Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Seorang Ahli Yang Kuat


__ADS_3

Nikita tidak menyangka Jeriko akan memukulnya, dia langsung berteriak, menutup mata dan bersembunyi ke dalam pelukan Toro. Mungkin karena dia panik dan tidak ada jalan lain, sehingga melakukannya tanpa sadar.


Tamparannya sangat keras dan membuat wajahnya terasa pedas. Tetapi semuanya itu hanya pendengaran dia saja, Toro mana mungkin membiarkan Nikita dipukul. Suara tamparan yang dia dengar adalah tamparan Toro ke wajah Jeriko. Dia menatap Jeriko yang terjatuh ke lantai dengan wajah dingin, “Kamu ingin memukul wanita di depanku? Sepertinya tidak akan mungkin!”


Jeriko memegang setengah wajahnya, kepalanya terasa berdengung keras, dia juga memuntahkan dua gigi putih. Dengan mata memerah dia berdiri dan menunjuk ke Toro, “Dasar brengsek ibumu, kamu berani memukul gigiku, aku akan membunuhmu.”


Orang yang mengerti Toro semuanya tahu, orang ini sudah melanggar prinsip Toro. Tidak ada orang yang boleh menyebut ibunya, dia juga menunjuk wajahnya. Walaupun semua ini adalah alasan yang sering digunakan, tetapi Jeriko sudah membuatnya marah.


Wajah Toro menjadi sangat dingin dan kejam. Dia berjalan ke depan Jeriko, dengan tangan secepat kilat, dia langsung mencekik leher Jeriko dan berkata, “Siapa yang kamu marah tadi?”


“Aku…aku…”Jeriko merasa nafasnya akan berhenti, dia bahkan tidak bisa berbicara lagi. Tangan Toro yang satu lagi mencengkram bahunya, kemudian pelan-pelan menekannya ke bawah. Pada akhirnya kedua kaki Jeriko tidak bisa menahan tekanan sebesar ini, dia mengikuti tekanan tangan Toro dan berlutut di depannya.


“Kalau berani kamu bicara sekali lagi, kalau aku tidak membunuhmu, aku akan mengikuti margamu!”


Ketika Jeriko masih ingin memarahinya, dia terpaksa menelan kembali kata-katanya. Rasa sakit di wajah, leher dan bahunya membuat dia tidak berani berbicara lagi.


“Aku ampuni kamu sekali, pergi!” Kata Toro sambil menendang dadanya, Jeriko langsung berguling dan jatuh ke bawah.


Jeriko seharusnya bersyukur dengan kecerdikannya. Ketika berdiri, dia pelan-pelan melepaskan kepalan tinjunya, setelah melotot kesal ke arah Toro, dia langsung berlari ke arah mobilnya dan pergi dari sini.


Setelah agak jauh dari sini, dia menurunkan kaca mobil, dengan ekspresi kesal Jeriko berteriak, “Bocah, kamu berani memukulku, aku bersumpah pasti akan membunuhmu!”


Toro tidak peduli dia siapa dan sama sekali tidak menganggapnya. Orang yang ingin membunuhnya sangat banyak, tetapi dia masih hidup sampai sekarang. Rubah Emas juga mengirimkan surat ancaman kepadanya, tetapi sampai sekarang dia juga masih muncul. Karena dia juga tahu, semua orang yang ingin membunuh Toro akan pergi ke suatu tempat yang sama, neraka.


Nikita didorong masuk ke dalam rumah oleh Toro, tiba-tiba dia menggenggam tangan Toro dan berkata, “Toro, keluarga Jeriko sangat berkuasa, aku dengar dia punya koneksi di pihak hitam maupun putih. Hari ini kamu memukulnya, dia pasti akan membalaskan dendam ini!”


Tidak menunggu Toro memberitahunya tidak takut, Nikita melanjutkan dengan kesal dan tidak berdaya, “Aku sudah bilang kamu adalah temanku, artinya menyuruhmu jangan mengganggunya. Kenapa kamu malah memukulnya dengan begitu kejam!”


Toro langsung menggenggam kedua bahunya dan menyuruhnya tenang, kemudian dia baru berkata, “Nikita, tadi dia ingin memukulmu, aku tidak mungkin berdiam diri melihat temanku dipukul di depanku. Lalu dia memarahi ibuku, aku tentu harus memberinya pelajaran bukan? Tapi juga karena menghargaimu, kalau tidak dia sudah diangkut pergi dari sini.”


“Sakit, sakit!” Kata Nikita dengan ekspresi kesakitan, dia berkata, “Kamu hanya perlu menghalanginya saja, orang seperti ini tidak boleh kita singgung!”


