Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Beruang Hitam Yang Sangat Kuat


__ADS_3

“Astaga, apakah orang ini masih manusia?” Novianto berbisik di telinga Toro dan berkata, “Kak Toro, aku tidak ingin mengganggunya. Kamu adalah bos kami, aku serahkan kepadamu.”


Toro terdiam, saat ini dia baru ingat dirinya adalah bos mereka. Dia merasa dirinya tidak punya kekuatan seperti orang itu, “Kita berlima kalaupun menyerang bersama, mungkin masih ada kesempatan 50%!”


“Sialan, sehebat itu?” Hendrawan menendang beberapa anak buah dan meletakkan wanita itu di dekat dinding.


Toro mengangguk dan berkata, “Itupun kalau kerja sama kita kompak dan dia lalai!”


Selesai berbicara, Hendrawan langsung berlari, “Aku akan menendangmu!” Ketika hampir sampai di depan Beruang Hitam, dia langsung berputar dan menendang dada Beruang Hitam.


Pong!


Hendrawan langsung terbang keluar dan terjatuh ke lantai. Dia berusaha berdiri kembali dan berkata, “kak Toro, kamu sudah meremehkannya. Aku merasa tendanganku seperti mengenai batu karang.”


Beruang Hitam mundur satu langkah dan membersihkan bekas kaki di dadanya. Dia berkata, “Bocah, kamu masih belum memenuhi syarat. Apakah kamu tahu apa itu menghancurkan pertahanan?”


“Apa maksudnya?”


“Kekuatanmu itu bahkan tidak bisa menembus pertahananku, masih berani membual?” Kata Beruang Hitam sambil tersenyum. Dia memasukkan tangannya ke dalam celana yang dibuat khusus itu, ketika tangannya bertambah dua buah keeling. Di atasnya juga ada duri, seperti paku besar di istana, sekarang paku itu terpasang di tangannya.


Toro menarik nafas dingin, barang seperti itu walaupun diberikan kepada seorang banci juga bisa memiliki kekuatan yang hebat. Herman langsung menggelengkan kepalanya dan bergumam, “Tidak ingin bertarung dengannya, aku juga tidak mengijinkan keling itu mengenaiku, tidak boleh tersentuh sama sekali!”


Hendrawan mengangkat wanita di lantai dan berlari ke belakang sambil berteriak, “Yang tidak takut mati boleh coba menahanku!”


“Hendrawan, sialan kamu, tunggu aku. Aku akan melindungimu!” Kata Herman sambil mengikutinya, walaupun tertatih-tatih, tetapi tenaganya juga tidak pelan.


“Jangan pergi, biar aku senang-senang dulu!” Dengan tubuh besar itu, kecepatannya lebih cepat sedikit dari orang biasa. Ketika dia sampai di tempat Toro berdiri sebelumnya, Toro bertiga sudah mundur beberapa meter dan mengalahkan 7 8 orang.


“Gimana sekarang?” Tanya Yanto.


“Hajar dia!” Teriak Novianto sambil melipat kedua tangannya, ototnya terlihat begitu kekar. Bajunya juga menjadi lebih sempit dari sebelumnya.


Toro mengangkat seorang anak buah dan melemparkannya, dia berkata, “Hajar apa, lari!”


“Aah!” Dari belakang terdengar suara jeritan. Orang yang dilempar Toro itu sudah memiliki 3 lubang sebesar ibu jari di tubuhnya. Lalu terdengar suara teriakan Beruang hitam, “Berhenti kalian semua, jangan kabur!”


Orang bodoh yang tidak lari. Toro langsung berlari dari tangga lantai 2 ke tangga lantai 6. Tidak ada yang mau bertarung dengan orang seperti itu. Setelah sampai, dengan nafas ngos-ngosan, Toro mulai membungkus lukanya. Untung tidak ada luka parah, ada beberapa tempat yang sudah mulai membeku.


“Sialan, di sini masih ada satu orang!” Herman membawa si Alura gendut dari pojok sana, bocah ini tidak tahu sejak kapan kabur ke lantai 6.


“Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku. Aku hanyalah seorang pesuruh!” Kata Alura gendut yang ketakutan.


Toro menarik rambutnya dan bertanya, “Gendut, kamu kenal beruang hitam itu?”

__ADS_1


“Ke……kenal, aku akan mengatakannya dengan jujur!” Alura gendut mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Aku dan kak beruang hitam adalah orang geng Wustang. Orang-orang memanggilnya dewa perang geng Wustang. Kami datang merebut tempat ini, tidak disangka tiba-tiba muncul kalian!”


Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, “Jangan bunuh aku, kalau ada yang mau ditanyakan, aku akan memberitahu semuanya!”


“Bocah, jangan kabur!” Dari lantai 5 terdengar suara teriakan dengan nafas berat, tetapi suaranya terdengar begitu kencang.


“Sialan, dia ikut ke atas lagi!” Toro membawa mereka masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Kemudian dia membuka jendela dan mulai merobek gorden dan sprei. Dia menurunkan seprei ke bawah, dari luar juga sudah mulai terdengar suara pintu satu per satu didobrak.


Tiba-tiba, alura gendut itu berdiri dan menggunakan kepalanya untuk menyundul perut Herman. Dengan kencang berteriak, “Kak beruang, mereka berada di 605 dan sedang keluar lewat jendela!”


Toro sudah menyuruh Novianto turun pertama, kemudian diikuti oleh suara Yanto dan Hendrawan yang membawa wanita. Herman ingin berdiri dan membunuh si gendut ini, tetapi pintunya tiba-tiba terbuka, Beruang Hitam yang menyeramkan keluar lagi.


Tidak perlu disuruh Toro, Herman langsung meloncat keluar jendela. Toro yang keluar terakhir, dia merasakan ada tarikan yang kencang dari atas. Dengan terpaksa dia memecahkan jendela lantai 5 dan langsung meloncat masuk.


“Bocah, jangan sampai ketangkap olehku!” Dari atas terdengar suara teriakan Beruang Hitam.


Toro membuka pintu dan langsung berlari ke bawah. Ketika bertemu lawan dia juga tidak berlama-lama, setelah menumbangkan mereka dia langsung turun ke lantai 2 dan mengejar Novianto mereka. Melihat ke lantai 1 yang sudah penuh dengan pria-pria kekar, di lantainya juga penuh darah segar. Sepertinya Geng Wustang sudah menguasai daerah sini.


Terpaksa mereka mencoba keluar dari jendela lantai 2 dengan cara yang sama. Kemudian dengan segenap tenaga berlari kabur dari sini, dari belakang terdengar suara teriakan yang sangat keras, sepertinya orang-orang geng Wustang sudah mengejar mereka.


“Jangan bergerak, kalian sudah ditangkap!” Beberapa polisi mengarahkan pistol ke mereka, seperti sudah menunggu dari tadi dan muncul dari kegelapan.


“Sudah jatuh ketimpa tangga lagi!” Toro mengangkat tangannya dengan tidak berdaya.


Duduk di dalam mobil polisi, Novianto bertanya kepada Toro dengan bingung, “Kak Toro, kenapa mereka ingin menangkap kita?” 3 yang lain juga menatap Toro dengan tatapan tidak mengerti.


Toro juga tidak berdaya, orang-orang yang tidak pernah keluar dari penjara Golania pasti tidak tahu kesalahan mereka sendiri. Saat ini polisi yang duduk di depan berteriak, “Preman, diam kalian. Kalau tidak kamu akan tahu rasa!”


Novianto tidak peduli dengan polisi itu, dia berkata, “Sialan, bukannya hanya seorang polisi saja, kenapa berlagak hebat!” Dia menoleh ke Toro dan berkata, “Kak Toro, kita hanya bertarung biasa saja, dulu ketika berada di Golania, membunuh beberapa orang juga tidak masalah, apa yang terjadi!”


“Aku akan menjelaskan kepadamu nanti!” Toro tidak tahu bagaimana menjelaskannya, dia juga harus memulai dari tata cara menjadi seorang manusia yang baik.


Setengah jam kemudian, di dalam kantor polisi sangat ramai. Ditambah Toro mereka total ada 3 kekuatan, mobil polisinya menangkap belasan orang dan mulai di interogasi.


Yang menginterogasi Toro berlima adalah seorang polisi yang sudah hampir pensiun. Setelah melihat mereka, dia hanya mendengus dingin dan berkata, “Pertarungan malam ini juga ada kalian bukan? Kalian dari geng mana?”


“Kami hanyalah tamu, kami beneran korban yang tidak bersalah!” Toro ingin berdiri, tapi ditahan.


“Sudahlah, tidak perlu pura-pura lagi!” Kata polisi itu sambil menyalakan sebatang rokok. Wangi rokoknya membuat air liur Hendrawan hampir menetes.


