
Setelah beberapa menit kemudian, masuk seorang anak muda berumur sekitar 22 – 23 tahun. Rambutnya sangat lebat, tubuh dan tampangnya sesuai dengan julukannya yang seperti Kera, dia juga menunjukkan ekspresi acuh tak acuh.
Mando menunjuk anak muda itu, dan berkata kepada Toro, “Kalau kamu bisa menahan 20 jurus darinya, aku akan menerimamu. Kalau tidak bisa, hehe…kamu pilih saja kaki atau lenganmu!”
Toro tahu Mando sangat percaya diri dengan Kera, tetapi dia takut satu tinjunya bisa menghancurkan bocah ini. Kera sudah bersiap dan tersenyum ke arah Toro, “Sudah siap?”
Toro berdiri dan meregangkan otot tubuhnya. Dia langsung menyerang tanpa basa-basi, tetapi tinjunya kali ini hanya menggunakan 30% tenaga dan kecepatan, tetapi tidak disangka Kera bisa menghindarinya dengan santai.
Seketika, dia merasakan lengannya tertangkap dan dilempar keluar. Toro berputar di udara dan mendarat dengan aman, dia menatap bocah itu, tidak disangka Mando menyembunyikan seorang ahli di sini.
Toro bisa merasakan bahwa orang ini bukan pensiunan tentara, melainkan anak jalanan yang jago berkelahi. Dia mulai tertarik dengan Kera, karena bisa memiliki kemampuan hebat di usia muda, merupakan hal yang sangat jarang terjadi.
Dia melepaskan jaket dan melemparnya ke sofa, sekarang dia sudha sepenuhnya siap untuk bertarung. Mando seperti kutu yang loncat ke sana sini sambil berteriak, “Cepat serang, baru satu jurus, bodoh.”
Kera menatap Toro, “Hebat juga kamu!”
“Harusnya kamu sedang memakiku, kan?”
Toro tersenyum, kemudian mengeluarkan jurusnya dengan cepat. Dua tinju satu tendangan, melihat serangan yang begitu dahsyat, Kera langsung bersikap serius, dia juga mulai menyerang Toro.
Toro bukan preman biasa, dia tidak akan memberinya kesempatan membalas. Tinjunya secepat kilat menyambar ke tubuh Kera, kemudian kecepatannya juga meningkat, Kera mulai tidak bisa menahannya, dan mulai mundur pelan-pelan.
“Sudah, sudah cukup!” teriak Mando. Kera dengan lincah menghindari serangan Toro, tetapi tinju Toro sudah keluar, melihat wajah keledai tua di depannya, dia langsung berhenti. Kemudian terdengar suara “bruk”, Mando terjatuh ke bawah.
“Bagus, bagus sekali, aku beneran beruntung, dengan dua anak buah seperti ini, aku mau lihat ketua geng mana yang berani menggangguku, hahaha!” Mando dihajar sampai mimisan, tetapi wajahnya terlihat sangat senang, dua orang anak buahnya datang membopongnya.
Kera mengurut dadanya, sepertinya pukulan yang mengenainya sangat sakit. Setelah menatap Toro sebentar, dia tersenyum dan bertanya, “Siapa namamu, bro?”
“Toro, kamu?” Tanya Toro.
Kera: “Namaku Krisna, orang-orang memanggilku Krisna atau Kera. Sebenarnya julukanku Kera Sakti!”
“Kak Kera, aku sudah mendengar namamu dari dulu!”
“Memangnya aku terkenal? Cih, pergi sana!” Krisna membuka bajunya dan melihat memar biru di dalamnya, dia bertanya, “Dari mana kamu belajar bela diri?”
Toro tersenyum, “Aku belajar ketika menjadi pengawal pribadi, kamu?”
“Aku berlatih sendiri, percaya?”
“Tidak!” Toro menggelengkan kepalanya.
Krisna tersenyum, “Aku juga tidak percaya padamu.”
Toro, “Kalau begitu kita tidak bisa ngobrol lagi, Kera juga tidak akan percaya apapun yang aku katakan.”
“Cih, kamu jangan memanggilku Kera, norak sekali. Panggil aku Krisna, aku akan memanggilmu Toro. Aku ingin bertanya kepadamu, dengan kemampuanmu ini, kenapa kamu bisa mengikuti Mando?”
“Krisna, Kak Mando adalah ketua kita, kenapa kamu merendahkannya?” Tanya Toro kepadanya. Karena kera pasti bukan orang biasa, karena orang biasa tidak mungkin berdiri setelah dihajar oleh Toro, melainkan pasti sudah masuk rumah sakit.
“Oh iya, sekarang dia adalah ketua, memang tidak boleh merendahkannya!” Krisna tersenyum lagi.
__ADS_1
Toro tidak tahu Mando mengadakan perjamuan di hari kedua, seakan-akan acaranya dibuat untuk merayakan 1 bulan kelahiran anaknya. Para ketua geng di pinggiran barat banyak yang hadir, di antaranya ada dua orang yang tidak enak ditemui Toro, yaitu Barbar dan Tengkorak.
