Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Nasib Mempesona


__ADS_3

Syut!


  Terlihat sebuah pistol terbang melewati kepala orang-orang, Darah Merah langsung melompat dan mengambilnya. Lalu terdengar suara tembakan, kening Cahaya sudah berlubang. Dia terjatuh ke pangkuan anak buahnya, kedua matanya masih terlihat melotot karena emosi.


  Seluruh ruangan menjadi kacau, ada yang berteriak kesal, “Sialan, bukannya sudah dilakukan pemeriksaan, kenapa masih ada yang punya pistol?”


  Ketika Iblis berjalan ke arah mayat, Phoenix Hitam sudah mematahkan leher kedua anak buah Cahaya. Dia menginjak wajah Cahaya dengan sombong, dan berkata sambil tersenyum, “Kami geng Naga Langit sangat setuju dengan rencana pembagian daerah kekuasaan pinggiran barat. Semoga para ketua geng yang lain juga begitu, karena berteduh di bawah pohon besar tentu lebih adem. Seperti aku yang sudah membunuh bos geng Pelindung Naga, ketiga ketua geng pasti akan melindungiku!”


  Toro tersenyum, Iblis melakukannya dengan baik. Sekarang dia memberikan pertanyaan sulit kepada tiga geng besar, kalau mereka ingin melanjutkan rencana ini, maka harus melindung Iblis. Kalau mereka menyerahkan Iblis kepada geng Pelindung Naga, siapa lagi yang mau bergabung dengan mereka. Sehebat apapun tiga geng besar ini, ratusan ketua geng di pinggiran barat juga bukan orang biasa-biasa saja.


  Para ketua geng yang berada di sekitar terbengong, Toro sudah memperhatikan ketua-ketua mana yang ingin menjilat bos geng Pelindung Naga sejak tadi. Mereka adalah musuh geng Naga Biru, setelah dia menunjuk ke arah orang-orang itu. Terdengar lagi beberapa suara tembakan, para ketua dan anak buahnya langsung terbunuh sebelum sempat berbicara.


  Merak dan Beruang Hitam sudah melindungi Wusman, Merak berbisik, “Ketua, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa…” katanya sambil memperlihatkan gerakan menggores leher.


  “Sialan, pantesan aku merasa geng Naga Langit ini begitu familiar, ternyata mereka si pemasok itu, nyalinya besar juga!” Wusman berkata seakan teringat sesuatu, “Kita harus melindungi orang ini bagaimanapun caranya. Kalau tidak, bukan hanya tidak bisa melanjutkan rencana kali ini, bahkan kita juga bisa kehilangan pemasok utama ini!”


  “Hehe, pahlawan muda! Sungguh pria berbakat!” kata Wusman sambil berdiri dan bertepuk tangan setelah mempertimbangkannya. Dia kemudian memberikan kode kepada Roni dari geng Awan Pagi dan Pangeran dari geng Tiga Sakti.


  Roni juga langsung berkata, “Teman satu ini pasti akan sukses!”


  Pangeran juga terpaksa mengikuti mereka, “Semua sudah tahu apa yang terjadi kan? Kak Cahaya berdebat dengan beberapa ketua geng di sini sehingga terjadi pertarungan dan menyebabkan kematiannya. Aku mewakili geng Tiga Sakti menyampaikan belasungkawa!”


  “Lalu, kita juga akan membunuh orang-orang ini untuk membalaskan dendam kak Cahaya!” tiba-tiba ketua geng yang bernama Hantu Gila berteriak keras. Dia berkata kepada ketua geng lain, “Semuanya tidak bodoh, tidak ada yang ingin menyinggung geng Pelindung Naga, betul tidak?”


  “Betul!” para ketua geng lain terpaksa menjawab dengan tidak berdaya.


  Pinggiran kota barat dibagi menjadi tiga area kekuasaan. Toro mengikuti Barbar pindah ke bawah pimpinan geng Awan Api. Geng Naga Langit yang dibawa Iblis mengikuti geng Wustang. Sedangkan Mando, Hantu Gila, Ular Hitam dan yang lain menjadi pengikut geng Tiga Sakti. Semuanya menggunakan satu geng dua sistem. Jika bertemu bisnis bagus, mereka akan menjalankannya bersama. Ketika butuh bantuan, mereka akan saling membantu.


  Setelah meninggalkan tempat itu, setelah Toro dan lainnya sudah selesai makan, Toro bilang ingin pergi mencari pacarnya. Jadi dia menghentikan taksi dan tidak lupa membeli bunga mawar yang mengartikan aku cinta kamu di perjalanan, dia juga bermaksud untuk mengakui kesalahannya.


