
Denisa menjelaskan dengan sabar kepada Toro tentang pekerjaan di bagian inspeksi. Sederhananya adalah mereka mengambil sampel dari bagian produksi, kemudian mengeceknya apakah lulus atau tidak. Hanya dengan tanda tangan mereka, produk itu bisa dikirimkan ke pelanggan. Pekerjaannya tidak sulit tetapi butuh kesabaran dan keseriusan.
Toro mengangguk, suara Denisa terdengar renyah dan menggerakkan hati. Orang yang mendengarnya juga terasa nyaman. Hanya saja ketika Toro menatapnya, wajah dia menjadi merah dan detak jantungnya menjadi lebih kencang.
Di luar negeri, Toro bertemu dengan banyak orang yang terbuka pikirannya. Ketika kembali ke Indonesia, ini pertama kali dia bertemu wanita seperti ini. Setelah selesai menjelaskannya, Denisa menghela nafas dan berkata, “Hanya begitu saja, sebenarnya sangat gampang. Setelah beberapa kali pengalaman, aku percaya kamu pasti bisa!”
Toro mengangkat bahunya dan berkata, “Apanya wafer silicon? Chip? Semua yang kamu jelaskan itu, aku tidak terlalu mengerti!”
“Aah?” Denisa tertegun, wajahnya semakin memerah, dia berkata, “Kalau begitu aku jelaskan sekali lagi!”
“Hehe, terima kasih. Tapi, kamu sudah bilang aku tidak masalah berarti tidak masalah. Kalau ada masalah kan masih ada kamu! Apa tugas kita hari ini?”
“sama…….sama-sama! Denisa berpikir sebentar lalu berkata, “Kemarin baru selesai inspeksi produk terbaru, belakangan ini harus bikin beberapa tabel. Selain itu seharusnya tidak ada urusan lain lagi minggu ini!
“Sepertinya pekerjaannya cukup santai ya?”
“Kalau lagi santai memang tidak ada kerjaan, tapi dalam sebulan paling tidak bisa sibuk 2 3 kali, beberapa hari tersebut biasanya harus lembur!” kata Denisa yang seperti teringat sesuatu, dia berkata, “Oya, kalau tidak kita pergi pengecekan rutin di pabrik saja, jadi kalau ada masalah, kita bisa segera laporkan ke perusahaan!”
“Wanita cantik seperti kamu juga harus pergi ke tempat seperti itu, apakah kamu tidak merasa tidak nyaman?”
Denisa tiba-tiba menjadi panik, dia menggelengkan kepala dan berkata, “Ini, ini adalah pekerjaanku. Tidak ada yang tidak nyaman, aku juga sama dengan para pekerja!”
Wanita pemalu seperti ini, dia tidak seharusnya keluar untuk bekerja, seharusnya dia mencari seorang pria yang menyayanginya dan menikahinya. Kalau bekerja di luar pasti dirundung, karena bahkan Toro sendiri ingin menggodanya. Tapi tentu Toro tidak melakukannya. Baru pertama kali ke sini dan membuat Danisa marah, itu sama saja membuat seluruh tim inspeksi benci padanya. Tatapan Luna kepada dia sudah berbeda.
Mereka makan siang bersama, karena satu tim, mereka tentu dengan cepat menjadi akrab. Danisa mentraktir Toro, karena dia merasa Toro adalah anak baru, pasti tidak terlalu mempunyai banyak uang. Dia ditraktir makan cepat saji. Toro berpikir dalam hati, apakah dia perlu membawa Lamborghini untuk datang mengganggu mereka?
Toro juga memperlihatkan sikap yang baik, selesai makan dia memberikan minuman untuk yang lain. Dia berusaha mempererat hubungan antar rekan kerja. Danisa memberikan kesan yang sedikit pemalu kepadanya, selain itu pekerjaannya sangat cepat diselesaikan. Banyak hal yang menjadi lebih cepat selesai di tangannya.
Setelah pulang kerja jam 5, Toro bersiap naik taksi pulang ke villanya. Ketika dia membuka ponselnya, suara notifikasi baterai tidak cukup langsung berbunyi lagi. Di dalamnya ada 20 pesan Janice yang bertanya ini itu. Ketika dia ingin menelepon Janice dan memberitahunya akan pulang, tiba-tiba dia melihat panggilan dari sebuah nomor yang baru disimpan tidak lama dan hanya pernah bertemu sekali, Dayana.
“Nona besar Dayana, ponselku sudah hampir habis baterainya. Kamu telepon sekarang, apakah ingin mengencani pacar sahabatmu?”
Tapi suara Dayana terdengar terburu-buru, “Kamu jangan mengacau lagi, apakah aku sudah kasih tahu kak Kirania menghilang?”
