
Toro sudah dua minggu tidak pulang melihat Janice, tetapi dia mendengar dari Phoenix Hitam bahwa Janice hanya terlihat sedih saja. Toro menggunakan uang hasil penjualan obat terlarang untuk membayar uang muka Phoenix Hitam, kalau tidak, mana mau dia pergi melindungi Janice.
Toro datang ke sebuah toko bunga, dia ingin membelikan bunga untuk Janice. Bagaimanapun sebagai pria dia harus mengakui kesalahan. Walaupun dia tidak salah, tetapi juga tidak boleh bersikap seperti ini kepada wanita.
Teleponnya berbunyi, ketika melihat nama Tengkorak, dia merasa bocah ini pasti ingin membawanya pergi main lagi. Tetapi ketika mengangkatnya, Tengkorak malah berkata, “Toro, terjadi hal besar. Geng Wustang, Tiga Sakti dan Awan Api mengadakan pertemuan para bos pinggiran barat.”
“Pertemuan apa?”
“Aku juga tidak tahu, sepertinya mau mengatur pinggiran barat. Semua bos pinggiran barat pasti akan hadir sebagai rasa hormat pada tiga bos geng kelas menengah ini. Besok kita harus pergi, sebaiknya kamu cepat datang, bos ingin mendiskusikan sesuatu!”
“Sialan, kenapa malah seperti ingin menghadiri pemilihan presiden. Baiklah, tunggu sebentar, aku segera ke sana.”
Toro baru mendengar jelas maksud Barbar setelah diskusi hingga tengah malam. Ternyata setiap bos harus menghadiri pertemuan pembagian daerah kekuasaan dengan dua orang pengawal. Yang artinya para bos-bos ini harus memilih untuk mengikuti geng yang mana. Pantesan Barbar terlihat begitu suram, dia tidak bisa menyinggung ketiga geng itu. Karena jika menunjukkan sikap baik kepada geng lain, maka dua geng yang tersisa akan dendam kepadanya. Bersikap netral adalah yang terbaik, tetapi siapapun tahu itu tidak mungkin, kalau salah langkah mungkin saja akan mendatangkan malapetaka.
Keesokan harinya, Barbar membawa Toro dan Tengkorak untuk menata rambut. Tentu saja Tengkorak terpaksa harus memakai rambut palsu. Lalu rambut samping Toro dipangkas tiga garis, kalau berdiri di samping Barbar dengan ekspresi dingin, dia memang terlihat seperti pengawal yang bisa diandalkan. Barbar sendiri mengecat rambutnya karena sudah ada beberapa helai yang putih, lalu menyisir rambutnya ke belakang.
Kemudian mereka pergi membeli tiga jas dan tiga kacamata hitam bernilai belasan juta. Mereka bertiga juga membawa pistol, “Kalian berdua teman terbaikku, pistol ini aku dapatkan dengan susah payah. Kalau tidak dalam keadaan terpaksa, jangan menggunakannya, mengerti?”
Toro dan Tengkorak mengangguk, “Bos, kami mengerti.”
Dengan total enam orang jika ditambah supir, mereka datang ke tempat yang dijanjikan. Hotel paling besar di pinggiran barat, hotel bintang lima yang bernama Hotel Kresna. Barbar bilang kalau hotel ini tidak dimiliki oleh geng manapun, hotel ini dibangun oleh orang asing bekerja sama dengan orang yang berpengaruh di Indonesia.
Toro pernah melihat hotel ini beberapa kali, tetapi interiornya lebih buruk dari hotel bintang lima yang biasa, mungkin karena berada di pinggiran barat. Jadi jika kita membawa istana apapun ke daerah sini, pasti akan berakhir sama. Tengkorak tiba-tiba berteriak, “Sialan, kenapa dengan otakku ini!”
“Kenapa?” tanya Toro, Barbar juga menatapnya dengan bingung.
“Bos, aku salah, aku benar-benar salah besar!”
