
Dia bangun jam 8 pagi. Toro mengucek mata dan mulai mencari pakaiannya. Sambil memakainya dia berjalan ke arah toilet, tiba-tiba dia sadar sedang berada di sebuah tempat yang asing, sepertinya di kamar hotel.
Dia berusaha mengingat kembali apa yang terjadi semalam, tetapi dengan cepat dia menyadari dirinya tidak bisa mengingatnya. Sebenarnya sangat gampang untuk mabuk, orang yang benar-benar ingin mabuk, sebenarnya mereka sudah mabuk ketika mengangkat gelasnya. Orang-orang yang tidak bisa mabuk sebenarnya tidak profesional, karena mereka hanya mabuk di dalam hati, tetapi kepalanya masih sadar.
“Toro, kamu sudah sadar?” Saat ini, seorang wanita berjalan keluar dari toilet. Rambutnya pendek sebahu, ditambah dengan baju ketat yang menunjukkan kesempurnaan tubuhnya, di bawah kedua alis hitam yang tebal terdapat sepasang mata yang tajam dan dingin, dari sepasang mata itu memancarkan senyuman yang tidak terlalu nyata.
“Kak Lalita!” Toro tidak menyangka akan melihat Lalita. Dia melihat ke arah kamarnya, apakah dia melakukan sesuatu dengan wanita ini semalam?
“Mulai sekarang kamu harus bertanggung jawab kepadaku.”
Toro seketika mengerti apa yang terjadi, sayang sekali dia kali ini benar-benar mabuk, “Kak Lalita, kamu ingin aku bertanggung jawab seperti apa?”
“Hehe, aku hanya bercanda, semalam aku tidur di kamar itu!” kata Lalita menunjuk ke kamar lain, “Ketika aku sampai, kamu sudah mabuk. Aku menyuruh yang lain untuk mengantarmu ke sini.”
“Baguslah!” kata Toro menghela nafas.
“Tetapi semalam kamu meneriaki lebih dari 10 nama wanita, hehe.”
“Umm, sudahlah. Aku pergi dulu!”
“Tunggu sebentar.” Lalita membungkuk dan memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Dia menuliskan sesuatu dan memberikan kepada Toro yang baru selesai mandi, “Ini adalah cek 4 Miliar, ketua Geng yang menyuruhku memberikannya, kamu harus terus berusaha!”
Toro langsung memasukkannya ke dalam saku, uang yang diberikan oleh geng tentu harus diambil, “Sampaikan salam untuk Abraham…dan keluarganya.” dia berjalan keluar sambil tersenyum. Berjalan di bawah matahari membuat seluruh tubuhnya penuh dengan semangat baru.
Setibanya di kampus, dia berhasil masuk ke kelas untuk pelajaran terakhir pagi ini. Toro melihat lingkaran mata pada kedua mata Tomi dan auranya sangat negatif. Dia bertanya kepadanya apa yang terjadi, Tomi bilang Elisa sudah mati. Toro tidak melanjutkan pertanyaannya lagi, tidak peduli apa yang terjadi, dia juga menasehatinya bahwa orang yang sudah mati tidak bisa bangkit kembali, sebagai orang yang masih hidup kita harus melanjutkan kehidupan dan bersikap teguh.
Manusia selalu memiliki sebuah perasaan yang aneh, jika kehidupanmu sangat menyedihkan, maka kamu harus mencari orang yang lebih menyedihkan darimu untuk ngobrol, dengan begitu perasaanmu akan menjadi lebih baik. Tetapi Toro tidak menertawakannya, lagipula tidak ada hal yang membuatnya senang.
Tomi seperti berubah total, dia terus terdiam sepanjang hari. Kondisi seperti ini berlangsung dua hari, ketika malam hari dia juga menangis diam-diam di dalam selimut. Toro hanya bisa memberikan sebatang rokok kepadanya, waktu akan membawa pergi semuanya.
Akhirnya ada hal yang membuat Toro senang. Setelah merebut tempat disko Banara, Iblis mengelolanya dengan baik. Yang paling penting adalah barang dari bandar narkoba di Israel sudah tiba. Toro mendapatkan keuntungan komisi 2% dari penjualan kepada Geng Wustang, selain itu, obat-obat terlarang yang tersisa dijual di tempat disko. Barang baru ini lebih murni dari barang geng Wustang sebelumnya, seketika bisnis Banara menjadi semakin ramai.
Tidak sampai tiga hari, Toro sudah membaik. Setiap hari ada ratusan juta yang masuk ke rekeningnya, mana mungkin dia tidak membaik.
“Toro, lagi sibuk apa?” telepon dari Tengkorak terdengar begitu keras, sepertinya kali ini baterai ponselnya terisi penuh.
