Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Hal Baik Datang Bersamaan


__ADS_3

Malam minggu ini penuh gairah, Toro sudah meraba seluruh bagian tubuh Raisa, dia menyadari wanita ini beneran sangat indah, setiap bagian tubuhnya begitu sempuran. Wangi parfum bercampur dengan bau alkohol, memunculkan suatu aroma yang spesial, yang baru dan juga sangat menantang.


Bekas luka di tubuh Toro terus dicium oleh Raisa, mereka merasakan aliran listrik yang terus menggetarkan tubuh mereka. Klimaks yang terjadi berkali-kali, sampai jam 2 pagi mereka baru berhenti. Mereka berbaring di ranjang besar ini dan terdiam.


Toro menyalakan sebatang rokok dan menyentuh bahu Raisa, “Kamu tidak apa-apa?”


“Aku tidak apa-apa!” Kata Raisa sambil mematikan lampu meja. Mungkin karena pertempuran selama beberapa jam, dia beneran sangat capek. Setelah beberapa menit, dia langsung tertidur.


“Selamat malam!” Toro mencium bahunya dengan pelan dan memeluknya sambil tertidur.


Keesokan harinya, Toro bangun lebih awal dari Raisa, karena ada telepon dari Adam. Dia menyuruhnya menerima barang di tempat yang benama Mulut Pasir. Toro tidak berani bilang dia pernah pergi ke semua tempat di pinggiran barat, tetapi paling tidak dia sudah mengetahuinya. Dia tahu tempat itu berada 20 km dari sekolah.


Mulut pasir adalah tempat menambang pasir sesuai namanya. Bukan hanya pinggiran barat, tetapi semua pasir yang digunakan untuk pembangun di daerah kota barat semuanya berasal dari sini. Di tempat ini adalah sebuah geng kelas tiga yang bernama Geng Pasir Putih, mereka adalah gabungan pedagang pasir di tempat ini.


“Pagi sekali?” Raisa mengucek matanya, seperti sedang mengucek barang Toro semalam.


Toro tidak berani melihatnya, dia takut api gairah akan sekali lagi menyala. Dia mulai memakai pakaian dan berkata, “Aku akan memasak untukmu. Kamu tidur sebentar lagi.”


Melihat tubuh Toro yang kekar keluar dari kamar tidur, lalu terdengar suara panic di dalam dapur, Raisa merasakan kebahagiaan yang tidak bisa terungkap. Suami yang dinikahi juga tidak pernah begini, dipikir-pikir menyedihkan juga. Sekarang dia sangat bahagia, dia ingin memiliki pria seperti Toro, yang setiap hari masuk sarapan untuknya, agar dia bisa tidur lebih lama.


“Apa yang kamu pikirkan?”


Toro bersandar di pintu dan menarik kembali Raisa dari imajinasinya. Raisa menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak apa-apa, hanya merasa jika kamu tidak melakukan hal ini, istrimu pasti adalah orang yang sangat bahagia!”


“Kamu salah paham!” Kata Toro duduk di meja makan dan menuangkan susu untuknya, dia berkata, “Aku masih sendirian, mana ada istri.”


Raisa duduk di seberangnya dan merapikan rambutnya yang berantakan itu, dengan wajah tidak percaya, “Kamu jangan membohongiku. Aku dengar dari Janice kalau kamu sudah punya istri……”


Toro langsung memasukkan roti ke mulutnya dan membelai rambutnya, “Janice berani membuat rumor tentangku, aku akan membereskannya nanti.”


“Kamu beneran tidak punya istri?”


“Tidak ada!”


“Ting Tong! Kak Toro, aku suruh pulang, cepat buka pintu!” Dari luar terdengar suara Janice.


“Pfut!” Susu dari mulut Raisa langsung muncrat, dia langsung berdiri dan mencari jaketnya dengan panik. Dia seperti orang yang ketahuan selingkuh, saking paniknya dia tidak bisa menemukan jaketnya.


“Kak Toro, kartuku ketinggalan di asrama, berapa passwordnya? Aku lupa, cepatan kamu.”


Toro sudah mengeluarkan jaketnya dan memberikan kepada Raisa, Raisa yang ingin mengambilnya malah ditarik lagi oleh Toro. Toro berjalan ke depannya dan menjilati susu di tubuhnya, sambil berkata, “Jangan panik, kalau tidak beneran ketahuan oleh bocah itu!”


Raisa menggigit bibir bawah dan tubuhnya terlihat bergetar. Seperti perasaan menantang di dalam ketakutan, seketika perasaan kemarin kembali lagi.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan? Jangan-jangan di dalam rumah ada wanita?”


Toro menepuk pipinya dan berjalan dengan santai ke arah pintu, “Kenapa kamu buru-buru? Di rumah ada tamu, sama sekali tidak ada sopan santun.”


