
Kantor Pusat Geng Wustang yang hancur berantakan.
“Ei, tidak disangka, Kalajengking akan mati begitu saja, takdir selalu berkata lain!”Kata Leo sambil menatap pekerja yang sedang memperbaiki tempat ini, tetapi wajahnya tidak ada kesedihan sama sekali, “Anak buah dan tempatnya, apakah kita harus membaginya?”
“Sialan, jangan mengungkit hal ini dulu. Kita tunggu bos pulang dulu!” Orang yang berbicara adalah pria kekar dengan dua kumis tipis, tapi dia juga tidak terlihat sedih. Seperti orang yang mati adalah seseorang yang tidak penting, “Mungkin saja bos akan menyuruh yang lain untuk menggantikannya.”
“Sudah ketahuan siapa yang melakukannya?” Kata seorang pria yang mengerikan, di dalam mulutnya ada sebuah permen warna-warni. Kepalan tinjunya bahkan lebih besar dari kepala orang biasa, dia melanjutkan, “Aku akan membalaskan dendam untuk Kalajengking!”
“Beruang Hitam, kamu masih punya hati nurani, aku merasa jijik dengan mulut mereka berdua!” Walaupun cuaca dingin, seorang wanita yang menggoda tetap memakai gaun lengan pendek, dengan ekor merak yang menjulang ke bawah. Dia menatap kedua orang itu dengan tatapan merendahkan.
“Merak, kamu masih saja suka marah. Pasti tidak ada yang berani menikahinya. Benar gak, Dito?” Kata Leo.
Orang yang dipanggil Dito melototnya dan berkata, “Leo, jangan menyeret aku ke dalam sini!”
“Merak kecil, apakah perlu aku kasih pelajaran kepada Leo?” Beruang Hitam sudah mulai memegang kantongnya, seperti ingin mengeluarkan sesuatu.
“Beruang hitam, Merak, jangan mengacau!” Leo juga kaget melihat keeling yang berkilauan itu. Dia lalu berkata dengan serius, “Bukan tidak ingin balas dendam, AK-47 dan juga granat, kalau dulu kita masih gampang memeriksanya. Kalian juga tahu bahwa sekarang seluruh kota melarang pemakaian senjata api, kita masih bisa memeriksanya!”
“Hajar gak?” Beruang Hitam sama sekali tidak mendengarkannya, dia bertanya ke Merak lagi.
“Terserah kamu!”
“Hehe, kalau begitu aku akan merobek mulutnya!”
“Beruang Hitam, cukup!” Teriak Dito, dia lalu melanjutkan, “Apakah kalian tidak ingin mendengar pemikiran bos?”
Mereka bertiga lagi mengangguk, Dito melanjutkan, “Bos menyuruh kita jangan bergerak dulu, dia sudah dipesawat. Tapi dia mengingatkan kita untuk membeli peti mati yang bagus untuk Kalajengking, setelah dia pulang, kita akan menguburnya.”
“Hal ini sangat tidak biasa. Geng Wustang kita juga tidak mengganggu geng besar yang lain, geng kecil juga tidak punya nyali seperti itu. Kenapa ada yang berani menyerang kantor pusat kita?” Kata Merak yang merasa aneh, kemudian mengeluarkan jaket dari kantong Beruang Hitam dan memakainya, “Leo, apakah Sutomo bawahanmu itu yang melakukannya?”
Leo yang mendengarnya langsung tertawa, dia menggelengkan kepala dan berkata, “Merak, kamu jangan bercanda. Ucapanmu seperti semua ini salahku, Sutomo itu hanyalah preman kecil. Kalau dia punya kehebatan seperti ini, kita sudah bisa pensiun. Walaupun orang yang menyembunyikannya memang ada beberapa ahli, tapi kamu juga tahu tidak gampang mendapatkan senapan dan granat bukan? Haha……candamu ini sama sekali tidak lucu.”
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal!” Wajah Dito langsung berubah, “Kalau ada ahli yang bisa menyembunyikannya, apakah mereka tidak bisa mendapatkan senjata api? Jangan peduli yang lain dulu, segera temukan dia. Hal ini kurang lebih pasti berhubungan dengannya!”
Mereka berempat sambil berjalan sambil berbicara, tiba-tiba seorang anak buah berlari masuk dengan nafas terengah-engah, “Tidak, itu tidak baik, sesuatu yang buruk telah terjadi!”