Toro, “Pagi ini tidak ada kelas, jadi jalan-jalan di lapangan dengan teman-teman!”
“Santai sekali!” kata Tengkorak kesal, “Tunggu kamu umur 60 tahun juga masih bisa jalan-jalan. Urusan yang aku sampaikan kemarin kamu pasti lupa.”
“Urusan apa?”
__ADS_1
“Nagih hutang, aku di depan kampus kalian, cepat keluar.”
“Kalau kamu tidak cerita, aku beneran lupa!”
Melakukan pekerjaan dan mendapatkan imbalan adalah hal yang wajar. Saat Toro melihat Tengkorak, dia sedang merokok di depan kampus. Tetapi hanya dia seorang, Toro bertanya, “Kita berdua saja yang pergi?”
Tengkorak memberikannya sebatang rokok, lalu berdiri, “Mereka itu kalau berlagak hebat masih bisa, tetapi kalau beneran bertarung pasti kalah. Dengan ahli seperti kamu, kita berdua sudah cukup.”
“Apa kamu takut mereka membagi uangnya?”
“Iyalah!”
Toro tersenyum, Tengkorak yang pelit dan egois ini sungguh contoh dari orang-orang organisasi hitam. Apa perlu memberikan sebuah piagam penghargaan kepadanya, ya?
Tengkorak masih saja mengendarai mobil waktu itu, dia perlu memutar kunci tiga kali agar mobil bisa menyala. Toro bertanya, “Elisa sudah dibunuh?”
“Kamu kira itu beneran?” Tengkorak melirik ke Toro dan berkata, “Wanita jalang itu memang pantas mendapatkannya, tidak ada hubungannya denganku!”
Toro menghisap rokoknya tanpa menjawab. Dia beranggapan bahwa pasti berhubungan dengan bocah ini.
“Aku malas menjelaskannya kalau dengan orang lain. Sebenarnya masalahnya begini, beberapa hari yang lalu, dia dekat dengan orang kaya, terus sepertinya bermain godaan seragam sekolah dan sebagainya. Sebenarnya dia hanya ingin menipu uang orang kaya itu, tetapi tidak sampai setengah bulan sudah habis. Dia lalu kembali dan meminta perlindungan kepadaku. Hal ini juga salahku, kalau aku tidak tinggal diam saja, dia juga tidak perlu sampai dibunuh oleh orang itu!” Tengkorak berkata dengan santai dan sama sekali tidak merasa kasihan, “Sebenarnya aku tidak sejahat yang kamu pikirkan!”
Tengkorak tersenyum, “Memangnya bisa mempengaruhi apa? Aku memang begitu, selalu bisa melepaskan apapun. Sekarang kalau kamu mati, aku jamin pasti akan mengambil semua barang berharga di badanmu sebelum menguburmu.”
“Kalaupun mati, aku juga tidak akan mati di sampingmu!” Toro memberikan uang senilai 40 juta rupiah kepada Tengkorak, “Kalau aku benar-benar mati, kamu harus ingat menguburku demi 40 juta ini.”
“Sialan kamu, kebanyakan uang, hah? Ini uangmu, ambil sana, aku tidak perlu belas kasihanmu.”
Toro tersenyum, “Siapa yang kasihan kepadamu? Aku ingin meminjamkan kepadamu, bunga 1/3 perbulan.”
Tengkorak juga tersenyum, mana ada bunga dan sebagainya. Tetapi dia terharu dengan sikap Toro. Karena belakangan ini dia memang butuh uang, “Boleh juga, tidak disangka kamu begitu setia kawan, aku akan mengingatnya!”
Mobil melaju ke arah barat sejauh 10 km, lalu berbalik ke arah utara sejauh belasan km. Mereka sampai di sebuah tempat pemandian, tempatnya terdiri dari 7-8 lantai, bangunan ini termasuk sebuah bangunan yang indah di tempat yang bobrok begini. Namanya adalah Pemandian Hutama.
Melihatnya membuat badan Toro terasa gatal, “Di sini?”
Tengkorak mengangguk, kemudian memberikan sebuah topi rocker kepada Toro, “Pakai ini!”
Toro memakai topi dan berkaca, kelihatan masih tetap keren, sambil bergaya dia berkata, “Kenapa harus memakai topi? Mau menakuti mereka?”
“Menakuti apanya, aku sudah datang empat kali, semua orang di sini sudah mengenaliku. Kalau kita tidak menutupi wajah kita, kita bahkan tidak bisa masuk!” kata Tengkorak sambil memakai topi yang sama, kemudian mengambil kacamata hitam dan memakainya. Sekilas dia terlihat seperti bos dan Toro adalah anak buahnya.
