
Di depan Toro ada Phoenix Hitam, mereka berdiri di lapangan kompleks yang belum selesai dibangun. Mereka bersiap untuk bertarung antar para ahli terkuat.
“Satu jurus?”
“Satu jurus!”
“Sret!” Kedua bayangan terlihat maju ke depan.
Pong!
Diikuti sebuah peluru yang terbang ke arah mereka, mereka berdua langsung mundur. Toro terjatuh ke bawah, dan Phoenix Hitam masih berdiri tegak. Tapi wajahnya terlihat memerah, dia menatap pria yang terjatuh ke bawah dengan kesal.
Toro malah tersenyum dan mencium wangi parfum di tangan kanannya. Iblis sudah berjalan kemari, “Kakak, kenapa kalian berkelahi?”
Toro dibopong oleh Iblis, Toro lalu bertanya, “Bagaimana dengan pekerjaannya?”
Iblis tersenyum dan mengangguk, “Kalau aku maju pasti sudah berhasil. Sekarang tempat disko itu sudah menjadi milik kita!”
“Ayo, pulang dan kasih tahu bagaimana kamu melakukannya!” Kata Toro sambil membawa Iblis ke arah gedung.
“Setan, aku akan membunuhmu.”
“Phoenix Hitam, kita sudah sepakat 1 jurus, kamu tidak boleh melanggar janji!”
Toro duduk di sofa sambil mendengar penjelasan Iblis. Sekarang dia malah terdiam, karena hasilnya tidak sesuai dugaannya. Awalnya dia mengira akan ada pertarungan, tidak disangka Iblis ini malah berbisnis dengan Geng Wustang. Lalu ketika membicarakan tentang 5 USD itu, Toro langsung menepuk kepalanya dengan keras.
“Adikku tersayang, walaupun kamu mau menipu juga harus lebih bisa diandalkan? Dari mana kita mendapatkan barang sebanyak itu?” Tanya Toro sambil memijat kepalanya.
Iblis tersenyum dan berkata, “Sebenarnya aku masih belum memberitahumu 1 hal!”
Sebenarnya situasinya sangat sederhana, Halis sedang dikejar oleh FBI dari negara M. Dia datang ke Israel dan menggunakan uang yang banyak untuk mempekerjakan kelompok tentara bayaran ZO untuk menyembunyikannya. Pekerjaan ini lebih gampang dari membunuh ataupun melindungi, begitulah cara Iblis mengakui raja narkoba yang berumur 50an tahun ini sebagai kakak. Hanya saja barang-barang raja narkoba menjadi tidak bisa dijual, kali ini kedatangan dia juga demi hal ini.
Toro berkata dengan ekspresi seram, “Apalagi yang kamu rahasiakan denganku?”
“Ini adalah hal terakhir, tidak ada lagi!” Kata Iblis sambil memperlihatkan 3 jari.
Toro menghela nafas dan berkata, “Kalau Geng Wustang tidak terima?”
Iblis langsung tersenyum jahat dan berkata, “Kakak, bukannya mereka hanya geng kelas dua? Kalau mereka tidak terima, kita bisa menjualnya sendiri di sini pelan-pelan, hanya masalah perputaran uang yang lambat atau cepat saja.”
“Aku beneran dijebak olehmu!”
“Haha, kita sama-sama menerima keuntungan. Kak Halis tidak akan merugikan kita!”
Toro menggerakkan bahunya dan berkata, “Lagian sudah terjadi, tapi karena sudah memiliki daerah sendiri, malam ini kita harus bersenang-senang. Aku akan traktir kalian makan dan minum.”
“Cari wa……”
“Gendut, diam!”
Dalam waktu 1 pagi hari, kantor pusat Geng Wustang sudah selesai direnovasi, seperti tidak terjadi apapun, semuanya kembali seperti semula pada malam hari.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” Tanya Dito melihat Leo pulang dengan ekspresi kurang ajar.
“Kak Dito, aku berhasil mendapatkan transaksi besar. Ada seorang seorang bocah bernama Iblis, dia adalah adik dari raja narkoba di negara M yang bernama Halis, mereka akan menyediakan narkoba untuk kita, harganya lebih rendah 5 USD dari barang kita sebelumnya. Geng Wustang kita akan semakin besar!” Kata Leo sambil setengah berbaring di sofa, ekspresinya terlihat seperti orang yang sangat berjasa.
“Leo, kita lihat bagaimana bos akan membereskanmu nanti. Kalajengking baru mati, sekarang muncul seorang adik dari raja narkoba yang merebut tempat kita. Setelah menampar kita baru dikasih permen, menjual barang semurah itu kepada kita. Coba kamu pikirkan, apakah kamu tidak merasa hal ini terlalu aneh?” Kata Dito dengan wajah dingin.
“Kak Dito, satu bulan bisa hemat puluhan miliar. Dalam 1 tahun kita bisa mendapatkan berapa keuntungan?” Kata Leo sambil melotot, “Kota Intan selain 3 geng besar, tidak ada kekuatan lain yang berani mengganggu kita lagi. Kalau mereka datang untuk berbisnis, kenapa kita tidak mendapatkan keuntungannya dulu, kalau tidak senang dengan mereka, itu juga masalah sebentar saja!”
