
Setelah selesai interogasi, polisi wanita itu mematikan seluruh rekaman audio dan video. Kemudian dia mulai membicarakan tentang kejadian Israel selama beberapa tahun belakangan ini. Toro menjelaskan dengan detail, membuat polisi wanita ini memiliki kesan baik dengannya.
Setelah mengetahui Toro adalah satpam tampan yang dibicarakan oleh wanita-wanita belakangan ini, dia yang awalnya juga ingin pergi ke salon untuk melihatnya, tidak disangka akan bertemu secepat ini.
Lalu, seorang polisi berjalan masuk dari luar dan memberikan kode kepada polisi wanita itu. Kemudian polisi itu berkata, “Telepon dari direktur Agus, dia menyuruh kita melepaskannya.”
Polisi wanita itu tersenyum dan langsung melepaskan borgolnya. Dia berkata kepada Toro, “Direktur sudah memberikan perintah, kamu boleh pergi.”
Toro tidak tahu apa yang terjadi, dia mencoba bertanya, “Semuanya sudah selesai? Kalian sudah menemukan bukti?”
“Aku tidak tahu, tapi apakah kamu beneran ingin tinggal dan makan di penjara?” Kata polisi wanita bercanda dengannya.
Toro menggerakkan bahunya dan berkata, “Tidak disangka, ternyata kepolisian tidak begitu mengecewakan.”
Polisi wanita itu berkata, “Nanti setelah pulang kerja, aku akan pergi ke salon kecantikan kalian. Apakah bisa mendapatkan diskon?”
Toro tersenyum dan berkata, “Aku yang akan bayar!”
Setelah mengantar Toro keluar, mereka melihat dia masuk ke mobil Kirania. Lalu salah satu polisi menarik baju polisi wanita itu dan menunjuk ke arah plat mobil khusus, dia berkata, “Petugas Gracia, itu adalah mobil Geng Naga Biru.”
Polisi wanita yang dipanggil petugas Gracia mengangguk dan berkata, “Kelihatan kalau Toro memang bukan orang biasa, ternyata dia mempunyai hubungan dengan Geng Naga Biru. Pantesan satu orang sanggup menghadapi dua puluh orang lebih.”
__ADS_1
Subuh jam 2 pagi, di sebuah tempat duduk dalam bar. Pelanggan sudah mulai pulang, dan melihat para pelayan memanggil Kak Lalita, dan Lalita yang santai seperti berada di rumah, sepertinya ini adalah tempat Geng Naga Biru.
Toro mendengar dari Kirania kalau kali ini berkat Lalita yang membantunya. Dia langsung mengangkat gelasnya dan berkata, “Kak Lalita, ini adalah tanda terima kasih aku kepadamu!”
Lalita juga mengangkat gelas dan bersulang dengan Toro, dia berkata, “Masalah kecil saja. Kalau beneran ingin berterima kasih, coba pertimbangkan hal yang pernah aku sampaikan.”
Kirania tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi pasti bukan hal baik. Tapi setelah meminumnya, Toro berkata, “Lebih baik aku masuk penjara saja.’
“Hehe……bercanda!” Kata Lalita sambil memberikan sebatang rokok kepada Toro, dia berkata, “Beberapa bawahanku semuanya salut dengan keahlianmu, semuanya menyebut kamu jago,”
Toro menyalakan rokoknya dan bertanya, “Kalau kamu?”
“Menurut aku, kamu adalah seorang dewa penjaga pintu!” Kata Lalita yang tidak mau menyerah, “Jujur, kamu harus bergabung dengan kami. Apakah kamu rela selamanya menjadi satpam?”
Kirania melotot ke arah Toro. Sejak Toro datang ke salonnya, dia sudah bertarung 2 kali, kehidupan seperti ini masih bisa disebut tenang?
“Kehidupan yang tenang tidak bisa memuaskan orang seperti kamu!”