Toro dan Krisna duduk di samping Mando, tatapan Tengkorak sangat tajam ke arahnya, tatapannya juga penuh dengan dendam dan merendahkan. Toro hanya tersenyum dingin ke arahnya.
“Terima kasih sudah datang ke perjamuanku. Hari ini, bukan hari ulang tahunku, tetapi aku ingin memperkenalkan dua orang teman baikku kepada kalian. Toro dan Krisna, mereka baru masuk di organisasi hitam, kemampuan bela diri mereka sangat hebat, tetapi masih kurang pengalaman, mulai sekarang kuharap teman-teman di sini dapan membantu mereka kedepannya!”
Mando menarik tangan Toro dan Krisna, dia memamerkan mereka berdua seperti memamerkan dua batang emas. Toro merasa orang ini punya hobi yang aneh!
Tetapi orang-orang yang bisa berpikir pasti tahu apa yang terjadi. Dari sorot mata Krisna, Toro dapat melihat kalau Krisna pasti tahu Mando sedang mengumumkan kepada dunia, bahwa mereka berdua adalah anak buahnya, mulai sekarang tidak gampang bagi mereka pindah ke tempat lain.
Toro tidak makan banyak, dia hanya minum beberapa gelas dengan para ketua geng. Dia masih tidak tahu asal usul Krisna.
Tiga hari kemudian, Toro menjadi mahasiswa yang buruk di kelas. Dia tidak tahu apa yang diajarkan oleh dosennya, tetapi dia yakin pasti bukan cerita horor. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh hp nya yang berbunyi, ketika mengangkat kepalanya, dia melihat semua orang sedang menatapnya. Dia langsung berdiri dan berpamitan dengan dosennya.
“Toro, hebat ya kamu, aku benar-benar buta waktu itu!”
Tengkorak yang meneleponnya, Toro merasa aneh, kenapa orang ini bisa meneleponnya dan berbicara yang tidak jelas, “Kenapa denganku?”
“Hehe, kenapa? Kalau aku melihatmu lagi, aku pasti akan menebasmu!”
“Sialan, orang kantor saja bisa pindah perusahaan, kenapa kamu malah menganggapku jadi musuh?”
“Tunggu saja, urusan kita belum selesai!”
Pasti terjadi sesuatu hingga Tengkorak bisa semarah itu. Toro berpikir sebentar dan memutuskan untuk pulang melihatnya. Karena Barbar dan Tengkorak juga baik orangnya, jadi walaupun mereka menyalahkan Toro pindah tempat, seharusnya juga tidak menyimpan dendam.
Ketika Toro datang ke marketing gallery dan melihat Barbar, dia baru tahu seberapa seriusnya masalah itu. Entah siapa yang telah menghajar Barbar hingga babak belur, seluruh tubuhnya penuh dengan luka, dia terbaring di sana dan tidak bisa bergerak.
Tengkorak dan yang lainnya marah besar melihat kedatangan Toro. Tengkorak mendatangi Toro dengan membawa golok, Toro langsung menggenggam pergelangan tangannya dan mengarahkan golok ke lehernya, “Kalian gila ya, bukan aku yang melakukannya.”
Tengkorak terlihat sangat marah, dia sama sekali tidak mau mendengar ucapan Toro. Dia terus memakinya, “Kalau bukan kamu, siapa lagi yang melakukannya? Toro, aku akan membunuhmu hari ini juga!”
Tengkorak sama sekali tidak takut dengan golok di lehernya, dia menggunakan siku untuk menyerang Toro, dan Toro langsung mendorongnya. Sekarang ada 20–30 orang yang mendekat sambil memegang senjata, entah orang brengsek mana yang mengunci pintunya. Sepertinya hari ini mereka benar-benar ingin membunuh Toro.
Kamu tidak bisa berbicara logika dengan orang yang sedang dibutakan amarah. Apalagi dengan sekumpulan orang. 5 menit kemudian, Toro mengangkat Tengkorak dan menendang pintunya, di bawah sudah penuh dengan orang yang berteriak kesakitan. Ada dua orang anak buah yang datang dengan senjata, tetapi ketika melihat situasinya, mereka langsung menghindari Toro.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sudah kubilang bukan aku yang melakukannya!” kata Toro sambil menyalakan dua batang rokok dan memasukkan ke dalam mulut Tengkorak.
Tengkorak menghisap beberapa kali, kemudian memegang bahu Toro sambil duduk kembali, “Sekarang bos sudah seperti itu, aku bener-bener tidak tega melihatnya. Sejak umur 16 tahun, aku sudah mengikutinya. Sekarang dia tumbang, aku tidak tahu harus bagaimana lagi!”
Toro dan Tengkorak duduk di jalan raya yang sepi ini. Terkadang ada 1–2 mobil yang lewat di depan mereka. Semuanya seakan tidak berubah, tetapi juga seperti sudah berubah semua, “Tengkorak, zaman sedang berubah, kalau kamu terus melakukan semuanya sesuai peraturan, kamu akan tahu akhir dari bos bukanlah kebetulan, tapi kepastian. Mungkin kemarin kamu melihat mobil itu, lalu besok juga melihat mobil yang sama, hanya saja orang yang duduk di dalam sudah berubah!”
