Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Hanya Yang Kuat Yang Bisa Bertahan


__ADS_3

Tidak ada sekolah yang menolak belajar sendiri, hanya ada siswa yang tidak mau belajar sendiri. Toro tentu tidak mempersulit Tomi, dia diam-diam membayarnya. Begitulah rasanya punya banyak uang.


Mereka juga minum lumayan banyak, karena alkohol bisa memperbesar nyali mereka. Jangan lihat mereka berempat yang keras kepala, di dalam hatinya pasti sedikit takut. Bagaimanapun sebagai siswa, mereka pasti akan sedikit khawatir berhadapan dengan orang luar.


Malam jam 9 malam, di depan gerbang sekolah sangat ramai. Tidak peduli para siswa yang berkumpul ataupun para pasangan, semuanya berjalan keluar dari sekolah. Mereka pergi ke surga masing-masing, Toro bisa melihat kepanikan Gunawan dan yang lainnya. Mereka sampai di luar sebuah bar.


Bar ini bernama Bar Muda Mudi, di dalam terparkir banyak mobil jenis SUV yang tidak terlalu mahal. Di depan pintunya berdiri beberapa laki-laki yang sedang merokok, dengan gaya seperti bos. Sepertinya bukan keluar untuk bersenang-senang, di dalam celana olahraga mereka ada senjata, tidak tahu ingin membereskan orang sial mana lagi.


“Elisa sering muncul bersama mereka di sini!” Kata Tomi sambil menunjuk ke pintu masuk bar muda mudi.


“Aku sudah mengikutinya 8 kali, tidak akan salah!” Kata Tomi sambil sendawa. Dia mengeluarkan uang 100.000 dan 50.000 dari kantongnya. Ini adalah uang yang dihemat dari makananya selama setengah bulan, Listo miskin karena dia.


Biaya masuk 1 orang 100.000. Toro tersenyum sembari menggelengkan kepala dan berjalan masuk, dia berkata, “Demi sebuah kartu, bocah ini sudah mengeluarkan semuanya!”


Turman berbisik kepadanya, “Kak Toro, sebenarnya bocah ini tidak mau menyerah, dia hanya ingin datang meminta penjelasan!”


Dekorasi bar ini biasa, tetapi penuh dengan orang-orang. Luas area ini sekitar 200 meter lebih, ada banyak kursi-kursi dek yang disiapkan untuk orang kaya, lalu ada kursi tinggi buat ber 4, di tengah-tengah ada sebuah meja kecil dari marmer. Di tengahnya ada lantai dansa, minuman beralkohol di sini tidak mahal, hanya sekitar 10% dari harga pasaran, jadi termasuk adil di tempat seperti ini.


Lantai dansanya sekarang penuh dengan orang-orang, para laki-laki dan perempuan yang berdansa di sana rata-rata berumur di bawah 25 tahun. Mereka mengeluarkan segala jurus menarinya, ditambah teriakan yang sangat kacau, seperti sedang berada di tingkatan raja dansa.


Sikap anak muda dan bersemangat semuanya diperlihatkan di sini, dibandingkan bar dan klub malam yang pernah didatangi Toro, di sini lebih cocok untuk anak muda zaman sekarang.


Mereka ber 6 duduk di atas kursi tinggi dan menggunakan 2 meja lebih. Toro memesan beberapa bir yang murah dan mulai memperhatikan orang-orang di sini. Ada 6 orang penjaga, 7 pelayan muda dan belasan pelayan lainnya. 6 orang penjaga kelihatan sepertinya pernah mengikuti pelatihan dengan baik. Tangga menuju lantai atas di jaga oleh 2 orang berkacamata hitam, kalau Toro tidak salah, di atas pasti kasion, atau ruangan lainnya yang sedang menjalankan bisnis yang illegal.


Setelah mengamati sekitar 1 botol bir, Toro merasakan keanehan di sini. Selain beberapa laki-laki yang sedikit, semuanya adalah pria di atas umur 30 tahun. Tapi wanitanya rata-rata berumur 20 an tahun, ada juga beberapa yang bahkan memakai seragam sekolah dengan berani. Tapi seragam sekolah yang longgar itu juga tidak bisa menutupi dada mereka yang ingin keluar itu.