Toro sangat ingin memarahinya, kenapa harus takut dengan dia! Tetapi dia hanya tersenyum, sambil membawa barang-barang ke dapur dia berkata, “Tidak apa-apa, aku juga sudah memukulnya. Tidak perlu takut. Kalau dia mencari masalah lagi denganmu, kamu hanya perlu telepon aku. Aku akan membereskannya!”


Nikita masih belum menyerah, dia mengikutinya masuk ke dapur dan berkata, “Kamu tidak tahu, artis seperti kami sering dirundung oleh para investor. Aku lebih terkenal, sehingga mereka tidak berani melakukan sesuatu kepadaku. Palingan dia hanya memukulku, setelah ditolak kali ini, dia pasti tidak akan datang lagi. Sekarang kamu memukulnya, dia pasti akan mengarahkan amarahnya ke kamu. Mungkin kamu tidak tahu dia mengenali banyak orang organisasi hitam, aku khawatir dengan keamananmu!”

__ADS_1


Toro membersihkan sayur sambil berkata, “Sepertinya kamu pintar juga!”


“Tentu saja, aku bisa bertahan sebagai aktor dan tidak menyentuh hal-hal lain, itu karena aku mengerti cara orang-orang ini. Kalau tidak, aku tidak mungkin bertahan sampai hari ini!” Kata Nikita dengan bangga.


“Sudah sudah, jangan berbicara seperti aku pasti terbunuh olehnya. Tenang saja, sekarang ini adalah negara hukum. Aku juga tidak berjalan di jalur yang salah, dia tidak bisa menyentuhku. Sana tunggu dulu, aku akan masak makanan andalanku!”


“Bukannya kamu ingin menunjukkan kehebatanmu?”


“Astaga, kamu masih ingat saja. Baiklah, aku akan memperlihatkan teknik pisau koki terhebat, pasti akan membuatmu susah melupakannya!” Sambil berkata, Toro sudah selesai mencuci sayurnya. Dia mengeluarkan pisau dan tersenyum kepada Nikita, tangan mulai memotong sayur dengan cepat.


Tiga detik kemudian, dia berkata, “Sudah lihat?”


“Wahh? Kamu lebih cepat dari mesin, potongannya juga sangat bagus, apakah kamu beneran seorang koki?”


“Coba tebak!”


“Aku tidak bisa menebaknya, tapi koki tidak mungkin sanggup tinggal di tempat seperti ini. Bukannya kau meremehkan koki, tetapi harga rumah di kota Intan sekarang, walaupun kamu bekerja sejak lahir, juga tidak mungkin!”


“Pulang sudah capek, apakah kita boleh tidak membicarakan pekerjaan? Kamu tunggu makanannya saja!” Kata Toro sambil mendorong Nikita keluar dari dapur. Dia takut wanita ini terus bertanya kepadanya, karena dia tidak mungkin memberitahunya bahwa dia tinggal di sini karena mengandalkan seorang wanita bukan?


Perbuatan Toro memang sangat tepat. Ketika Nikita melihat 6 lauk 1 sup, mencium wangi yang menggoda, dia langsung melupakan semua masalah dan kekesalan tadi. Dia berbeda dengan saat ketika sedang makan mie instan. Nikita melepaskan jaket dan mulai makan dengan lahap. Toro juga senang melihat makanannya begitu disukai. Wanita artis ini bisa begitu terbuka di depannya, membuat dia merasa wanita ini lucu juga.


Jadi setelah kembali ke rumah, dia menonton tv sebentar. Ketika melihat Nikita di layar tv, ditambah dengan pertemuan tadi, Toro merasa pantesan wanita cantik ini bisa mendapatkan banyak penghargaan dan menjadi sebuah bintang yang bersinar di dunia hiburan.


Semakin dilihat, Toro semakin merasa gatal. Demi menjamin dirinya tidak melukai wanita seperti itu, setelah jam 10 malam, dia memutuskan untuk pergi ke tempat Novianto. Mungkin dia bisa bertarung dengan mereka dan menurunkan api di dalam tubuhnya.


Toro membawa Lamborghini pergi ke sebuah tempat kecil bernama “Desa Bulan”, tempat ini berada sekitar 40 km dari sekolah teknik Bintang Cemerlang. Hanya saja Toro terpaksa memarkirkan mobilnya di parkiran berbayar dekat sekolah, karena perjalanannya akan menempuh jalan yang sempit dan berbatu, mobil pendek seperti Lamborgini pasti akan rusak.


Setelah sampai tempat ini, supir taksinya mengatakan jangan sering datang ke tempat seperti ini. Karena desa kecil ini sangat menyedihkan, orang yang tidak di sini tidak lebih dari 100 keluarga. Tetapi orang yang sering datang ke sini kurang lebih 1 juta setiap harinya. Di sini sering terjadi perkelahian, pertarungan, perampokan bahkan pembunuhan juga mungkin terjadi.