Ketika pintu terbuka, Janice langsung berlari masuk dengan cepat. Ketika melihat seorang wanita duduk di sofa, dia sangat kaget, “Ibu Raisa, kenapa anda bisa ke sini?”


Raisa sedang memegang air hangat, dia tersenyum dan berkata, “Datang mencarimu untuk pergi berbelanja, ternyata hanya ada kakakmu di rumah. Jadi aku sedang membicarakan kondisi kamu di kampus.”


“Kamu tidak menjelekkan aku kan?” Kata Janice yang menggerakkan mulutnya tapi tidak bersuara.


“Aku sedang memuji kamu!”


Toro memberikan tatapan kepada Raisa bahwa dia sangat hebat. Lalu menatap ke Janice, “Kalian lanjutkan saja, aku ada urusan mau pergi dulu, kalau ada urusan langsung telepon aku!”


“Oh!” Mereka berdua langsung mengangguk.


Kembali ke sekolah, Toro tentu tidak akan pergi sendiri. Dia harus mendapatkan mobil dulu. Siang jam 2, sebuah mobil minibus yang pernah mengalami kecelakaan muncul di depan Toro. Melihat lubang besar di depannya, Toro sedikit murung. Kali ini dia harus pergi sendiri, karena orang yang datang tidak mengenali mereka.


Dia membuka pintu mobil dan melihat Phoenix HItam, Alura dan beberapa ahli dari pembunuh langit. Toro sangat puas dengan orang-orang ini, dia masuk dan duduk di samping pengemudi. 10 menit kemudian, mobil sampai di tujuan.


Mulut pasir ini lebih jelek dari bayangan Toro. Selain truk yang keluar masuk, hanya ada hamparan pasir yang besar. Pasir ini lebih hebat dari asap, beberapa orang yang tersedak terus batuk tanpa henti. Tetapi tempat seperti ini juga paling aman.


Melihat petanya, Toro berkata, “Tinggalkan 2 teman untuk membawa mobil ke tempat yang lebih tersembunyi, yang lain ikut aku!” Mereka masuk ke sebuah pabrik semen yang sudah terbengkalai, di dalamnya ada barang-barang yang berkarat dan juga ada sebuah ranjang yang sudah berjamur. Di sekitar mereka juga ada beberapa makanan, ****** dan yang lainnya yang sudah membusuk, baunya sangat tidak sedap.


Alura menutup hidungnya dan berkata, “Di tempat seperti ini juga bisa bercinta? Kalau ada cinta beneran tidak peduli tempat apapun!”


Anak muda itu menggigit cerutu dan membawa sebuah pistol yang terbuat dari emas. Dia tersenyum dan tiba-tiba “Dor dor dor……” peluru satu per satu mengarah ke Toro mereka.


“Kencing di celana?” Kata Toro melihat Alura di sampingnya.


Alura mengangguk dengan yakin, “Sudah!” Kakinya berbentuk huruf O dan bersiap menyerang orang itu, “Sialan, aku akan menghabisimu!”


“Kenapa kembali lagi?”


“Sudahlah, ternyata hidup seperti ini juga enak.” Kata Alura dengan cemberut. Dia menggunakan dagu untuk menunjuk orang-orang yang bersenjata lengkap ini, “Siapa mereka?”


“Hehe……kakak, apakah teknik menembakku ada kemajuan? Ei, kakak, apakah kamu adalah kakakku? Kenapa kamu menua sebanyak itu?”


“Iblis, aku beneran tidak menyangka Adam akan mengutusmu untuk mengirimkan barangnya. Aku peringatkan, kamu jangan bicara yang enggak-enggak ketika pulang, kalau sampai menghancurkan citra aku di depan wanita luar negeri, kamu juga tahu dengan sikapku!” Kata Toro sambil mendekat, lalu mereka saling bersentuh tinju dan berpelukan.


Iblis adalah adiknya Toro, bahkan bisa dibilang ayahnya. Iblis berumur 18 tahun, dia adalah anak pungut Toro, tampangnya terlihat agak dewasa.


“Kakak, kita sudah hampir 1 tahun tidak bertemu. Ketika berada di Afrika Selatan, aku mendengar ceritamu itu, kerja bagus!” Kata Iblis sambil tersenyum dengan gigi putihnya. Sekarang baru kelihatan dia baru pulang dari Afrika Selatan.

__ADS_1


“Kenapa Adam membiarkan kamu datang?” Kata Toro sambil membawanya ke samping.


Iblis tersenyum dan berkata, “Sebenarnya dia juga tidak mau, tapi kalau bukan karena aku meniduri anak perempuan bos kelompok tentara bayaran Reynold, mana mungkin dia menyuruhku datang mencarimu? Kamu juga tahu ZO dan Reynold selalu tidak akur, sekarang karena aku dan kamu, aku hanya bisa bersandar kepadamu!”


