
Mereka berada di penjara sampai pagi. Kemudian seorang polisi berjalan masuk, dia langsung bengong melihat pemandangan di dalam penjara. Di belakangnya ada seorang wanita cantik berpakaian warna hitam. Apalagi stoking yang seksi itu menambah pesona wanitanya. Toro tidak pernah melihat wanita ini, jadi dia tidak tahu latar belakangnya.
“Toro, Novianto, Yanto……” Polisi memanggil nama mereka berlima dan membuka pintunya, dia berkata, “Nama yang dipanggil keluar sekarang!”
“Ooh!” Toro menggerakkan tubuhnya, wanita itu tiba-tiba menepuk bahu Toro dan yang lain sambil berkata, “Lalita hebat juga, bisa mendapatkan 5 orang berbakat. Sayangnya berada di Geng Naga Biru!” Kata wanita itu sambil menyalakan rokok dan berkata, “Pergi sana!”
Klub Malam Raja, di dalam kantor Lalita.
Yang duduk di kursi bos bukan Lalita, melainkan Abraham yang sedang merokok cerutu. Dia terlihat senang dan berkata, “Kali ini masalahnya sedikit besar, tetapi aku suka, urutan di sini sudah seharusnya berubah!”
Jacob bersandar di dinding dan memegang pisau tentaranya, “Toro memang sangat hebat, hanya dengan 5 orang sudah bisa membuat kehebohan. Sayang sekali hanya 5 orang, kalau mereka 50 orang, mungkin tempat Matsumoto tidak akan menjadi milik Geng Wustang!”
Abraham menjentikkan rokoknya dan berkata, “Sekarang kita sedang bertarung dengan Geng Pelindung Naga, mana ada orang untuk menghadapi geng kelas dua seperti mereka. Tapi Geng Wustang termasuk yang hebat di kelas dua, jika geng Wustang berada di pihak Geng Pelindung Naga, kita juga akan kelabakan! Tuan Ibrahim, bagaimana menurutmu?”
Ibrahim mengangguk pelan, kacamata dengan bingkai emas itu terlihat bersinar, dia berkata, “Daerah kekuasaan Geng Wustang di daerah kota timur, untuk menahan mereka membantu geng Pelindung Naga, kita hanya bisa membantu satu geng yang bisa bersaing dengan mereka?”
“Tapi geng kelas dua di kota Intan, jarang memiliki kemampuan setingkap Geng Wustang dan juga mau membantu kita!” Lalita menggelengkan kepalanya sambil melihat kukunya, “Geng Tiga sakti? Geng Awal Api? Mereka lebih cerdik dari siapapun, dan selalu memilih netral. Sama sekali tidak mungkin diajak, kecuali ada keuntungan besar yang bisa menggoda mereka!”
“Sialan, aku tidak suka dengan geng-geng kelas dua itu!” Kata Mario sambil tersenyum, “Aku akan memindahkan 100 orang dari Aula Agustus untuk Toro, seharusnya tidak masalah!”
Abraham menggelengkan kepalanya, “Apanya dipindahkan? Jangan lupa masih ada Geng Bumi Langit yang berada di atas kita. Walaupun mereka jarang muncul, tapi tidak berarti mereka tidak melihat kesempatan untuk menyerang kita!” Setelah sejenak, dia seperti bergumam sendiri, “Kalau kita mau mendukung sebuah geng sendiri, lebih baik orang kita sendiri. Kalau menyuruh Toro membangun sebuah geng sendiri, bagaimana menurut kalian?”
Semua orang saling bertatapan, setelah beberapa saat, semuanya menjawab dengan kompak, “Bisa!”
“Bos Abraham!”
Wanita cantik itu membawa Toro mereka ke sebuah pusat pemandian air panas. Sekarang Abraham sedang berendam di air panas bersama Jacob mereka, dia melambaikan tangan ke arah Toro.
“Abraham, aku sudah membayar hutang budiku. Selanjutnya kamu harus melakukannya sendiri!” Wanita cantik itu sama sekali tidak malu melihat badan Abraham. Dia melanjutkan, “Kalian sedang bertarung dengan geng Pelindung Naga, sekarang mengganggu Geng Wustang dan Geng Hantu lagi, mereka tidak akan diam saja, semoga kamu sanggup menahannya!”
“Terima kasih Kak Septri, apakah kamu mau berendam dengan kami?”
“Tidak perlu!”
Sebelum pergi, kak Septri melihat Toro dan yang lain sebentar kemudian berjalan pergi. Abraham lalu berkata, “Toro, kamu juga turun berendam air panas ini!”
Pemandian air panas seperti ini mempunyai khasiat pemulihan yang baik. Setelah Toro turun, Abraham menjelaskan pemikirannya kepada Toro dan berkata, “Toro, sebenarnya pekerjaan seperti ini tidak perlu kamu yang turun tangan. Tapi karena geng kita ingin menguasi area utara, jadi pasti akan menyinggung banyak pihak. Geng Naga Biru walaupun sudah bersiap, tapi juga susah menahan musuh dari segala arah. Coba kamu katakana pemikiranmu.”
