
Toro mengira Tengkorak akan marah, tetapi dia malah mengambil kantongnya dan mulai berhitung, “Ditambah 14.000 yang jatuh ke dalam air, total 7.654.000 rupiah, mana cukup untuk membayar bunganya!”
“Sialan, jangan tidak tahu malu. Aku hanya ada uang segitu, kalau tidak mau, pergi saja!” Mando memang tidak berniat untuk membayarnya.
“Kamu kira aku datang bermain denganmu?” Tengkorak langsung naik ke atas meja dan mengeluarkan pisau dari kaos kakinya, dia menggores telapak tangan dan memuncratkan darahnya ke mana-mana.
“Sialan!” kata Toro dalam hati. Kenapa menagih hutang harus sampai mempertaruhkan nyawa?
“Darahmu jatuh di karpet 200 juta ini!” kata Mando yang merasa sedih dengan karpet bulu domba yang terkena darahnya. Anak buahnya dengan cepat mengerumuni mereka, dia langsung menepuk meja dan berteriak, “Usir mereka keluar dari sini.”
“Sialan!” Tengkorak juga marah, dia mulai mengarahkan pisaunya ke arah anak buahnya. Karena takut akan mengenai Mando dan nantinya tidak ada yang bisa membayar hutangnya jika dia mati.
Toro sudah melihat brankas di dekat mereka, melihat Tengkorak tidak benar-benar menyerang mereka, dia langsung berlari ke arah brankasnya. Beberapa orang yang ingin menghalanginya langsung dihajar ke dalam air, Toro tidak menghajar mereka dengan kuat, tetapi sudah cukup membuat mereka kesakitan setengah bulan.
Melihat anak buahnya yang dikalahkan, Mando langsung menyerang Toro. Tetapi Toro sudah mengangkat meja dan melemparnya ke wajah besar Mando. Mando menjerit kesakitan dan langsung terjatuh ke lantai, mulut dan hidungnya penuh dengan darah.
Toro duduk di badan Mando dan mengarahkan pisau ke lehernya, “Jangan diam saja, cepat lihat uang yang di sana cukup tidak!”
Tengkorak berjalan ke arah brankas, dia menuangkan semua isi kantong ke dalam air, kemudian mulai memasukkan uang di dalam brankas ke dalam kantongnya. Setelah beberapa detik berlalu, dia kembali sambil tersenyum dan berkata, “Haha, kak Mando jangan nangis ya. Aku mengambil 1,66 Miliar dari brankas, semua ini sudah termasuk bunga. Aku akan menyampaikan salammu kepada bos kami!”
Dia menepuk bahu Toro dan berkata, “Sudah puas duduknya? Ayo kita pergi!” dia tidak lupa memberikan tatapan pujian kepada Toro yang membuatnya merasa semakin bersemangat.
Toro dan Tengkorak menyelesaikan tugas dengan begitu cepat, dia membawa uangnya kepada Barbar. Barbar yang melihatnya merasa sangat senang, dia langsung memberikan 40 juta kepada mereka sebagai bonus, dia menyuruh Toro dan Tengkorak berusaha terus.
Toro sudah menerima 100 juta dari Barbar dalam beberapa hari, bagaimanapun dia merasa tidak enak dan ingin mentraktir yang lain. Tetapi Tengkorak mana mungkin membiarkan dia mentraktirnya, dia mereservasi tempat dan mengajak anak buah dan wanita-wanita. Setelah menceritakan kehebatan Toro kepada anak buahnya, semuanya jadi merasa salut kepadanya. Sejak masuk sampai sekarang, gelas di tangan Toro belum sempat diletakkan.
“Kak Toro, aku sangat mengagumimu, mari bersulang denganku.”
“Kak Toro, kamu idolaku. Ayo idola, kita bersulang.”
“Bos, bagaimana kalau mulai sekarang aku ikut denganmu? Ayo kita minum.”
