Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Sudah Saatnya


__ADS_3

Pagi buta, Toro tetap mempertahankan kebiasaan lamanya. Dia berlari di lapangan seperti biasa, siswa-siswa di sekolah teknik ini sangat malas, semuanya masih tidur di atas ranjang mereka. Walaupun jam olahraga pagi, juga tidak melebihi 100 orang. Bisa dilihat siswa-siswi ini bukan penerus bangsa yang baik.


Setelah berlari 10 km, Toro menghapus keringatnya sambil berjalan ke asrama. Dia menelepon Alura, “Gendut, bangun, aku ada urusan denganmu!”


Alura masih terus mengumpulkan anak buah di sekolah, sekarang sudah mencapai 100 orang. Tapi Toro berani jamin, 100 orang ini tidak ada yang bisa menjadi lawan Novianto dan yang lainnya. Kalau orang-orang itu suatu hari dibawa ke Geng Wustang, Toro akan kehilangan banyak teman.


“Urusan apa sepagi ini? Baiklah, tunggu sebentar, aku segera turun!”


Toro mencari tempat yang bersih dan duduk sebentar. Ketika sedang memikirkan bagaimana mendapatkan tempat disko itu, serta bagaimana menghadapi masalah dan operasional ketika mendapatkannya, dia melihat beberapa perempuan berjalan ke arahnya. Tetapi dia juga tidak terganggu, sampai ada seorang perempuan yang memanggilnya, “Pagi, Toro!”


Toro melihat Jenifer yang muncul di depannya, dia memakai pakaian olahraga nike dan rambut ekor kuda. Seluruh tubuhnya memancarkan aura anak muda.


“Pagi. Mau ke mana pagi-pagi? Jangan-jangan tidak pulang semalaman?” Tanya Toro sambil tersenyum.


“Jenifer, sejak kapan kamu mendapatkan Toro tanpa memberitahu kami?” Yang berbicara juga siswa jurusan komputer, hanya saja tampangnya biasa saja.


Jenifer juga santai, dia menggunakan tongkat di tangannya untuk memukul bokong perempuan itu. Dia lalu berkata, “Toro adalah generasi kedua yang kaya, kalau aku bisa mendapatkannya tentu lebih baik!” Sambil berkata, Dia melihat ke arah Toro, “Apa yang kamu lakukan pagi-pagi? Jangan-jangan kamu melakukan sesuatu yang jahat dan baru pulang?”


“Hehe, aku tidak ada semangat sebagus itu, setelah melakukan hal jahat pasti sudah tidur!” Toro memperlihatkan handuk putih di lehernya, dia berkata, “Jelas sekali, aku habis lari pagi!”


“Kenapa kalian membawa tongkat? Jangan-jangan mau berkelahi?”


“Oi, kami anak baik, mana mungkin begitu kejam! Ini tongkat bisbol, apakah kamu tidak bisa melihatnya kami adalah tim bisbol?”


“Ohh!” Toro baru tersadarkan, pikiran dia terlalu jahat. Ketika melihat tongkat di tangan para wanita ini, dia mengira mereka akan pergi berkelahi.


“Toro, kenapa senyumanmu begitu jahat?”


“Ti, tidak ada. Hanya saja cuaca sedang baik, perasaan juga menjadi lebih baik.”


“Ck, siapa yang percaya!”


Ketika sedang berbicara dengan mereka, Toro melihat Alura turun dari asrama. Pinggangnya yang besar itu bergoyang tidak beraturan, sangat kelihatan lari tidak cocok untuknya.


“Halo, para wanita cantik!” Alura menyapa Jenifer mereka.


“Alura, kamu gak takut kecapekan karena gendut apa? Kamu itu mewakili standar kelas kita, beneran sangat sia-sia!” Kata Jenifer bercanda dengannya, tidak disangka Jenifer punya sisi seperti ini.


“Hehe, kalau aku punya tubuh seperti Turman dan wajah seperti Kak Toro. Kalian semua akan terpesona kepadaku!” Kata Alura sambil tersenyum.


“Ckck, di kehidupan kali ini sepertinya tidak mungkin lagi!”

__ADS_1


“Sudahlah, kami mau pergi sarapan, kalian mau ikut?” Kata Toro sambil tersenyum.


“Tidak, kami sedang diet, betul gak teman-teman?”


“Iya!”


Jenifer mau traktir Toro makan, ketiak Toro ingin menolaknya, Alura sudah menyetujuinya. Alura juga menyuruhnya membawa beberapa wanita cantik dan dia yang akan bayar semuanya. Jadi tidak ada urusan dengan Toro, mereka memutuskan begitu saja.


Toro dan Alura datang ke kantin, setelah mengambil makanannya. Toro berkata, “Gendut, menurut kamu, bagaimana dengan aku?”


