Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Memikirkan Cara Sendiri


__ADS_3

Mereka berbicara sebentar, kemudian setelah Gracia pergi tidak sampai 20 menit, Kirania dan Dayana datang. Wajah Kirania terlihat sangat suram, sepertinya sangat khawatir dengan Toro, Toro tersenyum dan berkata, “Kirania, tidak perlu mengkhawatirkan pacarmu, aku pasti akan keluar!”


Kirania melototnya dan berkata, “Saat seperti ini, kamu masih tidak bisa serius.” Dia berpikir sejenak dan berkata, “Direktur di sini berkata, kalau keluarga Mandala membatalkan gugatannya, kamu hanya perlu membayar sedikit dan bisa keluar!”


“Kak Kirania, apakah kamu akan melakukannya?” Kata Dayana dengan kaget.


Toro mengerutkan keningnya, dia langsung tahu apa yang dipikirkan oleh Kirania. Dia berkata, “Kirania, aku tidak akan mengijinkan kamu melakukannya. Kalau tidak aku akan marah dan membunuh Byakta, aku tidak pernah berbohong!”


“Jangan dengarkan kata Dayana.”


Kirania melototnya, Dayana hanya menjulurkan lidah dan berkata, “Baiklah, anggap aku tidak bicara apapun!”


“Sudahlah! Aku tidak perlu diselamatkan oleh siapapun, aku bisa menyelamatkan diri sendiri!” Kata Toro sambil menyalakan rokok. Dia membalikkan badannya dan terlihat santai, “Kalian pergi dulu!”


Setelah berbicara sebentar, Toro tidak memperdulikan mereka lagi, mereka berdua juga meninggalkan kantor polisinya. Toro melihat jeruji besi di depannya, kemudian mengeluarkan pisau tempur dari kakinya. Karena Gracia, barangnya tidak diambil semua. Paling tidak masih disisakan pemantik dan setengah bungkus rokok, dan ternyata masih ada sebuah pisau tempur yang disembunyikan.


Dia menggenggam gagang pisau dan sebuah jarum tipis muncul dari sana. Dalam 3 detik dia sudah membuka pintunya, bagi seorang tentara bayaran, semua ini sangat gampang.


Krak!


Pintu terbuka, Toro lalu berteriak, “Ada yang kabur!”


Seketika dari luar terdengar suara pintu terbuka, ketika dua orang polisi masuk, bagian leher belakang mereka langsung diserang, mereka terjatuh dan pingsan di lantai. Mendengar ada yang kabur pasti polisi akan masuk, hal ini tentu sangat normal.


Dan tahanan yang lain semuanya menatap Toro dengan tidak percaya, Toro hanya tersenyum dingin dan keluar dari sana dengan santai. Dia mengunci pintunya kembali dan dia bisa mendengar ada yang berteriak tahanan kabur dari dalam.


Toro berjalan ke ruang interogasi dengan santai, melihat Gracia bersama dua orang polisi sedang bekerja. Gracia yang melihatnya sangat kaget, Gracia mengira dia sudah dilepaskan, dia berkata, “Sudah keluar?”


Toro mengangguk dan mengulurkan tangannya, “Kembalikan barang-barangku!”


Polisi satunya menggaruk kepala, dia tidak mendengar Toro sudah boleh keluar atau gimana, tapi karena mereka pernah bertemu dengan Toro dan berbicara dengan baik, apalagi hukuman orang ini tidak terlalu berat, jadi tidak mungkin dia kabur dari penjara. Sehingga dia langsung mengembalikan jam tangan, ponsel dan yang lainnya.

__ADS_1


“Lain kali aku traktir kalian makan!” Kata Toro sambil memberi kode kepada Gracia untuk keluar, setelah mereka keluar dari ruang interogasi, dia berbisik, “Aku kabur dari penjara!”


“Ah?” Gracia tidak menyangka akan seperti ini, seketika juga tidak tahu bagaimana meresponnya. Tapi alam bawah sadar seorang polisi membuat dia bergerak, tangannya langsung menarik baju kerah Toro, Toro juga menangkap tangannya dan menepuk bokongnya sekali, “Kalau aku tidak sok keren sekali, beneran sangat sayang dengan kemampuan yang aku pelajari beberapa tahun ini. Tapi demi menghilangkan kecurigaan terhadap kamu, aku terpaksa minta maaf!”