Dito melotot ke anak buah itu, karena dia adalah anak buahnya, “Kantor pusat sudah hancur seperti ini, apalagi yang bisa terjadi?”
Anak buah itu berkata dengan gemetar, “Tempat Disko Banara sudah direbut!”
“Mana mungkin? Cepat katakan, siapa yang melakukannya? Geng Tiga Sakit? Atau Geng Awan Api? Sialan brengsek semua, siapa yang berani melakukannya?” Kata Dito yang sangat marah.
__ADS_1
“itu, itu Sutomo!” Kata anak buahnya.
“Sialan, beneran semakin kacau, sudah berapa lama?” Tanya Merak sambil menarik anak buah itu.
“Semalam. Anak buah yang berhasil kabur baru menelepon. Dia bilang Sutomo membawa 300 orang lebih, dan yang berhasil kabur tidak sampai 5 orang dan semuanya terluka. Aku sudah memberitahu teman-teman!” Kata Anak buah itu dengan panik.
“Apa yang mau dilakukan bocah ini?” Kata Leo dengan ekspresi kesal. Hanya dengan 300 orang dia berani merebut daerah Geng Wustang, apakah dia sudah bosan hidup?
“Aku pergi sendiri, jangan biarkan orang lain mengikutiku!” Kata Beruang Hitam yang ingin berjalan keluar.
Merak langsung berdiri di depan Beruang Hitam, seperti seorang anak perempuan berumur 7 tahun yang sedang menahan pria dewasa, dia berkata, “Sekarang pagi hari, malam baru pergi!”
“Ooh!” Beruang Hitam menggaruk kepalanya, lalu keling di tangannya malah merobek kulit kepalanya. Dia hanya tersenyum bodoh dan melepaskan senjatanya, ketika melihat darah di kepalanya, dia hanya tertawa bodoh, “Merak, bantu aku!”
“Jongkok!” Merak melototnya dan mengeluarkan belasan pembalut luka dari kantongnya.
Dito melihat dua orang itu sebentar, kemudian menoleh ke Leo dan berkata, “Leo, bagaimanapun bocah itu adalah anak buah Nasuto dan berarti adalah anak buahmu. Sepertinya kamu harus pergi langsung. Tapi jangan terburu-buru untuk bergerak, di sana pasti ada sesuatu!”
“Ei, hal kecil seperti ini suruh Nasuto saja yang pergi. Tapi kalau Kak Dito sudah berbicara, aku juga harus pergi!” Kata Leo sambil menghela nafas.
“Hati-hati!” Tiba-tiba terdengar suara Dito setelah beberapa langkah, Leo hanya tersenyum dingin dan mengangguk.
Pinggiran barat, tempat disko Banara.
Sutomo melihat anak buahnya yang berlari kemari, dia menunjuk ke salah satu arah dan berkata, “Buka penghangat ruangannya, dingin sekali!”
“Kak Sutomo, ada seseorang yang bernama Leo dari Geng Wustang di luar, dia ingin bertemu denganmu!” Kata anak buahnya.
“Sialan, ternyata bosnya kak Nasuto, kak Leo!” Sutomo langsung berdiri dengan panik. Dia membersihkan bir yang terjatuh di badannya. Tapi Iblis dan anak buah di belakangnya hanya mengangkat bir dan meneguknya, lalu berkata, “Bukannya hanya manusia saja? Apa yang kamu takutkan? Sekarang kita tidak perlu mempedulikannya.”
Anak buah Sutomo semuanya saling bertatapan dengan ekspresi takut, Geng Wustang sudah terkenal begitu lama. Ketakutan mereka terhadap Geng Wustang sudah mendarah daging.
“Brengsek, bos Sutomo sekarang sudah hebat ya?” Saat ini, Leo membawa dua orang anak buah yang tersenyum sombong dan berjalan masuk.
“Kak Leo, mana mungkin aku jadi bos, aku hanya mencari sesuap nasi saja. Hehe, kalian yang memanfaatkanku kemudian ingin membunuhku. Aku menghajar balik sebenarnya juga tidak ada yang salah bukan?” Kata Sutomo sambil berjalan ke arah Leo, seperti ada aura raja yang menyelimuti sekelilingnya.
