Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Perubahan Situasi


__ADS_3

Orang ini memakai pakaian berwarna hitam semua, dia duduk di atas ranjang. Setelah Toro selesai bertanya, dia terdiam 3 detik baru mengangkat kepalanya. Toro kaget, ternyata seorang wanita yang sangat cantik. Kulit wajah yang mulus seperti bidadari dari surga, wajah kecil yang begitu indah, dan kedua mata rubah yang begitu menggoda jiwa manusia.


“Setan, ini ketiga kali kita bertemu!”


“Ternyata kamu, pantesan aku merasa familiar. Kemampuanmu sudah bertambah lagi!”


“Sini sini, keluarin uangnya!” Novianto meminta kepada Hendrawan dan Herman, “Aku sudah bilang mereka pasti kenal, kalian masih tidak percaya, sini uangnya yang kalah!”


Setiap orang memberikan 1 juta kepada Novianto. Hendrawan bertanya dengan kesal sambil merokok, “Bos, dari mana kamu bisa menebak mereka saling kenal?”


“Iya! Satu di Israel, satu di Amazon! Sama sekali tidak masuk akal!” Kata Herman yang bingung.


Yanto tersenyum dingin dan berkata, “Ketika aku dan bos pergi menjemput Phoenix, bos sudah menanyakannya.”


“Sialan!” Mereka langsung marah besar, mereka langsung mengulurkan tangan untuk merebut uang yang sudah masuk ke dompet Novianto.


Toro menatap Phoenix ini. Sesuai yang dikatakan, ini memang ketiga kali mereka bertemu. Pertama kali Toro sedang melindungi bangsawan dari Uni Eropa dan dia adalah pembunuhnya. Kekuatan mereka seimbang, jadi tidak ada yang mendapatkan keuntungan. Kali kedua adalah tinju bawah tanah di Vietnam, Toro duduk di kursi penonton, dia sempat bertatapan dengan Phoenix yang berada di dalam ring.


“Aku masih belum tahu namamu.”


“Aku tahu kamu adalah Setan, Toro!”


“Kamu?”


“Phoenix Hitam. Ratu dari Organisasi Pembunuh Langit mereka.”


Novianto berdiri dari badan Hendrawan dan Herman, dia tersenyum dan berkata, “Kak Toro, Phoenix adalah seorang yatim piatu yang diadopsi oleh ayahku di Kenya sepuluh tahun yang lalu. Ayahku menghabiskan puluhan miliar untuk melatihnya, semua anggota pembunuh langit di luar sana adalah hasil pelatihan oleh dia. Aku memberikanmu kejutan baru lagi!”


“Phoenix, panggil Kak Toro.”


“Kak Toro.”


Toro mengangguk pelan, melatih seorang ahli yang kuat pasti harus menghabiskan puluhan sampai ratusan miliar. Lalu semua ahli yang kuat ini pasti akan setia, ini adalah hal yang tidak berubah di dunia ini.


Kemampuan Novianto memang hebat, tetapi sangat jauh kalau dibandingkan dengan Phoenix Hitam. Tapi wanita yang sombong seperti seekor merak ini bisa memanggilnya Kak Toro, Toro benar-benar merasakan hati yang tulus dan kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sepertinya dengan adanya organisasi pembunuh langit, mereka sudah bisa sebanding dengan geng berukuran sedang.


Tengah malam, api unggun sudah padam. Hanya tersisa cahaya bulan yang berada jauh di atas sana, Toro duduk di atas dinding, Phoenix juga duduk tidak jauh darinya. Mereka berdua sudah terdiam 1 jam lebih, akhirnya Toro tidak bisa menahan diri dan berkata, “Ada perubahan apa di luar negeri?”


Phoenix Hitam menatap ke Toro dengan pelan, “Banyak sekali. Tapi paling banyak adalah terkait dengan dirimu. Tentara Kelompok Bayaran Reynold sudah menaikkan harga buron kamu menjadi 2 Triliun. Banyak orang kuat yang terus mencari kamu, aku juga sedikit tertarik.”


“Kamu pulang untuk mengambil kepalaku?”


“Kalau kepalamu bisa diambil dengan mudah, kamu sudah mati dari dulu. Kamu adalah Setan, sepertinya tidak ada yang memiliki keyakinan 100%.”


“Rubah Emas sudah tahu keberadaanku, dia seharusnya sudah mulai bergerak.”

__ADS_1


“Rubah Emas? Aku dengar dia tidak hanya menginginkan kepalamu, tetapi juga anak perempuan pedagang berlian kaya itu.”


Toro mengerutkan keningnya, dia memang tidak takut Rubah Emas. Tetapi dia hanyalah manusia biasa, kalau orang itu ingin membunuh Janice, dia akan kesulitan juga. Karena dia tidak bisa terus berada di samping Janice. Toro lalu menatap ke Phoenix Hitam dan berkata, “Aku minta tolong 1 hal.”


“200 Miliar!”


