
Waktu silih berganti, tempat yang terang pasti juga akan dihampiri kegelapan. Begitupula dengan Toro, dia harus pulang seminggu sekali. Janice sudah menelponnya jumat sore dan memberitahunya bahwa dia akan pulang dan menyuruhnya untuk menjemputnya.
Toro pergi melihat Pisau Tajam, bocah ini malah bilang tidak ingin pergi dan mau berlatih dengan Phoenix Hitam. Dalam waktu 1 minggu, perkembangannya sudah sangat pesat, dia sudah bisa melawan preman-preman yang sering menggunakan pisau. Mungkin dua bulan lagi, Alura akan dikalahkan olehnya.
Orang biasa tidak akan mengerti perasaan tidak berdaya ketika mengendarai Lamborghini. Ketika sampai di depan universitas Intan, dia sudah melihat Janice melambaikan tangan dengan temannya dan masuk ke dalam mobil sebelum Toro sempat turun dari mobil.
“Cepat sekali hari ini?”
“Hehe, sore ini tidak ada kelas, jadi aku ingin pulang melihatmu!” kata Janice sambil melepaskan kancing kerah bajunya. Seketika leher yang putih terpampang di depan mata Toro, “Apa aku lebih putih?”
“Kamu sudah cukup putih!”
“Kalau begitu, apa aku bertambah cantik?”
“Kamu memang cantik!”
“Kak Toro, kamu mengacuhkanku.”
“Aku memang…uuh, kita pulang saja!”
Karena kesalahan Toro, Janice menghukumnya untuk masak malam ini. Toro tentu mengiyakannya. Setelah membeli sayur di supermarket depan kompleks mereka, sesampai di rumah, Toro langsung masuk ke dapur dan mulai masak.
Janice bersandar bahagia di pintu dapur sambil melihat pria yang dicintainya sedang masak untuknya, bagi seorang wanita, ini adalah kebahagian terbesar. Dia terus memeluk pinggang Toro, sambil bertanya ini sayur apa, itu sup apa.
Toro merasakan dua bongkahan daging lembut yang menempel di punggungnya, dia tidak memakai bra? Tidak mungkin dia tidak bereaksi dengan godaan wanita cantik seperti Janice. Toro berbalik dan menggenggam kedua bahu Janice, “Janice, kamu jangan macam-macam. Setiap kali aku pulang, kamu selalu begini, lain kali aku tidak akan pulang lagi!”
“Kak Toro, kamu sudah tidak menyukaiku lagi?” tanya Janice dengan kasihan.
Toro menghela nafas tidak berdaya, “Bukan tidak suka, hanya saja kamu baru 20 tahun. Kamu sedang dalam masa terbaik untuk pertumbuhan, kalau sekarang aku melakukan sesuatu denganmu, bukannya akan menghambat pertumbuhanmu?”
Toro sudah mengatakan begitu jelas, Janice yang tidak menerimanya langsung menegakkan kedua gunungnya yang besar itu, “Aku sudah tumbuh dewasa. Kalau kak Toro menyukaiku, malam ini kamu harus menyentuhku, itu adalah bukti penghormatanmu kepada kecantikanku.”
“Astaga!” Toro menggunakan sendok untuk mengetuk meja dapur, “Baik, kamu yang menginginkannya. Kalau aku terus menolaknya, aku sepertinya bukan seorang pria. Selesai makan, aku akan membuatmu menikmati kehebatan kak Toro.”
“Hehe, jangan hanya 3 menit!”
“Sialan, kamu belajar dengan siapa?”
“Kamu bicara kotor lagi. Teman-teman di asrama kami bilang kalau rata-rata pria selalu 3 menit.”
Toro mengeluh dalam hati, dia bisa melakukan beberapa jam. Sebenarnya orang brengsek mana yang begitu payah sampai menyebabkan rata-rata pria menjadi seperti itu. Kalau sampai ketahuan olehnya, dia pasti akan mengebirinya.
Mereka sudah selesai makan. Janice hanya makan beberapa suap saja. Di sela itu, dia sudah menggoda Toro lebih dari tiga kali, Toro langsung menghabiskan nasinya, siapa yang takut siapa sekarang.
__ADS_1
“Ting tong, apakah ini rumah Toro?” ketika nafsu Toro sedang berada di puncak, dan bersiap untuk melakukannya, suara bel pintu mengagetkan dia dan Janice. Mereka berdua saling bertatapan, siapa yang mengganggu malam indah mereka, pantas mati.
