
Toro menerima sebuah barang kecil. Kebanyakan orang tidak tahu bahwa ini adalah sebuah alat peretas. Kalau dicolok ke komputer, kita bisa masuk ke sistem keamanan negara manapun, kita juga bisa mendapatkan data siapapun. Ketika Toro pergi dari ZO, selain pisau tempur, dia tidak membawa apapun.
Melihat Toro sedang membuka komputer, Iblis tersenyum dan berkata, “Kakak, kamu sedang mencari data siapa, apakah seorang wanita lagi?” Iblis bercanda dengannya sambil minum bir.
Toro masuk ke dalam sistem data Indonesia, dan langsung membuka data tiga geng kelas dua di kota Intan, “Sekarang adalah zaman teknologi, kalau tidak ada informasi yang benar kita tidak boleh maju. Data dari sistem keamanan lengkap juga, selain cara kerja tiga geng ini, ada juga data beberapa orang penting termasuk hobi dan kesukaan mereka.”
“Hehe, Geng Awan Api yang jarang muncul ternyata memiliki hubungan dengan negara Niponia, pantesan mereka begitu diam!”
Iblis melemparkan jaket kulitnya ke sofa dan berkata kepada anak buahnya, “Kalian cari tempat dan main sendiri!”
Dia melihat ke Toro dan berkata, “Negara Niponia sekarang sangat aktif di dunia, aku tahu mereka sudah mulai masuk ke Indonesia, terutama kota ini. Sebenarnya mereka juga sudah menghubungi kelompok tentara bayaran Reynold, jadi Adam menyuruh kita untuk menahan mereka untuk berkembang keluar. Dengan begitu kelompok tentara bayaran ZO juga bisa lebih santai. Kalau sampai tahap yang terpaksa……” Dia membuat gerakan menggorok leher.
“Di sini tidak segampang yang kamu pikirkan, kalau ingin menghabisi sebuah geng kelas dua juga bukan masalah gampang. Indonesia adalah sebuah tempat yang tidak bisa kita prediksi!”
“Kakak, kenapa aku merasa kamu sudah berubah. Membunuh adalah keahlianmu, apakah tempat ini sudah mengubahmu?” Kata Iblis dengan ekspresi kaget. Dia tidak percaya Toro berubah begitu cepat.
“Kakak, senjatanya sudah ditangan, apakah kita simpan di rumah saja?”
“Waktu sudah tepat, malam ini kita bergerak!” Kata Toro sambil tersenyum dingin.
Malam jam 8, Toro memesan sebuah ruangan di restoran mewah. Di dalamnya ada 2 meja besar. Toro, Iblis dan Alura duduk 1 meja, yang lain 1 meja. Iblis sambil minum alkohol XO dia berkata, “Kakak, aku ingin tanya, kenapa mata panda kamu itu begitu hitam. Apakah setiap malam kamu melakukan hal jahat?” Toro tahu ini perhatian dari dalam hati, bukan berpura-pura.
“Semua juga karena demi membuat Geng!” Kata Toro dengan ekspresi jelek. Dia juga bisa membayangkan seberapa tidak berdaya dirinya.
“Kakak, kamu adalah Setan, aku adalah Iblis, kita memang harus melakukan hal jahat. Hehe, kita akan membuat orang-orang di kota ini, bahkan seluruh Indonesia tahu kehebatan kita!”
“Sialan, minum saja alkohol itu!”
Jam 2 pagi.
Toro membawa Iblis dan anak buahnya serta beberapa ahli dari pembunuh langit, mereka membawa AK 47 dan menyelinap masuk ke kantor pusat Geng Wustang. Malam ini sangat dingin, di jalan tidak ada siapapun. Hanya bisa terlihat beberapa anjing dan kucing liar sedang menggali tong sampah untuk mencari makanan.
Toro akhirnya mengerti, terkadang lebih baik bergerak daripada memikirkannya. Sekarang ada waktu yang tepat untuk bergerak, bagaimanapun Geng Wustang adalah halangan bagi mereka. Kalau tidak membereskannya, walaupun mendapatkan tempat, pasti akan direbut balik.
“Teman-teman, usahakan tepat sasaran. Siapapun di dalam langsung ditembak!” Kata Toro kepada 20 an orang di belakangnya, “Jangan ada yang dibiarkan hidup, sebaiknya langsung bunuh bos Geng Wustang!”
Semua orang memberikan gerakan OK. Lalu mulai menutupi wajah dengan kain hitam yang sudah disiapkan sebelumnya. Mereka terlihat seperti perampok yang bersiap untuk merampok dan membunuh semuanya.
