Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Pertarungan Yang Kusut


__ADS_3

“Huhu……” Lewat pintu kaca toilet, Toro bisa mendengar suara tangisan dari dalam, lalu suara itu juga hanya sebentar. Tidak sampai 1 menit, Yanto sudah keluar tanpa ekspresi apapun, tetapi tangan kanannya penuh dengan darah, dia berkata, “Kak Toro, kamar 406.”


Pintu dikunci, di dalamnya hanya tersisa mayat yang dingin dan beberapa orang wanita yang pingsan. Toro naik ke lantai 4 lewat tangga, setelah sampai dia memberikan kode untuk menyuruh mereka menunggu. Dia menyodorkan kepalanya dan mencoba melihat, ada 2 orang penjaga yang sedang merokok, setelah itu dia memberitahu Novianto dan Yanto untuk membereskannya.


Mereka mengangguk, kemudian menatap ke Herman. Herman langsung mengerti maksud mereka, dia berjalan keluar dan terjatuh ke lantai. Seketika langsung menarik perhatian 2 orang itu. Mereka saling menatap dan ekspresinya terlihat curiga, satunya berkata, “Pergi lihat apa yang terjadi!”


“Kenapa selalu aku, dari jauh saja bisa tercium bau alkohol, pasti pemabuk!” Kata satu orang lainnya yang kesal, dia berteriak, “Halo ada orang gak? Angkat pemabuk ini dari sini!”


Tapi tidak ada pergerakan sama sekali, orang tadi langsung menendangnya kakinya dan berkata, “Sialan, bawa pergi orang mabuk itu bisa mati emang?”


“Awas, aku tidak mau!” Yang satunya lagi juga mulai kesal.


Toro dan yang lainnya malah bingung, mereka berdua tidak akan saling berkelahi kan?! Tapi, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, seorang pria dengan nafas yang kuat berkata, “Apa yang terjadi?”


“Ada seorang pemabuk, aku menyuruh dia untuk pergi membawanya pergi, dia tidak mau!”


“Sialan, aku kira terjadi sesuatu! Kalian berdua pergi, sialan, kerjaan segampang ini juga saling dorong, masih mau ikut aku gak!?”


Pintu tertutup, mereka berjalan dari atas dengan tangga dan melihat apa yang terjadi. Yang satunya menendang Herman dan memarahinya, “Kenapa kamu tidak melihat tempat seperti ap aini, hati-hati aku membunuhmu dan memberi makan kepada anjing!”


“Sudahlah, walaupun kamu membunuh pemabuk, dia juga tidak tahu. Ayo kita angkat dia ke bawah!”


“Ei, kalian?”


Krak! Krak!


Setelah dua suara, Herman langsung berdiri dari lantai dan menendang mayat itu, sambil memarahinya, “Siapa yang menyuruhmu menendang aku, siapa yang menyuruhmu!”


“Sudahlah!” Toro berjalan keluar dan melihat mayat di lantai dia berkata, “Jangan mempedulikan orang mati lagi!”


Setelah itu, dia langsung memimpin mereka ke lantai 4. Kamar 406 berada di pintu ketiga dari kiri tangga, hanya ada 2 orang yang berjaga di depan kamarnya. Sepertinya pihak lawan tidak tahu ada penyergapan malam ini. Dari dalam memang terdengar suara yang keras, tetapi sepertinya juga ada suara wanita menangis. Toro mengetuk pintu, lalu suara di dalam menjadi sunyi, dia mendengar ada yang berkata, “Pergi buka pintu!”


Yang datang membuka pintu adalah seorang pria gendut dengan wajah mengerikan. Setelah melihat Toro berlima, dengan ekspresi bingung dia bertanya, “Siapa kalian? Siapa yang menyuruh kalian masuk?”


“Polisi!” Kata Toro sambil mendorong pria gendut itu dan berjalan masuk. Ketika masuk ke dalam, dia melihat Matsumoto dengan kumis tipisnya itu sedang duduk di sofa, di dalam ada sekitar 10 an orang, salah satunya seorang anak muda berumur 25 26 tahun, sedang berlutut di sana dengan wajah memar. Di sudut dinding ada seorang wanita yang bajunya telah sobek.


Mendengar Toro bilang dia adalah polisi, semua orang tertegun, dan wanita itu seperti terselamatkan, dia langsung berlari dan memeluk Toro. Tapi dia ditarik oleh seorang pria kekar dan di dorong ke pojok lagi. Sambil menangis dia meminta tolong, “Pak Polisi, tolong aku, mereka mau……”


“Phak!” Wanita itu terus ditampar sampai mukanya bengkak semua.

