Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Di Antara Kebaikan dan Keburukan


__ADS_3

Di bagian belakang ruang bawah tanah terdapat sebuah kamar berukuran 20 meter persegi. Perabot di dalamnya sangat sederhana, tempat tidurnya adalah sebuah meja dan juga kursi yang sedang didudukinya, “Aku dengar dari Tengkorak kalau kamu seorang ahli bela diri?”


  Toro tersenyum, “Kamu kak Barbar ya? Kalian terlalu berlebihan, aku bukanlah seorang ahli bela diri, hanya pernah belajar beberapa jurus saja.”


  “Kamu hebat juga di usia yang masih muda, walaupun Tengkorak terlihat biasa, tetapi 3 - 5 orang biasa juga tidak sanggup mengalahkannya. Dia sudah menjelaskan kondisinya kepadaku!” Kata Barbar sambil menggigit rokok, dia menatap Toro dan berkata, “Teman, apa kamu ingin menghasilkan uang? Aku akan bicara terus terang, sekarang aku membutuhkan bawahan, bagaimana kalau kamu bergabung denganku?”


  Toro tertarik, bos geng kelas tiga memintanya menjadi anak buah, “Gengmu ini termasuk geng apa? Apa yang harus aku lakukan?”


  Barbar tersenyum, “Kamu jawab dulu terima atau tidak. Kalau kamu tidak terima, sia-sia  juga menjelaskannya padamu.”


  “Kak Barbar, walaupun aku ingin menghasilkan uang, tetapi aku tidak ingin menculik ataupun membunuh orang.”


  “Oi oi, aku ini adalah orang yang lahir di pinggiran barat. Aku juga tahu bagaimana mahasiswa-mahasiswa di sekolah Teknik Bintang Cemerlang itu. Sekarang harga barang terus naik, mengerjakan apapun juga tidak gampang. Selama hidup, kita tidak boleh miskin dan juga terkena penyakit. Orang berbakat sepertimu sudah semakin berkurang, aku tahu kamu orang terpelajar. Ayolah, sebulan 20 juta.”


  Bagi Toro, setahun 240 juta terlalu sedikit, tetapi bagi seorang mahasiswa yang masih kuliah, itu adalah angka yang sangat besar. Berapa banyak orang yang terus mengejar target itu, dan berapa banyak orang yang berhasil melakukannya?


  Toro memperlihatkan ekspresi yang sangat kaget, “Kak Barbar, aku tidak mengerti. Waktu itu aku tidak banyak bergerak, kenapa kalian bisa menganggapku orang berbakat?”


  Barbar tiba-tiba tertawa, “Hanya beberapa jurus sudah bisa mengalahkan Tengkorak, kamu kira semua orang bisa seperti kamu? Aku percaya padamu!”


  Toro juga tidak berdaya, bawahannya semua bisa melakukan hal yang dilakukannya. Tetapi sekarang dia malah dianggap harta karun oleh Barbar, tetapi para bawahannya memang semuanya orang berbakat, kali ini Barbar memang menemukan harta karun.


  “Teman, kesempatanmu hanya ada sekali, apakah kamu sudah memikirkannya?” tanya Barbar.


  Orang normal pasti tidak akan menolaknya, walaupun Toro bukan orang biasa, tetapi dia juga tidak berani memperlihatkannya, “Kalau begitu, aku akan melakukannya!”


  “Orang yang hebat selalu begitu tegas, aku menyukaimu. Ini gaji tiga bulan, kamu ambil saja dulu. Mulai sekarang kamu sama dengan Tengkorak, selain aku, kalian yang paling tinggi posisinya. Kalau bertemu masalah, kamu boleh menyebutkan namaku, mayoritas orang di pinggiran barat akan menghargaiku!” kata Barbar sambil mengeluarkan 60 juta dari lacinya.


  Toro langsung memasukkannya ke dalam saku, dia tidak boleh memanggil bos tanpa mendapatkan apa-apa. Walaupun uang ini tidak sebanyak uang penjualan obat terlarang, tetapi nyamuk juga ada dagingnya. Tetapi Toro sangat penasaran, orang yang tidak mempunyai geng, kenapa bisa menamai dirinya Barbar. Tetapi paling tidak Geng Wustang tidak akan mengaitkan dia dengan Geng Naga Langit yang baru berdiri itu.


  Sekarang Toro adalah anak buah Barbar, dan ketua Geng Naga Langit adalah si bocah Iblis itu. Karena tidak berhubungan sama sekali, dia bisa menerimanya dengan cepat.


  Mereka berjalan keluar dari kamar, Barbar tersenyum dan menunjuk ke Toro, “Tengkorak, mulai sekarang dia adalah teman kita, kamu bawa dia untuk lihat operasional kita! Oh iya, siapa namamu?”


  “Toro!”


  “Oh, bawa Toro pergi sekalian!”


  “Oke!” Tengkorak menepuk dada dan berlagak senior, seakan-akan mulai sekarang Toro harus mendengarkannya. Dia lalu menepuk bahu Toro dan berkata, “Ayo, kita pergi lihat tempatnya bos!”


