
Ketika sampai di atas dinding yang besar itu, di bawah lampu sorot yang tinggi, sebuah lapangan tandus yang sangat besar muncul di hadapan Toro. Ada pagar di kedua sisinya. Di hadapan Toro adalah ruang terbuka yang luas, karena kedalaman dan kedangkalannya tidak sama, Toro merasa itu adalah sebuah parit yang dalam atau mungkin jurang.
Ada beberapa bangunan di lapangan, semuanya adalah rumah dua lantai yang terbuat dari batu. Tempat dibangunnya tidak teratur, seperti bintang-bintang di langit malam. Tapi ada 4 jalan batu yang bisa dilewati oleh trailer. Rumah-rumah itu terbagi menjadi 4 bagian, yang paling menarik bukan hanya itu, melainkan di antara rumah-rumah itu ada dua tempat yang sebesar lapangan basket,
Ada beberapa bangunan di lapangan. Itu adalah rumah dua lantai yang terbuat dari batu. pembagiannya tidak terlalu teratur, seperti bintang di langit malam, tetapi ada empat jalan batu yang bisa melewati lebar semi trailer. Rumah-rumah ini dibagi menjadi empat bagian, bukan ini yang menyilaukan, tetapi api unggun setinggi lima meter yang menyala di tengah dua lapangan basket di tengah rumah-rumah ini, di tengahnya adalah tumpukan api unggun sebesar 5 meter.
Di samping api unggun itu, berdiri 4 kekuatan besar. Setiap kekuatan memiliki 200 lebih orang, mereka memakai baju tahanan berwarna abu tua. Suara teriakan terdengar dari mulut mereka, di depan setiap kekuatan besar berdiri 1 orang, sepertinya itu adalah pemimpin mereka. Tapi karena jaraknya terlalu jauh, Toro tidak bisa melihat dengan jelas.
“Apa yang dilakukan para tahanan itu?” Kata Toro sambil mengerutkan keningnya. Karena selain para tahanan, ada juga banyak tentara yang berdiri tidak jauh dari sana, sekitar kekuatan satu kompi. Tidak termasuk para penjaga penjara yang berada di sekitar mereka.
“Memilih raja penjara!” Kata Jacob dengan tatapan haus pertempuran, dia berkata, “Penjara Golania pernah memiliki 3 Raja penjara, yang ketiga adalah Michael. Mungkin kamu tidak tahu, tapi dia adalah anak dari kepala penjara kuningan, Gustofa!”
Melihat wajah Toro yang bingung, dia tidak lagi melanjutkannya. Mereka menaiki sangkar besi yang satunya lagi, kemudian mereka diturunkan. David memberitahu Toro, pintu besar penjara Golania sejak detik pertama ditutup, hanya pernah dibuka sekali ketika Michael keluar dari penjara, hanya sekali itu saja. Sejak dibangun sampai sekarang hanya sekali itu saja.
Toro dan yang lain berjalan ke arah orang-orang itu, saat ini suara teriakan para pria terdengar sangat keras. Mereka melihat keempat kekuatan besar ini mulai berlari dengan gila ke arah tengah pertempuran. Hanya dalam hitungan detik, pertempuran besar yang tidak bisa terlihat jelas dari luar terjadi.
Setelah mereka mendekat, suara teriakan tentara juga mulai terdengar. Ada seorang tentara tua yang berumur 50 an lebih. Wajahnya masih keriput, tetapi masih penuh dengan aura membunuh yang bersemangat. Dia berkata kepada temannya, “Aku bisa punya kesempatan untuk melihat pertarungan seperti ini, hidupku sudah sangat berarti.”
“Sialan, gunakan tenagamu! Brengsek, kamu kalah lagi. Beneran sangat lemah sekali!” Kata seorang prajurit paruh baya memiliki alis tebal dan hidung bengkok yang khas. Pistol di tangannya bersandar di kakinya, topinya dipakai terbalik, dan tangannya terus-menerus menunjuk sana sini, seperti sedang memainkan sebuah permainan kompetisi.
“Aiya, beneran membuat orang kecewa. Setelah beberapa tahun, masih belum muncul seseorang yang sekuat Michael dalam hatiku!” Orang yang berbicara ini tidak tinggi, tampangnya sangat lembut, rambutnya juga sangat rapi, wajahnya sama sekali tidak ada bulu, dia sedang memeluk lengan seorang tentara dan mengeluh dengan suara centil.