Setelah ditatap tajam oleh Barbar, dia baru berkata, “Aku lupa membawa undangan yang diberikan oleh mereka!”
“Toro, hajar dia. Kalau mati, aku yang tanggung jawab!”
“Bos, ampun!”
Toro terdiam menatap bocah yang terus meminta maaf ini. Tetapi mereka sudah hampir sampai, kalau menyuruh orang mengantarnya pasti sudah terlambat. Ini benar-benar bukan sekedar main-main, kalau tidak boleh masuk, ketiga geng akan beranggapan Barbar tidak datang. Bukan hanya tidak menghargai mereka, tetapi kalau mereka bertiga bekerja sama, 800 orang Barbar juga tidak cukup untuk melawan mereka.
__ADS_1
Sampai di tempatnya, Toro melihat tidak setiap bos menuruti aturannya, banyak yang membawa anak buah dalam jumlah banyak, sepertinya mereka takut terjadi sesuatu. Toro melihat Iblis dari jauh, bocah itu tidak membawa banyak orang. Selain 11 anak buahnya, dia membawa dua wanita pengawal, Phoenix Hitam dan Darah Merah.
Toro mengeluh dalam hati, seharusnya kedua wanita itu berada di belakangnya. Melihat gaya sombong bocah itu, dia ingin sekali menarik Iblis dan kembali ke posisi yang seharusnya.
Para pria yang keluar masuk tidak terlihat seperti gangster. Rata-rata mirip dengan bos perusahaan yang sukses, ada yang membawa mobil Hummer, ada yang membawa BMW, ada juga yang membawa Ferrari. Ketika sebuah mobil Limosin pelan-pelan mendekat, orang tidak tahu bakal mengira ini adalah pertemuan kepala negara. Toro melihat kembali mobil yang dia bawa, sungguh sangat menyedihkan.
Dari mobil Limosin turun seorang pria berumur 50 an tahun, tubuhnya tidak tinggi, tetapi auranya cukup kuat. Pengawal yang berdiri di belakangnya lebih menarik perhatian darinya, mereka seperti perwujudan film beauty and the beast. Toro melihat kedua pengawal itu turun dari mobil Hummer yang sudah dimodifikasi, bagian bawah Hummernya sudah berubah bentuk. Walaupun dia tidak mengenal pengawal wanitanya, tetapi dia mengenali pria yang sedang makan permen, dia adalah Beruang Hitam. Semua orang memberikan jalan kepada tiga orang ini.
“Dia adalah ketua geng Wustang yang bernama Wusman, dia sangat terkenal ketika muda!” Barbar berkata dengan pelan kepada Toro dan Tengkorak, “Dari ketiga geng besar di sini, aku lebih tertarik dengan mereka.”
“Sialan, dari gayanya saja sudah begitu hebat, apalagi ditambah pengawal seperti beruang hitam!” kata Tengkorak iri.
Barbar berkata dengan ragu, “Kalau kalian ikut denganku, kalian juga bisa seperti itu suatu hari!”
Belum sempat Toro dan yang lainnya melangkah maju, terlihat lagi 10 mobil Cadillac datang kemari. Mobil ini memang tidak terlalu menarik perhatian, tetapi plat mobil mereka terlihat sangat rapi. Huruf dan angka di depannya sama semua, kemudian angka belakang dimulai dari angka nol, kemudian mobil kedua angka satu, mobil ketiga angka dua…sampai mobil terakhir angka sembilan.
Orang-orang yang turun dari mobil semuanya berkepala botak, lagak mereka sangat sombong. Mereka bahkan tidak takut sama sekali ketika melihat ketua geng Wustang, botak yang berjalan di depan terlihat berumur sekitar 35- 36 tahun. Dia meludah sembarangan dan membawa dua orang masuk ke dalam hotel.
