Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Identitas Khusus


__ADS_3

Ketika pulang, mereka menggunakan helikopter Z-8, lebih besar daripada Z-5 yang mereka tumpangi. Mario sedang melihat cek dan uang tunai yang berlumuran darah, dia membanggakan kemenangannya hari ini. Toro dan Abraham juga sedikit bersandar ke belakang, walaupun terluka, tapi sudah mendapatkan perawatan terbaik. Luka yang parah sudah dijahit, tidak perlu berbaring dilayani orang lain.


Seorang dokter dan dua orang perawat terlihat sangat sibuk, karena ada 4 orang pasien yang terluka sangat parah, atau seharusnya dibilang tahanan. Tubuh keempat orang ini penuh dengan darah, mereka kehilangan banyak darah, tetapi tidak ada organ tubuh yang hilang. Toro melihat dokter sedang menjahit lukanya dan orang-orang ini tidak ada yang menggunakan bius. Tapi keringat di kening mereka sudah bercampur dengan darah.


“Teman, kenapa denganmu?” Abraham bertanya melihat Toro tidak berbicara dan terus menatap 4 orang itu.


Toro menggelengkan kepalanya dan menarik kembali pandangannya. Dia berkata, “4 orang ini tidak buruk, jika dilatih dengan baik, pasti akan sangat membantu kalian!”


“Bukan kalian, tapi kita!” Kata Abraham sambil tersenyum, “Aku dengar dari Lalita kamu susah diajak, apakah sampai sekarang kamu tidak bermaksud untuk mengikuti kami?”


Toro berkata, “Aku tidak tahu. Kedua tangannya sudah berlumuran darah dari dulu, tapi aku juga tidak ingin melewati kehidupan yang terus berlumuran darah seperti ini!” Dia menatap ke 4 orang itu dan berkata sambil mengerutkan kening, “Mereka lebih cocok!”


“Aku dengar dari Lalita bahwa kamu menjadi satpam di sebuah salon, kemudian datang ke perusahaan kami setelah kabur dari penjara. Sekarang banyak tentara bayaran yang kembali ke kota, setelah bosan dengan pekerjaan membunuh, mereka ingin hidup dengan tenang. Setiap hari mencari wanita, memberikan pelajaran kepada para preman biasa dan hidup dengan tenang. Tidak, seharusnya dibilang hidup dengan memalukan!”


“Hehe, kamu lumayan mengerti dengan hal seperti ini juga!”


“Semua novel menulis seperti itu.”


Toro menggerakkan bahunya dan berkata, “Seseorang yang pernah memiliki darah mendidih, tubuh yang dipenuhi oleh darah musuh, pasti tidak akan hidup seperti yang kamu katakan. Manusia selalu akan mempunyai impian, ketika aku sudah berada di sebuah puncak, aku ingin melihat ke puncak di tempat lain.”


Abraham memberikan cerutu kepada Toro, dia berkata, “Itulah yang ingin aku katakan, bertarunglah denganku, aku akan memberikan semua yang kamu mau.”


“Kamu bukan dewa, ada beberapa hal yang tidak bisa kamu berikan!” Kata Toro sambil menyalakan rokoknya.


Mario menggaruk kepalanya dan berkata, “Toro, apakah kamu tidak terlalu berpikir berlebihan? Tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi impian aku adalah mengendarai mobil bagus, uang yang tidak ada habisnya, rumah yang mewah, meniduri wanita yang tidak bisa dibayangkan orang biasa. Semua ini bisa diberikan Geng Naga Biru kepadaku!”


“Aku mengerti maksudmu!” Kata Toro sambil tersenyum pahit. Walaupun terluka tadi, dia juga tidak menunjukkan sedikitpun ekspresi seperti sekarang. Dia melanjutkan, “Manusia pasti ingin kembali ke masa tenang, tetapi terkadang juga butuh klimaks. Jadi aku tidak akan masuk ke kehidupan kalian, aku berharap setelah mencapai klimaks, aku bisa tidur tenang, dan bukan terus mengalami klimaks yang tidak ada hentinya.”


Irfan berkata dengan dingin, “Kalau begitu apa maksudmu?”


Toro berkata, “Karena sejak aku kabur dari penjara dan masuk ke lingkungan kalian, aku pasti tidak akan berdiam diri saja. Ketika Geng Naga Biru membutuhkan bantuanku, aku akan mengulurkan tanganku. Tapi pertarungan yang biasa, aku tidak terlalu tertarik!”


“Aku tahu maksudmu, itu juga yang aku pikirkan!” Kata Abraham sambil menatap Toro, dia berkata, “4 orang ini, mulai sekarang akan mengikutimu. Kalau Geng Naga Biru membutuhkan kamu, aku akan mencarimu!”