Melihat Toro sedang memperhatikan, Alura menyalakan sebatang rokok dan berkata, “Kak Toro, Apakah kamu merasakan ada yang aneh? Hehe……wanita di sini rata-rata adalah siswa dari sekolah kita. Setiap wanita yang cantik, selain sedikit yang datang bersenang-senang, kebanyakan datang untuk mencari pria kaya, semuanya hanya demi uang!”


Gunawan menghentakkan botol birnya ke meja dengan kesal, “Mereka hanya ingin mencari orang kaya untuk memelihara mereka, semuanya adalah wanita jalang!”


Listo bercanda, “Kak Gunawan, kalau ada seorang wanita kaya yang menyukai tubuhmu ini, apakah kamu mau?”

__ADS_1


Gunawan tersenyum dingin dan berkata, “Apakah aku orang seperti itu?” Setelah terdiam sejenak, “Tapi harus lihat tampang wanita kaya itu!”


Umur Toro tidak jauh dari mereka, tapi mungkin karena pengalaman yang dilewati, dia merasa mereka sangat konyol. Ketika ingin menggunakan status kakak untuk mengajari mereka, dia melihat Tomi yang baru kembali setelah berputar, dia duduk di kursi dan meminum alkoholnya dengan kesal.


“Tidak ketemu?” Tanya Toro.


Tomi mengangguk, dia mengerutkan keningnya dengan erat, “Elisa sepertinya hari ini tidak datang!”


Toro melihat jam dan menghiburnya, “Tenang, masih pagi, mungkin sebentar lagi sampai!”


Tomi berusaha tersenyum pahit kepada semua orang, dia berkata, “Bagaimanapun terima kasih teman-teman semua. Kalau hari ini dia tidak muncul, aku harus kembali ke rumah untuk membuat kartu yang baru!”


Toro tentu didatangi banyak perempuan, tetapi malam ini dia tidak bersemangat, mungkin juga karena perempuan di sini tidak menarik perhatiannya. Lagian dia juga harus membantu Tomi nanti, jadi dia terus menghabiskan waktu dengan merokok dan minum alkohol, duduk bosan selama 2 jam. Alura sudah kesenangan dari tadi, dia memeluk dua perempuan di kiri kanan, dan terus bertanya, “Kak Toro, kenapa kamu tidak bermain?”


“Kalian main saja, aku sedikit capek hari ini!” Toro dan Tomi melanjutkan minumnya dan melihat mereka berempat.


Sampai mendekati tengah malam, Alura dan yang lain mungkin juga sudah memastikan mau meniduri perempuan mana, tetapi orang yang ditunggu juga tidak datang. Tomi membuang puntung rokok dan menepuk bahu Toro, dia berkata, “Kak Toro, sepertinya dia tidak akan datang, bocah-bocah ini juga tidak tentu mau pulang. Kita berdua pulang tidur dulu!”


Si pria baik Turman ditanya, langsung bersiap pulang dengan Toro dan Tomi. Mereka bertiga baru keluar dari bar, langsung melihat seorang perempuan muda yang memakai tank top warna perak dan celana rok pendek, dengan rambut bergelombang dan berwarna merah. Riasannya membuat dia terlihat seperti berumur 30 tahun.


“El, Elisa!” Tomi sama sekali tidak percaya wanita yang dia lihat sekarang, adalah pacar yang baru putus dengannya setengah bulan yang lalu.


Elisa juga kaget, setelah tertegun sesaat, dia langsung berlari ke pelukan Tomi dan mulai menangis, “Tomi, aku kira kamu tidak menginginkan aku lagi, aku tidak ingin putus denganmu!”


Turman berbisik di samping Toro, “Kak Toro, itu adalah pacarnya Kak Tomi, Elisa.”


Toro menganguk pelan, tapi dia tidak setuju dengan ucapan Turman. Karena dia melihat 5 orang pria yang berumur 20 an langsung memisahkan mereka berdua, seorang pria yang memakai rantai besar langsung menendang Tomi sampai jatuh, Elisa juga ditarik rambutnya dan meneteskan air mata.


“Bocah, kamu berani sekali, bahkan wanitaku juga berani kamu peluk. Kenapa kamu tidak mencari tahu siapa nama tengkorak ini. Siapa bos mu?” Orang yang memanggil dirinya Tengkorak memiliki tinggi 170 cm, dia sangar kurus dan juga botak. Di tangannya ada pisau lipat serba guna.