__ADS_1
“Mereka tidak mengenalku, kenapa aku harus memakainya!” kata Toro sambil melemparkan topinya, “Bawa senjata? Kalau nanti benar-benar harus bertarung, aku harus gimana?”
“Pasti ada lah!” Tengkorak memberikan Toro sebuah pisau kecil, “Masukkan ke dalam kaos kakimu, mereka akan memeriksamu nanti!”
Toro melihat pisau yang walaupun ditusuk 5 6 kali juga belum tentu mati, dia lebih memilih pisau tempurnya sendiri. Tetapi kalau bisa menargetkan bagian tenggorokan juga masih lumayan berguna.
Tengkorak berjalan masuk ke dalam dengan angkuh, dua orang wanita langsung datang menyambutnya, “Tuan, tuan ingin mandi dulu atau dilayani terlebih dahulu?”
“Nanti saja, aku ingin membicarakan bisnis dengan kak Mando dulu!” Tengkorak tahu cara agar bisa bertemu dengannya.
“Ooh, cari kak Mando, silahkan ikut aku!”
Salah satu wanita mempersilahkan mereka dengan hormat, Toro dan Tengkorak mengikutinya naik ke lantai tiga. Wanita itu tersenyum dan memberitahu mereka bahwa kak Mando berada di lantai tiga dan menyuruh mereka pergi sendiri.
Sebelum wanita itu pergi jauh, dua orang pria kekar sudah mendekat, “Ngapain kalian?”
“Kami datang berbisnis dengan kak Mando!”
“Phak!” Salah satunya langsung memukul topi dan kacamata Tengkorak, “Sialan, pantesan tidak asing, ternyata kamu lagi!” keluar 7-8 anak muda dari sebuah ruangan, semuanya membawa tongkat, pisau, dan senjata lainnya.
Tengkorak sudah menendang orang tadi ke dinding dan memakinya, “Aku datang mewakili kak Barbar untuk menagih hutang, kapan kalian akan membayar hutangnya, jangan sampai aku membunuh seluruh keluarga Mando.”
“Berani sekali kamu memanggil Mando. Teman-teman, bunuh mereka berdua!” semua orang langsung bergerak ke arah mereka, Toro sudah bersiap untuk bertarung. Tiba-tiba pintu salah satu ruangan terbuka, seorang pria botak berumur sekitar 27-28 tahun berjalan keluar, kepala botaknya lebih terang dari lampu. Setelah berteriak menghentikannya, dia berkata, “Bos suruh orangnya Barbar masuk ke dalam!”
Toro dan Tengkorak dibawa masuk ke sebuah ruangan, di tengah ruangannya ada sebuah kolam, di sekeliling ada beberapa kursi dan beberapa orang duduk di sana sambil merokok. Ada beberapa wanita muda yang sedang menggosok punggung pria dengan tato kuda merah, salah satu wanitanya berada di dalam air, tidak tahu sedang menggosok apa, tetapi pergerakannya terlihat cepat.
“Toro, kalau mereka mengakui kita sebagai bawahannya Barbar, maka mereka tidak akan menyerang begitu saja. Ikuti arahanku nanti!” bisik Tengkorak kepada Toro.
“Kalian cari tempat duduk dulu!” kata orang yang berada di dalam air sambil membelakangi mereka. Kemudian dia pelan-pelan berbalik, tampangnya terlihat berumur sekitar 40 tahun, tubuhnya lumayan bagus. Tetapi wajahnya itu lebih panjang dari orang biasa, sangat mirip dengan keledai liar Afrika.
Mando menarik rambut wanita yang berada di dalam air dan menyuruhnya pergi. Dia mengambil handuk dan keluar dari kolam, “Kalian berdua berani mengacau di tempatku, walaupun Barbar datang sendiri juga tidak berani seperti ini, nyali kalian besar juga, ya?”
Tengkorak tidak takut dengannya, dia berkata dengan datar, “Tidak usah omong kosong, aku berbeda dengan bosku. Hari ini kali keempat aku datang menagih hutang, jangan mengira bisa mengelak, aku tidak akan pergi kalau tidak bayar!”
Mando tertawa, “Kalian mirip seperti aku saat muda. Aku kasih tahu, belakangan ini bisnis tidak bagus. Tetapi karena kamu sudah datang beberapa kali, aku juga tidak boleh tidak memberikan apapun, aku akan membayar bunganya hari ini. Setelah beberapa hari, aku akan membawa uangnya langsung kepada Barbar.”
Mando menyuruh anak buahnya membawakan sebuah kantong plastik, kemudian mengeluarkan semua isinya. Semua uang kertas warna warni terjatuh keluar, ada juga beberapa koin yang terjatuh ke dalam air.
__ADS_1