Toro menutup mata, Novianto yang berada di samping mendorongnya dan berbisik, “Kak Toro, ketua Geng sedang menanyakan pendapatmu!”
“Biar aku pikirkan dulu!” Toro tentu tidak akan menyetujuinya dengan cepat. Bukan karena dia menolak hal ini, tapi dia harus memikirkan masa depan, sekarang Geng Naga Biru membutuhkan dirinya, jikalau geng yang dibangun menjadi semakin besar, apakah Abraham akan menghancurkannya. Sejak kejadian di penjara Golania, dia sedang mewaspadai dirinya.
__ADS_1
“Kamu tidak perlu ada beban!” Kata Abraham sambil menepuk bahu Toro, dia berkata, “Kalau bisa berhasil tentu sangat bagus, tidak berhasil pun aku tidak akan menyalahkanmu. Karena semua geng di kota Intan sudah sangat teratur, tidak gampang membuat kesuksesan di sini.”
“Aku harus masuk dari sisi mana?” Tanya Toro.
Ibrahim tersenyum, “Sekarang di dalam kota, bukan karena kamu memiliki kemampuan yang sangat hebat, atau memiliki beberapa daerah kekuasaan langsung bisa menjadi kekuatan besar!” Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan, “Mencari anak buah harus dari masa sekolah, umur siswa biasanya tidak tua, nyali juga besar. Kamu bisa mempertimbangkannya!”
“Apa maksudnya?”
“Universitas di dalam kota Intan seperti tidak mungkin. Tapi Sekolah Teknik Bintang Cemerlang di pinggiran barat adalah pilihan yang bagus. Di sana mempunya banyak siswa, mau orang seperti apapun pasti ada. Jadi agak kacau sedikit, kamu boleh mencobanya!”
“Kalian atur saja, aku setuju!” Kata Toro sambil mengangguk, semua orang pun tersenyum.
Jam 10 pagi, Toro baru datang ke kantor. Sebenarnya dia tidak perlu datang kerja, tapi karena rekan kerjanya baik semua, dia harus berpamitan dengan mereka. Setelah menyapa orang lain, dia lalu duduk di samping Denisa, tidak menunggu dia berbicara, Denisa langsung berbisik, “Kak Toro, kenapa kamu telat hari ini? Bahkan kamu tidak ijin, aku tadi melihat wajah Wakil Kepala bagian sangat kesal!”
Toro tersenyum, dia sedikit tidak tega meninggalkan wanita lucu ini, tetapi dia terpaksa juga harus pergi. Dia berkata, “Denisa, aku datang mengundurkan diri hari ini!”
“Ahh?” Denisa tiba-tiba berteriak, Monica dan yang lain juga melihat ke sini. Setelah menjulurkan lidah, dia berkata, “Kerja baik-baik, kenapa tiba-tiba tidak mau kerja lagi?”
“Aku akan pergi dari kota Intan untuk beberapa waktu!” Toro tidak mungkin memberitahunya dia akan menebas orang dan menjadi bos. Hal seperti ini pasti tidak bisa dimengerti oleh orang biasa.
“Ooh!” Denisa sedikit kecewa. Dia sebenarnya memiliki kesan baik kepada Toro, dia merasa pria tidak takut dengan kekuasaan, dan juga memiliki hati yang baik. Dia juga sudah menganggap Toro sebagai teman baik.
Pintu ruangan Anto tiba-tiba terbuka, “Toro, masuk sini!”
“Tidak masalah!” Toro tersenyum dan berkata, “Aku juga ingin mencarinya!”
Masuk ke ruangan Anto, dia melihat Anto sedang duduk di kursi dengan wajah kesal, jarinya mengetuk meja. Dia berkata, “Kenapa kamu telat 1 jam? Kenapa tidak ijin kepada siapapun!”
“Aku sudah memberitahu Presdir Lalita, kamu boleh bertanya kepadanya!” Kata Toro dengan santai dan sama sekali tidak takut dengannya.
“Phak!” Anto langsung menepuk meja dan berkata, “Sebagai karyawan biasa kamu berani sekali, apakah kamu tidak tahu kalau ijin harus meneleponku langsung? Aku adalah orang yang mengatur absenmu!”
Toro berkata, “Aku tidak perlu diatur olehmu!”
Anto langsung marah, tapi walaupun wajahnya kesal, di dalam hatinya malah senang. Ini adalah kesempatan untuk mengusir Toro. Bawahan melawan atasan, kali ini Lalita juga tidak bisa melindunginya. Dia berkata, “Bagus, bagus sekali, sangat bagus sekali!”
“Bagus ibumu?” Kata Toro langsung berjalan mendekat, dia berkata, “Perusahaan ini ada ngengat seperti kamu adalah bencana bagi semua orang, kamu sudah dipecat!”
Anto tersenyum dan tidak berdaya, awalnya dia hanya tertawa biasa, terakhir semakin keras suara tertawanya. Dia berdiri dan berkata, “Emang kamu siapa? Biar aku kasih tahu, walaupun Lalita juga tidak berani memecatku, kamu siapa lagi?”
