
Tapi sayang sekali, Toro ditolak oleh Gracia, karena terapi kecantikan harus buka baju. Dia terpaksa kembali duduk di luar, wanita-wanita mulai mengerumuninya lagi, menyuruh dia untuk melanjutkan ceritanya.
Kirania berjalan keluar dari ruangannya, dan bertanya kepada Felysia apa yang dilakukan Toro tadi. Setelah memberitahunya, Felysia mengerutkan keningnya dan berbisik, “Kak Kirania, malam ini kamu sudah bertanya 100 kali, apakah kamu jatuh cinta kepada kak Toro?”
Kirania langsung menjentikkan jarinya ke kening Felysia, dia berkata, “Bocah sialan, urus mulutmu itu, tidak ada hal seperti itu!”
Felysia tersenyum manis, “Lihat, wajahmu sudah memerah, kalau bukan jatuh cinta apa lagi?”
“Ngomong lagi, gajimu aku potong bulan ini!” Kata Kirania mengancamnya. Kemudian melanjutkan, “Sudahlah, kamu jangan gosip lagi. Bawakan kopi untukku.”
Masuk ke ruangan Kirania, Felysia meletakkan kopinya di atas meja, lalu berkata, “Kak Kirania, aku tahu kamu menyukai Kak Toro. Kalau kamu tidak mengambil kesempatan ini, pria sehebat dia pasti akan dibawa kabur oleh wanita lain suatu hari.”
Sebenarnya Kirania juga sedikit khawatir, kalau Toro mendapatkan pacar dan tidak menjadi satpam di salon ini lagi, dia tidak berani membayangkannya bagaimana dengan dirinya. Dia tidak pernah berpacaran, dalam waktu beberapa hari ini, dia sudah mulai menerima Toro dan mulai menyukainya. Tapi dia tidak boleh memberitahu orang lain, dengan keras kepala dia berkata, “Bawa kabur ya silahkan, aku tidak peduli!”
Felysia pura-pura menghela nafas, lalu berkata, “Kamu jangan menyesal kalau begitu. Aku merasa kak Toro lumayan baik, kalau ada kesempatan, aku akan menanyakan bagaimana perasaan dia tentang aku!”
__ADS_1
“Aiya, kamu menyebalkan sekali!” Kirania berdiri dan mendorong Felysia keluar, “Cepat kerja sana!”
Ketika sedang asik cerita, ponsel Toro bergetar. Dia sedikit kesal, di kota Intan hanya Kirania dan sedikit orang yang tahu nomor teleponnya. Sekarang orang-orang itu semua berada di salon ini, kalau ada urusan tinggal jalan keluar, kenapa harus telepon?
Setelah melihatnya, ternyata panggilan dari telepon rumah kota Intan. Apakah Lalita yang meneleponnya? Tapi dia juga tidak tahu nomor teleponnya! Toro permisi ke toilet, setelah sampai toilet dia langsung mengangkatnya, “Siapa?”
“Kak Toro, ini aku!” Setelah sejenak, dari ujung telepon terdengar suara wanita. Di benak Toro muncul seorang wanita yang tidak mungkin muncul di kota ini.
Toro sangat kaget, dia berusaha bertanya, “Janice? Kenapa kamu ke sini?”
“Kak Toro, aku sangat rindu padamu, kamu di mana sekarang?” Tanya orang itu dengan nada mengeluh dan juga kasihan.
Tidak bisa dipungkiri, Israel adalah pusat berlian terbaik di dunia. Ayah Janice yang bernama Ken Sanjaya adalah bos berlian di Israel, kekayaannya mencapai puluhan triliun.
“Aku berada di bandara kota Intan!” Kata Janice dengan suara yang gemetar, “Aku ingin bertemu denganmu!”
__ADS_1
Memikirkan seorang nona besar yang manja ini datang jauh-jauh ke sini, dia langsung berkata, “Kamu tunggu di bandara, aku akan pergi ke sana.”
Setelah mematikan ponselnya, Toro berlari ke kantor Kirania. Dia langsung mendorong masuk tanpa mengetuk pintu, dengan wajah tegang berkata, “Kak Kirania, aku mau pinjam mobilnya, aku ada urusan mendadak.”
Kirania pertama kali melihat Toro yang begitu terburu-buru, dia langsung khawatir dan bertanya, “Apa yang terjadi? Perlu bantuan aku?” Sambil berkata, dia melemparkan kunci kepadanya.
“Kita bicarakan nanti!” Kata Toro sambil menerima kuncinya, dia berlari keluar dan tidak menoleh ke belakang.
Dari belakang terdengar suara Kirania yang berkata, “Hati-hati di jalan.”
“Aku tahu!” Kata Toro yang sudah masuk ke mobil dalam waktu kurang dari 10 detik. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam. Menurut apa yang dia ketahui tentang Ken, dia tidak akan pernah membiarkan anaknya keluar sejauh ini untuk mencari Toro. Janice pasti kabur dari rumah dan datang ke sini untuk mencari dirinya sendiri, Bagaimana Janice bisa tahu dirinya kembali ke dalam negeri?!
Setelah mobil terparkir, dia langsung berlari ke arah pintu keluar bandara. Lalu dia melihat sosok wanita yang familiar, dia memakai kacamata yang besar dan ada dua koper di belakangnya.
Badan Janice tidak kalah dari semua wanita yang pernah dilihat oleh Toro. Wajah yang begitu indah, tubuh yang begitu menggoda, kulit putihnya yang sangat mulus, tinggi 175 cm, rambut pendek berwarna biru muda, berlian berkilauan di lehernya, semua ini membuat dia terlihat begitu sempurna.
__ADS_1
Toro menatap Janice yang sudah beberapa bulan tidak bertemu ini, dia dengan senang berkata, “Janice, kamu sebelum datang seharusnya meneleponku atau mengirimkan pesan kepadaku.”
Janice mengangkat kacamata hitam ke kepalanya, dia tiba-tiba berlari dan memeluk Toro, sambil menangis dia berkata, “Kak Toro, ayahku dibunuh oleh para brengsek itu!”