__ADS_1
Toro terkejut mendengarnya, karena menghilang ini bisa berarti banyak arti, mungkin dia kabur sendiri dari rumah, mungkin juga diculik. Toro bertanya dengan serius, “Apa yang terjadi?”
Dayana berkata: “Paman Cahyani yang meneleponku, dia bilang kak Kirania tidak pulang semalam. Dia mengira Kak Kirania berada di rumahku, tapi sampai sekarang juga belum pulang. Aku juga mulai panik, kali ini dia beneran tidak bersembunyi! Menurut kamu, kalau dia seorang wanita cantik bertemu dengan orang jahat gimana? Aku sangat khawatir dengannya, kalau dia tidak setuju menikah dengan Byakta, tidak perlu juga menghilang!”
Toro mengerti kejadian ini sangat serius, tapi dia dengan cepat menenangkan diri dan berkata, “Sekarang kita juga tidak bisa apa-apa, kamu coba telepon temannya yang lain. Kemungkinan dia tidak menyetujui pernikahan ini dan kabur dari rumah. Dia seharusnya akan menghubungi kita secepatnya. Kalau tidak ada kabar, kita cari bersama, kalau dalam 24 jam tidak ketemu, kita lapor polisi!” Kata Toro dengan semua cara yang bisa dia pikirkan, kalau seseorang mau bersembunyi di kota Intan, maka akan seperti mencari jarum ditumpukan jerami.
Dayana juga merasa hanya bisa begini sekarang, dia berkata, “Baik, kalau kak Kirania mencarimu, kamu ingat memberitahuku!”
Supir taksinya berkata, “Bocah, jangan khawatir, semua wanita selalu begitu. Kamu hibur saja sudah cukup, aku adalah orang yang pernah mengalaminya!”
Toro tersenyum pahit, dia ingin pergi ke salon dan bar sekitarnya untuk melihatnya, mungkin Kirania akan berada di dua tempat ini. Ini juga tempat yang bisa dia pikirkan sekarang, dia menyuruh supir putar balik, sepanjang jalan dia terus menelepon Kirania, tapi teleponnya terus tidak aktif.
Mobil berhenti di depan salon, dia baru tahu kalau salon ini sudah tutup dan ada tempelan disewakan. Dia bingung kenapa salon seramai ini bisa ditutup. Dia kemudian mencari ke bar di sekitar sana.
Masuk ke dua bar paling besar di sana, dia juga tidak menemukan Kirania. Malah melihat orang yang dia kenal, bawahannya Lalita, Budi. Budi langsung menyapanya, “Kak Toro, kamu datang main?”
Toro menggelengkan kepalanya dan berkata, “Budi, apakah kamu melihat bos dari salon kami itu?”
Budi menggelengkan kepalanya, “Ketika kamu masuk penjara malam itu, dia memang datang ke sini. Aku juga menyuruh teman-teman memberikan sup penghilang mabuk, kemudian membantunya untuk memanggil taksi. Semalam tidak kelihatan, malam ini juga sepertinya tidak datang! Apa yang terjadi?”
“Sekarang banyak orang jahat, dia seorang wanita cantik pula. Aku akan menyuruh teman-teman di seluruh tempat untuk memperhatikannya, kalau menemukannya akan segera meneleponmu!”
Toro mengangguk, “Terima kasih!”
“Kak Toro kenapa masih sungkan denganku, kita sudah menjadi teman!” Setelah mendapatkan nomor Toro, Budi menjamin akan menyuruh semua orang untuk memperhatikannya.
Toro terlihat bingung, setelah 1 jam kemudian, dia juga tidak menemukan apapun. Tapi sekarang dia berusaha mengaktifkan ponselnya dengan paksa, teleponnya berbunyi lagi, Melihat nomor asing, dia mengira telepon dari Kirania, dia langsung bertanya, “Di mana kamu?”
“Aku, aku di tempatku!” Ternyata suara Budi, dia berkata, “Kak Toro, barusan aku tidak bisa menghubungimu terus, bawahanku bilang melihat seorang wanita cantik sedang menari di tempat disko bagian utara kota. Salah satu anak buah yang pernah pergi ke salon bilang sangat mirip, kamu pergi lihat dulu!”
Toro yang bersemangat langsung berkata, “Berikan alamatnya!” Setelah Budi memberikan alamatnya, Toro langsung naik taksi ke bagian utara kota.
Disko Frank adalah tempat disko paling besar di bagian utara kota dan juga yang paling ramai. Ketika Toro masuk, dia melihat interior yang begitu mewah, di dalamnya penuh dengan pria dan wanita yang menari dengan liar. Mereka mengikuti alunan musik DJ dan gemerlap cahaya lampu, MC nya juga terus membawa suasana semakin bersemangat, terdengar suara teriakan di mana-mana.