“Sial, aku yang bilang. Geng Naga Biru, kenapa?”


Toro menendang Herman sekali, orang-orang ini beneran tidak takut apapun. Sekarang ini adalah negara hukum, mungkin saja mereka bisa dipenjara 8 10 tahun. Tapi polisi tua itu hanya bilang oh dan mengangkat teleponnya. Setelah sejenak, dia memberitahu polisi di belakang Toro mereka, “Kurung mereka!”

__ADS_1


Sepanjang jalan selain Yanto, 3 orang itu seperti sangat senang, seperti pulang ke rumah sendiri. Mereka terus bilang “Emang kenapa”, “Aku besar di penjara.” Toro merasa lebih baik dia bergerak sendiri, karena beberapa orang ini adalah beban. Dan ternyata, sekarang mereka langsung di penjara.


Penjara kali ini lebih besar dari pertama kali Toro datang, di dalamnya ada sekitar 20 an orang. Dan yang menyambut mereka adalah tatapan-tatapan yang menakutkan, Toro menyadari bahwa mereka adalah anak buah dari Geng Wustang.


Kondisi di dalam penjara sangat buruk, lembab dan juga bau. Toro menutup hidungnya, lalu 4 orang yang lain malah duduk seperti bos. Novianto tersenyum jahat, “Kak Toro, kita dianggap preman kecil yang ikut berkelahi juga!”


Toro menghela nafas dan berkata sambil tersenyum, “Kalian sih memang pulang ke rumah, aku malah harus bertamu ke sini!”


“Kak Toro, kamu sudah masuk berapa kali?” Tanya Hendrawan.


Toro tersenyum lagi dan berkata, “Tidak beberapa kali, tapi pertama kali begitu ramai!”


“Oi, kalian semua, bantu pijitin kaki kakekmu ini. Tempat ini bukan tempat untuk manusia!” Kata seorang pria kekar dengan tinggi 190 cm dan menunjuk ke Toro mereka.


Dengan pencahayaan yang buruk, Toro melihat jelas tampang jelek orang itu. Dia tidak memakai baju dan ada tato harimau hitam di dadanya. Beberapa luka terlihat membekas di ototnya.


“Bagaimana dengan tanganmu?” Tanya Toro kepada Novianto.


Novianto menggaruk kepala dan tersenyum jahat. Setelah terdengar suara krak krak, dia berkata, “Tentu sangat hebat, tadi aku sudah menahan diri, akhirnya ada tempat untuk melampiaskannya.”


Ucapannya membuat semua orang berdiri dan berteriak, “Brengsek, apakah kamu sudah bosan hidup? Bahkan kamu tidak mengenali bos Dedi dan berani berlagak sombong?”


“Aku beneran menjadi organisasi hitam!” Emosi Toro tiba-tiba naik. Dia berdiri dan berkata, “Ayo teman-teman kita hajar!”


Pong! Pong! Pong!


Dari dalam penjara terdengar suara yang berisik, sampai polisi di luar juga mulai mengetuk jeruji besi dan berteriak, “Dasar sampah masyarakat, sampai di sini juga berkelahi, diam semua!”


Tapi, mereka berlima sudah berbaring dan mengobrol, di bawah mereka adalah orang-orang Geng Wustang. Rasanya begitu segar, Hendrawan tiba-tiba mengeluarkan rokok dan dibagi ke yang lain. Toro meregangkan tubuhnya, dia tidak bermaksud kabur kali ini. Karena masih ada 4 orang ini, jadi tidak membosankan.


Novianto mulai memasukan pemikiran mereka kepada Toro, “Kak Toro, aku sudah mengerti. Di luar sini sama dengan Golania. Siapa yang hebat akan menjadi bos, siapa yang tinjunya keras akan menjadi bos juga!”


Toro tersenyum dan berkata, “Aku setuju dengan pemikiranmu. Sini, aku jelasin peraturan dan tata krama sebagai seorang manusia!”


“Sialan!” Mereka langsung mengacungkan jari tengah ke Toro, seperti takut orang lain tidak tahu mereka adalah organisasi hitam.


“Sini, coba nyanyi untuk kami!” Kata Toro sambil menepuk kepala bos Dedi.


Dari dalam penjara terdengar suara lagu cinta yang jelek, diikuti suara tertawa beberapa pria. Toro merasa nyaman dengan kehidupan baru ini, lebih menarik dari bayangannya


 


 

__ADS_1


__ADS_2