
Toro tidak pernah menyangka, ada hari di mana dia akan sekolah lagi. Pertama kali dalam umur 20 an tahun ini, dia memakai kemeja panjang dan celana jeans beserta sepatu kets putih berada di pintu masuk sekolah teknik Bintang Cemerlang. Melihat gedung kelas dan asramanya, dia tidak tahu bagaimana mengambarkan perasaannya sekarang. Sambil menyalakan sebatang rokok, dia melihat surat pemberitahuan masuk, dia hanya menghela nafas dan berkata, “Seorang tentara bayaran top menjadi siswa, seharusnya aku tidak boleh berjanji dengan mereka!”
Novianto dan yang lain tidak datang, mereka juga pusing ketika disuruh belajar lagi. Pantesan ketika Lalita memberikan barangnya, dia juga tidak bisa menahan tawa. Kalau hal ini sampai ketahuan oleh teman teman dari ZO, mereka pasti menertawakannya. Paling tidak dia harus mengajak satu orang, agar tidak canggung ini.
Di depan pintu masuk sekolah teknik ada hamparan bunga yang dirawat dengan teratur dan cantik. Berdiri di gerbang sekolah, terlihat dua baris pohon cemara yang tinggi, para siswa yang berkumpulan bersama, beberapa terlihat seperti pasangan. Pemandangan yang menusuk hati muncul di hadapan Toro.
Di atas surat pemberitahuan masuknya tertulis jurusan komputer tingkat lanjut. Ketika dia ingin menanyakan kepada orang di mana kelasnya, ada dua orang anak laki-laki yang berjalan di sampingya. Salah satunya berkata, “Semalam kamu ke mana?”
Yang satunya lagi terlihat kesal, “Sialan, kemarin aku keluar dan beberapa teman. Kenapa? Kamu dihajar?”
“Hush! Aku kasih tahu satu berita besar, Indra dan Sutomo sudah saling menyerang!”
“Akhirnya sudah dimulai? Tidak perlu dibilang, pasti gegara Clarisa si wanita jalang itu!”
“Mana perlu dibilang lagi. Aku dengar semalam Clarisa buka kamar dengan Indra, setelah itu dia lanjut tidur di atas ranjang dengan Sutomo dan ketahuan oleh orang-orang Indra. Kedua tim orang itu langsung mulai saling menyerang.”
“Astaga, birahi Clarisa beneran sangat tinggi. Aku waktu itu pernah menangis karena wanita bodoh ini, tidak disangka dia ternyata orang seperti itu!”
“Hehe……masa lalu kamu yang jelek itu tidak usah diungkit lagi. Kamu bahkan tidak pernah memegang tangannya, nangis apa coba. Aku dengar pada akhirnya Sutomo yang menang, Sutomo memang lebih kejam dan kuat. Kamu masih ingat tahun lalu dia menghajar 3 orang organisasi hitam yang membawa golok?”
“Astaga, kenapa yang aku ingat 6 orang!”
“Peduli berapa orang, pokoknya Sutomo sangat hebat, apakah kamu pernah dengar? Geng Wustang sepertinya pernah datang mencari Sutomo, sepertinya dia akan bergabung dengan Geng Wustang kapanpun. Tidak punya kemampuan, tidak mungkin masuk ke dalam Geng Wustang!”
“Tentu saja, kamu tidak pernah melihat asrama Sutomo, setiap wanita yang dia tiduri akan meninggalkan satu ****** *****, aku dengar sudah lebih dari 80.”
“Sialan, mana mungkin aku tidak pernah lihat, memang seperti itu. Sudahlah, jangan bicara lagi. Orang bodoh di samping kita sepertinya sedang menguping! Ooiya, apa yang ingin kita lakukan tadi?”
“Lihat sikapmu ini, kita mau pergi mencari wanita di jurusan komputer”
“Betul betul betul, aku paling suka yang bokongnya besar, kalau dipetik rasanya paling enak!”
“Hehe…….Aku juga suka!”
Toro melihat kepergian mereka berdua dan mulai mengikutinya. Tidak disangka di dalam sekolah teknik ini, bisa lebih kacau daripada di luar. Sebenarnya kalau dipikir benar juga, melakukan sesuatu yang diluar nalar ketika muda memang tidak salah, siapa yang tidak pernah muda.
Tapi, dia masih tidak ingin langsung berhadapan dengan Sutomo pas awal masuk. Ada pepatah yang mengatakan naga hebat tidak menyerang ular jagoan, apalagi dia memiliki hubungan dengan Geng Wustang, tidak perlu membocorkan identitasnya secepat ini. Karena penuh dengan kekacauan, kalau membuka stand untuk membantu mereka berkelahi, pasti bisa mendapatkan banyak pemasukan, karena para siswa ini juga berpura-pura murah hati.
