
Sebenarnya ketika Byakta datang ke salon kecantikan kemarin, Kirania kabur lewat pintu belakang. Dia menyuruh Felysia untuk memberitahunya bahwa dia pergi kencan dengan pacarnya. Tapi ketika dia masuk ke bar, Byakta juga ikut masuk ke dalam. Untung dia menyadarinya dengan cepat, kalau tidak pasti ketahuan. Hari ini dia terpaksa memamerkan pacar palsunya ini.
Byakta merupakan pria yang penampilannya rapi dan berasal dari keluarga terhormat. Tapi ketika dia melihat Toro dan Kirania yang begitu mesra, di dalam hatinya dia ingin sekali menghancurkan pria ini. Pria di depannya ini memang tampan, walaupun umurnya kelihatan tidak tua, tapi dia memiliki aura yang dewasa dan tenang. Hal ini membuat dirinya iri.
Jadi, dia langsung menganggap Toro sebagai rival nomor satu. Tapi dia masih tidak mengetahui apapun tentang latar belakang Toro, dia berusaha untuk mencari informasi dan bertanya kepadanya, “Siapa ayahmu? Mungkin saja aku kenal!”
Toro bahkan tidak menatapnya, dia hanya meregangkan badannya dan berkata kepada Kirania, “Kirania, aku pergi mandi dulu. Kalau tidak ada urusan penting, jangan berhubungan orang-orang yang tidak jelas!”
“Kamu……”Byakta tidak pernah merasakan penghinaan seperti ini. Di kota Intan, beberapa pejabat juga harus menghormatinya karena keberadaan ayahnya. Tapi Toro malah berdiri dan meninggalkannya begitu saja.
Kirania tersenyum dalam hati dengan kondisi sekarangi ini. Dia tidak menyangka Toro cukup cerdik, dia bisa menutup mulut Byakta dengan begitu cepat. Dia lalu berdiri dan berkata, “Byakta, pacarku tidak terlalu menyukaimu. Sepertinya kamu jangan sering-sering datang ke sini lagi!”
“Kirania, memangnya dia itu siapa?” Byakta berkata dengan kesal, “Ayahku dan paman Cahyani adalah partner bisnis selama beberapa tahun ini, kamu harus memikirkan semuanya baik-baik!”
Kirania memang sedikit tidak berdaya. Dia bisa begitu membenci Byakta tapi tidak bisa menghindarinya karena ada hubungan seperti itu, sehingga dia tidak bisa memutus hubungan dengan Byakta begitu saja. Dia berkata, “Byakta, aku tidak bisa mencampuri urusan ayahku. Tapi aku benar-benar tidak menyukaimu. Sekarang aku sudah punya pacar, aku ulangi sekali lagi. Jangan datang mencariku lagi. Sudah, silahkan pergi!”
“Baik!” Byakta berdiri dan berkata, “Suruh dia hati-hati, jangan sampai tertabrak mobil di jalan!”
Toro yang terus mendengar dari samping sejak tadi langsung berkata, “Kirania, bantu lap badanku, lihatlah, sekujur badanku penuh dengan keringat!”
Mendengar ucapan yang begitu mengesalkan, Byakta tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung bergegas ke arah Toro dan menarik kerah bajunya, dia berkata, “Bocah, dengarkan baik-baik. Kirania adalah milikku, siapapun tidak akan bisa merebutnya dari sisiku. Kalau kamu tahu diri, lebih baik pergi dari sini. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa bertahan di kota Intan.”
__ADS_1
Byakta terkejut, tapi di depan wanita yang disukainya, dia tidak boleh mundur, “Aku akan melepaskanmu. Aku akan memberikan 2 Miliar, segera tinggalkan Kirania!”
“Aku akan memberikan 4 Miliar, lepaskan!”
“Bocah, kamu ini……”
Toro menggenggam pergelangan tangannya, orang yang terobsesi dengan wanita dan alkohol mana mungkin menjadi lawannya. Belum sempat melawan, Toro sudah mencekiknya dengan kuat. Kedua mata Byakta seperti akan keluar, lidahnya tanpa sadar juga terjulur keluar, air liurnya terus berceceran.