Mereka melangkah dengan cepat ke pintu masuk kantor pusat Geng Wustang. Anak buah yang berjaga sudah menyadari kehadiran Toro dan menekan tombol alarm. Terdengar suara alarm yang sangat berisik, Toro langsung menembak 3 kali dengan tepat, sudah ada 3 orang anak buah yang tertidur, percikan darah terlihat begitu menusuk mata.
Tidak menunggu para anak buah mengeluarkan pistol, Iblis sudah tersenyum dengan gigi putihnya. Dia membuka granat dan dilemparkan ke arah orang-orang itu. Lalu terdengar suara “Boom”, orang-orang itu bahkan tidak sempat berteriak dan sudah diledakkan sampai tulang tak bersisa.
Malam yang begitu mengerikan dipenuhi darah-darah segar, Toro memasuki kantor pusat Geng Wustang sambil menginjak tulang-tulang manusia yang berserakan. Lebih dari 20 senjata AK 47 mulai menembak, pemandangan seperti apa itu? Semua kaca di kamar langsung hancur semua, dari dalam terdengar suara makian yang keras, tapi kemudian suaranya juga menghilang. Paling tidak ada 5-6 peluru yang mengenai 1 orang.
__ADS_1
Toro melihat jam tangannya, dia berkata, “Biasanya dalam waktu 6 menit, bantuan mereka akan sampai. Kalian lebih cepat, usahakan semuanya harus mati!”
Iblis memegang AK dan juga pistol emasnya, tidak tahu sudah berapa banyak orang yang mati di tangannya. Ada seseorang yang mengeluarkan kepala untuk melihat kondisi di luar, dia tanpa ragu langsung menembak kepalanya dan membuat orang itu terjatuh dari jendela. Setelah terdengar suara “pong”, iblis tersenyum bangga. Toro memarahi bocah ini dalam hati, kalau bukan dirinya yang mengajari cara menembak, mungkin saja sekarang dia sudah mengemis di belahan negara mana.
Tetapi bisa menembak seperti itu, pasti dilatih dengan ratus ribuan peluru.
Alura mengacungkan jempol dan berkata, “Bos, tembakan anda beneran bukan main.”
“Dor!” Satu peluru menembus dua orang.
Iblis berkata, “Dibandingkan kakak aku, masih jauh. Kamu lihat gak, satu tembakannya seperti sate tusuk. Kamu kira gampang menjadi tentara bayaran?!”
Toro mengacungkan jari tengah ke arahnya, dia belajar dari Alura. Tapi ekspresi Iblis terlihat sangat bangga, walaupun ada kain hitam yang menutupi wajahnya, juga bisa terlihat senyuman dari matanya.
10 detik sebelum 6 menit, seluruh kantor pusat Geng Wustang sudah penuh dengan mayat. Darah segar juga mulai mengaliri seisi ruangan, semua orang hidup dibunuh tanpa sisa. Toro melambaikan tangan dan mengumpulkan semua orang. Lalu mereka meloncat keluar dari pagar listrik yang sudah diputus.
“Bagus!” Toro duduk di mobil sambil memuji dua orang anggota pembunuh langit yang memotong kawat listriknya. Wajahnya tidak pernah sesantai itu, “Bukannya Geng Wustang sangat hebat? Kita lihat bagaimana kalian menebak siapa yang menghancurkan kantor pusat kalian!”
Malam itu seluruh kota Intan terkejut, hari kedua rumor sudah menyebar dengan cepat. Tapi yang membuat Toro murung adalah, mereka tidak membunuh ketua Geng Wustang. Hanya berhasil membasmi salah satu bos yang berada di sana, namanya Kalajengking, tapi juga termasuk memotong salah satu kaki Geng Wustang.
Geng Wustang seketika sangat kacau dan curiga sana sini, mereka terus menggunakan polisi untuk memeriksa kondisi. Sayang mereka bahkan tidak bisa menemukan Toro dan yang lainnya. Bagaimanapun polisi juga hanya berlagak saja. Iblis juga tidak takut membuat kekacauan, dia malah pergi ke depan pintu Geng Wustang untuk melihat keramaian.
Setelah pulang, dia terlihat sangat senang, lalu dia mau menyalakan rokok untuk Toro tetapi ditolak. Dia juga santai dan menghisap sendiri, karena di dalam rokok ada narkoba yang membuat orang bersemangat, “Kakak, kamu juga sudah melihatnya, semuanya segampang itu. Kamu juga bilang geng-geng ini saling menghalangi, sekarang penghalangnya sudah hilang. Kita bisa mencari target selanjutnya!”
“Kalau membuat geng sekarang, sepertinya tidak baik?”
“Hehe, tenang saja. Aku sudah tahu bagaimana melakukannya!”
Di daerah kompleks proyek yang sangat jelek, lantai dua.
Toro tersenyum melihat Sutomo yang sudah baikan, “Mengikutiku adalah pilihan terbaikmu. Selain bisa melindungi nyawamu, kamu juga bisa menggunakan waktu paling cepat dan menjadi bos dengan nama geng sendiri.”