Alura mengacungkan jempol dengan berkata, “Kak Toro, orang lain tidak tahu kehebatan kamu. Aku Aluran Gendut sudah melihatnya dengan mata sendiri, kamu memang hebat!”


Toro sudah memutuskan, dia lalu berkata, “Gendut, aku sangat menghargai sikapmu. Aku ingin kamu masuk ke dalam geng aku!”


“Kak Toro, aku tidak……geng kamu hanya ada kamu dan Turman berdua, bahkan belum punya nama, biar aku pikir dulu?”


“Gendut, aku jujur kasih tahu kamu, sebenarnya tujuan aku ke sini adalah untuk membuat Geng dan berhadapan dengan Geng Wustang!”


“Aah?” Sup di dalam mulut Alura sudah menetes keluar. Setelah menelan ludah dia berkata, “Kak Toro, kenapa kamu bercanda denganku. Geng Wustang kami adalah geng kelas dua, sejak kapan menyinggung geng Naga Biru, kamu jangan bercanda denganku!”


Toro meletakkan sumpit dan menjepit rokok yang baru dinyalakan. Walaupun di sini tertulis dilarang merokok, banyak orang yang juga tidak peduli, “Gendut, sekarang aku bukan kak Toro, dan kamu bukan Gendut. Aku adalah bos Geng Naga Langit, dan kamu adalah bos Geng Wustang. Aku tanya, apakah kamu ingin bergabung dengan Geng Naga Langit kami?”


Toro tersenyum, dia tidak menyangka Alura yang begitu penakut bisa bersikap seperti ini. Dia lalu berdiri dan berkata, “Apakah aku boleh meminjam ponselmu!”


“Mau apa?” Walaupun Alura bersikap begitu, tetapi dalam hatinya juga takut, dia tetap memberikan ponselnya kepada Toro.


Toro mengambil ponsel dan disimpan ke dalam kantong, dia berkata, “Aku akan menunggumu di luar. Kalau kamu sudah selesai memikirkannya, aku tunggu jawabanmu. Aku juga akan tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.”


Toro berdiri dan keluar dari kantin. Alura melihat sekitarnya dengan bengong, ketika ingin berdiri dan meminjam ponsel orang lain, tidak tahu kenapa dia bahkan tidak punya tenaga untuk bergerak. Dia berdiri di sana seperti tiang kayu selama 5 menit.


Setelah itu, dia baru keluar dari kantin dan melihat Toro sedang bersandar di pohon Paulownia, dia lalu tersenyum dan berkata, “Kak Toro, bolehkah kamu kembalikan ponselnya kepadaku. Kalau tidak aku akan kasih tahu guru!”


Toro mengembalikan ponsel kepada Alura, Alura baru tersenyum dan berkata, “Karena sudah sampai tahap ini, aku juga akan memberitahu yang sebenarnya.” Dia kemudian membersihkan tenggorokannya, seperti akan mengumumkan sebuah hal besar, “Geng Wustang memang menyuruhku datang mencari anak buah di sini, tetapi kak Lalita tidak memberitahumu, sebenarnya aku adalah anggota Aula Desember Geng Naga Biru, aku adalah mata-mata di Geng Wustang!”


Karena takut Toro tidak percaya, Alura langsung berkata, “Kak Toro, kamu boleh menelepon kak Lalita dan memastikannya. Kalau aku bohong, aku akan menjedotkan kepalaku ke pohon di belakangmu!”


“Sialan, Lalita tidak memberitahu aku. Kalau bukan aku peduli denganmu, kamu sudah pasti mati!” Toro memarahinya. Tetapi dia tetap menelepon Lalita, karena tidak peduli alasan apapun, Lalita tidak pernah memberitahunya. Tapi kondisinya memang seperti itu, Alura adalah mata-mata dari Geng Naga Biru.


Kali ini Alura tidak menyembunyikannya lagi, sebenarnya hal ini mempunyai hubungan dengan ketua Geng Naga Biru. Abraham yang menyuruh Lalita mengutus satu orang untuk mengawasi Toro. Dia tahu Novianto dan yang lain pasti tidak akan mendengarkannya, mungkin juga mengkhianatinya. Jadi dia terpaksa mengatur orang lain, Alura adalah pilihan terbaik. Kelihatan Abraham masih tidak tenang dengan Toro.


Toro sedikit kesal, hal ini membuat dia teringat drama di dalam film zaman kekaisaran. Kaisar mengutus jenderalnya untuk pergi berperang, dia juga harus mengutus seorang pengawas jenderal agar jenderal tidak berkhianat. Ketika bertemu Abraham nanti, dia akan membiarkan pelajaran kepada ketua Geng. Terserah dia mau memakainya atau tidak, dia juga bisa mengerjakan hal lain selain ini.