__ADS_1


“Cukup!” Kata Toro dan Matsumoto di saat yang bersamaan, orang itu baru berhenti.


Matsumoto terlihat tidak takut polisi sama sekali, dengan Bahasa Indonesia yang tidak jelas dia berkata, “Kalau boleh tahu, kenapa kalian para polisi datang ke sini, aku adalah teman baik Direktur Tomo dari daerah kota timur.”


Toro langsung berjalan masuk dan duduk di sofa. Herman dan Hendrawa berdiri di depan pintu, Novianto dan Yanto berdiri di belakang Tomo. Matsumoto berkata dengan dingin kepada Toro, “Kalian bukan polis ikan?”


“Bukan!” Toro tersenyum sambil melihat pria yang berlutut itu, dan pria itu tidak tahu kenapa juga menatapnya dengan tatapan meminta tolong. Toro berkata, “Aku tidak suka berbohong, aku ingin jujur denganmu, aku datang membunuhmu!”


Seketika, para pengawal dan anak buahnya langsung memegang senjata. Lalu Matsumoto hanya tersenyum dan berkata, “Membunuhku? Sepertinya kalian tidak mirip pembunuh, tidak ada orang yang memberitahu orang yang akan dibunuhnya!”


“Kenapa denganmu?” Kata Toro bertanya kepada pria yang berlutut itu.


Pria itu melirik ke sekelilingnya yang penuh dengan tatapan tidak baik, dia bahkan tidak berani berbicara. Novianto langsung mendekat dan menendang pria itu ke lantai. Dia berteriak, “Sialan, kak Toro sedang berbicara denganmu. Jawab.”


Kondisinya menjadi sangat canggung, tidak ada yang berani bergerak. Tetapi semua sudah diam-diam menyiapkan senjata untuk bergerak. Matsumoto berkata, “Bocah, tidak tahu siapa yang memberimu nyali, kamu berani berpura-pura menjadi polisi di tempatku.”


Seketika semua orang di kamar itu mengeluarkan golok, ada 6 pria kekar yang mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke Toro mereka. Pria gendut di sana tersenyum dan berkata, “Bos Matsumoto, aku sudah menyelesaikan urusannya. Aku tidak mengganggu kesenangan kamu lagi!”


Matsumoto mengangguk dan menyuruh bawahannya memberikan sebuah koper kepada orang gendut itu, lalu berkata, “Alura, senang bekerjasama denganmu!”


“Sudah boleh bergerak?” Tanya Yanto di belakang Toro.


Toro tersenyum dan berkata, “Aku tidak bilang tidak boleh kan?”


“Sialan!” Novianto meninju seorang bawahan dan merebut golok di tangannya. Dia langsung merobek perut dua orang yang paling dekat dengannya, usus orang-orang itu langsung keluar.


“Ahh!” Wanita itu berteriak dan pingsan. Pria yang berlutut tadi juga tidak tahu diserang oleh siapa dan terluka di lantai. Ada luka sebesar setengah meter di dadanya, sepertinya sudah tidak bisa diselamatkan.


Toro mengangguk diam-diam, Novianto dan yang lainnya memang hebat. Hanya dalam sesaat, kamar ini sudah penuh dengan darah.


“Kamu, apa yang kamu lakukan?” Matsumoto ingin menyuruh pengawalnya tembak, tetapi ketika sadar ada orang mereka di antara sana, pengawal sama sekali tidak sempat menembak dan sudah mati.


Alura gendut itu sedang bersembunyi di belakang dua orang bawahannya. Tapi Yanto langsung membunuh mereka berdua dengan 2 tebasan. Ketika akan membunuh Alura gendut, Toro berteriak, “Biarkan dia hidup!”


Pong!


Pintu didobrak masuk, beberapa bawahan Matsumoto langsung masuk ke dalam kamar. Kondisinya menjadi semakin kacau, Toro langsung loncat dan mendarat di depan Matsumoto. Dia tersenyum dan berkata, “Aku akan menghabisimu!” Selesai berbicara, dia langsung mengayunkan pisau tempurnya, Matsumoto pun terjatuh ke lantai.


“Ayo keluar!” Toro menyimpan pisau tempurnya dan bergegas keluar. Tetapi bawahannya juga bukan preman biasa, ada beberapa orang Niponia juga dan sudah terlatih secara khusus.

