
“Sialan, kamu ini tidak mengerti tata krama ya, hari ini aku akan……”
Phak!
Suara keras yang menjernihkan telinga, semua orang yang mendengarnya bisa merasakan rasa sakit di wajahnya.
Anak konglomerat yang sombong tadi terbang beberapa meter karena tamparan itu. Wajah dan sudut bibirnya penuh dengan darah.
“Tuan muda!” Melihat tuannya dipukul, keempat pengawal langsung bergegas.
“Dia berani memukulku! Dia berani memukulku! Kenapa kalian diam saja! Cepat tangkap dia! Aku ingin memotongnya untuk dijadikan makanan anjing! Kalau tidak, kalian yang akan aku pecat!” Anak konglomerat ini dari kecil sudah sering dimanja, mana pernah diperlakukan seperti ini. Dia berteriak kesal sambil memegang wajahnya.
Keempat pengawal itu langsung mengambil tongkat besi dan mengarahkannya ke Toro. Sekarang mereka hanya bisa menangkap bocah ini, agar bisa menebus kelalaian mereka.
“Ah……awas!” Wanita cantik itu berteriak karena ketakutan. Dia tidak pernah melihat situasi seperti ini, tubuhnya langsung gemetar. Tapi dia tidak lupa mengingatkan Toro.
Toro hanya mendengus, dia malahan maju ketimbang mundur. Ketika tongkat besi yang mengarah kepadanya hanya berjarak beberapa senti, tangannya bergerak secepat kilat. Pukulan yang terlihat sangat ganas itu langsung ditangkap olehnya.
__ADS_1
Tidak menunggu pengawalnya beraksi, Toro langsung menarik tongkat besinya dengan kuat. Dia mengambil tongkatnya dan memukulnya ke kepala pengawal. Darah segar mengalir keluar dari kepalanya, Toro langsung menendangnya lagi, pengawal itu terbang sejauh 3 meter dan terjatuh keras ke atas tanah.
“Hanya begini saja juga berani menjadi pengawal!” Kata Toro dengan dengusan dingin. Dia melemparkan tongkatnya dan langsung mengenai mata salah satu pengawal. Belum sempat jongkok, satu pukulan ke atas langsung menerbangkannya.
Kedua pengawal lainnya mulai gemetar. Toro langsung bergerak, dia menghajar lutut, siku dan memukul wajah mereka dengan sangat keras. Gerakan yang begitu ganas, mendominasi dan semua gerakkannya tidak ada yang sia-sia.
Hanya dalam sekejap mata, keempat pengawalnya langsung berlumuran darah dan terbaring di tanah.
“Kamu kamu kamu……kamu jangan mendekat.” Melihat keempat pengawal hebatnya dihajar babak belur, anak konglomerat ini akhirnya takut.
Toro menyalakan sebatang rokok, kemudian mengambil tongkat dari bawah. Dia berkata, “Kirania adalah pacarku, aku tidak ingin melihat ada yang mengganggunya lagi. Pergi!” Selesai berkata, dia langsung menggunakan tenaganya dan membengkokkan tongkat besi itu hampir 90 derajat.
Toro berjalan ke arah suara itu, tapi mobil BMW itu sudah menyala dan pergi dari sini dengan cepat, dari jauh masih kedengar suara teriakan.
Dia berjalan ke samping mobil Kirania Cahyani, sambil tersenyum berkata, “Wanita cantik, masalahmu sudah aku selesaikan. Apakah kamu puas dengan aktingku?”
Kirania Cahyani tertegun sesaat. Dia menatap ke wajah tampan yang terlihat sedikit jahat ini, tiba-tiba teringat keusilan tangan Toro tadi. Wajahnya langsung menjadi dingin, dia mengoceh, “Dasar Preman!” Kemudian membawa mobilnya pergi dari sini.
__ADS_1
Melihat kepergian mobil Lexus itu, Toro menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit. Belakangan ini susah menjadi orang baik, dia bertarung untuknya tapi tidak mendapatkan terima kasih sama sekali. Dia mengambil surat penawaran kerjanya, kemudian mengepalkan tangan dan merasakan perasaan tadi, itu adalah sensasi paling lembut paling lentur yang pernah dia sentuh.
……
“Dunia ini……benar-benar sangat kecil.”
Melihat Kirania Cahyani yang juga berekspresi kaget, Toro tersenyum pahit. Dia tidak pernah menyangka, bossnya adalah wanita cantik yang menjadikannya tameng dan juga wanita yang bokongnya disentuh olehnya.
Kirania Cahyani bersandar ke kursinya dan tersenyum dingin. Dia melihat Toro dari atas ke bawah, dengan tubuh 180 cm, badan yang tegak, rambut yang sedikit panjang, wajah yang tampan, dan kelima inderanya yang cantik. Ketampanannya membuat wanita terpesona olehnya, hanya saja ada goresan kecil di alis kirinya.
Dia adalah pilihan terbaik bagi para sugar mommy. Tapi Toro bisa melihatnya, wanita cantik di depannya ini mengeluarkan aura penolakan yang kuat ditambah sedikit wangi parfumnya.
Kirania Cahyani teringat kejadian semalam, dia langsung merasa kesal. Preman ini ternyata satpam barunya. Tapi melihat penampilannya, jas bermerek internasional, sepatu kulit ratusan ribu, ditambah jam tangan Vacheron Constantin yang limited edition, Sama sekali tidak terlihat seperti seorang satpam.
Anak konglomerat yang suka berakting seperti ini, dia sudah banyak melihatnya. Mungkin cukup untuk menipu mahasiswi yang baru lulus, tapi dia sama sekali tidak percaya Toro datang hanya untuk menjadi satpam. Orang ini menyentuhnya kemarin, sekarang tatapannya juga terlihat genit, tubuh bagian bawahnya yang terlihat sedang bereaksi, membuat kesan dia kepada Toro semakin buruk.
__ADS_1