Mengikuti dua orang laki-laki itu, Toro datang ke sebuah kelas di gedung 4 lantai 3. Dua orang laki-laki itu sedang mengintip dari jendela, Toro langsung berjalan masuk. Yang menyambutnya adalah wangi yang sangat harum, setelah melihat sekeliling, paling tidak ada 40 an perempuan, dan hanya ada 4 laki-laki yang duduk di pojok sedang bermain kartu.
__ADS_1
Saat ini, seorang perempuan dengan wajah kecil dan rambut panjang menghampirinya, dia menanyakan kepada Toro sedang mencari siapa, Toro lalu memperlihatkan surat pemberitahuan masuk kepadanya. Setelah melihatnya, dia menatap Toro dan berkata, “Kakak, kamu sudah umur berapa masih masuk ke sekolah teknik?”
Toro langsung keringat, dia berkata, “Aku baru berumur 21.”
“Tidak mirip, paling tidak sudah 25 26 tahun!” Kata perempuan itu sambil tertawa, dia berkata, “Aku bercanda, namaku Jenifer, siapa namamu?”
“Toro!”
Toro sedang menatap senyuman Jenifer yang manis, tiba-tiba dari belakang muncul seseorang dan mendorong Toro yang berada di depan pintu. Aura mendominasinya terasa begitu sombong, di belakangnya ikut dua orang laki-laki yang tersenyum jahat. Orang itu langsung berdiri ke atas dan berkata, “Diam semua, semuanya diam!”
Seketika, suara berisik langsung menjadi tenang. Orang itu mengangguk puas dan berkata, “Halo semuanya, namaku Alura. Teman-temanku memanggilku Alura gendut. Aku sangat senang bisa menjadi teman dengan kalian semua. Biar aku kasih tahu, aku masih seorang perjaka!”
“Ckk!” Lebih dari 30 jari tengah diacungkan kepadanya, membuat wajah Alura menjadi merah.
“Pantesan masih perjaka, tampangmu itu!” Kata seorang pria yang duduk di pojok sampai tertawa, seketika membuat semua orang kembali heboh.
“Sialan, dasar anak brengsek!” Kata Alura sambil menggulung lengan bajunya.
“Sialan, gendut brengsek, kirain aku takut!” 4 pria itu langsung membuang kartu di tangannya dan berdiri.
Tiba-tiba Alura mendengar suara batuk pelan, dia melirik ke arah Toro. Ketika melihat wajah Toro, sudut bibirnya langsung berdenyut. Setelah terdiam sesaat, dia ingin kabur keluar, Toro langsung bergerak pelan dan membuatnya berhenti.
Toro merangkul bahu Alura dan berkata, “Ternyata teman lama, ayo kita bicara keluar!”
Setelah keluar, Alura terus memberi kode kepada dua anak buahnya itu, menyuruh mereka mengikutinya lebih dekat. Tapi ketika Toro mencekik leher belakangnya, dia terpaksa menyuruh kedua anak buahnya pergi terlebih dahulu. Toro membawanya ke toilet pria dan berkata, “Gendut, bukannya kamu orang Geng Wustang, kenapa lari ke sekolah?”
Alura memberikan sebatang rokok kepada Toro, lalu berkata, “Kakak, aku juga terpaksa. Geng kami membutuhkan darah baru, jadi dia menyuruh aku datang mencarinya. Melihat kehebatan kakak hari itu, aku masih belum tahu kakak dari geng mana?”
“Geng Naga Biru!” Kata Toro yang tidak mau menutupinya. Karena dia punya satu pemikiran, dia ingin merekrut orang-orang Geng Wustang, jika ada Alura yang membantunya, dia bisa langsung tahu pergerakan mereka. Dia memang membutuh seseorang yang takut tetapi pintar di sampingnya.
“Ooh, ternyata bos dari Geng Naga Biru, pantesan begitu hebat!” Kata Alura dengan kaget, tetapi dia terlihat sangat berpura-pura.
Toro memberikan surat pemberitahuan masuk kepada dia, lalu berkata, “Namaku Toro, kamu boleh memanggilku kak Toro. Mulai sekarang jurusan komputer adalah milikku, aku akan membantu urusanmu!”
“Terima kasih kak Toro, terima kasih!”
“Sebentar, aku belum selesai bicara!” Kata Toro sambil menyalakan rokoknya, dia berkata, “Kamu juga harus membantuku. Sekarang kamu bantu aturkan tempat tidur untukku.”