  Ketika orang toko sedang merangkai bunga, Toro menelepon Iblis, “Walaupun mereka membantumu menutupinya, tetapi pasti akan ada kebocoran, geng Pelindung Naga akan tahu cepat atau lambat, kamu harus bersiap menghadapi musuh.”


  “Tenang saja, Kak. Kalau sedikit, aku akan membereskannya. Kalau banyak, bukannya masih ada geng Naga Biru, mereka tidak akan berani menyentuh kita dalam waktu dekat!”


  “Aku tahu Wusman pasti akan melindungimu segenap tenaga demi keuntungan. Kamu harus manfaatkan mereka, jangan terlalu cepat memperlihatkan kemampuan sebenarnya kepada mereka!”


  “Iya iya iya, aku ngerti!”


  “Oh iya, jangan cari masalah lagi, istirahatlah beberapa hari ini!”


  “Baik, baik baik, kalau tidak ada urusan lain aku akan menutupnya!”

__ADS_1


  Dari seberang telepon sudah terdengar suara telepon terputus, Toro memarahinya, “Sialan, dia ini menganggapku terlalu cerewet ya. Tapi belakangan ini aku memang terlalu khawatir!”


  “Tuan, bunga Anda sudah selesai, harganya 1 juta!”


  “Terima kasih!”


  Toro turun di depan gerbang utama villa, kemudian berjalan masuk. Setelah menekan bel beberapa kali, tampaknya tidak ada orang di rumah. Setelah memasukkan kata sandi beberapa kali dan tidak ada yang benar, dia menggelengkan kepala dengan tidak berdaya, sepertinya kehidupannya di villa mewah sudah berakhir. Janice sudah mengganti kata sandinya. Wanita ini bisa melakukan apapun ketika marah.


  Dia menyalakan sebatang rokok dan duduk di pinggir jalan kompleks sambil mengeluh, “Toro, Toro, kalau kamu tidak bisa mengontrol tubuh bagian bawah, kamu tidak akan bisa mengontrol sisa hidupmu. Apa ada saat yang lebih menyedihkan dari sekarang?”


  “Hehe, tebak siapa aku?” Tiba-tiba ada yang menutup mata Toro dari belakang.


  Toro mengira itu Janice, tetapi wangi tubuhnya berbeda. Kalau ada yang ingin menyerangnya tadi, dia mungkin adalah tentara bayaran yang matinya paling menyedihkan. Tetapi melihat kedua tangan di depan mata dan wanginya, dia sudah bisa menebaknya. Namun, dia masih berpura-pura, “Wanita cantik mana yang sedang menggodaku, aku orang jahat loh!”


  “Cepat tebak, siapa aku?”


  “Kamu bunga bangkai ya?”


  “Menyebalkan, aku tidak mau mempedulikanmu lagi!”


  Ketika kedua tangan mulus melepaskannya, Toro melihat Nikita yang memakai kaos oblong hitam, bawahannya adalah rok pendek berwarna putih. Dia memakai stoking berwarna putih dengan high heels setinggi 10 cm. Rambutnya yang diikat ke belakang membuatnya kelihatan sedikit nakal dan seksi. Dia menatap Toro dengan ekspresi marah, tetapi kelihatannya hanya pura-pura.


  “Benaran untukku?”


  “Iya!”


  “Kenapa kamu bisa tahu aku pulang hari ini? Tidak, kamu pasti bohong!”


  Toro tersenyum dan berkata, “Aku melihat konferensi pers kemarin, dan tahu kalau hari ini kamu pasti akan pulang!” dia berkata dalam hati, untung kemarin ketika sedang bosan berdiskusi dengan Barbar, dia buka browser dan melihatnya.


  “Tak kusangka kamu memperhatikan gerak-gerikku!” kata Nikita sambil menerima bunganya, “Terima kasih. Oh iya, ada waktu tidak?”


  “Kenapa?”


  “Masakkin dong, lapar banget nih!”


  “Oke!”


  Toro berlari kecil dan menarik koper besarnya, kemudian mengikuti Nikita pulang ke rumah. Dia membeli sayur dan mulai memasak di dapur, sedangkan Nikita bersandar di depan pintu untuk melihatnya. Dia bertanya apa yang terjadi hari itu kepada Toro, Toro tidak boleh berbohong padanya lagi. Dia terpaksa memberitahunya bahwa pacarnya salah paham dengan adiknya, kemudian ya begitu.


  “Sekarang kalian sudah baikan?” tanya Nikita yang tidak fokus.

__ADS_1


  “Uh, kayaknya aku putus cinta sekarang. Sebenarnya dari awal semua ini adalah kesalahpahaman, sekarang malah jadi semakin dalam!” dia menyajikan lauk ke atas meja, Toro menceritakannya sambil makan. Dia menceritakan semuanya secara detail, kecuali mengenai organisasi hitam.


