
Di dalam ruangan wakil kepala bagian Anto. Pintu kayunya tertutup rapat, Denisa sedang berada di depan pria paruh baya yang sedikit botak. Pria yang gendut dan wajah yang menyeramkan, dia sedang mengangkang kaki dan menggigit sebatang rokok. Denisa berdiri sedikit jauh dari mejanya, dengan sedikit panik berkata, “Wakil kepala bagian, ada apa anda mencariku?”
Anto menatap Denisa dengan mata genit, dia ini terlalu menyukai wanita. Biasanya kalau tidak ada kerjaan dia pasti akan menggoda wanita di kantor, bahkan Monica yang sudah punya anak juga pernah digodanya. Tapi dibandingkan dengan Monica, Denisa masih lebih muda dan cantik, seluruh tubuhnya memancarkan wangi seorang perawan, lalu sikapnya juga sangat lembut. Tidak seperti Monica yang digoda pelan masih bisa, tapi kalau terlalu berlebihan pasti akan marah, jadi Anto jarang menggoda Monica dan mengganti target ke Denisa.
Sampai di jabatan wakil kepala bagian, mereka pasti mendapatkan sebuah ruangan yang terpisah. Tapi Denisa sangat waspada dan berhati-hati, dia jarang memberikannya kesempatan, Anto yang berhasil memanggilnya masuk sekarang, mana mungkin melepaskan kesempatan ini.
“Denisa, aku mendengar gosip dari karyawan departemen lain, belakangan ini kamu tidak fokus bekerja!” Bersandar di kursinya, Anto bersikap layaknya seorang bos yang sedang berbicara dengan bawahannya.
Wajah Denisa langsung memerah, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku terus bekerja dengan benar, kalau ada tempat yang membuat wakil kepala bagian tidak puas, mohon arahannya, aku pasti akan berubah!”
Anto hanya mencari alasan saja, dia ingin melihat Denisa yang bersikap kasihan ini. Wajahnya berubah menjadi lebih serius dan berkata, “Aku juga sudah memeriksa kondisi pekerjaanmu belakangan ini, kinerjamu jelas menurun, apakah kamu bermaksud untuk pindah perusahaan?”
“Wakil kepala bagian, aku tidak, beneran tidak ada!” Kata Denisa dengan polos, karena masih tidak berpengalaman, beberapa kata dari Anto langsung membuatnya takut, “Tunjangan dari perusahaan begitu bagus, mana mungkin aku pindah!”
Kepanikan Denisa semuanya terpampang di depan Anto, dia tersenyum dan berkata, “Anak muda memang harus bersemangat baru dinamakan anak muda. Tapi selama kamu masih berada di perusahaan kita, aku punya hak untuk mengarahkan pekerjaanmu. Tapi, kamu juga tidak perlu terlalu tegang. Sekarang kita bicara lebih ke pribadi, kamu yang masih begitu muda dan cantik, pasti merasa tidak nyaman kerja di perusahaan kecil ini!”
Denisa berkata, “Tentu tidak, rekan-rekan kerja sangat menjagaku. Kepala bagian dan wakil kepala bagian juga sangat perhatian, aku sangat puas dengan pekerjaan sekarang!”
“Kamu tidak perlu tegang, kita juga udah kenal 1 tahun lebih. Aku tahu kamu ada wanita yang mau bekerja keras, tapi perusahaan Cahaya Naga tidak masuk ke pasar saham, kedepannya tidak ada jaminan juga. Perusahaan Naga Langit adalah perusahaan terbuka, kalau kamu bisa masuk ke sana, pasti akan mendapatkan tunjangan lebih banyak daripada di sini. Lalu setelah bekerja 1-2 tahun, akan diutus ke anak perusahaan, setelah itu kamu minimal juga bisa menjadi seorang wakil kepala bagian. Aku adalah contoh yang baik, tunggu aku kembali ke perusahaan Naga Langit, aku mungkin sudah menjadi wakil manajer!”
Denisa melihat Anto yang tidak seperti biasa, seperti sedang membicarakan pekerjaan dengan serius. Kewaspadaannya juga menurun, dia berkata, “Aku hanya karyawan biasa, mana bisa dibandingkan dengan wakil kepala bagian. Apalagi tidak punya koneksi, tidak segampang itu masuk ke perusahaan induk!”
“Aku menyukai anak muda yang berambisi sepertimu. Tidak salah kamu melihat lebih jauh!” Kata Anto menyalakan sebatang rokok lagi dan mengangguk dengan wajah puas.
“Terima kasih arahan wakil kepala bagian, aku akan berusaha lebih keras lagi!”
“Hehe……pada akhirnya masih anak muda. Ada satu hal yang benar, kamu tidak punya koneksi, menggunakan usaha untuk masuk ke perusahaan induk memang hampir tidak mungkin!”