Tetapi dari luar terdengar suara ketukan pintu lagi, sepertinya tidak bisa dibiarkan begitu saja. Orang itu sepertinya sangat keras kepala, kalau tidak dibuka pintunya, dia tidak akan berhenti. Toro lalu mencium kening Janice dan berkata, “Aku lihat dulu!”
Wajah Janice yang malu terlihat kesal, “Siapa yang datang malam-malam, menyebalkan sekali!”
Toro mendengar suara wanita dari luar, hanya Raisa dan Nikita yang tahu dia tinggal di sini. Ketika membuka pintunya, dia melihat Jenifer yang tidak pernah disangka muncul di sini, di belakangnya juga ada sekitar 6 orang anak muda, semuanya membawa pipa besi. Satpam yang berjaga sedang diangkat oleh mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya Toro mengerutkan keningnya.
“Namaku Kadal, bos Geng Timur Laut. Aku dengar kamu sudah menjadi adik iparku, jadi aku datang melihatnya!” anak muda yang berbicara itu memiliki tinggi 190 cm, dia melemparkan satpam dan ingin berjalan masuk.
“Kak, jangan begitu. Toro aku…”
“Kak Toro, siapa yang berteriak di depan rumah?” suara Janice terdengar semakin mendekat.
“Toro, siapa dia?” melihat tampang dan aura Janice, mata Jenifer langsung menjadi merah. Rasa tidak enak dan bersalah langsung menghilang dari wajahnya.
“Bocah ini berani memelihara wanita lain di belakang adikku, orang kaya memang tidak ada yang benar. Teman-teman, hajar dia dan juga wanita itu!” Kadal langsung mengarahkan senjata ke kepala Toro.
“Sialan, sepertinya aku harus membereskan mereka dulu baru menjelaskannya!” teriak Toro. Dia kemudian bergerak dan membereskan orang-orang ini dengan mudah. Kadal dan yang lain langsung terjatuh dan berteriak kesakitan.
Toro benar-benar tidak menggunakan tenaga penuh, cuma orang-orang ini saja yang terlalu lemah. Jenifer hanya berdiri di sana, air matanya mulai mengalir dari matanya dan berjatuhan di baju barunya.
“Apa itu penting? Toro, aku membencimu!” Jenifer sudah sangat marah. Suara tangisannya beneran sangat keras dan sangat menderita.
“Kamu tunggu saja, kalau aku tidak menghancurkanmu, aku akan ganti nama!” kata Kadal sambil berdiri bersama anak buahnya, “Jenifer, kamu masih mau dibutakan olehnya, hah? Ikut aku!”
Jenifer terus menatap Janice yang sedang bingung, “Toro, siapa dia? Kasih tahu aku, biar aku yang mundur.”
“Jenifer, dengarkan penjelasanku, dia adalah adikku!” kata Toro.
“Hehe, adik? Kamu adiknya?” tanya Jenifer kepada Janice.
Janice langsung berdiri tegak dan menjawab, “Aku tidak tahu kamu siapa, tetapi aku berharap mulai sekarang kamu tidak mengganggu kak Toro aku lagi. Aku wanitanya!”
Toro memepuk keningnya, sekarang semua sudah kacau, dia tidak bisa menjelaskannya lagi. Sekarang kedua wanita ini sedang marah besar, jadi dia tidak bisa mengikuti siapapun.
“Ei? Apa yang terjadi Toro?” saat ini, Nikita tiba-tiba datang seperti malaikat yang turun dari langit, malaikat bersayap hitam. Di belakangnya ada beberapa orang yang mengantarnya pulang.
Toro tersenyum pahit dan berkata, “Nikita, kalau aku memberitahumu bahwa aku tidak ada hubungan mesra dengan mereka, satu adalah adikku, satu adalah teman kampusku, apa kamu percaya?”
Nikita menatap ekspresi Toro yang sedikit aneh, tetapi dia langsung mengabaikannya, “Aku sengaja pulang dan tidak memberitahumu hari ini, apa kamu terkejut?”
__ADS_1
“Nikita, kamu adalah artis, kenapa berhubungan dengan orang seperti dia. Kalau sampai tersebar akan menjadi berita negatif yang akan mempengaruhi karirmu juga!” pria di belakang Nikita tiba-tiba berbicara. Toro pernah melihatnya, dia adalah manajer Nikita.
