
Sampai di rumah sakit, Toro melihat Tomi sudah tidak apa-apa, Alura Gendut juga memanggil anak buah untuk berjaga di sini. Dia tentu harus kembali ke asrama, karena sampai sekarang, Gunawan dan yang lain tidak bisa dihubungi. Tidak tahu mereka bersembunyi di mana, satu-satunya tempat untuk mereka berkumpul adalah sekolah, kalau tidak ada, harus tunggu dihubungi oleh mereka nanti.
Ketika masuk ke asrama, di dalamnya sangat sunyi. Alura juga malas membuka lampunya dan langsung ingin tidur. Tapi ketika maju selangkah, dia langsung terjatuh karena tersandung sesuatu. Toro membuka lampu ketika masuk.
Ketika lampu terbuka, mereka langsung menarik nafas dingin. Asrama yang bersih tidak sampai berapa hari ini, sudah menjadi berantakan. Kotak di bawah ranjang sudah terbuka, di dalamnya banyak barang-barang yang terjatuh di bawah. Alura menelan ludah dan berkata, “Kak Toro, asrama kita dirampok?”
Sambil berkata, dia berjalan ke kasurnya. Ternyata uang saku dan jam tangan belasan jutanya juga menghilang. Dia langsung marah dengan kencang, “Brengsek mana yang berani mencuri barang aku!”
Dari lorong terdengar suara makiannya yang keras, Alura menggulung lengan bajunya dan ingin pergi mencari pencurinya. Tetapi Toro menahannya dan menunjuk memo di atas meja itu, “Mereka ada kembali!”
“Kak Alura, kami bertiga kabur dulu. Uang kamu dan jam tangannya kami pinjam dulu. Kalau bisa bertemu lagi, kami akan membayarnya berkali lipat. Oiya, kaos kaki kak Toro yang belum dipakai itu juga kami pinjam, terima kasih!”
Alura terdiam, lalu berkata, “Kak Toro, bukannya hanya menusuk orang, hanya hal kecil saja kenapa harus begitu?”
“Mereka masih kecil, jadi bisa dimaklumi. Aiya, sayangnya aku sudah tertarik dengan Turman, tidak disangka dia kabur begitu cepat!” Kata Toro tidak berdaya.
“Malam hari tidak keluar dari gerbang tapi malah manjat dinding, kalian gak takut jatuh dan mati!?” Dari luar terdengar suara makian pria, lalu Toro dan Alura melihat Gunawan bertiga didorong masuk, dua orang satpam sekolah terus memukul bokong mereka dengan tongkat.
“Kakak-kakak, mohon ampuni mereka!” Ketika dua orang pengawal itu ingin berbicara, Toro sudah memberikan uang ke tangan mereka, dia berkata, “Kalian juga capek, beli rokok dulu!”
Pong!
Tongkatnya sekali lagi mengenai bokong Listo, satu satpam berkata, “Semuanya siswa di sini, tapi kenapa perbedaannya begitu jauh? Belajar yang baik dengan siswa ini, lihat apa lagi kalian, cepat naik ke atas ranjang dan tidur!”
Ketika Toro mengantar pergi kedua satpam, dia melihat Alura sedang memakai jam tangannya dan masih mengeluh, “Pencuri dalam rumah susah diwaspadai, padahal aku menganggap kalian teman, kalian malah berani mencuri barangku!”
“Gendut, brengsek kamu, cukup!” Toro melihat 3 orang itu sedang dipaksa handstand oleh Alura. Setelah itu, Gunawan bertiga terjatuh lemas di lantai, seluruh badannya terus gemetar.
Alura mengaruk kepalanya dan berkata, “Kak Toro, aku hanya bercanda dengan mereka, kamu jangan begitu seram.”
“Aku sudah membunuh orang, aku sudah membunuh orang!” Turman terus bergumam. Dia menarik celana Alura dan berkata, “Kak Alura, aku harus bagaimana, apakah aku harus menyerahkan diri ke kantor polisi?”
“Lihat tampangmu itu!”
Alura menendang Turman dan ingin memberitahu Tengkorak tidak mati, tapi Toro menahannya. Dia tersenyum dan bertanya, “Turman, kalau aku bisa membereskan hal ini untukmu, apakah kamu mau mengikutiku mulai sekarang?”
__ADS_1
“Kak Toro, kamu……”
“Gendut, diam kamu!”
Turman menatap Toro dengan tidak percaya, “Kak Toro, apakah kamu bisa menyelesaikanya?” Ketika melihat Toro mengangguk dengan pasti, dia berkata, “Kak Toro, selama tidak perlu di penjara, aku akan mendengarkan semua perkataanmu!”
“Sekarang kamu berdiri!” Kata Toro melihat ekspresi Turman yang begitu suram. Dia langsung menamparnya dan berteriak, “Sialan, cepat berdiri. Kalau cuma segini, gimana mau ikut aku!”
