
Mereka berbentuk segitiga dan mengelilingi Toro. Toro tentu langsung menyerang yang lemah duluan, yaitu pria yang dadanya terluka. Ketika pria itu berusaha menendangnya, Toro langsung menangkap kakinya dan dilemparkan keluar. Lawannya seperti sebuah roket yang menabrak pintu, pintu anti maling yang sudah bengkok langsung hancur.
Toro berada dalam kondisi menggila, setelah menghindari serangan satu orang, dia langsung meninju kaki lawannya yang juga berusaha menendangnya. Orang itu terbang keluar dan menghantam mobil bekas orang lain.
Sret!
Toro mengeluarkan pisau tempur dari kakinya, kemudian terdengar suara angin terpecah dan terakhir suara “Krak”. Pria yang mengarahkan tinju langsung berdiam di tempat, darah dari lehernya terus muncrat keluar. Tidak menunggu orang itu terjatuh, kepalanya sudah pindah dari tubuh dan bergulir di lantai sejauh 7 8 meter. Kalau anak kecil melihat pemandangan ini, mungkin akan trauma seumur hidup.
Tapi seketika, Toro merasakan ada yang mendekat ke belakang, orang itu langsung mengikatnya dengan kedua tangan dan Toro merasakan dirinya diangkat ke atas. Toro sangat jelas dengan jurus seperti ini, selanjutnya pria ini pasti akan membengkok ke belakang dan menghantamkan Toro ke belakang. Walaupun bisa menghindarinya, tetapi leher juga pasti akan patah.
Ini adalah jurus membunuh yang sangat mematikan. Sering terlihat jurus seperti ini di pertarungan ataupun pergulatan. Tapi begitu berhasil, tulang belakang leher lawan akan patah, dan tidak ada kemungkinan cedera serius, tetapi persyaratan untuk pengguna sangat tinggi, yang membutuhkan fleksibilitas seluruh tubuh dan kekuatan serangan yang sangat kuat. orang ini ingin membunuh Toro.
Ketika merasa dirinya diangkat, Toro langsung merasa sedikit panik, tetapi ketika Phoenix Hitam tiba-tiba muncul di depannya dengan jarak tidak sampai 2 meter. Kepercayaan dirinya kembali lagi, dia langsung menggunakan kedua kaki dan menginjak bahu Phoenix Hitam. Satu kali lompatan dia langsung melewati bahu orang itu.
Bagi orang yang memiliki kemampuan bertarung yang kuat, pasti tidak akan melepaskan kesempatan ini. Toro berputar di udara dan berlutut di atas bahu orang itu. Orang itu langsung berlutut ke bawah, kedua paha Toro menjepit kepalanya dan langsung berputar 360 derajat.
Tidak ada waktu untuk melawan, wajahnya sudah berubah dan matanya keluar 2 cm. Sekarang kepalanya sudah kembali ke posisi awal setelah 1 putaran. Toro loncat ke bawah dan berjalan ke arah pria yang terjatuh di mobil bekas tadi.
Satu kali tinju!
Dua kali tinju!
Tinju berkali-kali!
Pria itu langsung dihajar sampai mati. Tetapi tinjunya juga tidak berhenti, seperti sedang memukul daging busuk, dan sekarang dagingnya juga sudah hancur berantakan.
“Kak, Kak Toro, dia sudah mati!”
Setelah terdengar suara panggilan, Toro baru sadar. Dia melihat Alura yang berbicara dengan wajah pucat. Alura sedang memegang sebuah kepala dengan darah segar, lalu Toro melihat ke arah pria yang dihajar olehnya tadi sudah tidak ada wajah sama sekali. Seperti dipukul dengan palu, bahkan tengkoraknya juga hancur berantakan.
Toro melihat kepalan tinjunya yang sudah penuh luka, bahkan juga sedikit gemetar. Perasaan ini sudah tidak ada semenjak 2-3 tahun ketika dia bergabung dengan kelompok tentara bayaran Zo. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Semua orang terdiam, sampai Toro mengambil nafas dan berkata, “Cari tempat dan kubur 4 orang ini. Lalu bawa Cakar Besi ke Gunung Lestari, harga kuburannya tidak boleh lebih rendah dari 1,2 Miliar.”
“Kenapa diam saja, gak dengar ucapan Kak Toro? Cepat jalanin!”
Kata Phoenix Hitam sambil berjalan ke samping Toro dan menepuk bahunya. Dia berbisik pelan di telinga Toro, “Setan, kamu sudah ada kemajuan, akan semakin sulit membunuhmu!” Selesai berkata, dia mengambil pisau tempur yang terjatuh di bawah dan diletakkan ke tangan Toro yang penuh dengan darah.
