
Toro berdiri dari gerobak tukang sate, empat orang wanita cantik dengan tubuh montok berjalan ke arahnya. Semua tatapan pria pasti akan mengikuti mereka.
Mata Turman sudah sibuk sedari tadi, apalagi wanita di paling tengah. Dia memakai gaun renda hitam yang panjang, dengan sepatu hak tinggi dan rambut panjang bergelombang yang berterbangan di udara. Kelihatan begitu dewasa dan mempersona, hanya wanita yang merangkul wanita ini bisa dibilang cantik juga, sisa berdua bisa dibilang kalah pamor.
Dia menarik baju Toro dan berkata, “Kak Toro, apakah kamu mengenali semuanya? Bolehkan kenalkan satu untukku?”
Ketika Toro menghempaskan tangan itu, 4 orang wanita cantik sudah sampai di depannya. Janice langsung mendekat dan merangkul tangan Toro, dia berkata, “Ini adalah Toro yang aku bicarakan dengan kalian, kakak aku. Gimana? Ganteng kan?”
2 orang wanita yang lain mengangguk pelan dan berusaha bersikap lapang dan sopan. Wanita yang satu lagi sedikit membuka mulutnya, dia menatap Toro dengan kaget. Di dalam kagetnya juga ada rasa panik, seperti bertemu dengan orang yang tidak ingin ditemui.
“Kenapa dengan tatapan kalian berdua? Kak Toro, apakah kamu kenal dengan Ibu Raisa kami?”
Toro langsung bersikap terkejut dan berkata, “Ternyata kamu adalah guru di sini? Hari ini beneran maaf sekali, aku tidak hati-hati dan menginjak sepatumu. Tidak tahu waktu itu kamu sedang sibuk apa dan pergi tiba-tiba. Aku memunggut gelang kakimu yang copot, beneran maaf sekali, ketika aku memanggilmu, kamu sudah pergi. Untung masih aku simpan, ini!”
Ibu Raisa ini adalah wanita yang melakukan cinta satu malam dengan Toro, Raisa Larson. Melihat ekspresi Raisa sekarang, dia pasti sangat kaget dan panik bertemu Toro dalam kondisi seperti ini. Reaksi Toro juga sangat cepat, dia menyatakan pertemuan waktu itu juga kebetulan, tidak ada yang lain.
Raisa juga tidak menyangka Toro yang sering disebut oleh Janice adalah pria yang menggodanya melakukan cinta satu malam ketika perasaan dia sedang tidak baik malam itu. Sebagai seorang guru tentu dia bukan wanita seperti itu, setelah selesai dia langsung memarahi Toro sebagai orang yang brengsek.
Tapi walaupun begitu, dia juga sangat pusing. Dia sering mendengar ada orang jahat yang menggoda wanita, kemudian diam-diam mengambil foto ataupun video untuk mendapatkan uang. Terkadang mereka akan menggunakan foto atau video untuk mengancam. Tapi setelah waktu terus berlalu, dia akhirnya merasa lebih tenang.
Hari ini dia ikut ke KTV selama 2 jam karena ajakan 3 siswinya ini. Perasaan yang awalnya baik, malah bertemu Toro di sini, seketika dia yang selalu bersikap dingin menjadi sangat panik.
Tapi Toro mengatakan kejadian tersebut karena kebetulan, dan malah dia yang salah. Seketika wajah Raisa langsung memerah, dia berkata, “Pantesan aku tidak menemukannya, itu sangat penting untukku. Terima kasih!”
Sambil berkata, dia mengulurkan tangan untuk mengambil gelang kaki dari Toro. Tetapi ketika tangannya disentuh oleh Toro, dia langsung bergetar tetapi tidak berani ditunjukkan di depan siswanya, dia langsung menarik kembali tangannya dan berkata kepada Janice, “Janice, kalau kakakmu sudah datang jemput, aku pergi dulu!”
“Sampai ketemu Bu Raisa!” Kata Janice sambil mengangguk, ketika ingin memeluk Toro, dia tiba-tiba melihat seseorang yang bengong di dekatnya dan sedang menatap dia terus, “Siapa kamu?”
Turman tersenyum, dengan wajah memerah berkata, “Namaku Turman, aku adalah teman……” Melihat tatapan Toro, dia langsung teringat kata-kata yang disiapkan sebelumnya, “Teman kerja kak Toro, panggil aku pisau tajam saja!”
“Pisau tajam? Nama aneh seperti apa itu?” Janice melihat Toro dan berkata, “Teman kerjamu aneh sekali!”