“Satu gelas…”
__ADS_1
Tengkorak merangkul wanita dengan satu tangan, dan satu tangannya lagi merangkul bahu Toro, “Toro, hari ini untung ada kamu. Kalau tidak, kita tidak mungkin menyelesaikan tugas secepat itu. Mando seperti orang mati di depanmu. Hari ini aku sangat senang, ayo kita minum.”
Tengkorak tampaknya sudah kebanyakan minum. Hari ini Toro tidak ingin mabuk, jadi siapapun tidak akan bisa membuatnya mabuk.
“Ayo ayo ayo” kata Tengkorak sambil menendang anak buahnya yang sedang memegang seorang wanita, “Kita bersulang dengan kak Toro!”
Malam ini hanya wanita yang boleh masuk, pria dilarang masuk. Suara musik yang dimainkan DJ dan juga pengaruh alkohol membuat kolam dansa penuh dengan orang. Tidak ada perbedaan bos dan anak buah, semuanya menggoyangkan kepala mengikuti alunan musik. Tengkorak kembali dengan wanitanya setelah puas berjoget, “Toro sialan, kenapa kamu tidak menari? Sudahlah, kamu tidak perlu menjelaskannya lagi. Sekarang aku tanya, kamu sanggup tidak?”
“Kamu sudah mabuk!”
“Tidak masalah mabuk, hari ini sungguh menyenangkan!”
“Ini adalah malam yang menyenangkan, juga malam yang tiada henti. Selanjutnya lagu 《rolling in the deep》yang telah diubah oleh DJ Rosi, aku persembahkan kepada kak Toro! Ingat namaku, DJ Rosi! Go!” Setelah DJ berteriak, semuanya kembali heboh dan mencapai puncak.
Toro dibuat pusing oleh lagu ini, tetapi dia juga tertawa terbahak-bahak. Karena dia sangat menyukai perasaan tidak takut apapun seperti ini, para anak muda yang bermain bersama, ini baru dinamakan masa muda.
Acaranya terus berlangsung sampai jam 4 pagi. Ketika Toro dan lainnya keluar dari bar, jalanan terlihat begitu sepi. Tempat-tempat lain sudah tutup semua, kalau ini bukan milik mereka, pasti sudah tutup juga sejak awal. Semuanya menggigil setelah merasakan hembusan angin dingin. Tengkorak pergi menyetir mobil, dan mereka menunggu di depan pintu.
Srett!
Toro melihat sebuah mobil yang tidak asing melesat melewatinya, kemudian mebabrak trotoar setelah 100 meter. Semua orang tertawa dengan keras karena melihat Tengkorak turun dari mobil dengan kepala berdarah.
Salah satu anak buahnya mendekat, “Kak, kak Tengkorak, sudha kubilang biar aku saja yang nyetir, kenapa kamu tidak mau dengar? Kamu tidak apa-apa, kan?” kata anak buahnya.
“Tidak apa-apa kepalamu, sialan, tidak lihat kepalaku berdarah?” Tengkorak mulai menginjak anak buahnya, semua orang juga mulai ikutan. Setelah sesaat, Toro baru mendekat karena takut anak buah itu beneran mati.
Tapi ternyata anak buah itu malah tertidur. Melihat tidak ada yang bisa menyetir sekarang, Toro merebut kunci mobilnya, “Biar aku saja yang nyetir. Lihat penampilan kalian semua, biar aku saja!”
Setelah Toro membawa mereka kembali ke markas, orang-orang itu sudah tertidur. Toro mendorong satu per satu turun ke bawah, dan melemparkan mereka di depan pintu, lalu kembali ke rumahnya. Apakah mereka tertidur di sana sepanjang malam? Toro tidak peduli, yang jelas tidak mungkin juga ada yang ingin melecehkan mereka!
Mulai saat itu, Toro merasakan sebuah kehidupan yang baru. Setiap hari dia berkumpul bersama Tengkorak dan yang lain, menikmati perasaan yang bisa dinikmati oleh mereka. Karena geng besar seperti geng Naga Biru pasti tidak memiliki kesenangan seperti ini.
