Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Teman Tetangga


__ADS_3

Sampai lagi di hari minggu, Toro awalnya ingin membawa Pisau Tajam pulang, karena jika ada orang luar, Janice tidak akan bertingkah aneh. Tetapi bocah ini malah bilang ingin pergi melihat pacarnya, dia juga meminjam 1 juta kepada Toro.


Toro dengan senang memberikannya uang, karena dia kekurangan apapun selain uang. Alura juga sedang sibuk merencanakan strategi untuk Sutomo, yang artinya dia sedang mengawasi Sutomo. Kalau ada sesuatu yang aneh, dia akan langsung membunuh Sutomo.


Toro membawa Lamborghini ke Universitas Intan, tetapi kali ini dia pergi lebih awal. Karena dia bisa pergi mencari Raisa, setelah tahu dia adalah wanita jomblo, Toro lebih tidak takut lagi.


Telepon berbunyi, Janice yang meneleponnya, “Kak Toro, kamu sedang kerja?”


Toro berkata, “Hari ini aku ijin dan pergi menjemputmu. Kamu belajar yang baik, aku juga ingin melihat Universitas Intan, sampai sekarang belum pernah melihatnya.”


“Jadi begini!” Janice berhenti sebentar baru berkata, “Minggu ini aku ingin pergi ke Gunung Harumia dengan teman-teman untuk melihat teh merah, jadi aku tidak bisa menemanimu di rumah.”


“Aku….oh, kalau begitu aku pulang saja. Kamu hati-hati di sana!”


“Aku mengerti, kamu juga hati-hati! Jangan membawa wanita dari luar ke rumah, kalau ketahuan olehku, kamu akan mampus!”


“Iya iya, aku akan menutup telepon, di depan ada polisi!”


Sepertinya dua hari ini akan sangat susah melewatinya, Toro tentu tidak akan menjadi pria baik-baik di dalam rumah. Jadi dia sudah memikirkannya di jalan, setelah membawa pulang mobilnya, dia akan pergi mencari Novianto. Dengar-dengar mereka menyewa sebuah tempat tidak jauh dari sekolah, setiap malam ada kambing bakar dan bir, kebetulan bisa lebih dekat dengan orang-orang dari organisasi Pembunuh Langit.


Mobil masuk ke area kompleks, Toro melihat seorang wanita sedang menarik koper dan berjalan di pinggir jalan. Dari punggungnya kelihatan tubuh wanita yang bagus ini, rambut panjang yang berterbangan, dia pasti seorang wanita cantik. Ketika mobilnya mendekat, dia memperlambat kecepatannya, 90% laki-laki yang bertemu dengan wanita cantik pasti akan melakukannya. Sisa 10% karena ada istri yang sedang duduk di sampingnya.


Setelah melihat wajahnya, ternyata tetangga artisnya. Dia menghentikan mobil dan turun, lalu berkata, “Nikita, perlu bantuan?”


“Apakah kita kenal?” Nikita memikirkannya sejenak, lalu teringat sesuatu, “Aku ingat, kamu adalah tetangga di sampingku, pertama kali datang aku salah masuk!”


“Sini aku bantu!” Toro mengambil koper dan dimasukkan ke dalam bagasinya, kemudian membukakan pintu mobil dan berkata, “Apakah wanita cantik ini berkenan untuk diantar?”


“Hehe……Lamborghini? Baiklah!” Nikita melihat pria di depannya yang terlihat sopan, dan juga kedua matanya yang gelap itu seperti bisa berbicara. Hatinya sama sekali tidak ada penolakan, “Oiya, bagaimana kamu bisa tahu namaku?”


Toro menggerakkan bahunya, “Pertama kali bertemu denganmu, aku merasa familiar. Setelah itu aku melihat drama yang kamu mainkan di tv, jadi……”


“Hehe, begitu ternyata!”


Mobil berhenti di depan rumah, Toro membantunya membawakan koper masuk ke dalam, dia berkata, “Setiap artis bukannya selalu ada manajer? Kenapa dua kali kamu selalu sendiri?”


“Manajerku diatur oleh perusahaan, aku tidak suka diikuti terus tiap hari. Setiap kali pulang, aku lebih suka sendiri, menikmati ketenangan di dalam rumah!”


Toro berjalan masuk, dia melihat interior villa ini kurang lebih sama dengan miliknya. Hanya saja yang paling menarik perhatian adalah sebuah lemari indah yang berisi piala-piala yang berkilauan. Walaupun dia tidak tahu betapa terkenalnya Nikita di Indonesia, tapi paling tidak dia sudah sekelas ratu film.


“Kamu yang masih muda bisa memiliki kesuksesan seperti ini, sepertinya di Indonesia juga tidak banyak!”