Dia langsung memukul Gracia sampai pingsan dan membawa dia ke ruang arsip. Setelah melepaskan bajunya, dia memakai seragam polisi Gracia. Sambil melihat Gracia yang pingsan, Toro mencium keningnya dengan pelan. Kemudian merapikan baju dan berjalan keluar dari kantor polisi dengan santai.


Semua orang bahkan tidak berani memikirkannya, tapi Toro sudah bosan dengan pekerjaan seperti ini. Dia pernah berada di kondisi yang lebih ketat pengamanannya daripada ini, di bawah kamuflasenya dia berhasil membunuh target dari misinya. Dan juga berhasil mundur dengan aman. Kantor polisi yang kecil ini hanyalah mainan untuk dia.


Keluar dari kantor polisi, Toro langsung menelepon Lalita. Lalita yang mendengarnya kabur juga kaget, tapi dia juga memberitahu lokasi Aula kepada Toro. Toro kemudian naik taksi ke tempatnya. Tentu dia tidak bodoh, dia turun dari taksi yang masih berjarak tidak dekat dari tujuannya, setelah menghindar dari beberapa cctv, dia baru sampai di Aula Desember milik Lalita.


Aula Desember Geng Naga Biru, adalah klub malam yang sangat besar di kota Intan, berada di lingkar tiga barat, bernama Klub Malam Raja. Interiornya terlihat sangat mewah. Setelah berjalan masuk, di dalamnya masih belum mulai beroperasi, seorang pelayan langsung menahannya, dia berkata, “Pak Polisi, sekarang belum mulai operasional, mohon anda kembali setelah 2 jam!”


“Aku mencari Lalita!”


“Mencari kak Lalita?” Pelayan itu melihat Toro dari atas ke bawah, dia mendengar dari Lalita bahwa ada seorang pria yang akan datang, tapi pasti bukan polisi yang di depannya ini, dia berkata, “Kak Lalita tidak ada.”


“Namaku Toro Margens, aku sudah meneleponnya tadi!”


Lalita juga sangat kaget melihat penampilan Toro, setelah melihatnya dia berkata, “Kamu beneran kabur?”


Toro duduk dan menyalakan rokoknya, dia berkata, “Kenapa? Tidak mirip?”


Lalita tersenyum tidak berdaya. Saat ini ada yang mengetuk pintu, setelah mendapatkan ijinnya, 4 orang pria kekar berjalan masuk. Mereka mengerutkan kening melihat Toro, salah satu dari mereka bertanya, “Kak Lalita, kenapa pak polisi ini datang ke sini?”


Toro melihat ke arah mereka, dia juga mengenali mereka adalah orang-orang yang mengikuti Lalita waktu itu. Dia berkata, “Sepertinya tampang aku bukan tampang orang biasa?”


Setelah melihatnya dengan jelas, mereka terlihat kaget. Ternyata orang ini adalah Toro, orang yang memimpin mereka berkata, “Kak Toro, bagaimana kamu bisa keluar? Kamu sedang bermaksud untuk pergi ke keluarga Mandala dan memberi pelajaran kepada ayah dan anak itu, agar mereka membatalkan gugatannya!”


“Terima kasih teman-teman!” Kata Toro sambil menyalakan rokok untuk mereka, setelah itu dia berkata kepada Lalita, “Sepertinya aku harus mencari tempat perlindungan sementara.”


Lalita tidak mungkin melepaskan kesempatan ini, dia langsung berkata dengan ikhlas, “Toro, kalau kamu bergabung dengan Geng Naga Biru, aku punya cara untuk melindungi, apakah kamu bersedia?”

__ADS_1


Toro melihat wajah Lalita yang tersenyum senang itu, dia tersenyum dan berkata, “Harga untuk aku bergabung dengan Geng Naga Biru tidak kecil, kecuali kamu memberikan posisi Ketua Aula!”


“Ini……”Lalita terlihat kesulitan. Posisi Ketua Aula ditugaskan langsung oleh Ketua Geng dari Geng Naga Biru, walaupun dia ingin merekrut Toro, tapi dia juga tidak bisa memutuskan hal ini. Setelah sejenak dia berkata, “Aku harus berdiskusi dengan bos dulu!”