  “Eh…Oh iya, Toro, apa wanitamu harus dibawa?”


  Toro mengangguk, “Tentu harus dibawa, kalau tidak kenapa disebut wanitaku!”


  Toro dan Tengkorak naik ke atas, dan beneran ada jus jeruk di depan kedua perempuan itu. Tetapi mereka tidak menyentuhnya, setelah melihat Toro, ekspresi wajah mereka menjadi lebih tenang. Jenifer langsung memeluk Toro, “Toro, kamu tidak apa-apa?”

__ADS_1


  “Apa aku terlihat kenapa-napa?” kata Toro sambil mengelus rambutnya, sepertinya dia sudah mempunyai pacar di kampus ini.


  Toro menatap wanitanya Tomi berdiri di sana dengan ekspresi kasihan dan juga iri. Dia berkata, “Tengkorak, suruh teman kita antar dia pulang ke kampus. Dia seorang wanita juga tidak bagus sendirian di luar malam-malam.”


  “Iya!” Tengkorak mengangguk, tetapi langsung menjadi kesal, “Sialan, sejak kapan kamu bisa menyuruhku? Aku lebih senior darimu!”


  Toro tersenyum dan berkata, “Bos bilang posisi kita sama, mulai sekarang kita adalah teman. Apa teman tidak boleh meminta tolong kepadamu?”


  “Sialan, oke….” dia sengaja memanjangkan kata “oke”. Tengkorak terlihat tidak berdaya.


  Dia memanggilkan sebuah mobil untuk pacar Tomi. Setelah itu, Toro bersama Jenifer mengikuti Tengkorak masuk ke beberapa tempat mereka, kebanyakan adalah tempat judi dan juga ada hiburannya. Kebanyakan anak buahnya juga tidak melakukan apapun dan hanya bermain kartu.


  “Di dunia bawah tanah di sini, tidak ada geng yang besar. Tetapi geng kecil malah sangat banyak, sehingga cukup membuat kacau. Lalu tanah di pinggiran barat juga sudah hampir habis, paling belasan tahun lagi.  Apa kamu ingin tanya kenapa tidak ada geng besar?”


  Toro berpura-pura tidak tahu dan membiarkan dia melanjutkan.


  Tengkorak tersenyum dan berkata, “Pemerintah tidak campur tangan, sehingga kebanyakan sudah tumbang. Mayoritas orang-orang di sini adalah pecandu, tetapi termasuk aman. Hanya ada masalah perkelahian, bawahan bos kita sudah beberapa tahun tidak ada yang mati!”


  Kenapa mendengar ucapannya terdengar seperti ada penyesalan? Apa dia mengharapkan ada yang mati? Jenifer yang mendengarnya langsung bertanya, “Toro, kamu bergabung dengan mereka?”


  “Iya, dipaksa oleh hidup!” kata Toro sambil mengedipkan mata kepada Jenifer untuk menyuruhnya jangan bertanya lagi. Kalau sampai mereka tahu dirinya adalah anak orang kaya, pasti akan gagal rencananya. Walaupun Jenifer masih ada pertanyaan, tetapi dia juga mengerti maksud Toro.


  “Sialan, apa kalian bisa tidak bermesraan di depanku? Seluruh badanku terasa gatal!” kata Tengkorak sambil menunjuk ke sebuah hotel bintang tiga yang terlihat sudah kumuh, “Bagaimana menurutmu tentang hotel ini?”


  “Hotel Barbar?” Toro melihat namanya yang sangar ini, “Apa ini juga punya bos Barbar?”


  “Haha, sangat jelas dan tegas!”


  “Sialan, kamu kira julukan itu bagus? Semua orang merasa bos adalah raja tanah yang kaya, di dunia ini… sialan, aku tidak ingin membahas yang tidak berguna denganmu!”


  Setelah berputar sebentar, langit pelan-pelan menjadi gelap. Tengkorak ingin mengajak Toro makan, tempatnya di pinggir jalan. Toro belum pernah makan di sini, aromanya terasa sedap, hanya saja sedikit dingin karena area terbuka.


  Setelah menghabiskan beberapa botol bir, akhirnya mereka merasa lebih hangat. Saat mau pulang, Tengkorak masuk ke restoran di samping, ketika datang tadi, dia sudah masuk ke dalam sekali. Lalu ketika keluar, di tangannya ada sebuah plastik besar, di dalamnya semua adalah bungkusan.


  “Kamu tidak adil loh! Kami diajak makan pinggiran, tetapi kamu malah makan di restoran, pantesan tadi kamu hanya makan sedikit saja. Aku kira kamu sedang hemat!”


  Ketika Toro sedang menjelekkan Tengkorak, Jenifer yang berada di sampingnya juga tertawa. Tengkorak yang malu berkata, “Ini untuk orang-orang di rumah.”


  “Tidak disangka keluargamu banyak juga!”


  “Biasa saja, 5 adik laki-laki 4 adik perempuan. Aku adalah kakak besar mereka, selain satu adik kandung, semuanya adalah anak jalanan yang aku bawa pulang!”