Nikita tersenyum dan berkata, “Di umurku yang segini, hanya aku seorang!” Sambil berkata dia sudah menuangkan 2 gelas teh, dia berkata, “Silahkan diminum. Tuan, siapa namamu?”

__ADS_1


“Toro Margens, panggil aku Toro!”


“Kalau begitu kamu juga panggil Nikita saja, kita ada tetangga, mulai sekarang kita harus lebih sering berkomunikasi!”


“Pasti!”


Nikita minum dengan cepat, lalu berkata, “Toro, aku lapar, temenin aku makan!”


Toro lalu berdiri dan berkata, “Bisa menemani wanita cantik makan adalah sebuah kebanggaan!”


“Baiklah, kamu tunggu sebentar!”


Nikita pergi ke dapur. Toro tidak menyangka seorang artis selain bisa bermain drama, dia juga bisa masak. Tetapi ketika melihat ‘masakan’ yang dibuat oleh Nikita, dia langsung terdiam.


“Nikita, ini makanan yang kamu bilang?”


“Kenapa? kamu merendahkan mie instan?”


“Tidak tidak, aku hanya merasa kamu sudah capek seharian, tidak boleh begitu. Kamu harus menjaga tubuhmu, jangan makan ini!”


Nikita menggigit telur rebusnya dan berkata, “Aku tahu maksudmu, tapi aku tidak boleh keluar, kalau kelihatan oleh para penggemar pasti sangat merepotkan. Apalagi kalau kita makan berdua dan ketahuan oleh wartawan, besok pasti akan masuk tajuk utama di koran.”


Ucapan artis memang berbeda! Toro mengoceh dalam hati, dia merebut mie instan dari tangannya dan berkata, “Aku tidak bilang mau membawamu keluar makan, aku bisa masak. Di dalam kulkas ada apa?”


“Rumahku juga tidak ada, aku akan pergi membelinya dulu!” Toro tidak berdaya, berhadapan dengan orang yang tidak bisa mengatur kehidupannya sendiri, dia tentu harus memperlakukannya dengan khusus. Sejujurnya dia ingin mengencani wanita ini, bukan hanya karena dia artis, tetapi karena Toro tidak pernah melepaskan wanita cantik begitu saja.


“Tunggu sebentar, aku pergi denganmu!”


Tunggu sebentarnya itu membuat Toro menunggu setengah jam. Dia melihat Nikita memakai baju olahraga biasa, topi kepala panjang, masker dan kacamata. Dia berkata, “Sudah, ayo kita pergi!”


Di samping villa nya ada sebuah supermarket yang besar, Toro membeli 20 lebih sayur dan membawanya keluar. Nikita yang kaget berkata, “Toro, kenapa kamu membeli sayur sebanyak itu? Kita berdua pasti tidak habis, dimasak juga sia-sia!”


“Aku tidak ingin melihat kulkas yang hanya berisi es krim. Sayur bisa dimasukkan ke dalam dan dimakan minggu depan lagi!”


“Minggu depan aku belum tentu bisa pulang, aku harus mengikuti kru untuk syuting di luar selama setengah bulan! Sepertinya ketika kamu mau pergi, kamu harus membawanya dan menyimpan di rumahmu!”


“Sepertinya memang hanya bisa begitu!”


“Toro, sepertinya kamu memang tidak jahat. Orang yang punya banyak uang aku sudah sering melihatnya, tetapi kamu lebih lucu dan juga bisa masak.”


“Terima kasih pujiannya, aku bukan orang biasa loh.” Toro memarahi dirinya dalam hati, dia sudah mengandalkan wanita selama ini, mana mungkin disebut orang biasa. Tapi seketika dia juga menghibur dirinya lagi, bagaimanapun dia akan menjadi bos sebuah geng, gaji tahunannya pasti lebih besar dari yang lain.


“Apa yang kamu pikirkan? Cepat katakan, kenapa kamu bukan orang biasa!”

__ADS_1


“Kamu akan tahu nanti!”


Mereka berdua berbicara sambil tertawa dan berjalan kembali ke villa. Ketika sampai di depan rumah Nikita, mereka melihat seorang pria dengan jas rapi sedang bersandar di mobil Aston Martin hitam, di tangannya ada sebuah bunga mawar yang besar. Dia langsung senang melihat Nikita yang berjalan kemari, tetapi ketika melihat Toro di sampingnya. Ekspresinya langsung menjadi aneh.


“Jeriko, kenapa kamu bisa ke sini?” Kata Nikita mengerutkan keningnya dan terlihat kesal.


Jeriko terus menatap Toro, dia bertanya kepada Nikita, “Nikita, siapa dia?”