Toro berharap supir taksinya yang baik hati ini bisa panjang umur, tetapi mana mungkin dia takut?


Berjalan di jalan dan gang yang sempit, dia bisa melihat banyak pria bertato dan wanita yang menggoda. Para pria terlihat begitu sombong, seperti jalan milik nenek moyang mereka. Para wanita juga terlihat jual mahal, sebenarnya harga mereka tidak tinggi, 600 ribu sudah bisa menikmatinya 2 jam, terkadang 1 juta bisa mendapatkannya semalaman.


Sepanjang jalan Toro sangat tersiksa, banyak wanita yang ingin menariknya masuk ke salon atau tempat pijat. Tapi ketika dia melihat wanita yang sedang tawar menawar di pinggir jalan, nafsu birahinya langsung padam seketika. Kalau daerah di sekitar sekolah ada tempat yang tidak diatur, maka disini bisa disebut daerah abu-abu.

__ADS_1


Setelah menolak ribuan wanita, Toro akhirnya menemukan nomor rumah yang sudah tidak jelas itu. Pagarnya tidak setinggi ukuran manusia, kita bisa melihat halaman yang luas dari luar pagar. Di dalamnya sedang ada api unggun, orang-orang mengelilingi api dan sedang makan daging bakar dan bir dingin sesuai harapan Toro. Suara tertawa yang begitu riang, ini adalah cara hidup yang sangat bebas.


Di tengahnya sedang ada pertarungan antara dua orang pria, mereka bukan sedang bertarung mati-matian. Toro langsung tahu mereka sedang bergulat, ketika dua orang itu saling bertabrakan, satu orang langsung terlempar sejauh 3 meter.


“Haha, kamu mendapatkan 1 poin lagi!” Orang yang tertawa itu adalah Tinju Besi.


“Kak Toro, kenapa tidak masuk?” Terdengar sebuah suara yang pelan.


Pemilik suara ini tahu Toro sudah menyadarinya sejak dia muncul, “Darah merah, kamu masih perlu latihan!”


“Aku tahu, kalau aku bisa membuat Kak Toro tidak menyadarinya, raja penjara di Golania adalah aku!”


Toro menoleh ke belakang, Darah Merah yang berdiri di belakangnya sedang menunduk dan memakai topi wanita seperti biasa. Ekspresinya tidak terlihat sama sekali. Toro tiba-tiba mengangkat dagunya dan pelan-pelan wajah yang penuh dengan bekas luka terlihat jelas. Dia melihatnya sebentar dan berkata, “Kamu seharusnya memiliki wajah cantik, kalau kamu mau, aku akan mengatur operasi plastic untukmu.”


Darah Merah mendorong tangan Toro dengan pelan, dia berkata, “Terima kasih niat baik Kak Toro. Aku sudah terbiasa, bos menyuruhku keluar untuk menjemputmu.”


Ketika Toro berjalan masuk, dia melihat ada 7 8 wanita yang terbaring lemas di samping api anggun. Dia mengerutkan keningnya, baju mereka robek semua. Seketika dia mengerti, wanita-wanita ini semuanya diperkosa.


Toro menyapa orang-orang itu, kemudian menerima bir dan daging yang dikasih oleh mereka. Di sampingnya duduk seorang pria yang tidak memakai baju. Walaupun Toro memiliki tubuh kekar, tetapi ketika dibandingkan dengan pria ini, seperti Turman dan Alura. Tetapi pria ini tidak memiliki lemak, semua tubuhnya terdiri dari otot yang kekar.


Otot dadanya lebih besar dari perempuan, dia tersenyum sambil bersulang bir dengan Toro, “Kak Toro, apakah kamu iri dengan tubuhku?”


“Buas, ternyata kamu narsis juga!” Kata Toro sambil tersenyum.


“Ini Namanya modal. Sini, kita habiskan ini Kak Toro. Bos mereka sudah menunggu di dalam!”


Si Buas melirik ke arah rumah di belakangnya, setelah menghabiskan birnya, Toro menepuk bahu lebarnya dan berkata, “Kalau ada kesempatan, kita boleh bertarung!”


“Hehe, sangat dinantikan!”


Ketika Toro masuk ke dalam, dia melihat Novianto dan yang lain sedang bermain kartu di bawah cahaya lampu. Tetapi di depan Yanto ada seseorang, dari auranya, Toro bisa merasakan kesedihan mendalam di dalam orang itu. Kalau dia tidak salah, kemampuan orang ini sudah melewatinya.


“Kak Toro!” Kata Novianto dan yang lain dengan malas.


Toro mengangguk, tapi tatapannya terus mengarah kepada orang itu, “Siapa kamu?”

__ADS_1


 


 


__ADS_2