Mereka bisa jongkok di pinggir jalan dan memandang wanita cantik, tidak lupa bersiul dan membuat para wanita kesal, kemudian mereka malah tertawa terbahak-bahak. Mereka juga bisa membuat masalah di tempat orang lain, kemudian dikejar oleh orang-orangnya. Terkadang juga bertarung dengan anak buah geng lain hanya karena tatapan sekilas.
__ADS_1
Toro melewatinya dengan sangat senang, ini semua pengalaman dan tantangan baru yang belum pernah dia rasakan. Ternyata menjadi seorang preman juga sangat berarti, setiap kali selesai kelas, dia akan pergi mencari mereka.
Setengah bulan kemudian.
Toro kembali ke markas mereka dengan dandanan preman. Dia melihat Iblis sedang menggoyangkan gelas anggur merah sambil bermain hp di sofa. Iblis kaget melihat Toro, “Kamu kakakku?”
“Emang kamu yang kakakku?” tanya Toro sambil duduk dan menyilangkan kakinya, “Bagaimana dengan kondisi belakangan ini?”
“Semuanya masih dalam kendali, menjadi preman lebih mudah daripada tentara bayaran!”
Toro menerima rokok dari Iblis, Iblis berkata, “Kak, kamu tidak mau menjadi bos geng Naga Langit dan malah bermain dengan para bocah-bocah itu. Transaksi mereka palingan hanya miliaran rupiah saja, dan sampai ke tanganmu juga hanya puluhan juta. Kalau sampai ketahuan teman-teman ZO, mereka akan menertawakanmu!”
Toro, “Aku tahu batasannya, bagaimana dengan perkembangan geng besar belakangan ini?”
Iblis menggelengkan kepala, “Geng Naga Biru dan geng Pelindung Naga terus saling serang. Geng yang lain terlihat sangat tenang, semuanya sedang sibuk mencari uang. Hanya saja belakangan ini muncul beberapa orang asing di Banara, mereka tidak membeli obat dan juga tidak memesan wanita, hanya minum dan langsung pulang!”
Toro menyipitkan matanya, “Perhatikan terus, sebaiknya cari waktu dan tangkap mereka untuk diinterogasi. Oh iya, kita tidak cukup hanya dengan satu tempat. Coba tanya ke geng Wustang, apa mereka punya tempat yang ingin dijual, kita bisa membelinya dengan harga tinggi.”
“Baik, serahkan saja kepadaku. Leo sangat menyanjungku sekarang, aku akan mencari waktu untuk berbicara dengannya!” kata Iblis sambil meneguk anggur merah.
“Bagaimana kondisi Alura gendut dan pisau tajam?”
Iblis, “Alura gendut terus bersama Sutomo belakangan ini, mereka membawa anak-anak yang baru bergabung. Pisau tajam dilatih seperti anjing oleh Phoenix hitam, lebih kejam dari pelatihan kita waktu itu. Tetapi kemampuannya berkembang pesat, kamu juga pasti akan kaget!”
“Kedua orang ini tidak buruk. Kalau terjadi sesuatu, harus kasih tahu aku. Aku akan jarang ke sini, lalu orang-orang organisasi Pembunuh Langit juga sebaiknya kurangi aktivitas mereka. Biarkan pengetahuan geng Wustang hanya sebatas di kamu saja, jangan sampai mereka tahu keberadaanku.”
Iblis mengangguk, sepertinya dia sudah mengerti maksud Toro.
“Oh iya, kasih tahu Alura dan Sutomo, suruh mereka jangan sampai menerima mata-mata dari geng lain, jangan sampai orang lain tahu detil tentang kita.”
“Tenang saja kak, aku akan sering ke sana dan memastikan tidak ada kebocoran. Kamu bisa jalankan rencana besarmu dengan tenang!”
“Hehe, aku memang bisa bermain dengan tenang karena ada kamu.”
__ADS_1