
Kirania mengangguk dan mengembalikan dompet kepada Toro. Di perjalanan pulang, Kirania menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Dia mengira semua pria di dunia ini akan berputar di sekelilingnya dan mengagumi kecantikannya. Sepertinya Toro adalah pengecualian.
Sampai di depan rumahnya, Kirania turun dari mobil. Toro tersenyum dan berkata, “Mobilnya aku bawa dulu, aku akan pulang dan menjaga salonnya. Sampai ketemu besok.”
“Aku juga tidak memintanya!” Kata Kirania sambil melotot ke Toro. Kirania berdiri di sana dan tidak berbicara dalam waktu lama, seperti sedang menunggu sesuatu. Toro turun dari mobil dan mengangkat dagunya, “Jangan menunjukkan ekspresi seperti menunggu disayang, aku bisa tidak tahan!”
“Menyebalkan!” Setelah menghempaskan tangan Toro, Kirania mengambil sebuah amplop yang tebal dari tas, lalu diberikan kepada Toro dan berkata, “Hati-hati di jalan, jangan membawa wanita ke dalam salon, kalau ketahuan olehku, kamu akan aku usir!”
“Astaga, apakah seorang bos juga mengatur sampai hal ini?” Kirania sudah masuk ke dalam kompleksnya. Toro menghirup amplopnya dan berpikir dalam hati: harum sekali!
Setelah selesai renovasi, pelanggan salon milik Kirania tidak berkurang dan malah bertambah, jumlahnya juga tidak sedikit. Gosip tentang Toro langsung beredar ke mana-mana, semuanya membicarakan dia seperti Bruce Lee yang terlahir kembali.
Bukan hanya wanita paruh baya, bahkan wanita yang lebih muda juga datang ke salon kecantikan ini. Seketika langsung membuat para dokter kecantikan kewalahan. Wanita yang selesai terapi biasanya akan berbincang dengan Toro di depan pintu, suara tawa mereka terus menarik perhatian orang di sepanjang jalan.
“Si berengsek Toro!” Kirania terlihat kesal dalam kantornya. Karena dia harus keluar masuk dari ruangannya, melihat Toro duduk di depan pintu dan dikelilingi oleh 20-an wanita muda dan paruh baya. Polisi yang bertugas sudah memperingatkan mereka 3 kali, yang artinya menyuruh mereka jangan melakukan sesuatu yang melanggar hukum.
__ADS_1
Hal ini membuat Kirania harus terus meminta maaf kepada polisi. Dia merasa dirinya seperti mucikari, dan Toro adalah mesin uangnya. Dia hampir saja pergi keluar dan berteriak, “Nona-nona, ibu-ibu, salon kami kedatangan seorang pria tampan yang bertubuh kekar, ayo masuk!”
Akhirnya berhasil bertahan sampai selesai. Kalau dulu, Kirania sudah tidur beberapa jam, sekarang dia sama sekali tidak mengantuk dan terus menatap Toro. Kalau Toro berbicara sebentar dengan Felysia, dia langsung merasa tidak nyaman.
“Aku pergi beli rokok dulu!” Kata Toro sambil tersenyum. Kemudian dia berjalan keluar, tapi baru selangkah dia langsung berhenti. Di depan ada belasan motor hitam, satu motor ada dua orang, semuanya membawa pipa besi dan menghalangi jalan.
“Apa yang terjadi?” Kata Kirania ingin keluar, Toro langsung mundur dan berkata, “Tunggu di sini. Hanya sekelompok geng motor saja!”
Sambil berkata dia langsung loncat dan menarik turun pintu rolling otomatis dengan tangannya. Kemudian melihat orang-orang di depannya dengan tatapan dingin, “Kalian datang berkunjung malam-malam, apakah sedang mencariku?”
Toro tersenyum dingin, para gelandangan yang datang mencari masalah pasti bukan orangnya Lalita. Sepertinya karena orang yang menyebalkan itu atau mungkin juga Byakta, dia berkata, “Kalau aku sudah mengganggu, maka apa yang kalian inginkan?”
“Gampang!” Orang itu berkata, “Kalau tahu diri, besok kamu pergi dari sini. Kalau tidak, kami semua akan membuangmu ke sungai malam ini juga.”
Toro menggelengkan kepalanya, orang itu tidak mau menyerah. Bocah-bocah seperti ini bahkan bisa dikalahkan oleh 2 orang dari 8 pengawalnya Lalita. Toro berjalan ke arah mereka dengan santai.
__ADS_1
Tiba-tiba, kecepatannya bertambah. Dia langsung berlari ke tengah-tengah orang itu, karena dia terlalu cepat, geng motor tidak sempat memberikan perlawanan.
“Aah, tanganku patah!” Pemimpinnya langsung berteriak kesakitan, terlihat tangannya sudah terkulai dan darah mengalir keluar tanpa henti.
Toro menggunakan kakinya untuk mengambil pipa besi, tatapannya terlihat dingin dan dia tersenyum. Pipa besinya langsung diarahkan ke kepala orang itu, dia memukulnya dengan keras dan langsung membuat orang itu pingsan.
Melihat Toro begitu kejam, terdengar suara makian dari dalam helm, “Ayo kita hajar si berengsek ini!”
Baru selesai bicara, langsung terdengar jeritan yang menusuk telinga. Ujung pipa besi menusuk ke dalam helm dan merobek telinganya. Kemudian diikuti pukulan selanjutnya yang membuat orang-orang itu terjatuh semua.
Hanya satu kata kejam, sudah cukup membuat sisa geng motor ini mundur semua. Di lantai sudah terbaring 8 orang. Ada yang mulai tidak peduli pada kawannya dan bersiap kabur dengan motor. Kemudian ada yang ditarik oleh Toro dan dipukuli, sisanya kabur tidak bersisa.
Toro mendengus dan berkata, “Pulang dan beritahu tuan kalian. Kalau dia berani menggunakan cara kotor seperti ini lagi, aku akan pergi ke rumahnya dan memotong ***********... ingat itu!”
__ADS_1