Reaksi Turman juga tidak lambat, dia langsung berkata, “Namaku Turman, julukan pisau tajam.”
“Kak Toro, temanmu ini sangat lucu sekali. Oi, Kak Toro, apa yang kamu lihat?”
Toro langsung tersenyum dan berkata, “Tidak ada, hanya saja guru kalian itu lumayan cantik!”
“Lebih cantik dariku?”
“Tidak, mana mungkin lebih cantik dari Janice!”
__ADS_1
“Huh, baguslah kalau begitu, jangan mengira aku tidak melihatnya tadi, kak Toro sudah belajar jahat!”
Ketika berjalan sedikit jauh dari mereka, Raisa langsung menambah kecepatannya ketika bertemu belokan. Setelah sampai di belokan dia memegang keningnya dan merasa lemas. Semua ini terlalu dramatis, pria yang melakukan cinta satu malam dengannya adalah kakak dari siswa, sekarang dia sudah ketahuan oleh Toro.
Karena dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Toro ketika tahu, jika Toro menggunakan kesempatan waktu itu untuk mengancamnya, kalau harus berhubungan dengan preman seperti itu dalam kondisi begitu, dia juga tidak tahu harus bagaimana. Sambil bersandar ke dingin dia menarik nafas dalam-dalam, walaupun dia yang selalu bersikap tenang, sekarang dia beneran tidak tahu harus bagaimana.
Siswa paling susah diatur juga takluk di hadapannya, tetapi kali ini dia tidak ada cara untuk mengatur pria ini. Kelemahan sebesar itu terjatuh di tangan orang lain membuat dia sangat pusing.
“Mulai sekarang tidak boleh keluar dengan Janice lagi!”
“Tidak bisa, bagaimana kalau dia datang mencariku di kantor?”
“Terpaksa aku memberikan uang untuk menutup mulutnya.”
“Tapi Janice adalah anak orang kaya, kakaknya juga pasti sama. Uang kecil pasti tidak ada pengaruh untuknya, kalau jumlah besar dia juga tidak rela memberikannya. Kalau orang ini adalah seseorang yang rakus, setelah mengambil uang dan dia meminta untuk begitu lagi, aku harus bagaimana?”
Setelah pemikiran yang panjang, Raisa menggenggam erat gelang kakinya dengan wajah memerah. Dia ingin sekali mencari lubang dan bersembunyi. Dia seorang wanita yang nikah dan kawin cepat, juga pernah merasakan buah terlarang, tetapi pengalaman bersama mantan suaminya tidak ada apa-apa dibandingan dengan Toro. Ketika merasa kesepian, dia selalu teringat kejadian malam itu, diam-diam memuaskan pikiran dia sendiri. Dia tidak pernah merasakan perasaan seperti itu, tetapi malam itu adalah malam terindah yang bisa membuat kakinya lemas beberapa hari.
Toro memberikan uang dan menyuruh Turman naik taksi. Janice duduk di sampingnya, dia terus menatap Toro dengan tatapan penasaran dan sedikit kesal, “Kak Toro, apakah kamu sudah mengenal Bu Raisa dari awal?”
“Tidak kenal, aku pernah menginjak sepatunya. Dia mengira aku adalah preman dan pergi terburu-buru. Tadi kamu juga melihat ekspresinya. Oiya, minggu depan kamu kembali ke kampus, ingat sampaikan permintaan maafku.”
Janice dari awal sudah tidak percaya dengan perkataan dua orang ini, sekarang Toro menjawab dengan cepat untuk menutupinya membuat dia semakin curiga, dia menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya.
“Bisa jadi juga, hanya kalian berdua yang tahu!” Kata Janice sambil menutup matanya.
“Janice, kamu kenal aku bukan 1 2 hari. Kamu paling tahu aku adalah orang seperti apa!” Kata Toro dengan ekspresi serius.
Janice tiba-tiba tertawa, dia berkata, “Aku hanya mencobai kamu saja, aku tahu kamu bukan orang seperti itu!”
Toro yang keringat dingin berkata dalam hati, “Aku adalah orang seperti itu, hanya saja aku tidak bisa melakukannya kepadamu, untung kamu percaya!”
Tapi Janice mempercayainya membuat Toro lega. Kalau tidak, jika wanita cantik ini marah, dia akan kesusahan, “Mungkin saja aku dan ibu Raisa kalian memiliki hubungan yang indah?”
“Ckck, aku tidak percaya!”
