
Mungkin siapapun tidak menyangka, ketika mereka bangun dari tidur siang, Toro sudah tidak ada. Tapi Alura tahu Toro sempat memberitahunya mau keluar ketika dia setengah sadar, dan mungkin sampai sore dia belum tentu akan pulang.
Sama seperti waktu kerja, hari pertama dia sekolah langsung bolos. Kali ini alasannya karena pesan dari Kirania, “Toro, hari ini aku sudah keluar dari rumah sakit. Terima kasih sudah menyelamatkanku. Sebelum pergi aku ingin bertemu denganmu, kalau kamu ada waktu, kirimkan alamatnya kepadaku, aku akan menunggumu!”
Ketika sampai di tempatnya, ternyata sebuah rumah teh. Toro sedikit bingung, wanita modern seperti Kirania, ternyata mengajaknya ke rumah teh untuk berpamitan. Tapi walaupun berpikir begitu, dia tetap berjalan masuk.
Pelayan yang terlihat cantik langsung mendekatinya sembari tersenyum, “Tuan, sendirian?”
“Tidak, ada yang mengajakku ke sini, dia bernama Kirania!”
“Oh, silahkan ikut aku!”
Pelayan membawa Toro masuk ke dalam sebuah ruang, ketika melihat sosok yang tidak terlalu familiar, tetapi kenal, dia baru tahu bukan Kirania yang mengundangnya, melainkan ayahnya Tony Cahyani. Tony menyuruh sekretarisnya keluar dulu, kemudian mempersilahkan Toro untuk duduk, “Toro, silahkan duduk!”
Tony sedikit kaget melihat anak muda ini tidak ada perbedaan, tetapi ketika Toro duduk, dia baru berkata, “Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Terima kasih perhatian paman Cahyani. Tapi, anda boleh terus terang, aku tidak terlalu suka basa basi!” Kata Toro sambil menyalakan sebatang rokok.
Tony tersenyum, “Kalau kamu sudah berkata begitu, aku akan menjelaskannya!” Setelah terdiam sesaat, dia mengetuk meja 2 kali dengan pelan, “Aku tidak setuju kamu berkencan dengan Kirania, semoga kamu bisa mengerti maksudku.”
Toro menggerakkan bahunya dan berkata, “Paman Cahyani, apakah ada urusan lain?”
“Tidak ada!” Tony lalu mengeluarkan sebuah cek yang sudah disiapkan dan berkata, “Ini adalah ganti rugi untukmu. Kirania akan segera pergi dari kota ini, semoga kalian tidak lagi saling berhubungan dalam hal apapun. Mohon pengertian kepada aku yang seorang ayah ini, aku juga demi kebaikan dia!”
Melihat isi cek yang tidak sedikit, Toro juga tidak mengambilnya. Dia berdiri dan berkata, “Hukum di Indonesia menyatakan kebebasan berpacaran, dan aku juga tidak kekurangan uang!” Selesai berkata, dia mengeluarkan segepuk uang dan menarik 2 lembar, kemudian ditepuk ke meja dengan keras, “Sampai jumpa.”
“Kamu……” Tidak menunggu Tony berbicara, Toro sudah keluar dari rumah teh. Kalau bukan melihat dia adalah ayahnya Kirania, Toro pasti melemparkan uang ke wajahnya. Terkadang cara kerja orang kaya membuat orang merasa jijik.
Setelah kembali ke sekolah, Toro pergi ke kelasnya, tetapi di dalamnya malah tidak ada orang sama sekali. Dia ingat ada menyimpan nomor Alura, kemudian dia langsung meneleponnya. Ternyata mereka pergi ke ruang kelas multimedia dan sangat berisik di dalam. Dia langsung pergi ke sana.
Ketika masuk ke dalam, tiba-tiba terjadi peperangan tanpa asap. Seluruh ruangan kelas sangat heboh. Total siswa mencapai 46 orang yang mayoritas perempuan dan termasuk guru, semuanya sedang memainkan permainan tembak-menembak, semuanya saling memaki sana sini. Alura memakai headset, tetapi suaranya sangat mengetarkan telinga, “Bukannya sudah bilang mau satu per satu, kenapa semuanya maju bersama, apakah kalian masih punya etika kalian?”
Phak!
Toro memukul kepala belakang Alura, dia berbalik dan ingin memarahinya. Ketika melihat Toro, dia langsung menelan kembali kata-kata yang sudah berada di tenggorokan, “Kak Toro, kamu cepat juga!”
“Kak Toro, ayo main juga!” Gunawan dan yang lain sudah melihat Toro.
Wanita cantik dengan muka kecil yang duduk di seberangnya adalah Jenifer. Dia melambaikan tangan ke Toro, dan Toro juga mengangguk pelan. Jenifer melepaskan headsetnya dan menunjuk tempat di sampingnya, “Di sini ada tempat, sini duduk samping aku!”
