sutomo, dia adalah orang penting di daerah sini, dan aku juga ingin bergantung kepada Geng Wustang, dengan begitu apapun yang kita lakukan, kita adalah orang Geng Wustang!”
Alura berkata kepada Toro, “Kak Toro, kenapa kamu mencarinya, aku juga bisa melakukannya!”
“Hal seperti ini tidak cukup dengan kekuatan kamu seorang. Kalau tidak begini saja, kamu ngobrol dengan Sutomo. Ada kalian berdua yang berbicara di Geng Wustang, kita pasti bisa bersandar dengan Geng Wustang!”
“Oh, aku mengerti!” Alura seketika mengerti maksud Toro.
“Aku tidak mengerti!” Pisau Tajam mengedipkan matanya dan berharap bisa menemukan sesuatu dari ekspresi mereka, sayangnya dia hanya melihat tinju Alura yang mengarah ke dia, dia langsung memeluk kepalanya dan kabur ke asrama.
Kehidupan siswa adalah waktu tidak ada kelas sangat cepat, tetapi waktu kelas sangat lama. Hanya saja ketika di tengah-tengah kelas mereka bisa pergi ke ruang komputer untuk bermain, itu adalah waktu paling bahagia untuk para siswa, tetapi tidak untuk Toro.
“Aku dengar dari mantan pacarku, kamu sedang mencariku?” Tanya seorang anak muda berumur 23-24 tahun, di atas kepalanya ada bekas tebasan. Dia sedang melepaskan kalung emas dan dilemparkan ke anak buahnya. Di belakangnya ada 20 an anak buah yang memegang senjata dan sedang menatap Alura dengan curiga.
Pertanyaan setajam itu, kalau orang lain mungkin sudah ketakutan setengah mati.
Alura mengambil tisu dan mengusap ingusnya, kemudian membuangnya ke lantai. Setelah itu, sambil menatap makanannya dia berkata, “Sutomo, apakah kamu tidak terlalu miskin? Makan malam hanya makan ini? Bahkan bir juga tidak sanggup beli?”
Alura menatap anak buah itu dengan tatapan merendahkan, dia mengeluarkan sebatang rokok dan dilemparkan kepada Sutomo, “Sutomo, tidak tahu kamu pernah mendengar tentang aku atau tidak. Namaku Alura, semua orang memanggilku Alura Gendut.”
Kedua bola mata Sutomo terlihat berputar beberapa kali, dia menyuruh anak buahnya ke samping dan berkata, “Ternyata Kak Alura dari Geng Wustang, ada apa kak Alura mencariku?”
“Aku tidak berani dipanggil kakak. Sekarang kamu begitu terkenal di Geng Wustang, mana mungkin aku seorang gendut menjadi kakak!” Kata Alura sambil makan. Kemudian dengan mulut penuh makanan dia berkata, “Sekarang aku juga belajar di sekolah Teknik Bintang Cemerlang, hal ini adalah arahan dari geng. Belakangan ini aku berteman dengan seseorang yang memiliki keahlian, dia ingin menjadi bos dan berharap kamu bisa membantunya!”
“Mau menjadi bos? Hehe……”Sutomo langsung merasa senang, dia berkata, “Sekarang begitu banyak orang brengsek di sekolah, semuanya adalah bos, silahkan saja kalau dia mau jadi bos. Aku tidak mendapatkan arahan dari bos, jadi kamu jangan datang mencariku!”
“Tidak akan membiarkan kamu kerja sia-sia!” Kata Alura sambil meregangkan pinggangnya. Dia kemudian melemparkan bungkus kecil kepadanya, dan berkata, “Ini adalah hadiah dari orang itu untukmu. Kalau kamu ingin membantunya, semua ini akan menjadi milikmu!”
Sutomo membuka bungkusnya, di dalamnya adalah 1 ikat 20 juta, dihitung total ada 10 ikat. Dia langsung tertarik dan berkata kepada anak buahnya, “Keluar semua, kalian beneran tidak tahu diri. Kalian tidak melihat aku sedang berbicara dengan Kak Alura?”
Para anak buahnya tidak melihat apapun, tapi ketika mereka berdiri di luar, malah melihat seseorang yang duduk di samping Alura, orang itu sejak masuk tidak berbicara ataupun membuka matanya. Mereka penasaran dengan orang yang memiliki lengan lebih besar dari paha mereka.
