
Toro akhirnya menemukan Tomi di semak-semak, dia langsung menendangnya. Jenifer sudah menutup kedua wajahnya dari tadi, anak muda sekarang beneran tidak tahu malu melakukannya di siang bolong.
“Tomi, aktif juga ya kamu!”
Tomi baru ingin melawan, ketika melihat Jenifer yang berada di samping Toro, dia langsung menunjuk, “Kak Toro, ah ah……putus putus, cepat lepaskan!”
Dia berani menunjuk ke wajah Toro, tapi karena dia tidak sengaja, Toro juga mengampuninya, “Cepat berdiri, tadi aku melihat Tengkorak dan yang lain mendekat, sepertinya mereka sedang mencarimu!”
“Mana mungkin? Sudah selama ini, mereka masih dendam?” Kata Tomi dengan ekspresi yang berubah.
“Ini hanya Dia yang tahu!” Kata Toro sambil menunjuk ke langit, dia berkata, “Kamu hati-hati saja, kalau tidak sanggup, pergi cari si gendut!”
Selesai bicara, Toro membawa Jenifer pergi. Dia mencari tempat yang tidak jauh dan duduk bersama. Kalau di sini ada musim panas, seluruh bukit akan penuh dengan bunga segar dan hijau daun, ditambah pasangan-pasangan semua, ini adalah surga untuk berkencan.
Jenifer menggigit bibir dan menggunakan suara sekecil nyamuk untuk berkata, “Toro, aku tidak menyangka aku akan menjadi pacarmu suatu hari, aku pernah memimpikannya beberapa kali, tapi sekarang juga terasa seperti mimpi.”
Ucapan yang membuat bulu kuduk berdiri, malah membuat Toro terdengar nyaman. Dia tidak menyangkal dirinya juga butuh cinta yang seperti ini, seperti kembali ke cinta pertama, serasa dunia mencair bersamanya.
Toro menghempaskan pikiran jahatnya, “Jenifer, aku tidak ingin menipumu, sebenarnya aku sudah……”
Jenifer menggunakan mulutnya untuk menutup mulut Toro, “Kamu bisa menerimaku, aku sudah sangat senang.” Dia menatap Toro dengan tatapan yang sangat murni, “Semua pasangan di sini yang bisa berjalan sampai akhir ada berapa? Kehidupan sekolah yang membosankan, tidak gampang untuk mencari seseorang yang kita sukai dan mau menemani kita. Kamu juga adalah pria pertama yang membuatku tertarik.”
“Jenifer, kamu tidak mengerti aku. Aku bukan pangeran berkuda putih seperti bayanganmu, apalagi masuk ke sekolah teknik, itu sama saja sudah setengah langkah ke masyarakat. Apakah kamu begitu percaya diri aku bisa memberikan kebahagiaan yang kamu mau?”
“Cinta itu butuh proses, seperti merawat sebuah tanaman, hal yang berbahagia adalah hasil buah di musim gugur. Tapi tidak ada yang berani bilang kalau setiap biji akan menghasil buah. Paling tidak kita sudah bersama, ada atau tidak ada hasil, hanya bisa menunggu musim gugur!” kata Jenifer sambil mendekat ke lengan Toro.
Toro tidak menyangka Jenifer begitu puitis, “Perempuan kecil, kamu jangan terlalu polos, cinta terkadang juga seperti sedang minum alkohol, dari awal saling bertukar gelas dan bersulang, pada akhirnya akan menjadi pahit dan bisa mabuk!” Walaupun dia berkata begitu, tapi tidak ada seorang pun yang akan membenci disukai oleh wanita, apakah ini yang dinamakan pesona lawan jenis?
Orang-orang Tengkorak sudah datang, mereka sedang dorong mendorong dengan anak buah Kak Kadal. Toro dari jauh bisa mendengar percakapan seperti ini.
“Yang ingin masuk 1 orang 200 ribu!”
“Siswa sialan juga berani meminta uang? Kalian mengira dirimu beneran organisasi hitam dan perampok? Kamu tahu aku siapa tidak? Aku adalah Tengkorak, aku adalah pengikut Barbar dari pinggiran barat. Cepat minggir, kalau tidak aku bisa membunuh kalian!”
Sesuai dugaan, melihat ada yang salah, para pasangan di bukit ini mulai pulang. Seperti yang dikatakan oleh Tengkorak, sehebat apapun mereka juga siswa biasa, kalau diadu dengan orang dari organisasi gelap, mereka pasti takut.