Toro mengerutkan keningnya, karena orang itu ternyata pria. Dia sangat yakin orang itu homoseksual.
David menggunakan bahasanya yang tidak lancar dan berbisik, “Kak setan, beberapa tentara ini pulang ke rumah setahun tidak lebih dari 10 kali. Jadi di dalam penjara Golania, ini adalah satu-satunya kesenangan mereka.”
Jacob menyapa beberapa tentara yang mereka kenal, setelah itu mereka berdiri sejauh 100 meter sambil menontonnya. Saat ini, dia baru melihat ada jaring kawat sebesar ibu jari di tengah-tengah, tingginya sekitar 3 meter. Tetapi dari atas bisa terlihat jelas darah segar yang mengalir mengikuti jaring kawatnya dan menetes ke bawah.
__ADS_1
“Pong!” Seseorang ditabrak oleh mobil dan terbang ke jaring kawat itu. Kekuatan yang besar itu membuat jaring kawatnya juga tidak tahan dan berubah bentuk, orang itu pelan-pelan terjatuh ke bawah. Wajahnya yang menyeramkan itu terlihat berkedut beberapa kali, darah segar mengalir keluar dari ujung mulutnya, tatapannya mulai tidak bisa fokus, tetapi dia masih berusaha untuk berdiri.
Kedua kali masuk ke dalam pertempuran, dalam 10 detik dia terbang keluar lagi. Kali ini dia malah tersenyum, seperti sudah terlepaskan. Toro sudah melihat banyak orang seperti ini, mereka selalu bertempur sampai akhir dan kehilangan nyawanya. Karena bisa mati karena pertarungan, itu adalah sebuah kebanggaan.
Di dalam sana tidak ada orang yang akan memperhatikan kematian seseorang, pertarungan terus berjalan. Hampir 1000 orang bertarung mati-matian di dalam, yang terjatuh berdiri lagi. Semuanya berteriak dengan sangat kesal dan liar, suara tertawa yang sombong dan juga tangisan yang tidak orang perhatikan. Ini seperti neraka, semua orang sedang memainkan lagu perang di dalam neraka.
Di antara ratusan orang itu, Toro juga melihat ada wanita, tapi dia lebih memperhatikan pria. Ada seorang pria dengan tinggi 190 cm, punggung yang begitu angkuh. Dia telanjang kaki dan memakai celana pendek, di badannya ada tato 10 ekor naga biru. Tapi Toro tidak menganggap orang ini adalah preman kelas rendah. Setiap naga biru sudah diberi mata, itu mengartikan dia adalah seorang bos yang memiliki minimal 10 kota di bawahnya.
Melihat Toro terus menatapnya, Irfan tersenyum dan berkata, “Itu adalah ketua Geng Naga Biru kita, Abraham!”
Toro menyipitkan matanya dan terus memerhatikan Abraham. Dia memiliki rambut pendek, berumur sekitar 40 an, kedua tinjunya seperti buldoser, tidak peduli wanita ataupun pria, semuanya diterbangkan olehnya. Tapi orang-orang yang tumbang akan berdiri kembali, kemudian tumbang lagi dan berdiri kembali. Sampai ada yang pingsan ataupun mati.
Tapi, di dalam sini terlalu banyak orang hebat. Bahkan Abraham juga terpukul keluar dan terjatuh ke jaring kawatnya. Dia malah melihat ke arah tempat Toro mereka berdiri, dan berteriak: “Kamu adalah Toro?”
Toro mengangguk, dia memberitahunya untuk hati-hati. Abraham malah tersenyum jahat dan langsung mengarah tinjunya, seketika darah berlumuran keluar, orang yang menonton berteriak kaget.
Dia berlari kencang dan ketika sampai di jaring kawatnya, Toro langsung menggunakan kekuatan kakinya dan meloncat ke udara, setelah berputar beberapa kali dan mendarat, dia sudah berada di dalam jaring kawatnya. Dia mengepalkan tinjunya dengan kuat.
Abraham menggelengkan kepala ke Toro. Mulutnya seperti berbicara tapi tidak ada suara. Dia menunjuk ke arah tempat pertempuran, dan berlari masuk ke dalam. Toro tentu tidak kalah darinya, dia melihat Abraham berkata, “Habisi mereka, kita baru bertarung!”
Di dalam pertarungan, Toro menggerakkan tinjunya dan menghajar orang gendut 150 kg. Orang-orang di sekitar menatap aneh orang yang berpakaian beda ini. Tetapi tatapan mereka tidak berubah, semuanya tetap haus darah. 5 6 orang langsung mengelilinginya, mereka tidak memiliki jurus yang spesial, hanya saja setiap jurusnya langsung menyerang titik vital Toro.
