Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Bekerja Dengan Bangga


__ADS_3

Dia mendengar dari wawancaranya bahwa satpam baru memiliki tubuh dan tampang yang bagus. Mana bagusnya ini, dia kelihatan seperti anak orang kaya yang usil. Kirania Cahyani tidak percaya Toro ingin bekerja di sini, dia curiga preman ini punya maksud tertentu.


Kirania Cahyani pernah mengalami hal seperti ini, sebelumnya ada seorang anak konglomerat berpura-pura menjadi teknisi dan diusir oleh satpam sebelumnya, tapi karena itu, satpamnya juga terseret dan masuk rumah sakit. Makanya mereka mencari satpam baru, dan ia khawatir Toro juga orang seperti itu, hanya saja alasan dia terlihat lebih masuk akal karena penampilannya.


Apakah Byakta Mandala sedang berakting dengannya kemarin? Setelah berpikir sejenak, Kirania Cahyani menatap pria di depannya dengan tatapan tajam. Hal ini membuat Kirania tidak merasa enak, karena dia merasa tidak bisa melihat jelas orang ini. Lalu dia bertanya, “Apakah kamu adalah satpam yang baru?”


Toro sedang memikirkan bagaimana menurunkan harga dirinya, tapi karena pihak lawan sudah bertanya, dia terpaksa menjawab, “Iya, bos.”


“Orang seperti kamu, juga ingin menjadi satpam di institusi kecantikan kami?” Tatapan Kirania Cahyani melirik ke samping, dia berkata, “Silahkan pergi!”


Toro tidak berdaya, tapi dia tetap berkata, “Bos, semalam aku membantumu……”


“Aku tidak ingin mendengar ucapanmu!” Kata Kirania Cahyani sambil melambaikan pelan tangannya. Ekspresinya masih begitu dingin, dia melanjutkan, “Kamu hanyalah preman, aku tidak akan membiarkan orang seperti kamu ini berada di dekatku ataupun pelanggan kami, itu namanya tidak aman!”


Ditolak seperti ini membuat Toro mengerti. Dia mengoceh dalam hati, kamu sendiri yang berwajah cantik, aku juga tidak bisa menahan diri. Setiap pria yang normal akan melakukannya, bukannya itu hal wajar?

__ADS_1


Karena tidak bisa menjadi satpam, Toro langsung duduk di depannya dan menyalakan rokok, dia berkata, “Bos, kamu sendiri yang mendekat, aku tidak memaksamu bukan?”


“Apa yang kamu katakan? Siapa yang menyuruhmu duduk?” Kata Kirania Cahyani yang kesal. Dia semakin kesal ketika teringat kejadian semalam yang memalukan itu, dia langsung memarahinya, “Pria seperti kamu, memang tidak tahu malu, kamu tidak pantas menjadi satpam!”


Ekspresi Toro langsung menjadi dingin, dia berkata, “Aku tidak tahu malu, lalu bagaimana denganmu? Kalau kamu tahu malu, kenapa masih memelukku? Apakah itu namanya tahu malu?”


Tidak menunggu Kirania Cahyani menjawab, Toro langsung melanjutkan, “Aku hanya ingin sebuah pekerjaan, kalau kamu merasa aku bisa, kita bisa bicarakan. Kalau tidak bisa, aku tinggal pergi, tidak perlu menyindirku.”


Kirania Cahyani menjadi lebih tenang. Walaupun dia sudah mengatakan seperti itu, pihak lawan masih ingin posisi satpam ini, melihat pakaian dan aura orang ini, sepertinya dia bukan demi pekerjaan ini saja. Mungkin dia memiliki maksud jahat atau dia sedang menguntit dirinya? Kalau dia begitu kekeh, maka biarlah. Biarkan orang ini merasakannya dan menunjukkan sifat aslinya, setelah itu dia akan menyuruh polisi menangkapnya.


Memikirkan tentang ini, Kirania Cahyani menjadi lebih tenang. Dia berkata, “Kami masuk kerja jam 9 pagi sampai subuh jam 4 pagi. Tidak boleh izin, tidak boleh istirahat, gaji 6 juta rupiah, ada tunjangan tempat tinggal dan makan, apakah kamu bersedia?”


Kirania Cahyani sedikit kesal, orang ini bahkan bisa menahan diri setelah mendengarnya. Dia semakin merasa curiga dengan orang ini. Dia berkata, “Aku peringatkan, tempat kamu tidur adalah gudang.”


“Tidak masalah!” Jawab Toro, “Kalau begitu aku mulai kerja sekarang”?

__ADS_1


“Kapanpun juga boleh!” Kirania Cahyani berteriak, dari luar masuk seorang wanita di resepsionis. Dia berkata, “Bawa dia ke tempat tinggal satpam sebelumnya untuk melihat-lihat!”


“Baik, kak Kirania!” Wanita resepsionis itu berkata, “Ikut aku!”


Toro mengulurkan tangannya dan berkata, “Kak Kirania, namaku Toro, mohon bantuannya!”


Kirania Cahyani memutar kursinya, dia berkata, “Aku tidak tertarik dengan namamu. Fely, bawa satpam ini pergi!”


Toro selesai berganti baju, bajunya sedikit kecil. Wanita yang membawanya masuk itu tidak bisa menahan tawa, dia berkata, “Kak Toro, ini adalah baju satpam yang dulu. Kamu pakai saja dulu, nanti kamu beritahukan ukuranmu. Aku akan menyuruh orang untuk membuatkannya besok!”


“Terima kasih nona cantik!” Kata Toro sambil mengangguk.


“Nona cantik?” resepsionis langsung memegang wajahnya dan tersenyum senang, “Namaku Felysia, orang-orang memanggilku Fely!”


“Baik, kak Felysia!” Jawab Toro dengan serius, Felysia tersenyum kepadanya sekali lagi. Dari pagi jam 9 sampai malam, dia terus berdiri di depan institusi kecantikan ini, sambil melihat orang-orang dan mobil yang lalu lalang. Dia mengeluh dalam hati : Ada pekerjaan, aku bisa bekerja dengan bangga.

__ADS_1


 


 


__ADS_2