Melihat Denisa yang kecewa, Anto lalu berdiri dan memberikan Denisa segelas air hangat. Dia meletakkannya di depan dan berkata, “Koneksi itu perlu didapatkan sendiri, aku melihat kamu tidak buruk, kalau aku bisa menitipkan ucapan ke perusahaan induk, maka impianmu akan segera tercapai!”
“Wakil kepala bagian, anda……anda akan membantuku?” Kata Denisa yang menjadi semangat, Lalita sering membicarakan Perusahaan Naga Langit. Itu adalah 10 perusahaan besar di Indonesia, bisa masuk ke sana berarti mendapatkan mangkok emas, tunjangannya lebih bagus dari beberapa jabatan politik.
“Kalau aku sudah mengatakannya, itu artinya aku ingin membantumu. Kamu lumayan baik, masa depanmu pasti akan sangat terang!” Sambil berkata, tangannya mulai mendekati bahu Denisa.
__ADS_1
Tapi Denisa sudah waspada dari tadi, dia menyampingkan badannya dan membuat Anto tidak berhasil meraih bahunya. Dia sedikit membungkuk dan berkata, “Terima kasih wakil kepala bagian, kalau ada kesempatan untuk masuk ke perusahaan induk, aku pasti tidak akan melupakan kebaikanmu!”
Anto pelan-pelan menarik tangannya kembali, dia juga tidak marah dan hanya tersenyum sambil berkata, “Denisa, tahu berbalas budi adalah sikap yang baik. Tapi aku membantumu masuk ke perusahaan induk, bagaimana kamu akan berterima kasih kepadaku?” Selesai berkata, dia menjilati bibirnya.
Denisa langsung mundur 2 langkah dan berkata, “Terima kasih niat baik wakil kepala bagian, tapi sekarang aku masih ingin bekerja di cahaya naga, dan pelan-pelan melangkah masuk ke perusahaan induk tetap menjadi mimpiku!” Setelah berbicara dia langsung ingin pergi, karena Denisa melihat wajah menyeramkan orang ini, pasti dia memiliki niat buruk.
Anto dari awal sudah tertarik dengan Denisa, mana mungkin melepaskannya begitu saja. Beberapa wanita dari awal memang malu-malu, kemudian pada akhirnya dia berhasil mendapatkan mereka dengan cara paksa. Dia tahu Denisa pemalu, jadi walaupun menyentuhnya sedikit, dia juga tidak berani berteriak. Anto langsung berdiri dan menghalangi Denisa, dengan perut besarnya itu dia berkata, “Denisa, kak Anto sudah memperhatikan kamu lama. Kalau kamu mau bersama denganku, aku bukan hanya bisa membantu kamu masuk ke perusahaan induk, tapi juga akan memberikan banyak uang untukmu, memberikan tempat tinggal dan semua kebutuhan yang baik untukmu!”
Denisa tidak menyangka Anto begitu berani, dia langsung menutupi dada dan mundur, sambil menggelengkan kepala. Sesuai dugaan Anto, dia tidak berani berteriak. Karena dia takut menyinggung Anto dan takut merusak nama baik dia sendiri, kalau orang lain tahu, bagaimana dia akan bertemu dengan yang lain.
Anto membuka lebar kedua tangannya dan terus memaksa Denisa mundur sampai ke meja kantor, Anto tersenyum jahat dan berkata, “Denisa, aku sudah memikirkan kamu lama. Malam hari aku selalu melihat fotomu untuk tidur, kalau kamu mengikutiku, aku jamin tidak akan mengingkari janjiku!”
Wajah Denisa menjadi pucat karena ketakutan, dia berkata, “Wakil kepala bagian, kamu jangan begini, aku akan berteriak minta tolong!”
“Ah? Oiya?” Anto tersenyum dan berkata, “Coba teriak, aku seorang pria juga tidak takut. Tapi kamu hanyalah wanita yang single, bagaimana kalau merusak nama baik itu. Aku juga bisa bilang aku sudah menidurimu, dengan begitu kamu tidak akan bisa mengangkat kepalamu itu di kantor, bahkan pacar saja kamu tidak akan punya!”
“Kamu, kamu beneran preman!” Kata Denisa yang akhirnya mengerti kegilaan Anto. Tapi dia juga tidak tahu bagaimana membereskan masalah di depan.
Tapi saat ini, pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Anto kaget, dia langsung berjalan ke samping, dan Denisa juga menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari ruangannya.
“Ada sampah yang perlu aku bantu buang?” Yang masuk adalah Toro, melihat ekspresi Anto yang suram itu, Toro langsung berkata, “Mungkin nanti saja!”
Ketika pintu tertutup, Anto baru sadar kembali. Dia langsung membuang gelas ke lantai dan bergumam dengan kesal, “Hanya sedikit lagi! Bocah sialan itu, sepertinya dia adalah karyawan baru, sialan, berani mengganggu urusanku, lihat bagaimana aku membereskanmu!”