Sialan, Toro memarahinya dalam hati, dia kira uang dibuat dari tanah, kalau tidak cukup tinggal digali saja? Tapi demi keamanan Janice, dia memang harus menghabiskan uang ini, “Setuju.”


“Dia berada di Universitas Intan dan bernama Janice. Menurut peraturan, aku akan membayar 20% dulu, 1 minggu uangnya akan masuk!” Selesai berkata, Toro turun dari dinding dan bersiap pergi.


“Lama tidak bertemu, apakah kamu akan pergi begitu saja?”


Toro tidak menoleh dan hanya berkata, “Hari ke depan masih panjang, mungkin saja kita akan bertemu beberapa hari lagi.”


Jam 7 pagi keesokan harinya, Toro melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Nikita. Dia merasa mungkin Jeriko kembali mencari masalah, jadi dia berdiri tidak jauh dan mengawasinya. Setelah 10 menit kemudian, Nikita berjalan keluar sambil menguap. Ketika melihat Toro, dia tersenyum dan melambaikan tangannya, “Pagi, Toro!”


“Pagi!” Toro berjalan mendekat dan melihat seorang pria berumur 37-38 tahun sedang membawakan koper Nikita, “Pagi-pagi sudah mau pergi?”


“Iya, bisa istirahat sehari sudah senang!” Kata Nikita sambil tersenyum pahit. Dia lalu mengambil ponselnya dari asistennya, “Aku tidak bisa memastikan kapan aku akan istirahat lagi. Kamu kasih nomor teleponmu, kalau aku istirahat, aku akan memberitahumu terlebih dahulu!”


“Tidak masalah!” Kata Toro sambil memberikan nomor teleponnya.


“Nikita, kamu sudah seorang aktor senior, kenapa tidak memperhatikan citra kamu? Kalau ada wartawan yang mendapatkan foto kamu sedang bertukar nomor telepon dengan pria ini, bagaimana kamu akan menjelaskan dengan media?” Orang yang berbicara adalah manajernya Nikita, dia memiliki tampang yang sangat menyebalkan.


“Artis juga manusia. Apakah aku tidak punya hak untuk berteman?” Sambil berkata, Nikita mendorong manajernya ke arah mobil, “Kamu tenang saja, di sini area komplek. Tidak mungkin membiarkan seorang wartawan masuk, aku juga akan hati-hati.”


Toro tersenyum, tadi dia melihat sebuah kepala kamera yang tiba-tiba nongol. Pengalaman selama menjadi tentara bayaran, dia bisa merasakan perubahan sekecil apapun di sekitarnya. Tapi karena berhadapan dengan wartawan, dia tetap bersikap damai. Dia juga takut wartawan ini salah tulis. Jadi dia hanya menghancurkan kamera dan menggunakan cara yang tepat agar wartawan ini terdiam karena takut. Setelah mendapatkan rumah wartawan ini, dia memperingatkannya untuk terakhir kali, kalau wartawan ini berani tulis sesuatu, dia pasti akan membunuhnya.


Cara Toro membuat wartawan ini kencing di celana. Jadi dia sangat percaya diri wartawan yang baik ini pasti tidak akan membocorkan hal ini.


Duduk di dalam rumah, Toro membalas email dari teman-teman ZO. Sore hari dia kembali ke sekolah, urusan di sekolah berjalan sesuai dugaannya. Dia sangat puas karena tidak ada masalah yang muncul, dia juga pelan-pelan memiliki topik yang sama dengan siswa pintar.


Mereka merasa Toro bukan hanya punya uang, tetapi dia bisa belajar dengan cepat. Jadi dalam setengah bulan, Toro sudah mengikuti tempo pembelajarannya. Dia hampir mendapatkan juara pertama di semua pelajaran di ujian kali ini, tidak hanya mendapatkan 7-8 piagam penghargaan, dia juga mendapatkan uang beasiswa bernilai jutaan rupiah. Tapi karena itu, semua siswa jurusan komputer memintanya untuk traktir, terakhir dia membagikan permen satu per satu.


Ketika Toro sedang memainkan ponsel yang dibeli dengan uang beasiswanya, tiba-tiba ada telepon masuk, “Kak Toro, ada masalah terjadi. Aku tidak bisa menjelaskan di dalam telepon, kamu cepat kembali ke asrama.”


“Bicara saja di……sialan, sudah dimatikan!” Toro beberes sebentar dan berjalan keluar. Semua tatapan siswa perempuan mengarah ke dia. Hal ini membuat Toro senang dalam hati, melihat cuaca yang mulai dingin, dia memakai jaket kesukaan para wanita di kelas, setelah menghabiskan beberapa juta, mana mungkin tidak menarik perhatian para perempuan ini?


“Apa yang terjadi?” Ketika Toro masuk ke dalam asrama, dia mencium bau asap rokok yang menyengat. Alura sudah menghabiskan setengah bungkus rokok. Setelah melihat Toro, Alura langsung merasa lega.


