Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Manusia Selalu Berubah


__ADS_3

Setelah dihitung, anak buah geng Naga Langit bertambah hampir 200 orang malam ini. Toro langsung membawa Agnes pulang setelah selesai menyanyikan tiga lagu. Rumahnya tidak jauh dari tempat tinggalnya dulu, tetapi sangat dekat dengan salon kecantikan Kirania, dan sama-sama berada di daerah kompleks elit.


  Toro melihat Agnes memelototinya dan berjalan masuk, saat hendak pergi tiba-tiba dia menerima sebuah telepon dari nomor tak dikenal, “Siapa?”


  “Kamu Toro?” terdengar suara yang tajam dari seberang telepon.


  “Iya, siapa ini?” nomornya adalah nomor kota Intan, tetapi dia harusnya punya nomor sebagian besar orang yang penting. Dia sama sekali tidak tahu siapa orang ini, tetapi ini adalah suara pria.


  “Kamu tidak perlu tahu siapa aku, tetapi aku peringatkan, jauhi Agnes. Kalau tidak, hati-hati dengan kepalamu itu!”


  Saat Toro ingin memarahinya, teleponnya sudah terputus. Telepon tak dikenal ini pasti berhubungan dengan Agnes, tetapi jika orang itu masih bisa begitu sombong setelah tahu namanya, maka dia pasti bukan orang biasa.


  Dia kembali ke rumah dengan mobilnya dan terdiam sepanjang malam.


  Keesokan harinya, Toro bangun pagi-pagi, sambil melatih tubuhnya dia berlari ke arah kampus. Kali ini teleponnya berbunyi lagi, lagi-lagi nomor itu, “Sialan, siapa kamu sebenarnya?”


  “Sialan, kenapa denganmu Toro?” dari seberang telepon terdengar suara Tengkorak. Tetapi suaranya terdengar sangat terburu-buru, “Cepat datang ke marketing gallery, terjadi masalah besar!”


  Tengkorak mematikan teleponnya dengan cepat. Ternyata hp nya yang bermasalah, bukan nomor yang kemarin. Dia memutuskan untuk tidak menjadi mahasiswa brandal dan pergi ke tempat Barbar. Ketika sampai di marketing gallery, dia melihat ada banyak polisi di sini, ada juga beberapa preman, dan Tengkorak berada di antara mereka.


  Toro mendorong kerumunan dan bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?”


  Tengkorak melihat Toro seperti melihat keluarganya, dia menarik Toro ke samping, “Kenapa kamu baru datang sekarang? Kamu tahu apa yang dilakukan Mando?”


  Toro teringat wajah keledai liar Afrika itu, “Apa yang dilakukannya?”


  Tengkorak berkata, “Setelah pembagian kekuasaan, Mando mendapatkan dukungan dari geng Tiga Sakti, semalam dia membawa anak buahnya dan datang mencari bos. Dia ingin menukarkan satu tempat kekuasaan dengan menyerahkan kamu. Bos orangnya sangat setia kawan, walaupun ditukar dengan sepuluh tempat kekuasaanpun, dia juga tidak akan menjual temannya!”


  “Sialan kamu, ceritakan saja intinya!”


  “Maaf. Setelah diskusinya gagal, mereka saling serang. Sekitar 20 an teman-teman kita terluka, dan mati tiga orang. Mando sudah mengancam kita, dia bilang kalau bos tidak menyerahkanmu, dia akan membawa orang untuk membunuh bos dan teman-teman lain.”


  Toro mengangguk, “Gimana maksud bos?”


  “Bos mana ada maksud lain!” Tengkorak sangat kesal, “Entah keuntungan apa yang diberikan Mando kepada geng Tiga Sakti sampai mendapatkan dukungan yang begitu kuat. Ini 200 juta dari bos untukmu, dia menyuruhmu sembunyi dulu!” Tengkorak memberikan sebuah kantong coklat kepada Toro, sambil melihat sekeliling, “Setelah masalah ini reda, aku akan mencarimu lagi!”


  Toro terharu dengan kantong uang itu, dia tersenyum dan berkata, “Bawa aku bertemu dengan bos dulu!”


  “Bodoh, buat apa ketemu dengannya sekarang!” kata Tengkorak dengan panik, “Mando memburumu di seluruh pinggiran barat, kalau kamu ditangkap oleh orangnya, kamu pasti akan mati!”


  Toro mengembalikan uang kepada Tengkorak, “Jangan terlalu tegang, aku tahu harus gimana. Kamu bawa aku ketemu bos dulu!”


  “Aku bener-bener tidak mengerti denganmu!”

__ADS_1


  Tengkorak tidak membawa Toro masuk ke marketing gallery, melainkan masuk ke dalam gang. Setelah belok sana sini, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah. Saat berdiri di luar pagar, dia mendengar makian Barbar, “Kamu jangan tidak tahu malu, jangan gunakan geng Tiga Sakti untuk menakutiku, aku juga punya dukungan geng Awan Api. Yang menang siapa juga belum pasti!”