Seorang pria berlengan satu mencoba menggunakan pisau untuk menusuknya, kecepatan orang ini tidak pelan. Ketika Toro berusaha menghindari serangan dari orang lain, punggungnya juga terkena tusukannya. Pisau ini dibuat dari besi baja, walaupun tidak runcing, tapi bergerigi. Untung otot Toro cukup kekar, kalau tidak mungkin nyawanya akan melayang.
Reaksi Toro sangat cepat, dia langsung menangkap pergelangan tangan pria berlengan satu itu. Detik selanjutnya, dia langsung meninju wajahnya dan terdengar suara tulang patah. Pria berlengan satu itu terjatuh ke lantai dan pingsan.
Toro sedikit tidak rela dengan kemeja putihnya, ini adalah baju yang dipakai untuk kerja. Sekarang sudah penuh dengan darahnya, dia menarik kemejanya dan semua kancingnya copot. Dia mengikat bagian lukanya, kemudian mengeluarkan suara raungan yang sangat cocok di sini. Dia mulai mematahkan leher orang satu per satu.
__ADS_1
“Sini sini sini, ayo bertaruh!” Mario duduk ke tanah dan mulai menggambar 5 lingkaran. Dia menuliskan 5 menit, 10 menit, setengah jam, satu jam dan paling terakhir. Dia berteriak, “Ayo taruh uangnya!”
Selain Jacob mereka bertiga, tentara lainnya juga ikut bertaruh. Melihat Toro yang tertusuk ketika masuk, kebanyakan bertaruh di 10 menit. Jacob dan Irfan di setengah jam, David memilih satu jam dan Mario memilih paling terakhir. Sepertinya mereka sangat yakin Toro bisa bertahan lebih dari 5 menit.
Jacob marah, “Kenapa kamu bertaruh sendiri, menang dan kalah kan juga punya kamu?”
Mario tersenyum, “Justru karena kalah dan menang adalah milik aku semua, aku baru berani memilih yang paling terakhir. Kalau berani kamu juga bertaruh!”
Irfan mendengus dingin dan berkata, “Ada orang itu di sana, dia tidak mungkin bertahan sampai akhir!”
David juga ikut berbicara dengan Bahasa yang tidak jelas, “Melihat informasi yang ada, sepertinya dia bisa bertahan lebih dari 1 jam.”
Waktu terus berlalu, tidak ada yang merasa bosan, karena semakin ke belakang, mata setiap orang semakin memerah. 10 menit terlewati, setengah jam terlewati, di dalam lingkaran itu hanya tersisa seratusan orang, dan di lantai penuh dengan orang-orang yang sudah pingsan ataupun meninggal. Banyak orang yang putus lengan atau kaki dan terus mengeluarkan darah.
100an orang ini berdiri membelakangi jaring kawat untuk bernafas. Sambil menunggu kesempatan untuk menyerang target selanjutnya.
Ketika semua orang sedang istirahat, 50 an tentara dengan senjata lengkap membuat pintu jaring kawatnya dan mulai mengeluarkan orang-orang yang tumbang. Mereka langsung dilempar keluar jaring kawat. Mereka bukan datang menyelamatkan, tetapi membersihkan tempat pertempuran dan menyiapkan tempat yang luas untuknya.
Para tahanan yang tidak mengikuti arena pembunuhan ini, mulai memeriksa nadi orang-orang itu. Yang masih hidup dipindahkan ke tempat lain, yang sudah meninggal ke tempat satu lagi. Ada beberapa wanita yang menangis melihat mayat-mayat itu, mereka bukan menangis seperti wanita kota pada umumnya, mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan dan kematian di sini.
Mario menyimpan semua uang tunai dan cek yang bertaruh di setengah jam ke bawah. Kemudian berteriak ke Toro, “Toro, kamu harus semangat, kalau bisa bertahan sampai terakhir, aku akan menjadi pemenang untuk pertama kali!”
“Pergi kamu!” Kata Toro memarahinya dan berusaha mengambil nafas kembali. Walaupun lukanya tidak mempengaruhi kemampuannya, tetapi orang yang tersisa adalah para ahli di antara ahli. Dia bukan hanya harus mengerahkan seluruh tenaga, tapi juga harus mempertaruhkan nyawanya.
__ADS_1