“Bosku adalah Alura Gendut, berani merundung wanitaku, aku akan menghajarmu!” Setelah Tomi meneriaki nama Alura Gendut, sepertinya tidak terlalu berguna. Ketika mencoba berdiri, dia sudah ditendang lagi oleh dua orang anak buah Tengkorak.

__ADS_1


“Kak, kak Toro, kita harus bagaimana?” Tanya Turman sambil menelan ludah.


Toro menyalakan rokok dan berkata, “Kita bertiga bukan lawannya, kamu pergi cari si gendut!” Setelah menyuruh Turman pergi, Toro juga tidak bergerak. Dia ingin melihat apakah Tomi memiliki darah panas, ini berhubungan dengan apakah Tomi bisa ikut dia atau tidak.


Sekarang, pisau Tengkorak sudah berada di wajah Tomi, dia berkata, “Siapa kamu, wanita jalang ini adalah milikku. Aku bisa melakukan apapun yang aku suka kepadanya!” Sambil berkata, dia melepaskan rambut di tangannya dan menampar Elisa ke lantai, lalu berteriak, “Cepat berdiri, kalau tidak malam ini aku akan membiarkan teman-teman untuk menidurimu!”


“Bos, anda serius?”


Tengkorak melotot ke arah anak buah yang berbicara itu, kemudian dia mulai tertawa sendiri. Elisa masih menangis, dia berusaha berdiri dan berkata dengan takut, “Kak Tengkorak, mohon lepaskan dia, dia, dia masih seorang siswa, dia adalah pacar yang baru putus denganku.”


“Sialan, sudah putus masih berani bermesraan di depanku!” Tengkorak melotot ke arah Elisa, melihat ekspresinya yang kasihan, dia berkata, “Sudahlah, hari ini perasaanku sedang baik, aku tidak ingin bertengkar dengan siswa sialan ini!”


“Bokongnya gede juga, ternyata barang jelek!” Kata anak buahnya sambil menendang Tomi.


“Pergi pergi pergi!” Tengkorak juga menendangnya, kemudian dia merangkul Elisa dan berjalan ke dalam. Elika mencoba melirik ke arah Tomi, tetapi Tengkorak langsung menarik rambutnya lagi membuat dia kesakitan, “Mau mati kamu?”


“Kak Tengkorak, aku bersalah!” Kata Elisa sambil meminta maaf.


Toro melihat Tomi yang berusaha bangkit kembali, tetapi dia tidak mencoba membantunya. Saat ini Alura dan yang lain berlari keluar, melihat kondisinya, Alura langsung marah, “Sialan, berani mengganggu teman Alura gendut……”


Ketika marah sampai setengah, dia melihat Toro yang berdiri di samping. Dia lalu mendekat dan bertanya dengan bingung, “Kak Toro, apa yang terjadi? Teman kita dihajar seperti itu, kenapa kamu hanya melihatnya saja?”


Toro tersenyum dan berkata, “Walaupun aku tidak lama di organisasi hitam, tapi aku juga tahu hukum yang kuat memangsa yang lemah. Apakah kamu ingin orang biasa menjadi bagian dari organisasi hitam kita?”


Alura menoleh ke belakang, dia melihat Tomi sedang menangis dan bergumam, “Aku akan menghajar mereka, hajar mereka!” Walaupun dia berkata begitu, tetapi faktanya dia hanya menarik bajunya sendiri. Gunawan dan yang lain juga tidak tahu bagaimana membantunya, mereka hanya terdiam di sana.


Toro sudah mengecualikan Tomi, tapi karena sudah berteman beberapa hari, dia mendekat dan berkata, “Kamu harus merebut kembali barangmu sendiri, dan bukan malah menangis dan berbicara seperti itu. Jika memang seperti yang kamu katakana, mungkin sekarang dia tidak berada di pelukan orang lain!”


Termasuk Alura, mereka berlima menatap Toro dengan aneh. Tomi lalu menghapus air mata dan tiba-tiba berdiri, Toro langsung memberikan sisa setengah rokok untuknya, sepertinya Tomi sudah tahu apa yang akan dia lakukan, karena dia menarik nafas dengan dalam dan urat di kepalanya sudah hampir pecah. Kedua matanya terlihat sedikit menakutkan, kalau sekarang dia memegang pisau, dia pasti tidak akan ragu untuk menusuk jantung orang-orang itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2