Sutomo mengangguk, “Kak Toro, apa yang perlu aku lakukan? Membangun geng juga bukan hanya ngomong doang, kita perlu modal.”
Toro berkata, “Kamu tidak perlu pikirkan, kamu hanya perlu bilang kamu ingin menjadi bos. Masalah uang akan aku selesaikan. Kamu hanya perlu menjadi bos dengan tenang.”
“Bolehkan aku bertanya sesuatu?”
“Bicaralah!”
“Semalam aku mendapatkan berita bahwa salah satu bos Geng Wustang yang bernama Kalajengking sudah mati. Apakah kalian yang melakukannya?” Sutomo menatap Toro dan berkata, “Kalau mau aku menjadi boneka, paling tidak biarkan aku menjadi boneka yang jelas. Walaupun aku hanya preman kecil, tapi tidak berarti aku bodoh!”
“Hehe, kamu memang tidak bodoh!” Toro tidak merahasiakannya, “Aku yang membunuhnya, tapi apakah kamu punya jalan mundur? Sekarang selain mengikutiku, geng mana lagi yang mau menerima penghianat sepertimu.”
__ADS_1
Melihat Sutomo tidak berbicara, Toro melanjutkan, “Aku kasih kamu waktu 3 menit untuk memikirkannya. Kalau kamu mau, kita akan menjadi teman baik. Kalau kamu tidak mau, aku akan mengantarmu beserta senjatanya ke Geng Wustang. Aku pikir mudah bagi mereka untuk berpikir bahwa kamu menjadi marah dan menghancurkan kantor pusat Geng Wustang. Saat itu kamu mungkin sudah mati. Oh tidak, bukan mungkin tapi sudah pasti!”
“Baiklah!” Setelah 3 menit, Sutomo akhirnya setuju, “Coba ceritakan bagaimana aku harus melakukannya?”
Toro mengangguk dengan puas, “Kamu tahu tempat disko di sekitar sekolah kita?”
“Maksud kamu Banara? Aku tahu!”
“Sangat mudah, bunuh semua orang di sana dan ganti dengan orangmu. Dengan kemampuanmu sekarang pasti tidak susah!”
Sutomo sedikit kesulitan, “Itu adalah tempat penting bagi Geng Wustang untuk transaksi narkoba. Di sana ada 20 lebih penjaga, ada belasan ahli juga. Aku dengar mereka memiliki pistol, apakah kamu menyuruh aku dan temanku untuk mati di sana?”
Toro mendengus dan berkata, “Emang kenapa kalau ada pistol? Kamu hanya perlu mencari suatu malam dan membawa masuk 200 orang anak buah, mereka pasti akan dibunuh. Setelah itu kamu tidak perlu khawatir, aku akan membantunya!”
“Iblis, masuk sini!”
Iblis tetap memakai jaket kulit, dia menatap Toro dan tersenyum, “Kakak, kenapa?”
“Aku dengar kamu bisa menghubungi pemilik barang? Kamu tidak berbohongkan?”
Iblis tersenyum, dia berkata, “Bukannya hanya narkoba saja? Aku pernah menjadi pengawal bos narkoba di Eropa, Amerika, Afrika Selatan dan juga daerah segitiga emas. Kalau perlu barang, aku hanya perlu menghubungi mereka. Dan harganya pasti lebih rendah dari harga pasaran!”
Sutomo melihat Iblis yang begitu percaya diri, dia tidak tahu betapa menakutkan orang ini, “Kalau aku menjadi boneka kalian, apa keuntunganku?”
“Uang. Kalau kamu melakukannya dengan baik, aku jamin kamu bisa mendapatkan 1% dari hasil penjualan. Bukan keuntungan, tapi total omset barang yang dijual. Kamu lebih tahu industri ini daripada aku, kamu pikirkan sendiri!”
Iblis menggaruk kepalanya dan berkata, “Kakak, orang yang aku kenal adalah orang besar, kalau hanya beberapa kg, aku tidak enak membicarakannya!”
Toro tersenyum, “Satu kali masuk langsung 100 bungkus, bagaimana menurutmu?”
“Itu juga tidak seberapa!”
“Bungkus 50 kg!”
“Astaga!” bahkan iblis sendiri tidak percaya dengan angkanya. Dia mulai berhitung dan bergumam sendiri, “Ini adalah transaksi besar, mungkin banyak orang yang akan tertarik!”
“Bagaimana dengan kamu? Apakah perlu aku kasih kalkulator?” Tanya Toro kepada Sutomo.
Sutomo berdiri dan berkata, “Hanya merebut daerah kekuasaan saja kan? Aku juga tidak pernah takut, ayo kita lakukan!”
__ADS_1