  “Barbar, kamu ini kayaknya makin tua makin bodoh. Kamu tidak perlu bertarung habis-habisan denganku hanya karena seorang anak buah, bukan? Kalau mati, tidak ada yang akan membereskan mayatmu!”


  Barbar mengoceh lagi, Tengkorak berkata kepada Toro, “Entah mau apa si keledai ini, dulu dia mana berani berlagak sombong dengan bos kita.”


  Keduanya mendengarkan dari luar selama beberapa menit. Setelah sesaat, Mando membawa orangnya yang berjumlah lebih dari 30 an pergi dari sini setelah meninggalkan kata kasar, mereka semua membawa senjata, dan sepertinya siap untuk bertarung kapan saja.


  Setelah mereka menjauh, Toro dan Tengkorak membuka pintu dan berjalan masuk. Ketika melihat Toro, Barbar langsung memelototi Tengkorak, dan memarahinya, “Tengkorak, apa yang kukatakan padamu tadi? Kenapa malah membawanya pulang, hah?”


  Tengkorak menatap Toro dengan kesal. Karena kasihan melihatnya, Toro langsung menjawab Barbar, “Bos, Tengkorak sudah menceritakan semuanya kepadaku, aku sendiri yang ingin pulang!”


  Rambut Barbar sudah sangat kacau, semangatnya juga tidak seperti dulu lagi, “Toro, jujur saja, Mando mendapatkan dukungan dari geng Tiga Sakti dan membuat masalahnya menjadi besar. Aku sudah menelepon Roni dari geng Awan Api, tapi si brengsek itu malah tidak mempedulikanku. Sepertinya mereka bukan hanya ingin menyerangmu, tapi juga aku!”


  Toro menyuruh Barbar duduk, dan bertanya, “Bukannya kemampuan geng Tiga Sakti dan geng Awan Api tidak berbeda jauh, kenapa bisa begini?”


  Barbar menyuruh anak buahnya keluar, setelah sesaat dia berkata, “Pangeran tua dari geng Tiga Sakti awalnya adalah ketua organisasi hitam yang tidak peduli aturan, sebenarnya geng Awan Api juga tidak takut kepadanya. Tetapi kali ini mereka didukung oleh geng Pelindung Naga, dan mereka sudah menandatangani perjanjian tidak saling menyerang. Kalau kita menyinggung geng Pelindung Naga karena hal ini, matipun tidak ada yang peduli dengan kita!”


  Tiga geng besar di kota Intan, adalah sebuah kekuatan yang tidak tergoyahkan di organisasi hitam. Walaupun posisinya tidak boleh diketahui orang lain, tetapi pengaruhnya tetap sangat besar.


  Toro memberikan sebatang rokok kepada Barbar dan Tengkorak, “Apakah aku cuma bisa pergi dari sini?”


  Barbar menghisap rokoknya, lalu mengangguk dengan yakin.


  “Bos, ada yang mau aku tanyakan!”


  “Waktu pertemuan kemarin, bukannya kita sudah masuk geng Awan api? Apa mereka benar- benar tidak peduli sama sekali?”


  Barbar tersenyum dingin, “Bisa saja jika mau perlindungan mereka, tapi kita harus menjadi anak buah mereka. Aku sudah terbiasa bebas, tidak masalah bergabung dengan mereka, tetapi jika menyuruhku menjadi anak buahnya dan mendengar perintah mereka, aku lebih baik pensiun saja!”


  Toro mengangguk, dia pergi dari sini tanpa berbicara lagi. Dia tahu Barbar sangat setia kawan, tetapi pandangannya terlalu pendek. Tidak apa jika hanya sebagai seorang ketua geng, tetapi dia tidak bisa membantu Toro mencapai tujuan untuk mendekati tiga geng kelas menengah itu.


  Manusia memang gampang berubah, dalam pertemuan kemarin, Barbar bilang kalau siapa yang tidak setuju dengan pembagian kekuasaan, dia akan membunuh orangnya. Tetapi sekarang dia berubah pikiran, Toro juga tahu kalau dirinya harus beradaptasi.


  Toro datang ke tempat pemandian kemarin, dia melihat banyak orang yang menatapnya dengan ganas, tentunya juga ada banyak yang tidak mengerti, kenapa dia berani datang sendiri ke sini? Apa dia ingin bunuh diri?


  “Masih berani juga kamu ke sini!” salah satu anak buahnya menghalangi Toro, tetapi dia hanya memeriksanya tanpa bermaksud menyerang.