“Sialan kamu, kalau berani omong kosong, aku akan merobek mulutmu itu!” Toro marah. Apa yang terjadi sekarang? Kenapa tiga wanita ini bisa berkumpul bersama? Kalau sekarang Raisa datang, mereka bisa main kartu bersama.
“Kak Toro, siapa lagi dia? Kamu harus memberikan penjelaskan kepadaku!” Janice langsung cemburu karena melihat wanita yang di depannya ini sangat cantik.
“Hehe, Toro, kalau dia adalah adikmu, lalu siapa dia?” tanya Jenifer.
Toro tidak menutupinya, “Dia adalah temanku, kami tetangga!”
Nikita juga tidak mengerti dengan kondisi sekarang, tetapi dia bisa merasakan bau api cemburu yang sangat pekat. Dia langsung melambaikan tangan ke Toro, “Kondisinya lebih kacau dari drama yang aku mainkan. Aku pulang dulu!”
“Kamu pikirkan sendiri, kalau sudah jelas baru kasih tahu aku!” Janice langsung menutup pintunya.
“Kak, ayo kita pulang!” Jenifer membopong Kadal dan berjalan keluar.
“Bocah, jangan senang dulu kamu. Urusan kita belum selesai!” teriak Kadal kepadanya. Dia lalu berkata dengan keras, “Untung hari ini aku menemanimu, kalau kamu datang sendiri pasti akan disakiti oleh bocah itu. Dia anak kampus kita kan…”
Toro terdiam di tempat. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya sekarang, dia masih belum pernah menyentuh tiga orang wanita itu. Sekarang mereka berlagak seperti pacar resminya, dan yang lain adalah selingkuhannya. Lalu dia sendiri menjadi seorang lelaki buaya, sungguh tidak masuk akal!
Toro terpaksa membawa mobil dan datang ke bar. Kali ini gantian dia yang datang untuk mabuk, ini adalah bar ketika dia datang mencari Kirania waktu itu. Karena terlalu terburu-buru, dia lupa melihat namanya. Sekarang dia melihat nama bar ini, Bar Waktu.
Ketika masuk, dia bertemu dengan Budi. Budi terlihat sangat segar, sepertinya belakangan ini cukup santai. Melihat Toro masuk, dia langsung menyambutnya, “Kak Toro, angin apa yang meniupmu ke sini?”
“Angin topan!” Toro sedang kesal. Kalau gantian orang lain juga pasti akan sama, “Bawakan alkohol yang paling kuat, aku tidak punya uang. Hitung saja hutang Geng Naga Biru.”
“Aku yang traktir!” Budi melihat Toro berbeda seperti biasa, dia bertanya, “Kak Toro, apa terjadi sesuatu di pinggiran barat sana?”
“Di sana baik-baik saja, ini masalah pribadi!” Toro menuangkan alkohol ke gelas dan meneguknya, “Oh iya, kasih tahu Lalita, suruh dia siapkan uang untukku. 2 miliar yang kemarin sudah habis.”
“Kak Toro, masalah keuangan diurus oleh ketua aula yang bernama Hartani. Anda seharusnya meminta kepadanya, karena kondisi keuangan kak Lalita juga terbatas!”
“Sudahlah, sudahlah, kamu pergi saja. Aku ingin sendirian!”
“Sendirian?” Budi menggelengkan kepala dan berjalan pergi. Dia mengira Toro sedang memikirkan wanita, wanita mana yang bisa membuat Toro seperti ini.
“Kak Lalita, kak Toro sedang minum di tempatku. Sepertinya dia sedang galau karena seorang wanita. Oh iya, dia juga menyuruhku meminta uang kepada geng. Gimana…oh, oh, aku mengerti. Dia seharusnya tidak pergi secepat itu, tenang saja, aku akan menahannya!”
Toro tentu tidak akan tumbang karena masalah ini, karena dia percaya semuanya tidak boleh dipaksakan. Tetapi dia tetap merasa kesal, karena dia adalah manusia bukan dewa, dia juga punya emosi. Setelah selesai minum, dia ingin kembali ke pinggiran barat dan tidur dengan nyenyak, besok semua akan menjadi lebih baik.
__ADS_1