“Banyak yang terjadi, sekarang Geng Timur Laut, Barat Laut dan Harimau Perang mulai menyiksa anak buah kita!”


“Sialan, kamu rokok sebanyak itu hanya karena hal ini?!” Kata Toro sambil menghisap rokok yang baru dinyalakan, “Bukannya masih ada Sutomo? Ke mana orang itu?”


Alura menghela nafas dan berkata, “Bos Geng Wustang sepertinya mau membunuh Sutomo, lalu sama seperti Indra, mereka akan mencari orang baru untuk mengantikannya. Aku juga tidak mengerti kondisinya, bocah itu hanya mengatakan beberapa kata dan sudah terputus.”

__ADS_1


“Mati?”


“Bukan, dia mematikan teleponnya! Katanya setelah kondisi aman, dia akan meneleponku.”


Toro berpikir sambil berkata, “Masalah menyerang dari luar dan dalam, posisi bocah di Geng Wustang juga hanya biasa saja. Aku harus memikirkan cara sendiri!”


Ketika Alura ingin mengatakan sesuatu, teleponnya berbunyi lagi. Ketika melihat Sutomo, dia langsung berteriak, “Sialan kamu, kenapa kamu bicara setengah-setengah? Apa? Geng Wustang beneran mencampakkanmu? Sekarang mereka mengutus orang untuk membunuhmu? Kamu jangan panik, Beritahu alamatmu, aku akan menyuruh teman untuk menjemputmu.”


“Betul, teman yang membunuh Indra kemarin. Baik, kamu tunggu di sana. Orangnya segera tiba!”


“Sepertinya semuanya benar. Dia bilang Geng Wustang sudah mengetahui dia membantu kekuatan baru dan punya niat berkhianat. Sekarang mereka sudah mengutus pembunuh. Kak Toro, kalau bocah itu sudah dicoret, sepertinya kita tidak perlu menyelamatkannya kan?”


“Kenapa tidak? Walaupun dia tidak berguna, tapi anak buahnya hanya mengenali dia bukan kita. Sekarang aku harus menjamin keselamatannya. Oiya, bawa kita ke tempat yang kita sewa kemarin!” Kata Toro sambil mengirimkan pesan, “Aku akan menyuruh orang dari Pembunuh Langit ke sini, kamu bawa mereka ke sana. Tidak boleh membiarkan bocah itu tergores sedikitpun!”


“Aku tahu!” Kata alura sambil berlari keluar.


“Kak Toro, kamu mencariku?” Kata Pisau Tajam sambil bernafas terengah-engah. Karena Toro mengirimkan pesan dan menyuruhnya kembali dengan cepat.


“Kamu punya kunci rumah 2 lantai yang kita sewa?”


“Ada!”


“Baiklah, kita bicarakan di jalan!”


Toro dan Pisau Tajam berdua naik taksi ke tempat yang mereka sewa. Sampai di lantai bawah, Pisau Tajam baru memberitahu Toro sebuah hal yang mengejutkan. Dia memang punya kuncinya, tetapi dia menyimpannya di kelas. Toro beneran ingin menendangnya, tetapi karena urusan mendadak dia harus menggunakan keahliannya.


Tapi ketika dia memperhatikan pintunya, ternyata pintunya sudah terbuka. Ada yang sudah masuk ke dalam. Ketika masuk ke dalam, langsung banyak orang yang menyapa Toro. Sekarang di lantai 1 penuh dengan orang-orang pembunuh langit, hanya tersisa Macan Hitam. Sepertinya dia pergi menjemput Sutomo.


“Kenapa kalian datang semua?” Tanya Toro.


“Kak Toro bilang ada urusan mendadak, jadi kami kemari semua!” Novianto sedang meminum teh dari gelas kaca.


“Kalian harus lebih santai sedikit, tempat ini akan menjadi tempat kita untuk waktu lama!” Toro berkata begitu karena ketika dia mengeluarkan sebotol bir dari kulkas, detik selanjutnya langsung kosong.


Pisau Tajam melihat orang-orang yang seperti serigala dan harimau ini, dia menepuk bahu Toro dan berkata, “Kak Toro, sini, aku minum dulu untuk menenangkan hati. Siapa mereka ini?”


Toro memberikan birnya dan berkata, “Pembunuh. Oiya, mulai sekarang kamu latihan dengan mereka, kalau tidak nanti kamu akan memalukan ketika berada di situasi besar!”


“Dengan orang-orang ini?” Kata Pisau Tajam sambil membuka lebar mulutnya. Dia terus menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak bisa tidak bisa tidak bisa, aku melihat saja sudah ketakutan. Lebih baik Kak Toro yang mengajarkannya saja!”


“Aku sudah memutuskannya. Kenapa kamu masih gemetar, jangan memalukan aku bisa gak?”


“Pong!” Pintu tiba-tiba terbuka. Terlihat Alura berteriak dengan badan penuh darah, “Cepat cari perban dan obat untuk menahan darah. Ada yang tertembak!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2