Toro ingat orang tua itu masih ada anak perempuan, tidak disangka iblis yang masih muda bisa membuat kesalahan besar seperti ini. Sepertinya Reynold si tua bangka itu pasti akan sangat kesal. Pantesan Rubah Emas tidak datang sampai sekarang, ternyata ada masalah lain.


Iblis menunjukkan 11 orang itu dan berkata, “Mereka adalah teman-teman yang aku latih secara langsung, semuanya adalah tim berani mati!” Dia berjalan ke arah mereka dan berbicara dengan bahasa Prancis, Toro juga mengerti, yang artinya menyuruh mereka menurunkan barang-barang dari mobil.


Lalu, mereka mulai menurunkan satu per satu kotak dari mobilnya. Semuanya adalah barang yang dibutuhkan oleh Toro.


“Hmm? Ratu Phoenix Hitam? Ternyata di Indonesia bisa melihat dua orang yang aku kenal!” Kata Iblis sambil tersenyum kepada Phoenix Hitam.


“Iblis kecil, ini ke 38 kali kita bertemu!” Kata Phoenix Hitam.


“Hehe, kalau bukan kakak membantuku waktu itu, mungkin aku sudah mati. Tapi pada akhirnya aku juga menjadi impoten! Sini coba berlatih denganku, kita lihat sekarang aku bisa melindungimu atau tidak!”


Toro baru ingat, bocah ini menjadi impoten dalam sebuah misi berbahaya, bagaimana mungkin dia bisa meniduri anaknya bos Reynold, “Iblis, kamu bercanda lagi. Kamu tidak bisa melakukan apapun kepada anak perempuan Reynold.”


Iblis tersenyum polos dan berkata, “Aku menggunakan elektrik, dan juga ini!” Dia menunjukkan jari telunjuknya, semuanya melihat jari telunjuknya lebih panjang dari jari tengahnya. Tidak tahu kenapa lubang anus tiba-tiba menjadi sempit.


Toro tersenyum tidak berdaya, bocah ini masih begitu optimis. Jangan melihat dia yang impoten, tidak tahu berapa banyak wanita perawan yang takluk oleh jari telunjuknya itu. Dibandingkan bersama dia, Iblis ini lebih cocok dengan orang-orang pembunuh langit, semuanya adalah orang gila.


“Sudahlah, kita tidak basa basi lagi. Barangnya juga sudah dicek, ayo aku bawa kamu pulang.”


Iblis tertawa dengan senang, “Tentu harus pulang, rumah kakak adalah rumahku. Siapa suruh aku lebih akrab dari adik kandungmu sendiri!” Dia melambaikan tangan dan berkata, “Ayo, kita pergi melihat tempat baru kita.”


Masuk ke dalam mobil, Toro menanyakan terkait bekas darah dan mobilnya. Iblis menceritakan semuanya, darah itu miliki geng kecil di daerah sini, mobilnya juga milik geng kecil sini. Hanya saja mereka membunuh tidak sampai 100 orang, tapi dia menyuruh Toro untuk tenang. Karena semua orang itu sudah dikubur dan tidak akan ditemukan oleh siapapun.


Alura menelan ludah dan berbisik, “Kak Toro, Novianto mereka sudah mengosongkan halaman kecilnya. Biarkan mereka tinggal di sana, aku tidak ada rasa aman.”


Toro tersenyum, Alura masih tidak tahu iblis punya kelebihan, yaitu telinganya yang bisa mendengar suara kecil. Sesuai dugaan, Iblis langsung tersenyum dengan gigi putih dan berkata, “Gendut, kalau kakak tidak mengaturku, kamu harus hati-hati!”


“Bos, anggap aku tidak bicara, aku……aku hanya bercanda!” Kata Alura dengan ekspresi yang tidak seperti bercanda, dia hampir menangis.


“Sudahlah, jangan menakuti gendut, dia adalah temanku!”


4 mobil itu masuk ke daerah tidak berpenduduk, untuk daerah sini bisa ditinggal kapanpun. Kalau tidak mereka juga tidak bisa menampung begitu banyak orang. Setiap orang sedang minum bir, Toro berkata, “Aku tidak tahu kamu datang, jadi tidak menyiapkan kejutan. Kakak akan menggunakan bir ini untuk meminta maaf!”


Iblis menabrak Toro dan berkata, “Kakak, kenapa kamu berkata begitu. Aku adalah adikmu, adik kandung. Semua barang yang kamu mau itu tidak ada satupun yang kurang!”


Toro sudah melihat Phoenix Hitam mengangguk dari tadi, dia menepuk bahu Iblis dan berkata, “Mana mungkin aku tidak tenang dengan barang yang kamu bawa. Kamu bawa barang yang itu?”


“Hehe, aku ke sini dengan misi, jadi pasti harus membawanya, ini!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2