__ADS_1
“Sialan, perbedaannya jauh sekali!” Kata Alura yang kesal sambil melemparkan mousenya.
Toro melihat sekitarnya, memang tempat yang kosong tidak banyak, apalagi bisa duduk bersama wanita cantik memang pilihan yang bagus. Ketika Jenifer melihat Toro tidak main game, dan hanya membuka emailnya, dia berkata dengan kaget, “Kenapa kamu tidak main?”
Toro menjawab dengan jujur, “Aku tidak tahu!”
“Mudah sekali, aku ajarin!”
“Terima kasih, kalian main saja, tidak perlu mempedulikanku!” Toro yang sedang membaca emailnya pelan-pelan mengerutkan kening. Salah satu emailnya berisi informasi tentang pembunuhan ayahnya Janice. Tapi email yang ini tidak sampai membuat dia mengerutkan kening. Ada sebuah email dari orang yang bernama Rubah Emas : Setan, aku sudah tahu kamu berada di Indonesia. Siapkan dirimu dan tunggu aku, aku akan pergi mengambil nyawamu.
Toro tahu Rubah Emas ini, Dia adalah orang dari Kelompok Tentara Bayaran Reynold di Pakistan. Toro pernah bertarung sekali dengannya, dia adalah seorang ahli dalam bidangnya. Mereka bisa dibilang seimbang, tetapi Rubah Emas lebih ahli dalam pelacakan dan pembunuhan diam-diam. Tidak disangkat dia bisa menemukan Toro secepat ini.
Tapi, Toro juga tidak takut, dia membalasnya: Kamu boleh datang mencobanya.
“Siapa nama kamu……”Tanya Jenifer yang tiba-tiba tidak bisa mengingat namanya.
“Toro!”
“Ooh, Toro. Berapa nomor line kamu, aku tambah teman dulu!”
Melihat Jenifer yang begitu polos, Toro hanya menggelengkan kepalanya. Karena Toro tidak punya, dia hanya menjawab dengan tidak fokus. Sekarang dia terus memikirkan masalah Rubah Emas, dirinya membunuh tuan muda Kelompok Tentara Bayaran Reynold, mereka pasti tidak akan diam saja. Orang itu bilang akan datang, dia pasti datang. Walaupun Rubah Emas tidak mungkin menyangka dia akan berada di tempat ini, tetapi dia lebih baik hati-hati.
Bangunan tinggi di pinggiran barat kota Intan sangat sedikit, semuanya adalah rumah 1 lantai atau rumah biasa dengan 2 3 lantai. Kalau dilihat, seperti dua dunia yang bereda dengan kota Intan. Penduduk di sini semua orang biasa dan berjumlah jutaan, bisa dibilang area khusus orang miskin. Pembangunan rumah di sini tidak teratur, kalau tidak ada orang yang membawanya, orang seperti Toro juga mungkin tersesat selama 1 jam di dalam.
Di saat yang sama, Toro juga tahu kenapa Ibrahim bisa mengumpulkan banyak anak buah di sini, karena di sini adalah tempat yang tidak diatur oleh siapapun. Di belakang sekolah ada gundukan kecil sekitar dua ratus meter di atas permukaan laut, tapi gundukan kecil ini adalah tempat paling ramai di sini. Pada pagi hari terlihat lebih baik, palingan hanya ada beberapa pipa baja yang bengkok, golok yang patah, dan juga beberapa ****** dan sejenisnya.
Yang dinamakan tempat yang tidak diatur maksudnya adalah pemerintah tidak terlalu mengelola tempat ini, geng besar merasa tidak ada artinya di sini, geng kecil saling menyerang satu sama lain, itulah kondisinya.
Sampai malam hari, sering terdengar suara perkelahian, suara jeritan siswi yang diperkosa juga sudah biasa. Kalau ingin melakukan hal jahat, ini adalah tempat terbaik. Di sekolah Bintang Cemerlang ada satu kata, “Bocah, kalau berani malam nanti kamu lanjutkan sombong di atas gunung, aku akan menunggumu di sana!”
Toro juga salut dengan Alura, bocah ini dalam 3 hari sudah membereskan kelas sebelah. Jurusan mesin CNC di sebelah lebih banyak laki-lakinya, jadi dalam waktu singkat dia sudah punya 20 lebih anak buah. Alura juga hanya bersikap santai saja, ketika dia merasa cukup, dia akan membiarkan Toro pilih dulu. Setelah itu jika ada yang mau bergabung dengan geng Wustang, dia akan membawanya pergi.
Kota Intan sangat panas saat musim ini, Toro dan Alura sedang bersantai di bawah pohon. Air soda di samping Alura sudah habis setengah dus. Dia mengeluh, “Kenapa dengan mereka berempat, mau suruh kita tunggu sampai kapan?” Dia menghabiskan sebotol soda lagi.
Toro tersenyum, “Mereka termasuk tidak buruk, sayang tidak cocok untuk geng.”