Melihat Merak ingin mengatakan sesuatu, Leo langsung menahanya, “Kalian jangan bicara lagi, kalau bos pulang dia tidak akan menyalahkanku, mungkin saja dia juga akan mengangkatku. Kalian tidak ingin naik peringkat, tapi aku masih mau mengambil posisi dia. Kita harus terus melihat ke atas. Sudahlah, aku akan kembali ke aula dulu, kalau bos pulang, aku akan kemari lagi!”
“Sialan, dasar idiot!” Setelah Leo pergi, Dito langsung menghancurkan meja baru dengan tangannya.
“Sudahlah, kamu juga jangan marah. Aku akan memeriksanya, kalau ada masalah aku akan membawa orang untuk membunuh mereka!” Kata Merak sambil menguap, dia berkata, “Beruang Hitam, ayo pulang!”
“Oh!” Beruang Hitam berdiri, Merak langsung loncat ke bahunya dan duduk dengan pelan.
“Aish, kena kepalaku!”
“Pintunya terlalu pendek!” Ekspresi Beruang Hitam menjadi kesal. Dito yang belum sempat menahannya, dia sudah menghancurkannya dan berjalan keluar.
Dito menggelengkan kepala dan menghela nafas, “Ai, orang-orang macam apa!”
Tapi tidak peduli prosesnya seperti apa, Toro akhirnya mendapatkan tempat sendiri. Walaupun tempatnya terbatas, tetapi akhirnya bisa punya sarang sendiri. Sutomo bertanggung jawab mengumpulkan anak buah, Orang-orang melihat Geng Wustang tidak berani menyentuhnya, semuanya langsung mendekatinya. Di dalam tempat disko, Iblis membawa orang-orangnya untuk berjaga.
Toro dan Pisau Tajam terus duduk di kelas dan hidup tenang dengan para perempuan itu. Alura juga seperti biasa, tertidur di kelas.
Ketika Tomi keluar dari rumah sakit, dia dengan cepat keluar dari masa kesedihannya. Sekarang ada Alura yang mendukung mereka, nyalinya juga menjadi besar. Dia bersama Gunawan dan Listo mulai berani menghalangi wanita cantik di tengah jalan dan meminta nomor telepon.
“Kenapa?”
“Apakah kamu bisa main sepakbola?” Tanya Tomi.
“Bisa, tapi mainnya biasa saja!”
Tomi berkata, “Sore nanti ada tanding sepak bola, kelas kita melawan kelas teknik mesin. Beberapa mereka sangat ahli, dengan kemampuan Kak Toro, bagaimana kalau kita kalahkan mereka?”
Toro tersenyum, sepak bola yang dia main berbeda dengan ini. Itu adalah sepakbola pertarungan, terkadang satu bola pun belum masuk, pihak lawan sudah kalah, karena semua pemainnya sudah ditendang keluar lapangan. Memikirkan kenangan waktu itu, dia berkata, “Aku tidak pergi, kamu ajak yang lain saja!”
“Kalau yang lain pergi juga disiksa saja. Sudahlah, aku juga tidak pergi!” Kata Tomi sambil menggoyangkan pantat besarnya ke depan pintu, karena pacar barunya sudah sampai. Muda memang yang terbaik.
“Oi Toro, kamu tidak pergi makan?” Tanya Jenifer mendekatinya.
“Tidak lapar, tunggu sebentar lagi!” Kata Toro sambil menendang Alura untuk bangun, dia menyuruh Alura membawa Pisau Tajam pergi makan. Jenifer lalu duduk di tempat Alura dan berkata, “Kenapa kamu tidak pergi makan dengan yang lain? Aku ingat kamu punya hubungan yang baik dengan semua orang!”
Jenifer terlihat sangat kasihan, “Mereka semuanya punya pacar yang mentraktir mereka makan, tapi aku mungkin sudah dilupakan! Kalau kamu mau, apakah boleh menemaniku makan?”
Toro seketika menjadi bersemangat, dia berkata, “Tentu mau, ada wanita cantik di samping, makanannya juga menjadi lebih lezat!”
“Tidak disangka Toro yang hebat ini memiliki bakat berbicara yang bagus juga!”
Toro berpikir mungkin karena piagam penghargaan yang dia dapatkan terlalu banyak, tetapi dia tetap pergi bersama Jenifer ke kantin. Dulu sebelum dia datang, Jenifer selalu juara satu, sekarang dia menjadi juara dua juga karena Toro.
__ADS_1
Selesai mengambil makanan, dia melihat Jenifer yang makan dengan sangat teliti. Jenifer melihat Toro tidak makan malah melihatnya terus, wajahnya langsung memerah. Dia menunduk dan berkata, “Toro, kamu tidak makan nasi, apakah ingin memakanku?”
Toro batuk sekali dan langsung menggigit togenya, “Toge ini bahkan tidak dicabut akarnya, pantesan orang di kantin hanya sedikit!”
