
Toro membaca isi suratnya, Lalita tentu tidak mendekat. Setelah selesai, Toro menggelengkan kepalanya dan berkata, “Hari pertama menjadi ketua aula sudah dikasih tugas seperti ini, beneran sangat melelahkan.”
Lalita menatap Toro dan berkata, “Melakukan apapun juga tidak gampang. Walaupun tugas yang diberikan kepada aula khusus kamu ini memang sulit, tapi karena kamu adalah orang Geng Naga Biru dan juga sekarang adalah ketua aula, maka sudah menjadi kewajibanmu menjalankan tugasnya!”
Toro melambaikan tangan dan berkata, “Aku mengerti, hal seperti ini juga tidak boleh sembarangan.”
“Baiklah kalau begitu!” Lalita melihat ke dalam dan berkata, “Tadi aku melihat mata Denisa memerah, apakah kamu mengganggunya lagi?”
Toro tentu tidak akan menutupi kejadian itu, dia menjelaskan perilaku Anto yang tidak tahu malu. Ekspresi Lalita semakin jelek, setelah selesai mendengarnya, dia berkata, “Aku akan membereskan hal ini, kamu tidak perlu ikut campur!” Selesai berkata, dia langsung masuk ke ruangan Anto.
Suara Anto terdengar dari dalam ruangan, kemudian menghilang diikuti pintu yang tertutup. Siapapun tidak tahu apa yang dibicarakan Lalita kepadanya. Semuanya menatap ke Toro, Toro hanya menggerakkan bahunya dan berkata, “Betul, aku sudah menceritakannya kepada Presdir Lalita.”
15 menit kemudian, Lalita berjalan keluar dari ruangan Anto, dia berkata, “Denisa, kamu tenang saja. Mulai sekarang dia tidak akan berani lagi!”
Denisa langsung berdiri dan berkata, “Terima kasih Presdir Lalita.”
Lalita malah menjadi tidak enak, “Kamu tidak perlu berterima kasih kepadaku, itu adalah kewajibanku. Malahan aku yang harus minta maaf, kalian semua adalah karyawanku, aku punya kewajiban untuk mencegah hal seperti itu terjadi. Aku akan berdiskusi dengan kepala bagian Jacky untuk menambahkan satu aturan. Kalau ada yang melanggarnya, aku akan langsung memecatnya!”
Toro bertanya, “Kenapa tidak memecatnya sekarang?”
Lalita mengerutkan kening dan berkata, “Sekarang perusahaan kita belum memiliki peraturan seperti itu, dan Denisa juga tidak terluka karenanya. Peraturan perusahaan ataupun peraturan negara juga tidak bisa menghukumnya!” Dia menatap Toro dengan penuh arti, dia juga sangat kesal. Dari dulu dia sangat ingin memecat orang ini, tapi Anto ini memiliki hubungan dengan Tetua Geng Naga Biru, dia tidak bisa memecat Anto langsung.
Lalita juga tidak berdaya terhadap orang ini. Dia bukan hanya presdir perusahaan ini, tapi juga seorang ketua aula Geng Naga Biru. Dia harus memikirkan segala hal dengan baik, ada beberapa hal yang tidak bisa diputuskan begitu saja, Anto ini adalah salah satunya.
Setelah Lalita pergi, siang harinya, Anto baru berjalan keluar dari ruangannya. Tatapan dia begitu menyeramkan, dia langsung menatap Toro 3 detik dan Toro juga menatapnya dengan tidak takut. Anto lalu mendengus dingin dan berkata, “Bocah, kamu bernyali, kita lihat nanti!”
Toro langsung mengabaikannya, setelah merengangkan badannya dia berkata, “Siang ini kalian mau makan apa? Aku akan traktir!”
Ekspresi Anto semakin tidak enak, dengan kesal berkata, “Kalau dalam 1 minggu kamu tidak pergi dari Cahaya Naga, aku akan mengikuti nama belakangmu!” Selesai berkata, dia mengambil kunci mobil dan berjalan pergi.
Denisa semakin khawatir, dia berkata, “Kak Toro, sekarang kita harus bagaimana?”
Toro hanya tersenyum dan berkata, “Jangan dengarkan dia, perusahaan ini bukan miliknya. Aku ingin lihat setelah 1 minggu, kalau aku tidak pergi, apakah dia beneran akan mengundurkan diri dari sini?”
“Beneran tidak apa-apa?”
“Beneran!” Kata Toro mengangguk dengan yakin. Dia melanjutkan, “Masih ada Presdir Lalita, kamu tidak percaya padaku, apakah kamu juga tidak percaya dengan Presdir perusahaan kita? Selama aku bekerja dengan serius, apakah dia punya alasan untuk mengusirku?”
Setelah mendengar kata Lalita, Denisa merasa lebih percaya diri. Di perusahaan ini Presdir Lalita paling tinggi, dan dia selalu melakukan semuanya dengan adil. Belum pernah terdengar ada karyawan yang dipecat begitu saja.