__ADS_1


Pertempuran berpindah ke lorong, Toro memarahi Abraham dalam hati, kenapa tidak bilang kalau Matsumoto punya bawahan yang terlatih. Ketika dia sedang berpikir, seketika sebuah tebasan golok mengarah ke dia.


Toro memiringkan badannya dan menangkap pergelangan tangan itu, dengan bantingan melalui bahu, dia langsung terbang sejauh 3 meter dan menabrak seorang anak muda dengan mata memerah.


“Bos sudah dibunuh, balaskan dendam bosa kita!” Tidak tahu siapa yang berteriak, tiba-tiba semua mata anak buahnya menjadi hitam. Sebanyak 50 orang mengerumuni Toro mereka di lorong itu.


Saat ini, Toro merasakan dingin di punggungnya. Dia tidak memiliki tubuh abadi, juga bukan ahli yang bisa mengalahkan semua orang dengan jurus hebat seperti di film fantasi. Dikerumuni orang sebanyak ini, dia juga sangat ingin kabur dari sini.


Dia berpikir dalam hati bahwa dirinya masih muda, jadi tidak ingin mati di sini. Tapi walaupun berpikir begitu, dia juga tidak bisa meninggalkan Novianto berempat di sini. Saat ini ada 4 orang dari kedua sisi yang berteriak dan berlari ke arah mereka.


“Sialan!” Kata Toro sambil menahan nafas dan berusaha melawan mereka. Dia bisa membunuh 1 2 orang, tetapi tidak bisa menahan tebasan golok yang seperti hujan itu.


Di bawah serangan mereka, Toro sudah terkenal tebasan paling tidak 5 kali, walaupun dia juga membunuh belasan orang.


“Kak Toro, sepertinya kalau bertarung di pertarungan yang kusut, kamu tidak lebih hebat dari kami!” Kata Novianto dengan tersenyum jahat, dua orang yang mencoba menebas Toro sudah ditendang olehnya. Kepala mereka menabrak dinding dan langsung pecah.


Pertarungan yang kusut begini memang membutuhkan golok. Toro langsung merebut sebilah golok dan menebas satu orang, sambil bertanya, “Ke mana mereka bertiga?”


“Di sana!” Toro melihat Hendrawan sedang menjepit seseorang di ketiaknya. Lalu Yanto dan Herman berdiri di depan dan membuka jalan keluar dari kamar. Toro langsung marah, “Sialan, kalian beneran sangat peduli dengan wanita!”


“Kak Toro, bukannya kamu yang menyuruh kami membawanya keluar?”


“Sial, aku lupa!”


Dengan bantuan Novianto, luka yang diterima Toro semakin sedikit. Ada yang sudah tumbang, ada juga yang merasa kesakitan dan berguling di lantai. Novianto ini beneran sangat kejam, kenapa tidak membunuh mereka saja, kenapa harus membuat mereka menderita. Setelah 10 menit, orang yang tumbang di lantai semakin banyak, mereka sudah menyerbu dari lantai 4 ke lantai 3.


“Mere…..mereka, masih …..masih manusia kah? Kenapa bisa sehebat itu?” Kata seorang anak buah dengan nafas ngos-ngosan.


Golok sudah patah 3 bilah, Toro mengepalkan tinjunya dan terdengar suara krak krak dari tulangnya. Suara ini terasa bagaikan suara panggilan dari neraka bagi anak buah Matsumoto. Ketika Toro bersiap ke lantai 2, muncul seseorang yang sangat besar dengan tinggi 230 cm di pintu masuk lantai 2. Otot yang kekar itu memberontak di dalam bajunya, di sana seperti ada sebuah gunung, seperti seekor beruang jantan yang belum berevolusi.


“Masih perlu aku turun tangan, aku mau tambah nasi nanti!” Raksasa itu mengangkat seorang pria dengan tinggi 180 cm dan langsung melemparkan ke arah Toro, lemparan itu seperti melempar secarik kertas.


“Beruang Hitam……kak beruang, tolong aku!” Ada bayangan orang gendut yang terus berteriak.


Langkak kaki beruang hitam membuat lantai terasa bergetar, dia berteriak, “Awas kalian semua!”


Sret!


Semua anak buah Matsumoto langsung menempel ke dinding dan memberikan jalan. Aura Beruang hitam ini membuat Toro kaget juga. Dia menunjuk ke Toro dan tersenyum, lalu berkata, “Kamu paling kuat, sini latihan dengan aku!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2