“Sutomo memang berani, aku datang ke sini untuk lihat dan ingin bertransaksi denganmu. Terkait yang kamu bilang bahwa ingin membunuhmu, aku tidak melakukannya. Sekarang adalah negara hukum, kamu punya bukti?” Kata Leo sambil menahan kedua anak buahnya, ekspresinya terlihat tidak takut sama sekali.
“Bukti? Bukti kepalamu, kalau aku membunuhmu itu adalah buktinya!”
“Sutomo, semua yang datang adalah tamu, orang ini terlihat menarik, jangan mempersulitnya.” Kata Iblis sambil tersenyum. Leo yang melihatnya langsung kaget, dia menyadari seorang anak muda dengan jaket kulit, kemudian di belakang anak muda itu ada 11 orang dan 11 senjata api.
__ADS_1
Iblis menggunakan jari telunjuknya yang panjang dan menunjuk ke depannya, “Duduk!”
Leo mendorong bir kaleng dari Sutomo dan duduk dengan pelan di tempat duduk Sutomo sebelumnya. Dia kemudian menyalakan rokok dan menghisapnya dengan dalam. Lalu berkata, “Teman, kamu orang mana?”
Iblis berkata, “Itu tidak penting. Tapi kamu harus ingat satu nama, nama yang akan berguna untukmu.”
“Iblis!”
“Leo!”
“Teman sepertinya bukan orang Indonesia?”
“Kelihatan tidak mirip? Tapi aku adalah orang Indonesia, hanya tidak terdaftar saja!” Kata Iblis sambil tersenyum, “Apakah ini penting?”
“Hehe, aku terlalu banyak bicara. Tapi aku peringatkan, di sini adalah milik Geng Wustang, Geng Wustang kami tidak mengganggu kamu bukan?” Leo bagaimanapun juga memiliki aura seorang jendral, walaupun sempat kaget, tetapi dia tidak panik. Ucapannya juga sangat tepat sasaran.
“Apakah kamu pernah mendengar Halis dari negara M?” Iblis tidak menjawabnya dan malah bertanya balik.
“Maksud kamu, raja narkoba terbesar dari negara M, Halis?” Kata Leo yang lebih kaget daripada ketika melihat 11 senapan itu, sebagai atasan geng Wustang, dia juga pernah mendengar orang itu. Orang itu memulai karir dengan menjaul narkoba, dia adalah orang hebat yang melakukan apapun demi mencapai tujuannya, dia juga bos besar di dalam mafia.
“Betul, dia adalah kakak aku!” Kata Iblis sambil melepaskan tangannya, kemudian birnya terjatuh dan tumpah di lantai.
“Oh iya?” Leo semakin kaget, melihat 11 orang itu tidak ada alasan dia tidak percaya. Tidak disangka pinggiran barat kedatangan seseorang seperti ini, sepertinya kondisinya sangat tidak optimis.
“Ei, aku juga hanya ingin berbisnis saja!” Kata Iblis sambil mengeluarkan rokok dari kantongnya, “Aku merasa tempat ini tidak buruk, jadi aku langsung mengambil ahli!”
“Ini tidak mungkin!” Kata Leo menepuk meja dan berdiri, dia ataupun seluruh Geng Wustang tidak akan bisa menahan diri.
Iblis melambaikan tangan dan menyuruh dia untuk duduk, “Kalau kamu sudah tahu siapa kakak aku, maka semua akan lebih gampang. Aku akan membawa masuk narkoba dalam jumlah besar ke sini, sekarang sedang bingung harus menjualnya ke mana. Aku dengar Geng Wustang juga melakukan bisnis ini.”
“Apa yang ingin kamu katakan!”
“Baik, aku akan menjual kepada kalian, harga lebih murah 5 USD dari harga modal kalian, bagaimana menurutmu?”
“Satu gram lebih murah 5 USD?” Leo langsung tertegun, kalau ucapan Iblis benar, maka itu sama saja lebih murah 70an ribu rupiah. 1 gram memang tidak terlihat jelas, tapi jumlah mereka sangat besar. Dalam 1 bulan bisa menghemat puluhan miliar untuk geng Wustang. Itu sama saja memberikan dia uang. Posisi wakil ketua geng yang kosong selama ini, ataupun posisi ketua juga mungkin menjadi miliknya.
“Apakah kamu perlu memikirkannya?”
“Betul, aku harus memikirkannya!” Kata Leo sambil mengangguk.
__ADS_1