  Nikita menggigit sumpit dan menatap Toro dengan terkejut, “Ternyata kamu playboy ya?”


  Toro bertanya, “Nik, ini salah kamu loh. Kamu bilang aku tidak setia, tapi memangnya apa yang kulakukan?”


  “Hmm…sepertinya tidak juga!” kata Nikita sambil menatap Toro, “Jadi sekarang kamu tidak punya rumah untuk pulang?”


  Toro menggerakkan bahunya dan tersenyum pahit, “Iya, cukup menyedihkan ya?” setelah sejenak dia berkata, “Makanya aku memberikanmu hadiah, mulai sekarang aku bukan tetanggamu lagi. Ini mungkin makan malam terakhir kita!”


  “Ah? Parah banget? Adikmu beneran tidak menerimamu?”


  “Menurutmu gimana?”


  “Uh, uhmm, mana boleh begitu! Kalau kamu tidak ada, nanti siapa yang masakkin buat aku?!” kata Nikita sambil berpikir. Rumahnya cukup besar, tetapi dia tidak boleh membiarkan seorang pria tinggal di rumahnya. Karena wanita biasa juga tidak akan melakukannya, apalagi dia seorang artis.


  Namun, ketika melihat ekspresi kasihan Toro, hatinya jadi tidak tega. Jujur saja, sejak pertama kali dia bertemu Toro sampai sekarang, dia merasa pria ini bukan hanya tampan, tetapi juga sangat hebat dalam segala segi. Dirinya tidak menolak Toro seperti pria lain, setelah bertemu beberapa kali, dia merasa pria ini memiliki banyak kelebihan, dan juga ada sebuah perasaan aneh yang muncul di hatinya, sepertinya itu rasa aman yang jarang ada di dunia hiburan.


  “Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah dewasa, jadi bisa cari tempat tinggal sendiri, lagian aku ini pria!” kata Toro sambil menyalakan sebatang rokok, “Boleh merokok tidak?”


  Nikita menganggukkan kepalanya, bahkan merokokpun dia terlihat begitu mempersona. Dia tiba-tiba kaget dengan pemikirannya sendiri, apakah dirinya jatuh cinta kepada pria ini?


  Setelah selesai makan malam, Toro memakai jaketnya dan berkata, “Aku pergi dulu, kalau ada masalah atau ingin makan masakanku, ingat telepon aku!”


  “Tunggu sebentar!” Nikita berjalan ke kamarnya dan mengambil uang tunai 40 juta, “Toro, dari dulu aku mengira kamu anak orang kaya. Tapi rupanya…uang ini kamu pegang dulu. Aku bukan memberikannya secara cuma-cuma, kalau sudah punya uang, ingat balikin!”


  Toro tersenyum, dia teringat sepertinya dia menggambarkan dirinya terlalu menyedihkan tadi. Dia langsung menolak dan berkata, “Kamu salah paham. Aku tidak kekurangan uang, hanya saja tidak bisa tinggal di sini lagi!” dia meletakkan tangannya di bahu Nikita, “Ingat jaga dirimu baik-baik, kalau ada yang merundungmu kasih tahu aku, aku akan membantumu!”


  “Ting tong! Nik, buka pintu dong, aku sudah datang!” terdengar suara wanita dari luar. Walaupun tidak kelihatan orangnya, tetapi suaranya terdengar begitu manis, seharusnya dia seorang wanita cantik.


  “Aduh, aku lupa, hari ini aku mengajak teman ke sini!” kata Nikita, lalu buru-buru berkata, “Toro, kamu sembunyi di toilet dulu. Aku akan mengusir Agnes secepatnya, aku benar-benar lupa!”


  Toro duduk bengong di dalam toilet sambil melihat ribuan merek kosmetik dan skin care yang berbeda-beda. Ada yang untuk mencerahkan kulit, melawan sinar UV, menyegarkan kulit, mengencangkan kulit dan alat-alat lain-lainnya. Ini sama sekali bukan toilet, melainkan ruang make up. Dia pernah belajar make up sebelumnya, jadi dia lebih tahu bagaimana untuk menggunakan barang-barang ini dibandingkan wanita.


  Dia membuka sedikit celah pintu untuk mendengarkan obrolan dan canda tanpa henti dari luar. Toro mulai curiga kalau Nikita melupakan dirinya. Dia harus memikirkan cara.


  Toro menatap wajahnya yang tampan di cermin, pantesan sering ada wanita yang tergila-gila padanya, dia bergumam sendiri, “Toro, Toro, narsis banget kamu, huh?”


 


 

__ADS_1


__ADS_2