Yang lain tidak berbicara, mereka mengerti maksudnya. Kemampuan Toro di atas ketua geng mereka, walaupun dikatakan para jagoan bertarung adalah penyerang di depan dan para cendekiawan adalah pelindung di belakang. Tapi sejak dulu tidak ada satupun kaisar yang ingin ketenaran jenderal melebihinya. Kalau melewatinya, maka jenderal itu akan semakin dekat dengan penjara ataupun kematian.

__ADS_1


Toro mana mungkin tidak mengerti tentang ini, dia mengangguk dan setuju. Dia tidak berambisi menjadi kaisar bawah tanah, targetnya sangat jelas, dia hanya ingin klimaks dan juga ketenangan. Kondisi seperti sekarang sepertinya tidak masalah untuknya.


Jam 5 pagi, helikopter berhenti di atap gudang. Toro berpamitan dengan mereka dan kembali ke tempat tinggal Janice. Ke 4 orang itu juga perlu istirahat, belum bisa mengikuti mereka. Abraham mengatakan bahwa setelah mereka sembuh, dia akan menyuruh mereka pergi mencari Toro.


Ketika sampai di rumah sudah jam 7 pagi. Dia pergi mandi terlebih dahulu, setelah mengganti pakaian, dia melihat Janice berjalan keluar sambil mengucek mata. Dia berkata, “Kak Toro, kamu tidak pulang lagi semalaman. Aku tidak akrab dengan kota ini, pasti akan takut!”


Toro melihat Janice memakai pakaian tidur yang menggoda, dia tidak bisa menahan diri dan bereaksi. Tapi suara teriakan Janice membuatnya lemas kembali, “Ah, kak Toro, kenapa dengan luka di wajahmu itu? Ah! Di tanganmu juga ada luka!”


Toro tidak tahu bagaimana menjelaskan perjalanan malam ini. Dia berkata, “Tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir. Hanya bermain tinju dengan teman saja!” Dia menguap sambil berkata, “Hari ini aku capek, jadi tidak perlu kerja. Aku akan menemanimu sehari!”


“Bagus sekali!”


Janice mengoleskan obat ke wajah Toro, Toro juga tidak berani memberitahu dia bahwa punggungnya juga terluka. Dia memaksakan diri berbaring di ranjang dan bertanya, “Janice, sekarang kamu seharusnya tahun kedua di universitas bukan?”


“Iya!”


Toro mengangguk dan berkata, “Walaupun kamu tidak kekurangan uang, tapi kamu juga tidak boleh terus berada di rumah. Beberapa hari ini aku akan mencarikan universitas untukmu. Lebih baik kamu ke kampus dan mencoba bersosialisasi dengan orang lain, biar aku sendiri tidak merasa sedang menyimpan seorang putri di rumah!”


“Kuliah?” Janice berbaring ke bantalnya dan berpikir sejenak, setelah itu berkata, “Boleh juga, kalau begitu kamu pilihkan saja untukku!”


“Baiklah!” Kata Janice sambil pelan-pelan menarik keluar tangannya dari celana Toro.


Dengan bantuan Lalita, ditambah uang bantuan dari wanita kaya itu sebesar 6 Miliar, tidak sampai 3 hari, Janice sudah membawa tasnya dan diantar oleh Toro ke depan Universitas Intan. Mobil Lamborghini hitam tetap menarik perhatian, setelah Toro mengantarnya, Janice malah tidak mau membiarkannya masuk ke dalam, dia bilang dirinya bisa masuk sendiri.


Toro juga tidak khawatir, karena urusan tentang kampus, dia tidak lebih pintar dari Janice. Setelah melambaikan tangan dan berpamitan, dia menelepon Lalita untuk menyuruh dua orang untuk melindunginya. Geng Naga Biru sangat misterius dan tersebar di mana-mana, bahkan di universitas Intan saja mereka punya mata. Jadi dia menyuruh Toro untuk tidak khawatir, dia akan mengaturnya.


Hari pertama kerja hari kedua langsung ijin, sekali ijin langsung 3 hari. Selain Toro, jarang sekali ada yang melakukan seperti itu. Ketika masuk dia langsung bertemu dengan Luna, dia tersenyum dan berkata, “Toro, kamu adalah pekerja kantoran yang paling sombong yang pernah aku temui!”


“Kenapa berbicara seperti itu?” Tanya Toro yang bengong. Dia lalu berkata, “Apakah kamu sedang membicarakan tentang ijin aku? Aku ada urusan di rumah yang harus diselesaikan!”