“Hehe…….aku sudak sama-sama menang. Kak Toro, mulai sekarang di sekolah aku adalah anak buahmu!” Kata Alura sambil tersenyum canggung, setelah sejenak dia berkata, “Tapi di luar, aku tetap orangnya Geng Wustang. Anda juga tahu, orang seperti kita paling pantang berkhianat. Aku tidak ingin menjadi pengkhianat yang diludah semua orang!”
__ADS_1
“Tidak masalah!”
Alura bekerja dengan cepat, paling tidak lebih cepat dari Toro yang belum pernah bersekolah ini. Dia langsung membawa Toro ke asrama laki-laki di lantai 2 kamar 235. Luas kamar ini sekitar 40 m2 lebih, tidak ada kamar mandi, tetapi beberapa langkah dari kamarnya sudah ada kamar mandi.
Asramanya hadap selatan dan ada beberapa jendela kaca, di luar jendelanya ada besi pelindung berwarna perak. Lantai di dalamnya sangat tidak bersih, penuh dengan air, bahkan sandal terlihat sedang mengapung di atasnya. Ada juga air cuci muka yang belum dibuang, di dalamnya sudah ada 4 koper siswa yang belum di rapikan.
“Sialan, lebih menjijikkan dari tempat tidurku!” Kata Alura sambil mengeluh. Melihat 4 tempat tidur yang tersisa, dia lalu bertanya, “Kak Toro, kamu suka tidur di atas atau dibawah?”
Toro menggerakkan bahunya, “Aku tidak masalah!”
“Aku suka tidur di bawah, sejak sekolah dulu sudah suka!” Kata Alura sambil melemparkan koper di dekat jendela ke kasur dekat pintu. Dan dia menaikkan kopernya dan koper Toro ke atasnya juga.
“Aiya, dari awal sudah tahu ini pekerjaan yang susah!” Kata Alura sambil duduk ke atas kasur. Berat 100 kg itu membuat kasurnya terus berbunyi.
Toro membereskan barangnya dan melipat selimutnya dengan rapi. Ini adalah kebiasaan dia ketika menjadi tentara, dia mulai membereskan seluruh kamarnya, merapikan sepatu, membuang air cuci muka dan menyapu kamarnya. Kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci sapunya.
Ketika dia kembali, dia melihat Alura sedang bersandar di jendela, kedua mata genit itu tidak tahu sedang menatap apa. Toro bertanya, “Gendut, kamu lagi ngapain?”
Alura menarik Toro untuk melihatnya, dia menunjuk ke arah gedung barat, kira-kira 200 meter dari asrama laki-laki. Di balkon sana ada berbagai jenis pakaian dalam seksi wanita yang digantung, ada yang terlihat sangat modern dan berani.
“Hehe……” Alura tersenyum genit, ludahnya sudah hampir menetes ke lantai, dia berkata, “Kak Toro, bagus kan pemandangannya!”
Toro melototnya sebentar, semua orang bilang orang gendut sangat genit, sepertinya sangat benar, dia tertawa dan berkata, “Kalau bagus kamu lihat pelan-palan, aku tidak segenit kamu ini!”
“Kak Toro, sebenarnya tempat ini juga tidak buruk.” Ketika Toro sedang mengepel, kedua mata Alura seperti menempel di kaca dan terus terdengar suara dia menelan ludah, “Kalau ada teleskop, malam hari pasti tidak akan kesepian!”
Toro beneran tidak berdaya, saat ini datang 4 orang laki-laki dari luar, mereka adalah orang yang bermain kartu di kelas tadi. Ketika melihat Toro sedang mengepel, mereka mengangguk pelan, seorang laki-laki yang perkasa berkata, “Teman ini terlihat sangat rajin!”
“Sialan, siapa yang menyuruhmu tidur di atas ranjangku!” Seorang laki-laki dengan wajah penuh jerawat langsung menghampiri Alura dan menarik bajunya.
Alura kemudian duduk kembali, seperti dia sudah menduga akan terjadi hal seperti ini. Dengan gaya sombong dia menyalakan sebatang rokok dan berkata, “Aku suka tidur di tempat ini, kalau tidak suka ayo bertarung?”
“Ayo, siapa yang takut!” Walaupun laki-laki itu berkata begitu, tetapi ketika melihat badan Alura, dia masih sedikit khawatir.
“Kamu keluar!” Pria yang kekar itu menunjuk ke Alura.
“Kalau aku takut, aku bukan Alura gendut lagi!” Bagaimanapun Alura adalah organisasi hitam, bahkan Hendrawan pernah diserang olehnya. Dia tentu memiliki beberapa dasar yang bagus. Alura berdiri dan mengikutinya keluar.
__ADS_1