Alura tertawa dan berkata, “Kak Toro, aku melihat Gunawan masih boleh, gimana? Aku kasih ke kamu untuk diajari?”
Toro menggelengkan kepala dan berkata, “Dia terlalu jarang latihan, bahkan tidak bisa mengalahkanmu. Aku tidak punya pertimbangan itu. Oiya, kita tidak boleh menargetkan mereka sebagai tujuan kita. Aku menyuruhmu untuk mencari tahu kekuatan di sekolah ini, apakah sudah ada perkembangan?”
__ADS_1
Alura menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dengan dalam, dia berkata, “Sekolah Teknik Bintang Cemerlang memiliki total 20.000 murid. Bagian timur ada sekolah swastanya, di sana lebih baik 100 kali lipat dari kita. Dan bagian kita termasuk bagian sekolah negeri, perkiraan siswa mencapai 12.000 orang. Para siswa ini terbagi 2 jenis, 10.000 preman kecil adalah darah baru dari geng-geng besar di kota Intan. Sayangnya 2.000 sisanya datang belajar teknik, ketika lulus nanti dan bisa bekerja sudah sangat bersyukur.”
Toro tidak mempedulikan basa basinya, dia menepuk kepalanya dan berkata, “Maksud aku kekuatan di sekolah ini, bukan tentang sekolah ini.”
“Hehe, kekuatan kecil sangat banyak. Tetapi yang memiliki kekuatan besar total ada 3, Geng Barat Laut, Geng Harimau Perang dan Geng Timur Laut. Jangan lihat nama mereka terdengar hebat, sebenarnya hanya permainan anak kecil saja. Total orang hanya 100 – 200 orang, mereka masih bisa merundung para siswa dan preman kecil, tapi melawan geng kelas tiga saja tidak sanggup.”
“Selesai?” Kata Toro dengan wajah dingin, apakah tempat seperti ini masih bisa untuk membuat geng baru?
“Tentu semua itu bukan poin penting, poin penting adalah di sini ada beberapa karakter yang hebat. Orang nomor 1 di sekolah dengan julukan ‘Naga Hitam’, tetapi sudah lama tidak datang ke sekolah. Ada yang menebak orang ini sudah bergabung dengan Geng Pelindung Naga. Kemudian ada Budiman, orang ini memiliki latar belakang yang hebat, sepertinya dia memiliki hubungan dengan Geng Bumi Langit. Yang berada di urutan nomor 3 adalah Sutomo dan Indra. Sutomo adalah orang Geng Wustang kami, dan Indra seperti Geng Tiga Sakti. Lalu tentu ada aku Alura Gendut……”
Toro langsung memasukkan kaleng cocacola ke mulutnya dan mengangguk dengan puas. Sekolah ini beneran sangat tidak tenang, ternyata banyak orang-orang organisasi hitam yang masuk ke dalam sini, kalau tidak berhati-hati mungkin saja mati di tangan para siswa ini.
Sekolah yang biasa kalau bisa mengumpul ratusan orang sudah sangat hebat, lalu ada beberapa siswa dengan latar belakang hebat. Tapi di sini semuanya adalah bos. Toro tersenyum dalam hati, pantesan tempat ini tidak ada yang datang memungut biaya pengamanan, kalau belasan bos keluar untuk memungut biaya pengamanan, pasti akan sangat heboh.
“Kak Toro, Kak Alura, maaf kami terlambat1” Gunawan dan yang lainnya berpakaian dengan rapi dan menggunakan parfum yang menyengat. Seperti ingin pergi kencan.
“Sialan, kalian menyuruh kami menunggu begitu lama dan sekarang baru muncul!” Kata Alura yang kesal sambil melemparkan kaleng coca colanya. Dia berkata, “Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian berpakaian seperti itu?”
4 orang itu langsung menangkap dan meminumnya. Listo berkata, “Karena urusan Kak Tomi, dia ingin pergi mencari mantannya!”
“Sialan, untuk apa mencari mantan!” Kata Alura memarahinya.
“Bukan, kamu dengarkan dulu!” Tomi melanjutkan, “Aku punya satu kartu kredit, sekarang kartunya berada di tangan dia. Aku ingin memintanya balik!”
Toro melihatnya dan berkata, “Memang harus diminta balik. Tapi kenapa kalian harus berdandan seperti ini?”
Turman berkata, “Mantannya Tomi sudah berpacaran dengan orang luar, setiap hari ada mobil yang antar jemput. Dia takut mantannya tidak mau kasih, jadi ingin menyuruh teman-teman untuk memintanya kembali!”
Toro mengangguk, “Baiklah, kalau begitu temani kamu pergi. Tapi kita sekarang juga sudah lapar, makan dulu baru pergi!”
“Sudah malam juga, kak Tomi yang traktir!” Kata Gunawan sambil tertawa,
“Boleh makan di kantin?”
Alura langsung menendang bokong Tomi dan berkata, “Kenapa kamu tidak mentraktir kami makan di toilet saja!”
__ADS_1