Tengkorak memelototi Toro, melihat Toro tersenyum padanya, dia akhirnya menghela nafas dan berkata, “Kamu ini orang berpendidikan, aku tahu kamu punya banyak teori. Aku juga mengerti ucapanmu, sebenarnya memang seperti yang kamu pikirkan.”
Toro tersenyum tak berdaya, entah Tengkorak benar-benar mengerti, atau mengerti karena kekerasan tadi.
Setelah beberapa saat, Toro bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Melanjutkan posisi ketua?”
Tengkorak, “Seharusnya iya. Tapi aku lebih berharap ketua bisa sembuh dan seperti dulu lagi, posisi ketua tidak segampang itu diduduki!” setelah terdiam sesaat, dia berkata, “Sebenarnya aku ingin tahu siapa yang membuat bos seperti itu!”
“Kamu masih curiga padaku?”
__ADS_1
“Hehe, kalau masih curiga, aku tidak akan berbicara sebanyak itu. Apakah kamu tahu?”
“Kayaknya orangnya Mando!”
“Kamu dengar sesuatu?”
“Tidak, hanya tebakanku saja. Aku rasa tidak ada orang lain lagi selain dia. Jangan murung begitu, terimalah posisi ketua dengan baik. Aku berjanji kepadamu Mando pasti akan mati, dan akan mati di tanganmu!”
Tengkorak menatap Toro dengan tatapan tidak percaya, “Sekarang kamu hidup dengan tenang, kamu yakin rela membunuh Mando? Apa harus tunggu dia tua dan mati sendiri?”
“2–4 bulan, kita harus melihat perkembangnya nanti!”
“Hehe, sepertinya kamu sangat yakin!”
“Yakin mengencani wanita?”
“Haha…kamu tidak berubah, hanya saja dunia ini yang berubah.” Kata Tengkorak.
Toro memikirkan ucapannya, memang dunia organisasi hitam ini yang berubah. Dia juga harus ikut berubah, kalau tidak, dia yang akan mati, “Tenang saja, aku pasti akan memberikan jawaban kepada kamu dan bos Barbar. Kamu juga jangan buat masalah lagi, kalau kamu mati tidak masalah, tetapi di rumahmu masih banyak orang yang perlu dinafkahi!”
Tengkorak mengangguk, “Aku tidak akan mati, nyawaku ini hidup demi mereka.”
Toro naik taksi dan kembali ke tempat Mando. Sekarang posisi Toro sama dengan sebelumnya, anak buah yang melihatnya semua memanggil, “Kak Toro”. Toro hanya mengangguk pelan, dia segera pergi ke tempat Mando sedang berendam. Sekarang Mando terlihat sangat bahagia, dia sedang berbincang dengan Krisna di dalam air, di sampingnya juga ada wanita yang sedang memijat mereka.
“Toro, sini ikutan, biar semangat lagi!” Kata Mando menyuruh Toro untuk ikut turun.
Toro langsung melepaskan pakaiannya dan loncat ke dalam, lalu seseorang segera datang ke sampingnya, dia mendengar Krisna berkata, “Bos, kamu tidak tahu kondisi waktu itu, serigala hutan sedang bermain dengan wanitanya. Ketika aku masuk dengan golok, dia langsung ketakutan sampai lemas. Bener-bener sangat…haha…”
Mando bertanya karena melihat Toro tidak berbicara, “Toro, kenapa murung gitu?”
Toro bertanya kepadanya, “Bos, kamu yang menyuruh orang menyerang Barbar?”
“Barbar? Kenapa dengannya? Terluka parah?” kata Mando dengan ekspresi bingung. Toro idak tahu harus menjawab apa. Awalnya dia mengira orang ini akan membual, dan mengatakan kalau dia yang melakukannya karena dia sudah tidak tahan dengan orang itu.
“Parah banget, kayaknya tidak akan bisa berjalan selama 1-2 bulan.”
“Sialan, kenapa Barbar yang sudah tua itu bisa bertemu hal seperti ini?”
“Hmm.”
“Hei, kamu kira aku yang menyuruh orang menyerangnya?” kata Mando kesal, “Walaupun ada perselisihan di anatara kami, tetapi semuanya sudah beberapa tahun bergelut di daerah sini. Tidak ada perselisihan yang besar, kenapa aku harus menyerangnya?”
Melihat Mando yang sepertinya tidak berpura-pura, seketika dia juga tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak. Sedangkan Krisna sudah meraba dada wanita di sampingnya, dan memendamkan kepalanya dan mulai menciumnya. Terkadang juga mengeluarkan suara yang tidak senonoh.
“Krisna, apa kamu yang melakukannya?”
“Aku tidak mengenalnya, emang aku gila?!”
__ADS_1