“Apa yang kamu lakukan?”
__ADS_1
Toro tiba-tiba menarik kerah baju Anto, tapi Anto juga tidak takut. Kalau mau main keras dia juga bisa. Ketika ingin memukul tangan Toro, pergelangan tangannya malah ditangkap. Dia berteriak kesakitan dan berkata, “Bocah, apakah kamu sudah bosan hidup? Apakah kamu tahu siapa aku?”
Pong!
Diikuti pukulan Toro ke perutnya, seketika dia langsung memuntahkan semua sarapannya. Anto seperti seekor udang yang baru selesai dimasak, dia memeluk perutnya dan berguling di lantai. Dia menatap Toro dengan kesal dan tidak bisa berbicara.
Sebenarnya Toro sudah menahan diri, kalau dia menggunakan semua tenaganya, Anto sudah pasti di bawa ke rumah sakit. Dia mengenggam leher belakang Anto dan membuka pintu kantornya.
Dari luar terdengar kekacauan, sepertinya ada orang yang mencuri dengar dari luar tadi. Tapi Denisa dan yang lainnya belum sempat kembali ke tempat duduk mereka langsung bengong di tempat, mereka terdiam melihat Toro menarik Anto keluar.
“To…….Toro, kamu…….apa yang kamu lakukan?” Setelah 1 menit kemudian, Jeremi berusaha bertanya.
Toro tersenyum dan berkata, “Aku akan pergi dari kantor ini, sebelum pergi aku sekalian membawa sampah ini pergi dari sini. Biar ketika tidak ada aku, dia tidak marah kepada kalian!”
Denisa juga baru sadar kembali, dia berkata, “Kak Toro, kamu tidak ada di sini juga tidak boleh begitu, memukul orang itu melanggar hukum!”
“Tenang saja, aku tahu batasnya!” Toro mulai berjalan keluar, dia berkata, “Aku tidak makan lagi dengan kalian, kita bisa bertemu adalah takdir, kalau kedepannya kalian memerlukanku, telepon aku saja, aku pasti akan membantu!”
“Oi oi……” Luna memanggilnya 2 kali, tetapi Toro sudah menutup pintunya. Semua orang di dalam ruangan saling menatap satu sama lain, tidak tahu logika seperti apa. Apakah kalau kita tidak kerja, kita boleh memberi pelajaran kepada atasan?
Toro terus menyeret Anto sampai bagian personalia. Sepanjangan jalan dia seperti sedang menyeret anjing mati, semua karyawan yang lalu lalang tertegun melihatnya. Tidak ada yang menahannya, sampai di depan ruangan kepala bagian personalia.
“Kamu adalah? Ei, bukannya ini Anto? Apa yang terjadi?” Kepala bagian personalia adalah pria berumur 50 tahun. Dia bingung dengan kondisi di depan matanya sekarang, tidak tahu apa yang terjadi.
Toro menginjak badan Anto dan membuatnya teriak kesakitan. Dia mengeluarkan sebuah barang dan melemparnya kepada kepala bagian personalia, dia berkata, “Aku datang mengundurkan diri dengan Anto botak ini, kamu bantu aku urus?”
Kepala bagian personalia kebingungan. Ketika melihat jelas barang itu, wajahnya langsung berubah, sambil menelan ludah dia berkata, “Ternyata anda adalah ketua aula Geng Naga Biru, aku tidak……”
“Sudahlah, cepat!” Kata Toro yang tidak ingin mendengar ucapan memujinya. Posisi ketua aula juga tidak boleh disia-siakan, paling tidak dia bisa mengusir Anto pergi dari sini.
Anto juga melupakan rasa sakit di badannya, dia tidak menyangka karyawan kecil ini ternyata adalah ketua aula di dalam geng. Sekarang ekspresinya terlihat sangat menarik, dia tidak tahu harus berkata apa.
Ketika bagian personalia selesai menuliskan laporan pengunduran diri, Toro langsung tanda tangan, dia menendang Anto dan berkata, “Giliran kamu!”
Anto sebenernya tidak rela, tapi dia juga tidak ada cara lagi dan terpaksa tanda tangan. Dia lalu berkata, “Ketua….ketua aula, sekarang aku sudah selesai bukan?”
“Pergi sana!” Toro tidak ingin melihatnya. Ketika Anto sudah mau pergi, dia berkata, “Kalau sampai aku melihatmu muncul di Perusahaan Cahaya Naga, lain kali tidak akan segampang itu lagi!”
“Aku mengerti! Aku mengerti!”
Anto merasa sangat kesal dalam hati, walaupun salah satu Tetua Geng Naga Biru adalah pamannya, tapi dia juga tidak mau menyinggung seorang ketua aula demi dia. Semua kalah salah dia sendiri yang berani menyinggungnya. Sekarang akhirnya dia mengerti kenapa Lalita menyuruhnya tidak mengganggu Toro lagi.
__ADS_1