“Bos, siapa orang itu?” tanya Toro. Beberapa hari ini dia terus bersama Tengkorak, jadi sudah tahu beberapa peraturan yang ada di kalangan ini. Geng yang datang hari ini dan berani bersikap tidak sopan kepada ketua geng Wustang, pasti bukan orang biasa.
“Aku juga tidak pernah melihatnya, mungkin orang baru! Di kota Intan, selain tiga ketua geng besar, tidak ada yang berani bersikap seperti itu kepada Wusman!”
Toro dan Tengkorak mengikuti dari belakang setelah Barbar mengangguk. Tiba-tiba ada seorang pelayan yang datang menahan mereka, lalu berkata, “Maaf, tempat ini sudah direservasi, tidak menerima tamu lain!”
“Kami diundang ke sini!” kata Barbar.
“Silahkan perlihatkan undangan kalian!”
“Kamu bahkan tidak mengenalku, kamu buta ya, siapa bos mu?” tiba-tiba dari samping muncul seorang bos yang sangat sombong, dia langsung menampar pelayannya. Kedua pengawalnya juga mulai menghajar pelayan itu, orang-orang hanya menonton dan tidak menghentikannya. Setelah selesai, bos angkuh itu berteriak, “Aku Hantu Gila sudah berapa tahun di kalangan ini, kamu bahkan mungkin belum lahir saat itu. Berani sekali menghalangi jalanku, awas!”
Toro tersenyum jahat kepada pelayan di depannya, pelayan langsung tersenyum pahit dan mempersilahkan mereka dengan sopan.
“Orang-orang sekarang sungguh tidak tahu aturan! Bos, silahkan!” kata Toro sambil tersenyum. Barbar mengangguk puas dan berjalan masuk dengan perut buncitnya itu.
Hotel bintang lima ini memiliki total 16 lantai dan 3 unit lift. Tetapi ada puluhan orang yang berdiri di depan lift, setelah mereka menghabiskan sekitar 1 kotak rokok, akhirnya mereka bisa ikut naik lift. Perasaan ini seperti pekerja kantoran yang sedang masuk kerja.
__ADS_1
Setelah lift sampai di lantai tujuan, terlihat sebuah meja rapat berbentuk oval besar begitu pintu lift terbuka, ada lebih dari 50 orang ketua geng yang sedang mengoceh sana sini. Tidak ada yang mempedulikan kehadiran Toro dan keduanya.
Ini pertama kalinya Tengkorak menghadiri acara sebesar ini, jadi pasti akan sedikit tegang. Berbeda dengan Toro yang terlihat santai, kalau si Abraham berada di sini, pasti orang-orang ini tidak ada yang berani berbicara. Ini adalah perbedaan Toro dan Tengkorak.
Seseorang dengan cepat datang memeriksa mereka, semua senjata Barbar dan Tengkorak diambil. Setelah selesai pemeriksaan, mereka berdua menatap Toro dengan tatapan aneh. Mereka berpikir apakah Toro memasukkan pistol ke dalam perutnya? Sebenarnya Toro hanya menggunakan trik untuk memindahkan pistol dan pisau tempurnya. Kalau orang tadi bisa mendapatkannya, maka dia lebih baik bunuh diri saja.
Barbar mencari tempat kosong dan duduk, kemudian mulai berbicara dengan ketua geng di sampingnya. Tidak sampai tiga patah kata, dia sudah mulai berbicara kotor. Hari ini banyak ketua geng yang datang ke sini, jadi sangat wajar kalau saling memarahi, tidak aneh juga jika sampai ada yang kehilangan nyawa.
Tengkorak terus memperkenalkan ini itu kepada Toro. Sebenarnya tidak perlu diperkenalkan, karena Toro tidak tertarik dengan ketua geng kelas tiga ini, dia hanya tertarik dengan empat orang yang duduk di arah selatan.