Setelah sejenak, Toro melihat sebuah pemandangan aneh. Dia melihat beberapa anak muda terus menjambak rambut orang yang sedang makan seperti sedang menanyakan sesuatu. Orang yang memimpin mereka itu memakai sebuah kalung, gayanya kurang lebih sama dengan Sutomo, tapi pasti tidak sekaya Sutomo.
“Itu dia!” Kata Toro mengerutkan keningnya. Dia ingat melihat Tomi sedang makan dengan pacarnya tadi, lalu setelah melihat ke arah sana, piringnya sudah dibawa pergi oleh ibu kantin.
Ada yang selalu bilang kalau karma itu harus dikembalikan. Toro sangat setuju dengan ucapan ini. Beberapa orang itu adalah orang-orang di bar Muda mudi dulu, orang yang memimpin mereka bernama Tengkorak. Orang-orang yang berada di dunia preman, jarang ada yang menggunakan nama asli. Tengkorak punya dendam dengan Tomi, dia pasti datang mencarinya. Kalau teman-teman asramanya dipukul lagi, Toro juga merasa tidak enak.
“Toro, kamu belum selesai makan, mau pergi ke mana?”
Toro berkata, “Ada urusan yang harus diselesaikan!”
Dia menelepon Tomi, tetapi malah ditolak. Hal ini membuat Toro kesal, untung dia bertemu dengan seorang wanita jurusan komputer yang menyapanya. Toro lalu menanyakannya, siapa sangka dia beneran tahu, dia bilang Tomi sedang di Bukit Cinta, dia juga baru pulang dari sana bersama pacarnya.
Toro seketika juga bengong. Setelah wanitanya menjelaskan, dia baru tahu Bukit Cinta itu berada di belakang sekolah mereka. Ketika sedang jam istirahat, tempat itu sangat ramai. Setiap pasangan bisa bercium tanpa malu di atas sana, tidak perlu memperdulikan perasaan orang lain. Kalau dilihat sekilas, mencapai ratusan pasangan, ternyata memang Bukit Cinta.
Toro tidak ada waktu untuk melihat yang lain, dia harus menemukan Tomi. Tapi dia malah melihat sepasang pria wanita yang sedang membetulkan celana keluar dari semak-semak. Pantesan ada yang bilang banyak ****** di atas sini, Toro akhirnya mengerti. Ternyata ini adalah pertempuran liar yang melegenda itu!
Tapi ketika dia ingin berjalan masuk, ada beberapa siswa bertubuh tinggi langsung menahannya, “Orang tidak berkepentingan dilarang masuk.”
Siswa yang terlihat dekil dan berlagak seperti organisasi hitam, “Pasangan 100 ribu, lihat-lihat 200 ribu!”
Toro beneran ingin meninju mereka, mereka lebih hitam dari pengelola kota, apakah ini gunung milik keluarga mereka? Tapi demi tidak membuat keributan yang tidak perlu, dia berkata, “Aku tidak melihat-lihat, aku sedang mencari orang, setelah menemukannya aku akan langsung pergi!”
“Yang ada uang silahkan masuk, tidak ada uang silahkan pergi. Peraturan Kak Kadal di sini tidak ada yang boleh melanggarnya!” Orang-orang ini juga sangat keras kepala. Toro juga kesal kenapa di kantongnya tersisa 100 ribu saja. Dia baru ingat ini adalah uang terakhir dari 2 Miliarnya. Belakangan ini dia harus menghabiskan uang di banyak tempat, sepertinya sudah saatnya meminta bantuan kepada Geng Naga Biru.
“Kalian tunggu sebentar!” Toro teringat Jenifer. Siswa-siswa ini tidak layak dihajar, karena menghabiskan waktu saja. Di sini juga sangat ramai, kalau memperlihatkan kebolehan dan diupload ke internet juga tidak baik.
“Apa? Kenapa kamu menyuruh aku ke bukit Cinta?”
“Jangan tanya, nanti aku kasih tahu.”
Karena Toro melihat Tengkorak dan yang lainnya sudah mendekat, salah satu dari mereka membawa wanita di kelas mereka. Ekspresinya terlihat begitu sombong.
Tidak sampai 3 menit, Jenifer sudah sampai di atas dengan wajah memerah. Dia langsung berkata kepada siswa yang menahannya itu, “Sini, buatkan kartu anggota untukku!”
Rahang Toro hampir terjatuh melihat uang 400 ribu ditukar dengan kartu keanggotan untuk 5 kali masuk. Toro juga tidak memperdulikan lagi, dia langsung merangkul pinggang Jenifer dan berjalan masuk. Tiba-tiba sebuah rasa penyesalan yang menyayat hati, Jenifer menggigit bibir bawah seperti sedang menantikan sesuatu.
“Jenifer, sebenarnya ini bukan seperti yang kamu ……”
“Kalian semua pria sama saja, walaupun ini pertama kali aku ke sini, tapi Kadal adalah kakak aku. Aku pernah mendengar cerita tentang di sini!”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan!”
“Aku sudah menyukaimu selama ini, kamu akhirnya bisa proaktif sekali!”
“Baiklah, anggap saja aku tidak bicara!”
__ADS_1