Ketika bertemu Denisa, dia juga mengatakan hal yang sama. Tapi Denisa melanjutkan, “Wakil ketua bagian sangat tidak suka denganmu, kamu harus hati-hati!”


“Siapa wakil kepala bagian?” Kata Toro yang tidak mengingat orang ini.


Denisa menunjuk ke arah ruangan yang berada di dekat mereka, Toro langsung ingat, orang itu adalah wakil kepala bagian utusan Geng Naga Biru yang tidak melakukan apapun. Beberapa hari yang lalu dirinya masih bertarung dengan ketua Geng Naga Biru, tapi dia tetap berkata, “Terima kasih, aku akan memperhatikannya!”

__ADS_1


Hari yang baru dimulai, siapa yang bisa menyangka orang yang duduk bersama mereka ini, adalah seorang pembunuh yang sangat menyeramkan. Toro melanjutkan mengikuti Denisa untuk belajar operasional kantor, Denisa juga diam-diam memberitahunya, wakil kepala bagian itu sangat genit. Semua wanita di perusahaan ini sangat waspada dengannya, lalu dari awal dia juga berharap ada yang meneruskan pekerjaan Denisa, dengan begitu Denisa bisa diangkat menjadi sekretarisnya.


Toro tentu mengerti maksud Denisa, dia juga tahu Denisa tidak rela dari nada bicaranya. Dia berpikir dalam hati seperti apa wakil kepala bagian ini, jangan sampai dia melakukan sesuatu kepada Denisa. Kalau tidak, dia tidak akan membiarkannya.


“Baiklah, tidak disangka hanya dalam 2 kali perkenalan, kamu sudah mengerti prosedur kerjanya. Kak Toro, kamu beneran sangat hebat!” Denisa tertegun menatap Toro. Waktu dia pertama kali kerja, dia membuat Monica menghabiskan waktu 1 bulan untuknya.


Toro menggerakkan bahunya dan berkata, “Semua karena Denisa yang mengajar dengan baik, makanya aku bisa mengerti begitu cepat!”


Wajah Denisa langsung memerah, dia berkata, “Kalau begitu cepat berterima kasih dengan gurumu ini!”


“Bu Guru Denisa!” Panggil Toro dengan hormat, dia membuat Denisa tertawa. Orang-orang yang di sekitarnya juga ikut tertawa.


Tiba-tiba telepon Toro berbunyi, ketika melihat Kirania, hatinya tiba-tiba merasa tidak enak. Wanita yang seperti ini, biasanya akan selalu merasa angkuh di awal, tiba-tiba ketika kamu mendapatkan rasa tenang darinya, semua berubah seperti kamu sudah melakukan sesuatu dengannya, dan dia akan terus meminta kejelasan kepadamu.


Tapi dia tetap berjalan keluar area kerja dan mengangkat teleponnya. Suara Kirania terdengar tersedak, “Kak Toro, aku sudah mendengar dari Kak Lalita. Terima kasi kamu sudah menyelamatkanku!”


Toro tersenyum pahit, “Nona besar, aku hampir saja dicelakakan olehmu. Kita lihat kamu masih berani pergi ke tempat seperti itu atau tidak!”


“Tidak berani lagi!” Kata Kirania dengan sedih.


“Baiklah, jangan sedih lagi, malah seperti aku sedang merundungmu!” Toro lalu menanyakan kepadanya tentang salonnya yang tutup itu.


Kirania berkata, “Ayahku melarang aku untuk buka, dia bilang akan mengantarku ke Amerika jika aku bertemu denganmu lagi!”


“Kalau begitu pernikahan kamu dengan Byakta……”


“Aku sama sekali tidak setuju, jadi terpaksa ditunda!” Kirania bertanya, “Kapan kamu akan datang melihatku, aku sendiri sangat bosan!”


“Baik, aku akan mencari waktu dan meneleponmu lagi!” Toro teringat Janice tidak berada di rumah, dia hanya pulang kalau hari minggu. Kebetulan dia bisa mencari tempat untuk berbicara, setelah Kirania terus mengingatkannya, dia baru mematikan teleponnya.


Kembali ke ruangannya, dia melihat Denisa sudah tidak ada. Setelah bertanya kepada Jeremi, dia baru tahu wakil kepala bagian yang bernama Anto itu memanggil Denisa ke ruangannya. Akhirnya orang ini muncul, Toro memutuskan untuk diam-diam mendengarnya, dia ingin tahu apa yang terjadi di dalam. Kalau orang itu berani melakukan sesuatu kepada Denisa, dia akan tahu akibatnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2