Toro menggelengkan kepalanya dan berkata, “Mengikuti organisasi hitam juga tidak bisa memuaskanku. Karena semuanya tidak bisa, lebih baik aku hidup dengan tenang saja.”
Toro adalah tentara bayaran terhebat di kelompok tentara bayaran ZO. Setiap tugasnya dipenuhi dengan hujan peluru, tidak bisa dibayangkan oleh organisasi hitam yang hanya menggunakan pisau atau golok. Lalita juga tahu dia bukan orang biasa, sepertinya sementara ini tidak bisa merekrutnya. Dia lalu menghisap rokoknya dan tidak berbicara lagi.
__ADS_1
Setelah meminum satu botol Brandi, Lalita menerima sebuah telepon dan pamit duluan. Toro juga keluar dari bar dan pulang bersama Kirania ke salonnya.
Beberapa hari kemudian, malam ini salon tetap ramai seperti biasa. Toro seperti sedang mengadakan konser pribadi, di depan pintu penuh dengan wanita yang sedang berbicara dengannya. Mendengar pengalaman dia yang menakjubkan, seperti mendengar sebuah dongeng. Mereka juga terus menatap wajah tampan Toro dan bibir seksinya yang terus bergerak itu.
Lalu sesosok bayangan yang familiar berjalan mendekat dan ikut duduk di sana. Toro sudah melihatnya, setelah selesai bercerita sebagian, dia mendekat dan berbicara kepada polisi wanita yang sedang tidak berpakaian seragam polisi, “Masuk dan terapi kecantikan dulu, setelah itu baru dengar cerita!”
Polisi wanita itu berdiri. Hari ini, dia telah berpakaian dengan cantik, riasan yang elegan, dan wajah yang cantik itu membuat orang tidak bisa memalingkan pandangannya. Rambut hitamnya diikat menjadi ekor kuda, dia mengenakan kaos putih, celana olahraga, dan sepasang Nike Sneakers. Sepenuhnya menunjukkan lekuk tubuh yang menawan dan kaki halusnya.
Karena para dokter kecantikan yang terlalu sibuk, dan juga tidak ada ruangan yang kosong. Mereka berdua duduk di sofa luar dan berbicara sebentar, polisi wanita ini bernama Gracia Larson, lulus dari Universitas Kepolisian Kota Intan. Dalam 2 tahun, dia sudah mendapatkan 3 kali keberhasilan besar dan mendapatkan posisi polisi tingkat 2. Dia termasuk salah satu dari sedikit polisi wanita hebat di kota Intan.
“Toro, sekarang kamu sudah boleh memberitahuku, bagaimana kehidupanmu selama belasan tahun terakhir?” Tanya Gracia sambil meminum Teh Musim Semi yang dituangkan Felysia untuknya.
Toro berkata, “Aku pernah belajar bela diri beberapa tahun, dan menjadi pengawal pribadi.”
Pantesan Toro mempunyai keahlian yang hebat, dia yang penasaran melanjutkan pertanyaannya, “Di sana banyak *******, menjadi pengawal pasti pekerjaan yang berbahaya bukan? Bagaimana dengan gajinya?”
“Tidak bisa dibilang berbahaya, karena sudah terbiasa. Gaji tentu tidak buruk, tapi karena aku menghabiskannya terlalu cepat, aku bahkan tidak menyimpan uang untuk beli rumah!” Kata Toro dengan jujur.
Gracia tidak terlalu percaya, dia berkata dengan manja, “Aku tidak meminjam uang kepadamu, jangan mengeluh miskin. Aku pernah dengar menjadi pengawal pribadi, pemasukan tahunan pasti lebih dari belasan miliar per tahun!”
“Kak Toro, sudah ada ruangan, persilahkan nona ini untuk masuk!” Kata Felysia sambil tersenyum.
__ADS_1
“Silahkan!” Toro berdiri, ketikga Gracia bertanya kenapa dia juga ikut, Toro menjawab, “Aku temani kamu di dalam!”