  “Memangnya kenapa? Aku dengar kak Mando menggunakan satu tempat kekuasaan untuk ditukar denganku, tentu saja aku harus datang melihatnya!” kata Toro dengan tenang. Karena dia bisa datang dan pergi sesukanya, tidak ada yang bisa menghalanginya. Mando bukan siapa-siapa di matanya.


  Orang yang memeriksanya tentu tidak bisa menemukan apapun, pisau tempur berpindah kembali ke kakinya setelah ke sana sini. Anak buah itu membawa Toro ke tempat lain, ketika masuk dia baru tahu kalau ini adalah ruangan kantor Mando.


  “Tunggu dulu di sini!” dua orang anak buah Mando langsung berdiri di depan dan menutupi Toro.

__ADS_1


  Seorang wanita berumur 30 an, dengan pakaian terbuka dan hanya bagian penting yang tertutupi sedang duduk dan bergoyang di badan Mando saat ini. Tubuh mereka saling bergesekan, seperti sedang membantu mengurangi beban listrik di kota Intan.


  Melihat Toro datang, Mando langsung mencubit dada wanita itu dan berkata, “Sayang, kamu tunggu bentar. Aku ada urusan, nanti aku akan mencarimu untuk bertarung 300 ronde.”


  Wanita itu sangat penurut, dia mengambil pakaian dan memakainya. Ketika lewat di samping Toro, dia tidak lupa menggigit bibir dan melemparkan tatapan genit kepada Toro.


  Luka Mando sudah sembuh, yang tersisa hanya satu plester di hidungnya. Dia menatap Toro dan tersenyum dingin, “Bocah sialan, nyalimu besar juga, beraninya datang ke sini sendirian!”


  Toro tersenyum dan duduk di depannya, dia berkata sambil mengeluarkan rokok, “Aku tidak boleh terus bersembunyi karena sudah dicari Kak Mando, jadi aku datang langsung ke sini agar kamu tidak repot-repot mencari!”


  Mando bertepuk tangan, “Bocah, jangan kira kamu sudah hebat karena bisa sedikit bela diri, sehebat apapun kamu, apa kamu bisa melawan 100 anak buahku? Tetapi karena kamu sudah datang, aku juga harus menghormati Barbar. Pilihlah sendiri, mau patah dua lengan atau satu kaki!”


  Toro tertawa, bukannya sama saja ingin membuatnya cacat, lebih baik dia mati saja. Dia berkata, “Kak Mando, kenapa harus sampai berlumuran darah? Mungkin kita masih punya cara lain!”


  “Cara lain?” Mando menggerakkan mouse di mejanya, speakernya mengeluarkan suara film aksi negara Niponia, “Barbar yang mengajarkannya? Dia juga bisa takut?”


  Toro melemparkan kantong uang ke meja, “Ini uang yang dia berikan, dia menyuruhku pergi bersembunyi.”


  Mando sedikit tidak mengerti, dia bertanya dengan wajah kesal, “Apa yang kamu inginkan?”


  “Aku ingin jadi pengikutmu!” Toro membuang puntung rokoknya, dia seperti sedang membicarakan sebuah hal yang sangat normal. Tetapi di mata orang lain, orang normal tidak akan melakukan hal seperti ini.


  “Haha…jadi pengikutku? Cuih, aku tidak salah dengar?” Mando melihat Toro, dia kelihatan sangat tidak normal, jadi dia tertawa seperti sedang menertawakan sesuatu yang sangat lucu. Toro mulai curiga kalau Mando mungkin saja mati karena terus ketawa!


  Setelah sejenak, Mando baru menutup mulutnya yang sudah busuk itu, “Sini sini sini, berikan aku alasan!”


  Toro tersenyum dan berkata, “Burung akan memilih ranting yang kokoh, manusia akan selalu melihat ke atas, siapa yang tidak mau bisa punya satu ketua yang hebat!”


  Mando meraba hidungnya, “Bocah, kamu tidak tahu peraturannya. Sekarang kamu sedang berkhianat, walaupun aku menerimamu, hidupmu juga tidak akan gampang. Orang-orang organisasi hitam akan meludahimu terus sampai kamu mati tenggelam!”


  Toro, “Kemampuan renangku lumayan bagus, kalau Kak Mando mau menerimaku, aku sudah pasti bisa terus berada di organisasi hitam.”


  “Hehe, alasan ini masih tidak cukup!”


  “Siapa yang tidak mau menjadi preman sukses, aku tentunya berharap bisa sukses dengan mengikuti kak Mando!”


  “Aku suka orang tegas. Aku sudah melihat kemampuanmu hari itu, memang tidak buruk. Tikus, tikus, sialan, cepat masuk sini!” teriak Mando sambil menatap keluar.


  Anak buahnya langsung berjalan masuk, “Ada apa bos?”


  “Panggil si Kera ke sini!”


  Toro tidak tahu apa yang akan dilakukan Mando, dia hanya terdiam menatapnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2