  Awalnya citra Tengkorak di mata Toro sangat buruk. Tetapi ketika mendengarnya, Toro langsung jadi menghormatinya. Dia bersumpah selama Tengkorak tidak melakukan hal jahat, dia tidak akan mengganggu Tengkorak. Seorang preman yang bisa melakukan hal ini, lebih hebat 100 kali lipat daripada orang kaya yang berlagak dermawan, tetapi pada akhirnya uang juga kembali ke kantong mereka.


  Mereka terdiam sepanjang jalan. Tengkorak ingin membawa Toro pergi melihat rumahnya. Ucapannya tadi itu membuat Jenifer terharu sampai menangis, dia menggenggam tangannya dan berkata, “Tidak disangka kamu orang baik.”

__ADS_1


  “Toro, aku tahu kamu orang yang setia kawan. Kalau suatu hari aku mati, mohon bantu aku jaga mereka!”


  Ucapan ini terdengar biasa, tetapi walaupun Toro berekspresi dingin, di dalam hatinya terasa begitu hangat, “Kalau beneran ada hari itu, selama aku bisa makan, mereka tidak akan kelaparan.”


  Tengkorak tinggal di sebuah rumah kuno dengan empat sisi dinding, salah satu dindingnya sudah roboh. Di dalamnya sangat kacau, tidak tahu siapa yang menumpuk barang-barang di sana sampai membusuk. Di tengah ada jalan yang muat 2 orang, lalu di dalamnya seperti ada sebuah sekolah TK yang terdengar sangat berisik.


  Ketika membuka pintu utamanya, Toro yang sudah membayangkannya juga merasa sedih.


  Semua anak-anak ini berumur tidak lebih dari 10 tahun, paling kecil seharusnya berumur 4 tahun. Walaupun baju mereka terlihat bagus, tetapi sudah sangat kotor. Lalu ada beberapa yang kecil duduk di kursi dan sedang menangis dengan wajah penuh coretan pensil warna. Seseorang yang bisa menanggung beban sebesar ini, itu artinya dia bukan orang biasa.


  “Kurang satu?” Tengkorak mengerutkan keningnya, Setelah menghitung, dia langsung memanggil anak laki-laki yang lebih tua, “Sialan, kenapa dengan wajah mereka itu? Siapa yang melakukannya?”


  “Dia!” dia menunjuk ke salah satu laki-laki.


  “Aku sudah memberitahu kalian jangan mengganggu mereka. Kita semua adalah kakak adik, apakah kamu mengerti? Kalau tidak mau mendengarkanku, aku beneran akan menebas kalian!” Tengkorak berusaha menakuti anak laki-laki itu. Tetapi anak laki-laki itu malah tertawa, sepertinya dia tidak percaya ucapan Tengkorak, “Kalian cari tempat duduk dulu, anak-anak ini sangat berisik.”


  “Kamu tidak perlu mempedulikan kami!” Toro melihat ke sekitarnya, di mana ada tempat yang bisa diduduki? Dia juga seorang anak yatim piatu, jadi mengerti dengan penderitaan anak-anak ini. Sedangkan Tengkorak lebih baik dari Adam bos ZO, karena dia tidak merawat anak-anak ini menjadi alat untuk mencari uang, tetapi menganggap mereka seperti adik sendiri.


  “Sudahlah, jangan diulangi lagi. Aku sudah membawa pulang makanan!” kata Tengkorak sambil meletakkan plastiknya, lalu bertanya, “Anton ke mana?”


  “Kakak kedua sudah pergi dari pagi!” kata anak laki-laki tadi, dia mulai membagikan makanan kepada adik-adiknya, lalu mengambil satu untuk diri sendiri dan mulai makan.


  “Apa yang dia lakukan?”


  “Kami lapar, jadi dia pergi mencarikan makanan untuk kita!”


  “Sudahlah, kalian makan dulu!”


  Tengkorak membawa Toro berjalan masuk, lalu menutup pintunya. Setelah itu dia membuka pintu di sebelah barat, “Masuklah!”


  Rumah ini terlihat besar, tetapi sangat sederhana. Tempat tidurnya adalah 3 kursi, di atasnya ditumpuk plastik yang tidak berguna dan puluhan tisu.


  “Bagaimana kamu menjalaninya?” setelah Tengkorak membereskannya, Toro mengajak Jenifer dan duduk di sembarang tempat.


  “Ya dijalani sehari demi sehari!” kata Tengkorak sambil mengeluarkan sebuah kertas dari bantalnya yang sudah menghitam, “Toro, aku ada urusan serius. Ini adalah hutang 1,2 Miliar seseorang dengan bos kita. Dia sudah menunda 1 tahun lebih, apa kamu bisa pergi denganku untuk menagihnya?”


  “Tidak bisa pergi sendiri?”


  “Bawahan orang itu cukup banyak. Aku sudah pergi beberapa kali dan diusir keluar, kalau ada ahli bela diri sepertimu, aku pasti bisa menagih beserta bunganya.”


  “Kamu kira aku manusia super!”


  “Hehe, kamu manusia super di mataku!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2