Satunya adalah Wusman, ketua Geng Wustang yang sedang merokok. Satunya berumur 30 an lebih dengan rambut merah, Tengkorak bilang kalau dia adalah ketua geng Awan Api yang bernama Roni. Yang satunya terlihat berkumis seperti pengusaha sukses yang berumur 40 an lebih, dia adalah ketua geng Tiga Sakti, lalu yang terakhir adalah si botak sombong yang mereka temui di luar tadi.
Iblis tersenyum lebar ke arah Toro. Dia seakan-akan sedang memberitahunya, lihat tidak, ini adalah perbedaan bos dan anak buah, kenapa kamu tidak kembali menjadi ketua geng Naga Langitmu ini.
Toro menyalakan rokok dengan kesal, karena 90% orang di sini semuanya sedang merokok. Asap rokoknya mungkin bisa mendatangkan pemadam kebakaran. Hotel bintang lima seperti ini ternyata tidak memiliki alarm kebakaran, pantas saja tidak punya tamu.
Tiba-tiba salah satu ketua geng berdiri dan menunjuk ke arah ketua geng lain yang duduk tidak jauh dari kelompok Toro, “Sialan kamu Ular Hitam, kamu sudha membunuh adikku, mau selesaikan gimana, hah?”
Pria yang dipanggil Ular Hitam itu sedang memegang seutas manik-manik, dia menatap ke arah ketua geng yang berdiri itu, lalu berkata sambil tersenyum dingin, “Emang kenapa kalau membunuh adikmu? Aku bahkan mau membunuh seluruh keluargamu. Siapa suruh adikmu mengacau di tempatku, kalau aku tidak membunuhnya, siapa yang harus kubunuh! Kenapa? Tidak terima? Sini kamu, aku jamin akan membunuhmu, sialan!”
“Phak!” Mando tiba-tiba berdiri, luka biru di wajahnya sangat parah. Dia menunjuk Barbar dan berkata, “Barbar, kamu menyuruh anak buahmu datang menagih hutang, tapi kenapa harus menghajarku sampai seperti ini, aku tidak akan membiarkannya begitu saja!”
“Kalau anak buahku tidak menghajarmu, apa kamu akan membayarnya? Kalau aku yang pergi sendiri, kamu sudah pasti mati. Suruh anak buahmu datang mencariku juga kalau bisa!”
Seketika para ketua geng lain ikut tertawa terbahak-bahak, karena ada hal-hal menarik yang terjadi di sekitar mereka. Para ketua geng yang lebih pintar hanya menatap dingin semua ini, mereka juga berharap kondisi bisa semakin panas. Tengkorak juga menantang anak buah Mando dengan tatapan dan ekspresi yang ganas.
Di dalam kondisi yang begitu kacau, Wusman menekan puntung rokoknya ke meja. Mungkin itu adalah sebuah kode, tiba-tiba terdengar suara tembakan. Ketua geng yang pertama kali berdiri dan mencari masalah langsung terbujur ke lantai, darah segar mengalir keluar dari kepalanya.
Para ketua geng yang lain langsung duduk kembali, kondisi ruangan menjadi hening dan tidak ada yang berani berbicara lagi.
Wusman menyalakan rokok baru, “Hari ini aku tidak mengundang para ketua geng di pinggiran barat untuk melihat kalian membahas dendam pribadi. Selalu ada kesalahpahaman di dunia gangster, kalian bisa selesaikan di manapun. Kecuali di ruangan ini, kalau ada yang berani mencari masalah, itu adalah contoh untuknya. Merak, panggil orang untuk membereskannya.”
Toro berpikir dalam hati, ketua geng Wustang memang orang yang kejam. Membunuh orang segampang menyalakan sebatang rokok, dan hal ini juga tidak mempengaruhi mood Wusman.
Tentu saja juga tidak mempengaruhi ketua geng Awan Api yang sudah berdiri. Dia menyampingkan rambut merahnya dan berkata, “Sini, biar aku kasih tahu kenapa tiga geng besar mengundang kalian semua ke sini!”
__ADS_1