Tomi menarik pacarnya dan berlari ke arah Toro, “Kak Toro, aku, aku harus bagaimana?”
__ADS_1
“Jangan khawatir, masih ada aku kan? Kita lihat apa tujuan mereka!” Kata Toro sambil menepuk bahunya.
Sangat jelas, ketika Tengkorak mengeluarkan golok, semua siswa langsung kabur. Dia membawa orang dan berjalan ke arah Toro. Dia ternyata tidak menyerang, mungkin karena waspada dengan Toro, dia malah mengangguk kepadanya. Kemudian menggunakan goloknya dan menunjuk ke Tomi, “Bocah, sepertinya kehidupannya sudah enak sekarang? Aku hanya ingin kasih tahu, Elisa diculik, orang yang menculiknya meminta 200 juta. Apakah kamu ingin menyelamatkannya?”
Tomi langsung panik, ekspresinya langsung berubah, “Apa yang kamu katakan? Elisa diculik? Kenapa tidak lapor polisi?”
“Sialan, aku adalah organisasi hitam, kalau aku lapor polisi, siapa yang akan peduli? Lagian, aku sudah bosan dengannya. Kalau kamu menyelamatkannya, dia pasti bisa selamat. Tapi kalau tidak, dia akan dibunuh. Kamu lihat sendiri saja!”
“Aku tolong, aku tolong, aku tolong!”
Melihat Tomi terus mengulangi namanya, Toro tahu bocah ini masih mencintai Elisa. Lalu ketika Tengkorak memberikan satu nomor telepon kepadanya, dia langsung meninggalkan pacarnya dan berlari turun ke bawah, walaupun dia tidak mempunyai uang sebanyak itu. Siapa yang menduga bahwa cinta itu buta? Sangat benar!
Toro bersiap membawa Jenifer pergi setelah melihat semuanya telah selesai. Kali ini Tengkorak menahannya dengan golok di tangan, “Oi, kamu tidak boleh pergi.”
“Kamu ingin menebasku?”
“Salah paham, bos aku Barbar ingin bertemu denganmu, apakah kamu berkenan?”
Toro menghempaskan tangannya, “Aku tidak tertarik siapa bos kamu, juga tidak berkenan. Awas.”
“Hehe, tidak berkenan juga tidak apa-apa!” Kata Tengkorak melihat ke arah Jenifer, “Kamu memang hebat, tapi pacarmu ini pasti tidak sehebat kamu. Hari ini kamu memang berada di sampingnya, tapi apakah kamu berani jamin bisa terus berada di sampingnya?”
“Baguslah kalau begitu, ayo teman-teman, kita pulang!” Kata Tengkorak sambil memasukkan goloknya. Lalu seperti teringat sesuatu, “Oh iya, bawa mereka juga. Dengan kemampuan kamu, mereka adalah jaminanku.”
Toro melihat Tengkorak tidak punya niat jahat, kalau tidak, dia juga tidak perlu begitu repot. Mereka berjalan keluar dari sekolah dan masuk ke mobil warna abu-abu. Tengkorak menghisap rokok dan terus menatap Jenifer dan wanita satu lagi, air ludahnya sudah hampir menetes. Ketika Toro bilang akan mencongkel matanya, bocah itu baru tertawa dan melihat keluar jendela.
Mobil terus berjalan ke arah barat sekitar 40 menit dan berhenti di sebuah kantor penjualan. Tengkorak baru membuka pintunya dan berkata, “Silahkan turun!”
Toro menggandeng kedua wanita dengan tangannya, siapa suruh mereka gemetar dan takut, kalau tidak digandeng, mungkin tidak bisa berjalan juga. Toro tentu mengerti, karena tidak peduli bersama preman ataupun orang jahat, orang biasa pasti akan takut.
Nama kantor penjualan ini bernama Taman Edan, nama yang tidak buruk dan juga familiar. Hanya saja sepertinya penjualan apartemen di sini tidak begitu bagus. Ketika masuk, dia melihat kebersihan yang sangat kotor, di lantai penuh dengan puntung rokok dan kaleng bir. Tapi tidak ada 1 orang pun, Tengkorak menendang barang di lantai dan berteriak, “Mana orangnya? Kenapa tidak ada satupun yang bernafas di sini?”