__ADS_1
Toro pergi ke toilet sebentar, setelah Denisa mereka pergi semua, dia baru membawa Lamborghininya kembali ke rumah. Sejak Janice pergi, dia mulai menjalani hidup seorang single lagi, dia mengeluarkan sayur dari kulkas dan bersiap untuk masak.
Setelah sesaat, dia mendengarkan suara pintu terbuka dari luar, apakah Janice pulang? Tapi hari ini bukan hari minggu, siapa lagi yang punya kunci rumah, apakah mereka?
Toro membuka pintunya dan melihat seorang wanita yang sangat cantik. Dia berumur 30 an, perawatannya dilakukan dengan baik. Dia memakai kaos putih yang longgar, celana jeans pendek berwarna biru. Kaos longgar seperti itu juga bisa membuat dadanya nongol, sepertinya memang sangat berisi, diperkirakan minimal cup D. Dia menarik sebuah koper di belakangnya, dan Toro merasa familiar dengan orang ini, tapi untuk sesaat dia tidak bisa mengingatnya.
“Kamu mencari siapa?” Tanya Toro sambil bersandar di pintu.
Wanita ini menyampingkan rambut hitamnya yang panjang, setelah melihat nomornya, dia menjulurkan lidah dan berkata, “Maaf, aku salah lihat!” Kemudian berjalan ke rumah di sampingnya.
Toro menggelengkan kepalanya, ternyata masih ada orang yang bisa salah rumah. Tapi wanita ini beneran sangat cantik, dia melihat wanita itu berjalan ke rumah yang tidak jauh dari sini, setelah melihatnya sebentar, dia baru berjalan masuk.
Baru selesai masak dan belum sempat makan, bel pintunya berbunyi lagi. Apakah wanita itu lagi? Toro pergi membuka pintu dan mengira akan ada petualangan baru lagi, tetapi yang berdiri di depannya adalah 4 orang anak muda yang berumur sekitar 20 an.
Setelah menyuruh mereka masuk, Toro bertanya, “Sudah makan?”
Mereka ber 4 saling menatap dan langsung menggelengkan kepalanya. Toro menambahkan beberapa piring untuk mereka. Mereka adalah 4 orang yang dibawa keluar dari Golania, dan mulai sekarang adalah bawahannya langsung. 4 orang ini beneran sangat tidak biasa, luka yang begitu berat bisa sembuh dengan cepat.
Sambil makan, mereka mulai memperkenalkan diri kepada Toro, nama mereka adalah Novianto, Yanto, Herman dan Hendrawan.
Mereka berempat memakai jas tunik. Novianto memiliki tinggi 180 cm dengan wajah yang dalam. Kancing kemeja putihya terbuka dan menunjukkan dada yang kekar dan penuh dengan kekuatan. Tetapi wajahnya itu selalu tersenyum jahat, membuat orang merasa aura kejahatan yang susah diungkapkan. Dia adalah pemimpin dari 3 orang ini, dia juga adalah anak dari orang yang pernah dijuluki penguasa area utara, Michael.
Herman memiliki tinggi 175 cm, alis yang tajam dan hidung yang mancung. Ketika dia masuk ke dalam, rumah ini langsung penuh dengan bau alkohol, membuat Toro harus membuka jendelanya.
Hendrawan adalah yang paling pendek di antara mereka, tinggi dia sekitar 170 cm. Walaupun tampangnya tidak jelek, tetapi gayanya terlihat sangat berantakan. Yang paling menarik perhatian adalah alisnya yang tebal dan hitam itu, hanya saja bau rokok di mulutnya membuat orang merasa jijik.
Selesai makan, mereka mulai merokok. Toro lalu memberikan surat perintah itu kepada mereka. Dia lalu membuka tv dan melihat drama-drama yang tidak bergizi, sambil melihatnya, tiba-tiba dia berhenti di satu saluran. Bukan karena salurannya sedang memainkan pertunjukkan yang menarik, tapi karena dia melihat sebuah wajah yang familiar, dia bergumam, “Pantesan begitu familiar, ternyata dia seorang artis?”
“Siapa yang artis?” Tanya Novianto.
“Kamu tidak kenal!” Toro menoleh ke arah mereka, selain Herman yang tidak tahu ke mana. 3 orang ini sedang bermain permainan Golden Flower, puntung rokok juga sudah berjatuhan di lantai. Dia paling malas membersihkan, jadi Toro berusaha menahan perilaku mereka yang gila itu, tapi ketika dia melihat Herman membawa Remy Martin dan XO masuk ke dalam, dia beneran hampir pingsan. 4 orang ini sama sekali tidak punya aturan, lain kali tidak boleh berkumpul di tempat yang begitu elit lagi. Sia-sia dihancurkan oleh mereka.
Toro beneran tidak berdaya dengan 4 orang ini, setelah melihat waktu masih ada 1 jam, dia berkata, “Teman-teman, sudah waktunya, ayo berangkat!”
