
Tidak seperti yang mereka pikirkan, Toro tidak bermalam di hotel. Dia mengantar Janice pulang dan menghiburnya sebentar, setelah itu dia naik taksi pulang ke salon. Kirania diam-diam mengintip Toro yang sedang buang air, setelah itu dia merasa lega dan pergi tidur.
Keesokan harinya, Toro yang pulang lari melihat Kirania duduk di sofa. Sambil menghapus keringatnya, dia berkata, “Pagi, kak Kirania!”
Kirania mengambil handuk dan mengelap keringatnya, “Kalau keluar lari pakai yang tebal, biar tidak masuk angin.”
Toro melihat sekeliling, dia mengira ada fans Kirania yang datang. Tapi setelah melihat tidak ada orang, dia mencoba memegang kening Kirania, lalu mengangkat dagunya dan berkata, “Tidak demam kok!”
Dia menghempas tangan Toro, lalu dengan wajah merah berkata, “Kamu yang genit!”
Pikiran wanita paling susah ditebak. Hanya dalam satu malam, sikap Kirania berubah total kepada Toro, dia juga membuat sarapan untuknya. Semua karena Kirania sudah mengakui dirinya menyukai Toro, menyukai seseorang yang tampan dan juga tidak benar ini. Mungkin rasa aman dan misterius yang menarik perhatiannya.
Toro ingin membawa Janice ke Kota Terlarang, dia berharap Janice bisa keluar dari kesedihan secepatnya. Tidak disangka Kirania juga ingin pergi. Sepanjang jalan Toro bersikap seperti seorang pria yang gentle, karena kedua wanita ini terus membelikan makan dan minum untuknya. Sepanjang jalan menarik banyak tatapan yang iri.
1 hari terlewati lagi, ketika dia ingin membuka komputer untuk membaca email, teleponnya berbunyi. Melihat nomor teleponnya Janice, dia berkata, “Wanita kaya, hari ini mau ke mana lagi?”
Janice berkata, “Kak Toro, kamu datang ke hotel dulu. Aku akan memberitahumu satu kabar baik.”
__ADS_1
Toro berkata, “Janice, kakak tidak pernah menyentuhmu. Kamu jangan bilang aku menjadi ayah!”
“Kenapa kamu selalu menyebalkan, ke mana saja pikiranmu itu. Cepat datang, nanti juga tahu!”
“Baiklah, aku akan ke sana!”
Toro naik taksi ke hotel. Turun dari mobil, dia melihat Janice bersandar di sebuah Lamborghini hitam dan melambaikan tangan ke arahnya. Toro berjalan ke arahnya dan memegang mobil dengan senang, dia berkata, “Kamu selalu tega menghamburkan uang.”
Janice menjulurkan lidah dan berkata, “Ini adalah hadiah dariku. Mulai sekarang kamu tidak perlu naik mobil dia lagi!”
“Pergi ke jalan Cahaya nomor 3!” Kata Janice sambil menggoyangkan kunci di tangannya, “Aku membelikan rumah baru untuk kita, mulai sekarang kamu tidak perlu kerja lagi. Kita bisa hidup sesuai keinginan kita.”
Dia merasakan sebuah rasa kesedihan yang samar, karena tempatnya tidak jauh dari rumah Kirania. Toro awalnya ingin memberitahu wanita kaya yang suka menghamburkan uang ini, tapi teringat dia baru kehilangan keluarganya. Dua hari ini dia sudah lebih baik, karena orang yang masih hidup juga perlu melanjutkan kehidupannya. Dia berkata, “Mulai sekarang kamu jangan menghamburkan uang lagi. Aku seorang pria, mana mungkin menggunakan uangmu. Kamu punya niat saja sudah cukup!”
Di dalam mobil, Toro mengangkat telepon dari Kirania. Dia bertanya ke mana Toro pergi, Toro bilang sedang ada urusan. Ketika mendengarkan suara Janice, Kirania sedikit sedih, dia berkata, “Aku ingin mengundangmu ke ulang tahun temanku. Kalau besok kamu tidak ada urusan, temanin aku pergi, Byakta juga akan pergi, kalau tidak bisa, tidak apa-apa juga!”
Toro berfikir sebentar, karena urusan Byakta belum selesai dibereskan, dia lalu berkata, “Besok aku temani kamu pergi.”
__ADS_1
“Terima kasih!” Kirania memutuskan teleponnya, air matanya turun tanpa aba-aba. Rasa kecewa dan sedih menyelimutinya, dia beneran ingin menangis dengan keras. Ini pertama kali dia jatuh cinta kepada seorang pria, tidak disangka mencintai itu begitu capek, begitu menderita, mungkin memang berjodoh tapi tidak bisa bersatu!
“Kak Toro, besok mau ke mana? Aku juga ingin pergi.” Kata Janice sambil menatap Toro.
Toro berkata, “Urusan bisnis, besok aku akan menjadi pengawal pribadi kak Kirania. Kamu juga tahu betapa berbahaya pekerjaanku. Kamu tunggu aku pulang, aku tidak bisa melindungi 2 orang sekaligus.”
Teringat kekacauan di tempatnya dulu, Janice mengangguk dan berkata, “Baiklah!”
Mereka selesai melihat rumah, di dalamnya sudah lengkap semua. Toro membantu Janice membersihkannya sebentar sampai sore. Kemudian dia pergi kerja, malam ini dia menerima 30 an lebih telepon dari Janice, Janice bilang rumahnya terlalu besar, dia tidak berani tidur sendirian.
Setelah Kirania menelpon tadi, dia langsung menghilang. Felysia bilang kalau dia pergi membantu temannya, sebenarnya Kirania pergi ke bar yang tidak jauh dari sini. Dia minum dengan sahabat-sahabatnya, setelah mabuk, dia langsung pulang.
Toro tentu tidak tahu semua ini, dia membawa Lamborghini ke tempat Janice. Kalau dipikir-pikir lucu juga, dia adalah satpam satu-satunya yang membawa Lamborghini untuk pulang pergi kerja.
Setelah masuk, Janice langsung memeluknya, dia berkata, “Kak Toro, Aku takut. Aku sudah kehilangan ayahku, tidak ingin kehilangan kamu lagi.”
“Tenang, kamu masih ada aku, aku akan selalu ada di sini!” Kata Toro sambil membelai wajah cantiknya dan menghapus air matanya. Dia menggendongnya dan berjalan ke arah ranjangnya. Dia tahu, malam ini dia tidak bisa pergi lagi.
__ADS_1