3 detik kemudian, dari dalam keluar seorang pria gendut dengan tato Maitreya di perutnya. Dengan cuaca seperti ini, dia hanya memakai rompi. Sepertinya ingin memamerkan tatonya, preman kelas tiga biasanya punya penyakit yang sama, sekali punya tato langsung takut panas.
“Tengkorak, kamu pergi ke mana? Bos terus meneleponmu!”
“Sialan, di mana bos?” Kata Tengkorak sambil mengeluarkan ponselnya, “Cuma nonton film sebentar sudah habis baterainya, ponsel pintar memang bagus, tapi baterainya tidak tahan lama.”
__ADS_1
“Bos sedang berada di bawah, pergi sana!” Kata pria bertato Maitreya sambil menunjuk ke arah pintu.
“Aku tahu. Oh iya, dua orang wanita ini kamu bantu temani bentar. Beliin jus jeruk untuk mereka, biar semakin cantik!” Kata Tengkorak sambil mengulurkan tangan ingin menyentuh bahu kedua wanita itu, mereka langsung takut dan bersembunyi di belakang Toro.
Tengkorak menghela nafas dan marah, “Kenapa kalian menghindar, aku juga tidak menyuruh kalian menjadi pelacur untuk menerima tamu!”
Toro berkata, “Kalau ada urusan cari aku, jangan menyentuh mereka. Kalau tidak, aku akan membuktikan ucapanku di mobil tadi, aku tidak pernah berbohong!”
“Aiya, kamu juga gak bisa bercanda ya? Kalau aku ingin menyentuh mereka, aku sudah pasti masukkan mereka ke dalam mobil dari tadi. Jadi tenang saja!” Tengkorak yang sudah sampai pintu masuk melambaikan tangan ke Toro.
Toro mengingatkan kedua orang wanita itu, “Jangan ambil apapun yang mereka berikan, tunggu aku di sini. Kalau terjadi sesuatu teriak minta tolong!”
“Baik, baik, kamu juga hati-hati!” Kata Jenifer dengan wajah khawatir.
Toro tersenyum, “Tenang saja, aku tidak apa-apa!”
Ketika masuk lewat pintu, mereka berjalan menelusuri tangga ke bawah. Udara di bawah terkontaminasi dengan sangat parah, penuh dengan bau asap rokok, bahkan ada yang sedang berteriak, “Empat, empat, sialan!”
“Bos, kenapa kamu mencariku?” Tanya Tengkorak dengan malas.
“Kenapa kamu suka menghilang, setiap hari tahunya bersama para perempuan saja, hpnya mati lagi!” Pria yang berbicara itu sedang membelakangi Toro, tetapi di punggungnya ada tato dewa Guan Yu dan seekor naga melingkar.
“Baterainya habis!” Tengkorak berjalan ke arah meja dan mengambil dua batang Marlboro, satunya dilemparkan ke Toro.
Pria ini memakai celana bahan, jas dan kemejanya diletakkan di kursi samping. Dia menoleh ke arah Toro dan berkata, “Siapa dia?”
Toro melihat pria yang berumur sekitar 40 an tahun ini, tubuhnya sudah mulai muncul lemak berlebihan, tetapi wajahnya masih terlihat senang. Sepertinya dia menang banyak, bukan karena Toro bisa menebaknya, tapi karena dia melihat tumpukan uang di depannya.
“Bos, apakah kamu masih ingat siswa yang pernah aku cerita itu? Ini orangnya!” Kata Tengkorak menatap ke Toro.
“Hmm, bocah ini kelihatannya sangat bersemangat!” Kata pria itu sambil memperhatikan Toro. Dia memberikan satu kursi kepadanya dan menyuruh Toro duduk.
Toro semakin menyadari mereka tidak ada niat jahat, kalau bukan tato di badan orang ini, dia bahkan merasa pria paruh baya ini adalah orang kaya baru, “Terima kasih!”
“Tunggu sebentar!” Pria itu melihat kartu di tangannya dan bergumam, “Tolong AS Hati. Beneran AS Hati, aku menang!”
Dia mulai menyimpan uangnya, tapi 4 orang yang bermain dengannya juga termasuk kaya. Beberapa juta yang hilang tadi tidak ada artinya bagi mereka, “Tengkorak, kamu bantu aku main sebentar. Aku ingin bicara dengan bocah ini!” Sambil berkata, orang itu berdiri, dia tidak terlalu tinggi, kurang lebih 165 cm.
__ADS_1