Isi surat perintah itu sangat sederhana, membunuh bos klub malam Dastri, hari ini jam 9 malam di tempatnya. Tugas seperti ini seharusnya bukan Toro yang menjalankannya, tetapi di dalamnya ada sebuah foto yang diprint, di bawahnya tertulis Matsumoto, orang dari negara Niponia.
Setelah memesan taksi, mereka sampai di Klub Malam Dastri. Klub ini termasuk klub yang besar, di dalamnya sudah banyak tamu orang kaya yang datang. Toro melihat sekelilingnya, pelayannya total ada 20 orang dan yang berjaga sekitar 10 orang, seharusnya tidak masalah.
DJ sedang memainkan musiknya, seorang pelayan berjalan masuk dan berkata, “Tuan-tuan, mau menggunakan ruangan atau lobi?”
__ADS_1
“Lobi!” Masih ada setengah jam sampai Matsumoto tiba. Mereka tentu harus memperhatikannya dari luar, setelah mendapatkan tempat duduk. Herman langsung memesan 20 botol bir, Toro langsung berkata, “Minum sedikit saja, hari ini bukan datang main!”
4 orang itu langsung tertawa, Herman berkata, “Kak Toro, jangankan kemampuan minum aku. Mereka bertiga juga tidak selemah itu, 20 botol ini hanya untuk menahan haus saja!”
Novianto juga mengangguk, “Kak Toro, kamu tenang saja. Kami akan menjaga diri!”
Ketika 20 botol bir datang, Toro bahkan tidak menghabiskan satu botol, tapi yang lain sudah habis setengahnya. Dia menggelengkan kepalanya, kalau 4 orang ini tumbang nanti, besok dia akan memberitahu Abraham tidak mau kerja lagi.
Mereka sepertinya datang untuk bermain, bahkan memesan 5 orang wanita penghibur. Alkoholnya juga terlihat sangat berat, melihat mereka sudah minum seperti itu dan tidak menahan diri, Toro juga mulai mengikuti mereka. Setengah jam terlewati.
Sekitar jam 9 lewat, orang di foto itu akhirnya muncul. Matsumoto adalah seorang pria paruh baya dengan kumis kecilnya, tingginya tidak sampai 160 cm. Di sampingnya ikut 6 orang pria kekar dengan tinggi 180 cm. Setelah masuk mereka mulai melihat sekitar, lalu di bawah arahan pelayan, mereka langsung naik ke atas.
Setelah sejenak, Toro memanggil pelayan dan bertanya, “Apakah ada kamar di sini?”
Pelayan itu mengangguk dan berkata, “Di lantai 3!”
“Baik, aku butuh 5 kamar!”
“Silahkan ikut aku!”
Toro membawa seorang wanita penghibur yang hampir berbaring di tubuhnya itu dan menyuruh 4 orang itu juga ikut naik ke atas. Sampai di lantai 3, dia langsung memberikan kode kepada Novianto ber 4, lalu langsung membuat pingsan wanita dan pelayan yang membawa mereka itu.
Novianto dan yang lainnya juga tidak pelan, dengan gerakan yang sama mereka membuat wanita di pelukan mereka pingsan. Hendrawan tidak lupa mencium dada wanita penghiburnya sekali. Ketika masuk ke dalam kamar, di dalamnya tidak ada orang. Mereka mengingat 4 orang wanita penghibur dan menutup mulut mereka, setelah itu dibawa ke dalam wc.
Pelayan juga mendapatkan perlakuan yang sama. Toro duduk di sofa dan berkata, “Bangunkan dia, aku melihat pelayan ini yang membawa Matsumoto naik. Tanya dia mana orang Niponia berada!?”
“Phak phak!” Yanto tidak suka berbicara, tapi gerakannya sangat cepat. Dia langsung menampar pelayan itu 2 kali dan membuat dia bangun. Pelayan yang tidak tahu apa yang terjadi mulai memberontak. Mereka ber 4 langsung menendang pelayan itu sampai dia meminta tolong.
Toro mengeluarkan pisau tempurnya dan diletakkan di leher pelayan, dia berkata, “Kamu akan memberitahu aku, di mana Matsumoto berada bukan?”
Tapi pelayan itu langsung menggelengkan kepalanya. Dia tahu 5 orang ini bukan orang baik, kalau dia memberitahu di mana bos mereka berada, mereka pasti akan membunuhnya, lalu pergi mencari bosnya. Toro tersenyum dan berkata, “Aku suka pria keras seperti ini, apalagi seekor anjing yang setia dengan orang Niponia!”
“Kak Toro, serahkan kepadaku!” Kata Yanto dengan singkat. Tetapi gerakannya sangat kasar, dia langsung mengangkat pelayan itu dengan satu tangan dan berjalan ke kamar mandi.
Novianto berkata, “Kak Toro, tenang saja. Yanto sangat hebat dalam hal ini, tidak sampai 1 menit pasti ada hasilnya!”
__ADS_1