Malam setelah kejadian itu, Toro duduk di lantai 1 dengan tangan penuh perban. Alura dan Pisau Tajam kembali ke sekolah, Sutomo tertidur di lantai 2. Novianto, Phoenix Hitam dan yang lain pergi ke unit lain, karena daerah sini hanya ada mereka, ini juga termasuk proyek jelek.
Tidak ada yang menghibur Toro, mungkin ada yang ingin melakukannya tapi sudah ditahan. Serigala yang sedang terluka, lebih suka bersembunyi di pojok dan menjilati lukanya sendiri. Jika ada yang lain mungkin akan menjadi ancaman.
Ketika matahari terbit kembali menyinari dunia ini, Toro menyipitkan mata, dia melihat Alura dan Pisau Tajam membawa sup ayam dan dimsum kemari.
__ADS_1
“Kak Toro, sarapan!” Alura meletakkan makanannya dan mulai makan dengan lahap.
Pisau Tajam naik ke atas untuk menyapa yang lain. Ketika dia turun, Toro masih belum bergerak, dia lalu bertanya, “Kak Toro, kenapa mata panda kamu begitu hitam? Kamu tidak tidur semalam?”
Toro memang tidak tidur semalam, karena dia memikirkan para geng dan orang-orang di pinggiran barat ini, membuat rasa kesal dan sedih bercampur aduk. Apakah dia harus membuat geng di sini dan pergi dari sini setelah semuanya selesainya. Anggap tidak melihat dan tidak mendengar apapun, dan tidak ada yang apapun yang terjadi?
Mungkin orang yang tidak punya kemampuan akan begitu, tapi Toro sudah belasan tahun di dunia seperti ini dan selalu sangat percaya diri. Ini pertama kali dia merasa marah, hal ini membuat dia teringat sebuah novel di luar negeri. Walaupun dia tidak pernah melihat isinya, tetapi nama novel itu sangat berarti, ‘Bagaimana menyelamatkan dirimu, wahai kotaku.’
Pisau Tajam memberikan satu dimsum dan berkata, “Kak Toro, kamu tidak boleh tidak makan. Tidak ada masalah yang tidak bisa dilalui.”
“Betul juga, lagian sekarang kita tidak punya apapun, kita akan membiarkan kota Intan menjadi kacau sekali lagi!” Kata Toro sambil menggigit dimsumnya, dia sudah memutuskannya.
“Bocah, aku kira kamu sudah melupakanku? Kenapa? Ada masalah apa yang membuatmu tidak senang, coba ceritakan biar aku senang!”
Bos dari kelompok tentara bayaran ZO ternyata memiliki sifat seperti ini. Tapi Toro sudah terbiasa, setelah ngobrol sebentar, Toro lalu berkata, “Adam, apakah aku boleh meminjam barang denganmu?”
“Semua teman-teman bawahan sedang sibuk, kamu tidak boleh meminjamnya!”
“Sialan, siapa bilang aku mau pinjam teman-teman. Aku hanya ingin pinjam senjata, setelah selesai, aku akan mengembalikannya!”
Adam terdiam sejenak dan berkata, “Sejak kapan mulutmu jadi lebih jelek dari sifatmu? Coba bilang dulu senjata apa?”
“Kamu bilang dulu pinjam atau tidak!”
“Baik, aku bilang.” Toro tentu ingin memasukkan beberapa senjata, sehebat apapun anggota pembunuh langit, mereka pasti kalah dengan senjata AK. Kalau ingin bertarung dengan para geng itu, paling tidak dia harus memiliki senjata dulu.
Toro tidak menyangka Adam yang begitu pelit akan setuju. Dia berkata, “Iya, 10 senjata laras panjang AK 47, 20 pistol elang pasir, 50 granat, peluru tidak kurang dari 2.000. Iya, iya…kebutuhannya memang tidak banyak, melihat jasa aku yang bisa dibilang setengah ayahmu, aku akan membantumu mengirimkannya!”
“Sekalian dikirim? Bos memang beda!”
“Biaya kirim 2 Miliar, ingat selesai pakai kembalikan kepadaku.”
“Sialan, biaya kirimnya mahal sekali? Uang segitu sudah bisa dipakai untuk beli!”
“Bocah, kamu juga tahu aku harus menghidupi banyak teman-teman. Semuanya juga mau minta uang kepadaku. Kami kira gampang masuk ke Indonesia? Ini sudah harga internal tahu? Tenang saja, tidak akan merugikanmu.”
Sialan. Mana mungkin tidak merugikanku! Toro menyalakan sebatang rokok dan tidak mempedulikannya.