Ketika Toro berjalan keluar, dia melihat Denisa sedang menangis di meja. Di sampingnya ada Monica sedang menghiburnya. Melihat Toro keluar, Monica menghela nafas dan berkata, “Toro, kamu mengganggu urusan si Anto botak, kali ini kamu pasti akan dipersulit!”
Luna yang kesal juga berkata, “Anto botak itu seperti mempunyai hubungan dengan organisasi hitam, kamu harus hati-hati dia akan balas dendam!”
Toro tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, tapi bagaimana aku bisa menahan diri untuk melihat Denisa diganggu oleh orang itu!”
Jeremi juga bergumam, “Lebih baik kamu hati-hati!” Dia bertanya ke Denisa, “Denisa, bagaimana dia mengganggumu?”
“Dia tidak berhasil, urusan baik dia dirusak olehku!” Kata Toro sambil menyalakan sebatang rokok dan berkata, “Aku terus mendengar dari luar, bagaimana mungkin membiarkan dia merundung Denisa?”
__ADS_1
Beberapa orang ini langsung menghela nafas, Monica menepuk bahu Denisa dan berkata, “Kalau memang tidak tersentuh, kamu juga jangan nangis lagi. Semua ini karena kamu terlalu penakut, dia baru berani mengganggumu. Kalau dia berani menyentuhku lagi, aku akan mematahkan adik kecilnya itu, lalu pergi mengadu ke Presdir Lalita!”
Toro hampir saja menjatuhkan rokoknya, Monica ternyata adalah seorang wanita kuat. Di depan semua pria, dia juga berani berkata begitu.
Denisa tentu juga tertegun, dia mengangkat wajah yang masih ada air mata. Dia menatap Monica dan menggunakan tisu yang diberikan Toro untuk mengelap wajahnya. Setelah sesaat, dia berkata, “Kak Toro, terima kasih!”
“Kenapa harus sungkan denganku. Kamu adalah guruku, lagian aku juga tidak melakukan apapun!”
“Kamu hanyalah orang bodoh!” Kata Denisa sambil tertawa, dia bertanya ke Monice dengan khawatir, “Kak Monica, menurut kamu, apakah wakil kepala bagian akan membalas dendam kepada Toro?”
Toro melihat Monica mengangguk, dia lalu berkata, “Kamu tidak perlu khawatir. Aku punya hubungan dengan Presdir Lalita. Sehebat apapun Anto botak itu, dia tidak mungkin lebih hebat dari Presdir Lalita bukan? Kalau dia berani menggangguku, aku akan pergi mencari Presdir Lalita, kita lihat seberapa hebatnya dia!”
Toro diatur masuk oleh Lalita, semuanya sudah mendengarnya. Tapi perekrutan karyawan biasanya urusan bagian personalia, mana mungkin dia dibawa masuk oleh seorang presdir? Tapi mendengar ucapan Toro, sepertinya dia punya hubungan khusus dengan Lalita.
Jeremi bertanya dengan hati-hati, “Toro, apakah kamu beneran memiliki hubungan dengan Presdir Lalita?”
“Iya, hubungannya juga tidak biasa. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa masuk tanpa melewati bagian personalia!?”
Sambil berkata, Toro melihat ekspresi beberapa orang menjadi tidak benar dan menatap ke arah belakangnya. Toro langsung menoleh dan melihat Lalita. Lalita menatapnya dengan tatapan aneh, membuatnya mengangkat bahu tak berdaya.
“Presdir Lalita, lama tidak berjumpa!” Kata Toro sambil menyapa Lalita.
Lalita melotot ke Toro dan berkata, “Toro,hubungan kita adalah atasan dan bawahan. Kamu jangan menggunakan namaku untuk melakukan hal aneh, kalau tidak di perusahaan……”Melihat Toro tersenyum dingin, dia melanjutkan, “Aku akan membereskanmu ketika ada waktu, ikut aku keluar sebentar.”
“Toro, apakah kamu boleh tidak membuat masalah di kantor. Kalau begitu, aku beneran kesusahan!” Sampai di luar, Lalita memberinya sebuah kantong kecil dan berkata, “Ini adalah tanda kamu menjadi ketua aula, di dalamnya juga ada sebuah tugas!”
“Ooh, langsung menjadi ketua aula?” Kata Toro sambil mengeluarkan sebuah lencana berbentuk naga. Lalu di dalamnya juga ada sebuah surat, suratnya masih disegel dan ada cap berbentuk naga. Dia menatap Lalita dan berkata, “Rapat sekali, tugas apa ini?”
“Dari ketua Geng, kamu lihat sendiri!” Kata Lalita sambil menggelengkan kepalanya, “Perintah rahasia tingkat pertama dari geng kita, aku juga tidak punya hak untuk membukanya!”
__ADS_1