“Apa urusannya denganmu? Kamu bukan siapanya aku!”


Jeriko menggigit bibir dan ekspresinya menjadi sangat kesal. Tapi dia dengan cepat menyembunyikannya, tetapi juga tidak bisa terhindar dari mata Toro. Dia tersenyum dan berkata, “Nikita, aku melihat ke tempat syuting kamu dan baru tahu kamu sudah pulang. Setelah bertanya kepada teman-teman baru tahu kamu pindah ke sini. Aku sudah memesan tempat di Hotel Norton (Hotel Bintang 5 di Kota Intan), kita pergi makan di sana sambil ngobrol.”


“Makanan malam ini lebih menarik dari tempat manapun, siapa yang mau pergi makan denganmu!” Kata Nikita dengan kesal.


Jeriko melihat dua kantong besar di tangan Toro dan berkata, “Ini juga bisa dibilang menarik? Kalau kamu ingin makan masakan rumah, aku akan membawamu ke restoran masakan rumah yang paling bagus di kota ini, koki di sana juga yang paling hebat. Kamu bisa makan apapun, mana mungkin bisa dibandingkan dengan barang-barang dari supermarket!”


Nikita sama sekali tidak peduli, dia berkata, “Jeriko, kamu mengerti tidak? Aku sudah mengatakannya dari awal, aku tidak menyukaimu, walaupun kamu membawa aku ke tempat makan paling enak, aku juga tidak ingin keluar denganmu. Kalau tidak ada urusan lain, silahkan pergi! Oh Iya, mulai sekarang jangan mengganggu aku lagi, kita tidak mungkin bersama!”


“Apa karena orang ini?” Jeriko melihat Toro terlihat sangat biasa, dia berkata, “Sejak kapan kamu menyukai orang seperti ini?”


“Kamu jangan membuat fitnah, ini adalah teman baikku Toro. Kamu jangan menatapnya dengan tatapan seperti itu, juga jangan mencari masalah dengannya, aku tidak suka dengan orang sepertimu. Aku sudah mengatakan sejelas itu, apakah kamu tidak mengerti?”


Toro terdiam, pertama kali dia kembali ke Indonesia, Kirania sudah pernah menggunakan dia sebagai pelindung. Awalnya dia mengira Nikita akan begitu juga, tetapi dia bisa melihatnya, Nikita tidak ingin dirinya menyinggung anak orang kaya ini dan tidak mau menyebabkan masalah untuk Toro. Hal ini membuat kesan baik Nikita di mata Toro semakin meningkat, dia bukanlah nona besar yang manja dan tidak mempedulikan perasaan orang lain.


Jeriko baru percaya dan mengangguk, dia mengeluarkan kartu nama dari dompetnya, dengan sombong berkata, “Aku dan Nikita ada urusan pribadi, karena kamu adalah temannya Nikita, kita juga teman!”


Toro mengerutkan keningnya, melihat kartu nama orang ini, dia sepertinya salah satu presdir di perusahaan. Tapi dia sudah sangat sebal dengan orang ini, dia berkata kepada Nikita, “Nikita, aku masak dulu ke dalam, kamu juga cepat datang bantuin aku, biar kamu bisa melihat kehebatan aku!”


“Baik, Toro, kamu sibuk dulu, aku akan masuk sebentar lagi!”


Melihat Toro masuk ke rumah Nikita, Jeriko meremas kartu nama dengan kuat, dia berkata, “Bukannya dia itu temanmu? Kenapa dia boleh masuk ke dalam rumahmu?”


“Kamu keberatan? Temanku mau memasak di rumahku, apa urusannya denganmu? Kamu gila atau apa? Lebih baik Presdir Jeriko sibuk dengan bisnis anda saja. Lihat artis mana yang mau denganmu, waktuku sangat berharga!”


“Aku……Nikita, jangan lupa film kamu yang terakhir itu aku yang sponsorin. Kamu harus tahu berbalas budi, jangan tidak tahu malu. Kalau kamu mau bersama denganku, aku pasti akan membuat sebuah film yang kamu suka. Coba kamu pikirkan, mengikutiku akan membuatmu berjalan ke dunia internasional!”


“Aku tidak ingin menerimanya, internasional yang kamu kasih juga bukan negaraku, silahkan pergi!” Sambil berkata, Nikita berjalan ke arah pintu, kebetulan Toro juga langsung membuka pintunya, dia terus mengawasinya dari kamera cctv.


“Wanita sialan, kamu hanya seorang wanita jalang. Kamu kira aku mau sama kamu?” Jeriko berjalan ke depan, dia mengangkat tangannya dan ingin menampar Nikita.


“Phak!” Terdengar suara yang keras.


 

__ADS_1


 


__ADS_2