“Sikap keras kepalamu masih belum berubah? Baiklah, 1,6 Miliar, kalau kurang lagi akan aku matikan teleponnya!”
“Sudahlah, jangan diam begitu, 1,2 Miliar. Indonesia begitu damai, kenapa kamu mau memasukkan senjata?”
Toro tersenyum, dia tahu ucapan orang tua ini tidak bisa dipercaya, “Aku bergabung dengan organisasi damai untuk pembangunan masyarakat yang aman, stabil, dan harmonis.”
__ADS_1
“Pergi beberapa bulan, sekarang bahkan tidak bisa berbicara bahasa manusia?”
“Organisasi hitam!”
“Itu bisa bicara! Aku melihatmu dari kecil, kamu semuanya baik, hanya saja suka melakukan kekacauan kemanapun kamu pergi, tidak tahu kapan baru bisa berhenti……kamu masih dengar gak? Sudahlah, kasih tahu alamatnya, aku akan mengaturnya!”
“Baik!” Toro mengambil ponsel dari lantai dan berkata.
Kantor pusat Geng Wustang.
“Kamu bilang 4 teman kamu masih belum kembali sampai sekarang, apakah terjadi sesuatu?” Leo sedang merokok Marlboro sambil menyipitkan matanya, ekspresinya yang mencurigakan itu selalu berakhir dengan kematian seseorang.
Seorang pria memakai baju hitam dengan logo naga. Dia memakai topeng murahan yang terlihat nakal. Tetapi kedua mata di balik topeng itu penuh dengan aura membunuh, “Pasukan Pelindung Kaisar sangat tepat waktu, sampai sekarang mereka belum pulang melapor, itu artinya mereka sudah mati. Kak Leo, kamu mengundang Geng Pelindung Naga datang ke sini, aku pasti akan menyelesaikan masalahnya. Hanya saja orang yang kamu bilang itu, ada bantuan yang lebih kuat.”
“Bantuan? Bocah itu hanyalah preman kecil, mana mungkin mencari bantuan yang lebih kuat. Kalau bawahanmu bilang dia sudah bersembunyi, tangkap saja anak buahnya. Lihat mereka tahu atau tidak, kali ini kamu harus pergi sendiri!”
“Aku sudah menyuruh orang pergi mengerjakannya.” Kata orang yang memakai topeng sambil menjentikkan jarinya, lalu terlihat dua orang berjubah putih membawa dua orang yang sepertinya sudah mati.
“Sudah mati?”
“Tidak, hanya pingsan saja!”
“Geng Pelindung Naga memang sangat hebat, kalau anak buahku bisa seperti kalian, aku sebagai bos juga tidak perlu capek lagi!” Kata Leo menghela nafas. Tetapi dia tidak memperhatikan tatapan jahat dari orang yang memakai topeng itu, dia melambaikan tangan dan berkata, “Bangunkan mereka.”
“Mereka adalah teman paling baik dari orang itu.”
“Baguslah kalau begitu!” Kata Leo sambil menatap dua orang anak buah yang ketakutan itu. Lalu berkata dengan kesal, “Di sini tempat berdiskusi, bawa mereka ke halaman belakang. Kesayanganku akan melayani mereka dengan baik!”
Halaman belakang Geng Wustang, terdengar suara gonggongan anjing yang sangat keras. Lalu ketika melihat belasan ekor anjing Mastiff Tibet yang sebesar ukuran manusia, kedua anak buah itu sudah kencing di celana. Mereka bahkan tidak bisa mengucapkan kata, “Kalian siapa”, “Lepaskan aku”, “Aku akan membunuhmu”. Mereka merasakan ketakutan yang sangat dalam.
“Kamu yang pelihara?” Tanya orang yang memakai topeng itu.
“Gimana? Gagah bukan?”
“Lumayan, hanya saja luka di tubuh mereka terlalu banyak. Mastiff Tibet tidak boleh dipelihara bersama, akan menghilangkan keangkuhan mereka. Oh iya, Geng Pelindung Naga punya beberapa ekor singa, kita coba lawan nanti!”
“Hehe!” Leo menerima piring yang diberikan anak buahnya, lalu melemparkan satu daging ke dalam. Seketika dagingnya menghilang dan tersisa suara anjing yang sedang berebut makanan. Mereka bahkan saling menggigit karena satu daging, pantesan tubuh anjingnya penuh dengan luka.
“Kalian bawa……”Leo menatap dua orang anak buah itu dan menunjuk asal-asalan, “Dia saja. Siapa suruh dia lebih ganteng dari yang satunya lagi!”
“Jangan, jangan, ah……”
__ADS_1