“Bercanda, kenapa harus dianggap serius!” Kata Toro sambil tersenyum jahat, dia berkata, “Kalau kamu bisa menyelesaikan masalahnya, posisi seperti apapun tidak masalah untukku!”


Melihat ekspresi Lalita yang lembut, Toro melanjutkan, “Terima kasih!”


Dia menelepon Janice dan memberitahunya ada urusan yang harus dikerjakan, dia akan kembali setelah beberapa hari. Janice bertanya tentang urusan apa, Toro tidak memberitahunya. Dia hanya menyuruhnya untuk menunggu dengan tenang di rumah, setelah beberapa hari dia akan kembali.


Keesokan harinya Toro sudah dinyatakan tidak masalah, tapi karena masih berada di ujung tombak, dia tidak bisa terlalu menarik perhatian. Hal ini membuat dia salut dengan pekerjaan Lalita, walaupun dia tidak mengerti cara kerja organisasi hitam, tapi sementara kejadian ini sudah tenang.


Setelah masalah selesai, dia menelepon Kirania, anehnya Kirania tidak mengangkat teleponnya. Hal ini membuat dia bingung, dia terpaksa mengirimkan pesan untuk mengatakan semua telah aman. Dia pasti tidak bisa melanjutkan pekerjaan satpam di salon lagi, sepertinya dia harus mencari pekerjaan di tempat Lalita.


Lalita dengan cepat memberikan sebuah posisi untuk Toro, tapi posisinya termasuk yang biasa saja. Dia takut Toro salah paham, dia berusaha menjelaskan bahwa pertama karena kejadian yang baru terjadi, kedua karena dia harus menunjukkan hasil yang membuat teman-teman salut dengannya, kalau tidak mereka akan merasa kak Lalita tidak adil.


Toro tidak masalah, selama ada pekerjaan dia sudah tenang. Malam ini dia makan bersama dua orang bawahan Lalita, dua orang ini bernama Budi dan Doni. Mereka sangat salut dengan kemampuan Toro, mereka bilang kemampuan seperti ini sangat sedikit di Geng Naga Biru.


Toro memang tidak menyangkalnya, tapi juga tidak memastikan. Karena dengan kemampuannya, dia memang terkenal di dunia. Sebuah Geng Naga Biru seperti yang dikatakan, masih terlalu dangkal untuknya bermain. Tapi dia juga mengetahui bahwa Geng Naga Biru tidak sedamai yang terlihat. Ada musuh kuat dari luar, bagian internal sendiri juga kacau, untung geng ini sangat merendah dan memberikan perasaan misterius kepada geng lain. Sangat sedikit orang yang mencari masalah dengan Geng Naga Biru.


Selesai makan, Toro juga tidak tidur dan ingin pergi cari kesenangan. Dia naik taksi dan datang ke sebuah bar yang bernama Bar Bangsawan. Dia pertama kali datang ke sini, suasananya tidak buruk. Orang-orang yang datang kebanyakan pekerja kantoran dan mahasiswa, jadi tidak terlalu kacau juga. Tapi suasana seperti ini adalah tempat bagus untuk cinta satu malam. Di Luar negeri dia juga sering muncul di tempat seperti ini, jadi sangat mengerti dengan cara-caranya.


Toro duduk di meja bar dan memesan koktail yang biasa sambil mencari mangsa. Hanya saja malam ini tidak begitu membuat dia puas, belum jam 11 malam, sudah banyak orang yang mulai pulang dan tersisa tidak sampai 20 an. Hal ini membuat Toro sedikit kecewa, karena dia masih berharap ada keajaiban.


Mencari masang seperti ini harus punya kesabaran yang cukup, tentunya harus sama-sama mau. Orang-orang yang menarik dan memaksa tidak ada bedanya dengan para preman-preman brengsek, dan juga kehilangan kesenangan cinta satu malam.


Ada 2 orang wanita yang datang mendekati Toro, tapi Toro menolaknya, karena bukan tipe yang dia suka. Di luar negeri ataupun dalam negeri, dia sudah terbiasa melihat wanita cantik, jadi pemintaan Toro sangat tinggi, kalau dia tidak suka pasti tidak akan bertindak.


Ada beberapa pelanggan baru yang masuk, semuanya juga datang berbicaranya, tapi tidak ada yang membuat Toro puas. Dia sangat pemilih dalam hal wanita, sepertinya malam ini dia harus pulang dengan kegagalan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2