Melihat Byakta yang begitu menjijikkan dan menyedihkan, Kirania mengerutkan kening dan berkata, “Toro, kamu jangan mencekiknya lagi, cepat lepaskan dia.”
Byakta langsung terjatuh ke lantai setelah dilepaskan oleh Toro. Nafasnya masih terengah-engah, kemudian pelan-pelan menjadi normal kembali, kedua matanya menatap Toro dengan kejam. Setelah 1 menit kemudian, dia baru berkata, “Aku akan membunuhmu!” Sambil berkata, dia berusaha berdiri.
“Lepaskan aku!” Byakta berusaha berteriak. Tapi Toro malah duduk di badannya dan menarik rambutnya, rokoknya sudah hampir mengenai mata Byakta. Byakta sangat ketakutan sampai menutup matanya, dia berteriak kencang, “Apa yang kamu inginkan?”
“Aku tidak ingin apa-apa!” Kata Toro sambil mendekatkan rokoknya, Byakta mulai merasakan panas di depan matanya, bulu mata dan alisnya mulai tercium bau gosong. Setelah itu dia berkata, “Siapa yang kamu bilang akan tertabrak di jalan?”
Byakta tahu dia bukan main-main. Walaupun sangat kesal dalam hati, tapi dia tahu dirinya bukan lawan Toro, kemudian dia berkata, “Aku, aku. Tolong lepaskan aku, aku jamin tidak akan datang lagi.”
“Baguslah kalau begitu!” Toro melepaskannya. Kepala Byakta sudah tergeletak di lantai, dia sekali lagi menendangnya dan berteriak, “Cepat pergi!”
Byakta langsung berdiri. Dia tidak tahu bagaimana Kirania bisa mendapatkan pacar yang begitu kasar dalam satu malam. Dia menatap Toro dengan kesal dan berjalan ke arah mobilnya.
__ADS_1
Kirania terkejut melihat Toro mengusir Byakta keluar. Mengusir satu orang seperti anjing dari sini memang memerlukan tenaga yang kuat. Pantas saja orang ini bisa menyelesaikan masalah kemarin secepat itu.
Melihat kepergiaan Byakta, Kirania berkata, “Toro, kali ini aku berhutang budi kepadamu. Kejadian itu kita lupakan saja, kita impas.”
“Kejadian apa?” Kata Toro sambil menggerakkan bahunya, dia berkata, “Aku sudah lupa!”
“Kamu jangan sombong!” Kirania terlihat sedikit khawatir, “Byakta sangat pendendam. Aku ingat dua tahun lalu ada orang yang mengganggunya, orang itu langsung mengalami kecelakaan hari itu juga. Lebih baik kamu menghindar sementara!”
Toro menyalakan sebatang rokok, dia berkata, “Aku sudah tidak bisa menghindar. Lagipula bila aku pergi dari sini, aku bahkan tidak punya tempat tidur.”
Kirania melotot ke Toro, dia berkata, “Melihat pakaianmu ini, kamu pasti punya keluarga yang cukup kaya. Aku yang menyebabkan masalah ini, aku tidak ingin kejadian seperti Chalis terulang kembali padamu.”
“Hehe……” Toro tersenyum. Dia memang tidak punya tempat tidur lagi. Kalau tidak, untuk apa dia menjadi satpam di sini. Sepertinya apapun yang terjadi, Kirania tidak akan percaya, “Kirania, bantu suamimu lap badannya terlebih dulu.”
“Pergi!” Kata Kirania dengan wajah yang seperti semula lagi, dia berkata dengan dingin, “Aku sudah memberitahumu. Terserah kamu percaya atau tidak. Dasar preman, kamu memang pantas dihajar!”
Selesai berkata, dia langsung kembali ke ruangannya. Toro tersenyum dan berpikir: Siapa yang dihajar masih belum tahu!
__ADS_1