
Toro sangat kaget, pengawal pribadi Ken semuanya orang ahli. Kalau berhadapan dengan 2 orang dia masih percaya diri, tapi kalau 3 orang sekaligus, sangat susah membedakan siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Tapi Ken dilindungi oleh 4 orang pengawal seperti itu, tidak tahu berapa banyak orang yang menginginkannya nyawanya dan digagalkan oleh 4 orang pengawalnya.
“Tenang, kamu masih ada aku!” Kata Toro sambil membelai kepala Janice. Wanita ini masih belum genap 20 tahun, dia memiliki julukan ‘putri berlian’ di Israel. Dia selalu dimanjakan setiap waktu.
Toro melihat banyak orang yang terus melewati mereka, untuk menjaga keamanan Janice, dia tahu di sini bukan tempat untuk berbicara. Toro langsung mengangkat kopernya dan menghiburnya, “Jangan menangis lagi, ada aku, aku akan membalaskan dendam Tuan Ken untukmu. Kita bicarakan nanti.”
Janice mengangguk dan memakai kembali kacamata hitamnya, kedua tangan kecilnya terus memeluk erat lengan Toro, dia berkata, “Kak Toro, mulai sekarang kamu harus menjagaku.”
Toro mengangguk, “Tenang saja, semuanya telah terjadi, aku pasti akan menjagamu!”
Masuk ke mobil Lexus, Janice langsung mengetahui bahwa ini adalah mobil wanita setelah melihat desainnya. Dia mulai bertanya kepada Toro, Toro juga menjelaskan kepadanya. Setelah mendengar Kirania yang menyalahkan Toro, Janice langsung kesal dan berkata, “Kak Toro, kenapa kamu bisa membiarkan seorang wanita menyalahkan kamu seperti itu. Besok aku akan membeli salonnya untuk membantumu.”
Toro tersenyum pahit, nona besar keluarga kaya memang sangat emosional, dia berkata, “Itu sudah berlalu, sekarang dia sudah lebih baik padaku. Kalau tidak, dia tidak mungkin meminjamkan mobil kepadaku.”
Toro langsung mengalihkan topik, dia bertanya, “Ooiya, bagaimana dengan bisnis ayahmu?”
Janice menghela nafas dan berkata, “Ayahku sudah menuliskan surat wasiat. Hari dia meninggal, semua bisnis dan uang menjadi milikku. Tapi hanya dalam waktu beberapa hari, bisnisnya sudah menghilang. Hanya tersisa tabungan sebesar 60 triliun.”
__ADS_1
Toro hampir saja menggigit lidahnya. Uang sebesar itu sama dengan pemasukan negara kecil selama 2 3 tahun. Sepertinya dia harus melindungi wanita kaya ini dengan baik, sekarang pasti banyak orang yang mencari keberadaan 60 triliun ini.
Dia mengatur hotel bintang 5 untuk Janice, kemudian menemaninya makan sebentar. Toro awalnya ingin menyuruhnya istirahat, tetapi Janice kekeh ingin bertemu dengan bosnya itu. Dia ingin melihat apakah wanita itu masih punya otak atau tidak, kenapa membiarkan kak Toro yang begitu hebat menjadi seorang satpam.
Toro tentu tidak ingin, setelah bersitegang sebentar, akhirnya mereka setuju tapi dengan catatan Janice tidak asal berbicara. Kemudian mereka kembali ke salon, ketika masuk, mereka melihat Kirania dan Felysia sedang makan kuaci di sofa.
Kirania adalah wanita yang terkenal cantik di kota Intan, tapi ketika melihat cantik dan tubuh Janice yang tidak kalah ini, dia mulai merasa tersaingi.
Teringat ekspresi panik ketika Toro berlari keluar tadi, Felysia mewakili Kirania bertanya, “Kak Toro, apakah ini pacarmu?”
“Adikmu cantik sekali!” Kata Felysia dengan dengusan dingin, dia tidak akan percaya hubungan mereka begitu sederhana.
Toro tersenyum dan berkata, “Kak Kirania, adikku pertama kali datang, aku ingin menemani dia jalan-jalan.”
Kirania awalnya ingin menolak, tapi dia merasa tidak terlalu berprikemanusiaan, akhirnya dia berkata, “Pagi hari kamu boleh keluar main, tapi malam hari harus kerja, jangan berfikir untuk ijin.”
Janice yang mendengarnya langsung cemberut, ketika ingin berdiri, Toro menahannya. Dia mengangguk dan berkata, “Aku juga tidak bermaksud untuk cuti.”
__ADS_1
“Kak Toro, kita kembali ke hotel saja, aku sudah capek!” Kata Janice sambil menggoyangkan tangan Toro.
Toro mengangguk, dia berkata, “Aku temani dia dulu.”
“Kamu masih kembali?” Tanya Kirania dengan panik, ketika dilihat 3 orang yang lain, wajahnya langsung memerah, dia berkata, "Kalau kamu tidak pulang, malam nanti pintunya tidak akan dibuka."
“Nanti saja!” Toro dan Janice berjalan keluar, setelah memesan taksi, mereka menghilang dari pandangannya.
Felysia juga tidak berani bercanda lagi, dia melirik ke Kirania dan berpikir dalam hati: Kak Kirania, malam ini kamu masih bisa tidur? Pria yang begitu hebat, emang kenapa kalau kamu yang menyatakan cinta duluan? Sekarang sudah selesai, siapa tahu apa yang mereka lakukan di hotel nanti!
Di dalam hati Kirania penuh dengan kekhawatiran, “Mereka pergi ke hotel? Pasti bukan tidur bersama!”
“Walaupun tidur bersama, emang kenapa! Dia juga bukan pacarku.”
“Tapi kenapa dia tidak pulang? Aku harus pergi mencarinya.”
“Tidak bisa, apa yang harus aku katakan kalau bertemu nanti? Sudahlah!”
__ADS_1