Ketika kembali ke vila, Toro melirik ke vila di samping mereka itu, melihat lampunya menyala, sepertinya artis cantik itu sudah pulang. Toro menganggap dirinya sebagai orang baik, pasti juga tetangga yang baik, dia belum sempat menyapa dengannya, apakah perlu mendatanginya suatu malam?
“Kak Toro, apa yang kamu pikirkan? Kenapa senyumanmu begitu genit?” Janice menggenggam erat lengan Toro dan berkata, “Kamu dilarang memikirkan Ibu Raisa kami. Dia baru saja cerai, perasaannya sedang tidak baik, kamu tidak boleh mengganggunya.”
“Aku bersumpah, beneran tidak ada!”
__ADS_1
“Baiklah, aku maafkan!”
“Sial, emang apa salahku?”
“kak Toro, kenapa mulutmu begitu jahat, apakah pisau tajam yang mengajarimu?”
“Ada yang lebih jahat lagi, apakah kamu mau lihat?”
“Baik baik!”
“Sialan!”
Turman makan masakan Toro, seketika dia merasa sangat hormat dengan bosnya. Dia tidak menyangka Toro begitu hebat. Toro juga tidak merahasiakannya, dia memberitahu bahwa dia adalah anak yatim piatu, ketika berada di Israel, dia sering masak untuk diri sendiri.
Toro tidak menceritakan dirinya pernah menjadi tentara bayaran, dia hanya membiarkan Turman tahu dirinya adalah organisasi hitam sudah cukup. Toro adalah orang seperti itu, dia selalu punya batasan seberapa jauh seseorang harus tahu. Dia melakukan apapun sesuai pemikiran sendiri.
Setelah beristirahat 2 hari, Toro menelepon Novianto, tetapi bocah itu tidak tahu kabur ke daerah pegunungan mana, sampai sekarang terus tidak ada jaringan. Tapi dia percaya mereka berempat akan muncul minggu depan.
Hari minggu sorenya, Toro mengantar Janice kembali ke Universitas Intan, kemudian membawa mobilnya kembali ke rumah. Turman menanyakan kepadanya kenapa dia tidak membawanya ke sekolah, Toro memberitahunya lebih baik sekarang dia merendah.
Setelah membeli beberapa barang, dia naik taksi ke rumah sakit untuk menjenguk Tomi. Luka di badannya sudah hampir sembuh sepenuhnya. Hanya saja tetanus di bagian kepalanya sedikit parah, sehingga dia tidak bisa mempertahankan satu posisi dalam waktu yang lama. Melihat Toro berdua, dia yang terkejut berkata, “Kak Turman, apa yang terjadi? Sepertinya kamu terlihat sangat sehat? Beberapa hari ini hidupmu cukup senang ya?!”
“Tentu saja, ikut Kak Toro pulang ke rumah. Kak Toro dan adiknya sangat ramah kepadaku. Coba kamu pegang, pinggangku penuh dengan daging!” Kata Turman sambil menepuk pinggangnya sendiri, dengan senang berkata, “Kak Tomi, aku sudah ikut dengan Kak Toro!”
“Kak Toro!” Tomi memanggilnya.
Toro menatapnya dan bertanya, “Kenapa?”
“Kali ini beneran terima kasih kepada kamu dan Kak Alura. Kalau bukan kalian berdua, aku dan Elisa mungkin sudah mati. Aku berhutang nyawa kepada kalian!”
“Kak Tomi, aku juga membantumu saat itu, kamu jangan melupakan aku juga!”
“Tentu saja, terima kasih kalian bertiga. Terutama Kak Turman, aku senang berteman denganmu!”
Toro bertanya, “Elisa di kamar mana?”
Wajah Tomi menjadi suram, dia menghela nafas lalu berkata, “Dia sudah mengembalikan kartu kredit kepadaku. Semalam dia sudah dijemput oleh orangnya Tengkorak. Kali ini aku sudah menyerah.”
“Ketika dia pergi, dia tidak datang melihatmu terlebih dahulu?”
“Ada, tapi dia hanya mengenali uang. Kami sudah tidak mungkin kembali seperti dulu lagi!”
__ADS_1
“Hehe, tidak peduli pria ataupun wanita, semuanya melihat ke uang. Wanita seperti sebuah baju, apakah kamu mau memakai baju yang sama selamanya? Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, kamu istirahat dengan baik!”
Tomi mengangguk dan mengulurkan tangannya yang gemetar dan penuh rasa berterima kasih. Toro memarahinya dalam hati, “Sialan, bocah ini mau pinjam uang dengannya!” Tapi dia juga memberikan 10 lembar kepadanya dengan senang, walaupun dia juga memuji Toro setia kawan!