__ADS_1
Toro berusaha mendorong masuk dan mencarinya, setelah mencari satu keliling, dia tidak melihat bayangan Kirania sama sekali. Sekarang sudah jam 8 malam, kalau Kirania beneran muncul di sini, dan juga mendengar kondisinya dari Budi, hal ini membuat Toro semakin khawatir.
Sepertinya Kirania sudah keluar! Ini adalah penjelasan satu-satunya, Saat ini di kerumunan itu terjadi perkelahian antara beberapa orang. Seketika kerumunannya mulai bubar, yang tidak bernyali mulai pergi, yang bernyali mengelilingi mereka dan menontonnya.
Suasananya sangat menegangkan, semua orang ini adalah preman. Gerakan mereka sangat kejam, sudah ada yang terluka dan berdarah. Para pelayan juga masuk membantu, dan tentunya mereka membantu pihak yang lebih ramai dan menghajar 5 orang itu.
Ada satu orang yang sambil menelepon sambil membopong seorang wanita keluar, setelah ditahan oleh lawannya, dia langsung melemparkan ponsel ke wajah dan meninjunya. Sepertinya orang itu bersiap untuk membawa wanita itu pergi.
Toro melihatnya, wanita itu adalah Kirania. Dia langsung marah dan menahan bahu orang itu, reaksi orang itu lebih cepat dari preman biasa, dia langsung mengarahkan sikunya, Toro yang lebih cepat langsung menendang dan menggendong Kirania.
Orang itu berdiri kembali, wajahnya terlihat sangat menyeramkan dan dia sudah mengeluarkan golok. Dia berlari ke arah Toro, Kirania tiba-tiba sendawa dan menatap Toro sambil tersenyum, “Kamu juga ingin mengambil keuntungan dariku? Biar aku kasih tahu, pacarku sangat hebat!”
“Kak, Kak Toro!” Orang itu langsung berhenti dan mengucek matanya, dia berkata, “Kak Toro, beneran kamu. Kenapa kamu memukulku?”
Kali ini Toro baru melihatnya dengan jelas, orang itu adalah Doni, dia bertanya, “Apa yang terjadi!”
“Budi bilang kamu sedang mencari kakak ipar, kebetulan aku berada di sini dan melihat beberapa orang sedang menggoda kakak ipar. Kami langsung bertarung dengan mereka, tetapi tidak disangka mereka adalah orang dari Geng Pelindung Naga!” Kata Doni sambil membersihkan hidungnya, dia berkata, “Baiklah, baguslah kalau kamu sudah datang. Aku akan menyelamatkan teman-teman kita!”
Selesai berkata, Doni membawa goloknya dan masuk ke dalam pertarungan. Setelah beberapa kali, dia dipukul mundur oleh orang-orang itu. Dia mulai menarik orang-orang yang jatuh ke lantai dan berkata, “Pergi!”
Suara musik di tempat disko ini tiba-tiba berhenti, lampu yang menyilaukan juga menjadi tenang. Para pelanggan juga mulai dipersilahkan keluar, 20 orang lebih mengerumuni Doni mereka, semuanya membawa senjata. Seorang pria yang berpakaian baju hitam lengan pendek, dan pipi kirinya ada bekas luka, dia berkata, “Hari ini akan tutup sementara, besok kalian semua akan mendapatkan bir dan melanjutkan kesenangannya. Mohon kalian menghormati aku Franky hari ini, dan pulanglah!”
Ucapan orang itu langsung bekerja, semua pelanggan memanggil kak Franky dan pergi dari sana. Sekarang hanya tersisa Toro dan yang lainnya, salah satu anak buahnya membawa pipa baja dan berkata, “Teman ini, kak Franky sudah berbicara, bawa wanitamu pergi dari sini, di sini……”
Pong!
Toro langsung menendangnya dan menyuruh Doni kemarin, dia berkata, “Doni, bantu bopong Kirania!”
Franky memberikan kode ke anak buahnya, pintu tempat disko langsung ditutup. Orang-orang mulai turun dari lantai dua, sekarang jumlah musuhnya bertambah menjadi 30 orang lebih. Dia tersenyum dan berkata, “Tidak disangka hari ini begitu beruntung, bisa bertemu dengan orang yang lebih hebat dari Kak Doni di Geng Naga Biru. Teman-teman, kalian harus menyapanya dengan baik, jangan bilang Geng Pelindung Naga kita tidak baik!”
“Geng Pelindung Naga dan Geng Naga Biru kita adalah musuh bebuyutan. Hari ini kita akan sulit berjalan keluar dari sini!” Kata Doni dengan pelan, “Tapi, kalau kita bertahan setengah jam, tim bantuan akan segera tiba.”
Toro mengangguk, sekarang memang sedikit merepotkan. Jumlah lawan terlalu banyak, dia tidak bisa menjaga banyak orang, apalagi ada seorang wanita yang mabuk. Kalau mau bertahan setengah jam, hanya ada satu cara.
__ADS_1