“Kak Alura, aku tidak tahu apa yang kamu inginkan. Tapi aku belum termasuk organisasi hitam, kalau kamu menyuruhku untuk membunuh orang, aku tidak bisa melakukannya!” Walaupun Sutomo berkata begitu, tetapi dia terus memegang bungkusan kecil itu, seperti takut menghilang.
__ADS_1
Alura tertawa dengan keras dan berkata, “Kamu tentu bisa membantunya, kalau kamu setuju jangan lupa kasih tahu aku, sekarang aku berada di jurusan komputer!” Sambil berkata dia lalu berdiri dan berjalan keluar, lalu tiba-tiba dia menoleh ke belakang dan berkata, “Ooiya, aku dengar dari orang yang memberimu uang itu, belakangan ini Indra sering berkelahi denganmu, tetapi besok kamu tidak akan bisa melihatnya lagi!”
“Apa maksudnya?” Sutomo tiba-tiba berdiri dan tidak mengerti, dia berkata, “Tolong jelaskan.”
“Aku sudah mengatakannya dengan jelas!” Alura tersenyum dan kemudian memberi kode kepada orang di belakangnya itu. Dia langsung mengerti, orang itu memasukkan tangan ke bawah tempat hotpot, menarik keluar tangki gas dan dilemparkan ke atas.
Bang!
Terlihat bola api besar yang terbakar, kemudian diikuti suara barang terjatuh. Tangki gas yang meledak tadi terjatuh ke lantai dan pecah berserakan. Gas itu kurang lebih 50 kg, dan orang itu melemparnya seperti bola basket dengan santai dan juga cepat, kalau telat sebentar saja, gas itu akan meledak di depannya.
Memikirkan sampai sini, punggungnya mulai keringat dingin, dia berkata, “Itu adalah orangnya?”
“Bukan, dia hanyalah salah satu dari temannya!” Melihat Sutomo masih ingin bertanya, Alura menggelengkan kepalanya dan berkata, “Kamu jangan tanya lagi, tidak ada gunanya bagimu. Aku berdiri sebagai anggota Geng Wustang untuk memperingatkanmu, ambil uangmu dan jaga mulutmu. Kamu akan tahu semuanya besok!”
Melihat Alura pergi dengan orang kekar itu, Sutomo baru teringat malam ini dia harus bertarung melawan Indra lagi. Seharusnya Indra mati di tangannya, mana mungkin sudah mati seperti yang dikatakan olehnya.
Toro sedang duduk di lapangan sekolah dan merokok, dia bertanya, “Bagaimana katanya!”
“Dia mana berani bicara, melihat Si Buas menunjukkan keahlian, dia hampir saja kencing di celana!” Alura menjelaskan semua kondisi waktu itu dan berkata, “Sepertinya hanya dengan membunuh Indra, dia akan setuju. Kita bisa membunuh Indra, juga pasti bisa membunuhnya.”
“Mengerti, aku akan menelepon Novianto mereka dan menyuruh mereka mengaturnya.” Kata Toro sambil membuang puntung rokoknya, dia menepuk bahu Alura dan berkata, “Kalau kamu melanjutkannya, kamu pasti akan sukses bersamaku.”
Alura mengangguk dan bertanya, “Kak Toro, kalau aku bukan mata-mata Geng Naga Biru, dan tidak memutuskan mengikutimu di kantin kemarin, apa yang akan kamu lakukan?”
Toro menggerakan bahunya dan berkata, “Aku pasti tidak sanggup melakukannya. Kamu juga sudah melihatnya, ada yang lebih kejam dariku, mereka tidak punya perasaan sepertiku!”
“Sialan, kenapa aku merasa seperti terselamatkan!” Kata Alura dan terus bergumam sepanjang jalan, “Si Buas beneran sangat hebat, sepertinya aku juga bisa dibunuh dengan satu gerakan!”
“Dibandingkan dengan beruang hitam dari Geng Wustang gimana?”
“Sepertinya dia masih lebih kalah sedikit, beruang hitam mendapatkan julukannya karena pernah membunuh beruang hitam dengan satu tinjunya. Aku tidak mengerti dunia mereka, kita akan tahu setelah mereka bertanding. Tapi aku tidak berharap kita melawan Beruang Hitam, dia terlalu menyeramkan!”
“Aku malah sangat menantikannya.”
__ADS_1