__ADS_1


Setelah berbicara sejenak, dari jauh terdengar suara Turman, “Ei, Kak Toro, Kak Alura, apa yang kalian lakukan pagi-pagi? Kalian sudah makan belum?”


Melihat ada Gunawan dan Listo, Toro juga berkata, “Gendut, mulai sekarang kamu adalah orangku. Tidak peduli Geng Wustang ataupun Geng Naga Biru, kamu harus memberitahuku terlebih dahulu.”


Alura gendut menepuk bahunya dan berkata, “Kak Toro, tenang saja. Aku Alura Gendut mulai sekarang adalah orangmu. Kalau tidak, aku juga tidak mungkin mengatakan sebanyak ini kepadamu.”


“Ei…kalian berdua, ternyata Kak Toro kamu!” Turman seperti mendengarkan sesuatu, dia berjalan kemari sambil menarik kerah bajunya, dia berkata: “Kak Toro, aku tidak tahu kamu adalah……tapi mohon lepaskan aku. Aku sudah punya pacar!”


“Sialan!” Alura langsung menendangnya ke lantai, “Brengsek, apa yang kamu pikirkan!”


Ketika berada di dalam kelas, Alura dengan ajaib tidak tidur. Bahkan gurunya keluar masuk beberapa kali, mengira dirinya salah masuk kelas. Dia ingat di tempat itu ada seorang tukang tidur, kenapa hari ini tidak tidur.


Alura bertanya, “Kak Toro, apa rencana kita kedepannya?”


Toro berkata, “Tempat disko semalam dan juga bar di dekat sekolah kita, aku ingin mengambil salah satunya, kamu punya pendapat lain?”


“Kamu sudah pasti mempertimbangkannya? Jangan menguji aku, aku paling takut menebak pikiran orang lain!”


“Aku juga belum mempertimbangkannya dengan matang, bagaimanapun kekuatan aku masih sedikit kurang, sekarang aku butuh kekuasaan di sini untuk bekerja sama denganku. Karena aku tidak mengenal siapapun di pinggiran barat sini!”


Toro sampai sekarang tidak bergerak, pertama karena ingin mengumpulkan beberapa teman, kedua karena sedang mencari kesempatan. Karena kekuatan organisasi hitam di pinggiran barat terlalu banyak, dia berharap tempat ini bisa menjadi kacau, dengan begitu Novianto dan yang lainnya bisa menggunakan kesempatan ini untuk masuk.


“Kalau tidak, kita coba cari Sutomo? Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, tapi bagaimanapun dia adalah orang Geng Wustang, paling tidak dia akan menghargaiku. Menggunakan geng baru untuk bekerja sama dengannya, kalau keuntungannya sesuai dengannya, dia tidak ada alasan untuk menolaknya!”


“Aku pikirkan lagi!” Kata Toro. Kelas ini berakhir, setelah 10 menit mereka masuk kelas lagi. Satu hari pun terlewatkan. Malam hari Toro membawa memo dari Jenifer dan sampai di restoran yang dijanjikan.


Ternyata, Jenifer tidak mengecewakan, dia membawa beberapa perempuan yang lebih cantik dari perempuan pagi tadi. Mereka sedang menunggu di depan restoran. Ketika melihat Toro, dia langsung melambaikan tangan. Dia berdandan dengan cantik, perfum di tubuhnya begitu menggoda.


Toro membawa Alura dan Turman berdua, dia berkata, “Maaf, aku kira kalian akan telat, jadi kami ngobrol sebentar di asrama dan baru keluar!”


“Pantesan kenapa kalian begitu pelan!”


Setelah masuk ke dalam restoran, Toro dengan sopan menarikkan kursi satu per satu untuk perempuan dan kemudian memesan makanannya. Berbicara dengan para perempuan ini pasti awalnya tentang gosip di sekolah, kemudian diikuti dengan cinta, dan sampai masa depan setelah lulus dari sekolah ini.


Orang mabuk yang bertindak sembarangan, Alura adalah contoh terbaik. Tangannya sudah mulai memegang paha wanita di sampingnya. Turman adalah orang baik-baik, tatapannya tidak pernah melirik ke samping, tetapi dia juga tidak bisa menahan paksaan minum dari kedua perempuan di sampingnya. Setelah sejenak, wajahnya memerah dan lidahnya juga menjadi tegang, pantesan dia tidak mau minum.


Jenifer juga terus bersulang dengan Toro, Toro tentu tidak menolaknya. Tetapi baru beberapa gelas, para wanita sudah mulai menyerah. Kalau Toro membawa Jenifer pergi ke hotel sekarang, Jenifer pasti akan berbaring lemas di dada Toro seperti drama cinta, kemudian di dalam kamar mereka akan melakukannya dengan liar, kalau dipikir-pikir tentu sangat menggairahkan!


 


 

__ADS_1


__ADS_2