Selain Alura, mereka bertiga langsung bengong. Mereka tidak pernah melihat sisi Toro yang ini. Di mata mereka, Toro adalah seorang murid yang kaya, biasanya selalu bersikap baik kepada mereka. Tapi ketika sedang membantu Tomi tadi, dia malah tidak turun tangan. Jadi mereka mengira Toro tidak cukup setia kawan, tidak berdarah panas, tapi sekarang……
Turman akhirnya berdiri, dia menatap Toro dengan tatapan ketakutan, “Kak, Kak Toro, aku sudah berdiri!”
“Sudahlah, sudah malam juga, cepat pergi tidur!” Kata Toro sambil berjalan keluar dari asrama. Dia pergi ke toilet dan merokok, kemudian menelepon Novianto untuk menyuruh mereka kemari. Tapi Novianto bilang mau memberikan kejutan kepada Toro, tetapi ketika mau ke sini, mereka membutuhkan bus yang besar, mereka bertanya apakah Toro bisa mengaturkan untuk mereka. Walaupun tidak tahu apa yang mereka pikirkan, tapi dia tetap menyetujuinya. Setelah selesai telepon, dia langsung mengirimkan pesan ke Lalita, dia pasti bisa menyelesaikan hal seperti ini.
Ketika Toro berbaring, Turman tetap bertanya dengan tidak tenang, ketika Toro berjanji sekali lagi, dia langsung tertidur tidak sampai 5 menit. Di dalam mimpinya dia masih terus berteriak, “Jangan menangkapku, aku akan menyerahkan diri.”
“Kak Toro, kamu beneran menginginkannya?” Tanya Alura.
Toro melihat langit malam di luar jendela dan berkata, “Di kondisi yang begitu kacau, bocah ini bisa mengambil pisau dari lawannya dan menusuknya tanpa ragu, hal ini bagi seorang siswa sangatlah tidak gampang. Kecerdikan dan kekuatannya membuat aku tertarik, kalau dilatih pasti bisa berhasil. Kenapa? Kamu tidak rela?”
Keesokan harinya hari jumat, sekolah berjalan seperti biasa. Siswa yang bolos tidak berada di kelas, yang tidur masih belum bangun. Guru yang tidak semangat berusaha mengajari anak-anak mud aini.
Sampai sore hari, seluruh sekolah langsung menjadi heboh, karena sebentar lagi hari minggu. Bagi siswa yang jarang belajarpun adalah hal yang menyenangkan. Jenifer berjalan ke belakang dan berkata, “Toro, aku punya 2 tiket film yang baru tayang, apakah kamu ada waktu?”
Alura melirik ke dua tiket di tangan Jenifer, dia berkata, “Sialan, semuanya hanya drama cinta palsu, kenapa harus menontonnya!”
Toro langsung memendam kepala Alura ke meja. Dia tersenyum dan berkata, “Maaf, hari ini aku harus pulang, lain kali boleh?”
“Ooh, begitu ya!” Kata Jenifer yang cemberut karena tidak senang. Kalau pria lain melihat ekspresi dia yang kasihan ini pasti akan setuju. Tapi melihat Toro tetap tersenyum, Jenifer menghentakkan kaki dan berjalan pergi.
“Kak Toro, aku melihat Jenifer mengajakmu, kenapa kamu tidak pergi?” Kata Turman yang sudah sedikit berubah, mungkin karena tidak ada polisi yang datang mencarinya, nyalinya juga besar kembali. Siswa memang adalah makhluk yang aneh, benih dan darah muda organisasi hitam masa depan, adalah mereka!
Toro tersenyum, “Di rumah masih ada seorang adik, aku ingin menemaninya akhir pekan ini.”
__ADS_1
“Kak Toro, adikmu umur berapa? Cantik tidak?”
“Kamu bicara lagi, aku akan merobek mulutmu!” Kata Toro langsung mencubit Alura sampai berteriak sakit, teriakannya menarik perhatian semua orang.
“Orang tuamu mana?” Tanya Turman.
“Sudah tidak ada!” Toro menatapnya dan bertanya, “Kenapa? Kamu mau ikut aku pulang?”
“Kak Toro memang hebat, aku memang bermaksud begitu!” Kata Turman sambil tersenyum.
Saat ini, telepon Toro berbunyi, dia langsung menjawabnya, “Janice, kenapa?”
Janice berkata, “Kak Toro, malam ini kamu jemput lebih telat saja jemputnya. Aku ingin pergi karoeke dengan teman dulu?”
“Baik! Jam 7 aku jemput!” Toro merasa lega, karena dia bisa telat 2 jam untuk pulang ke rumah dan mengambil mobil. Dia tidak membiarkan Janice tahu bahwa dia bersekolah, takut ditertawakan. Dia juga takut Janice akan pindah sekolah, seorang siswa dari universitas Intan pindah ke sekolah Teknik, hal ini pasti akan menjadi berita!
Toro tidak ikut kelas terakhir, dia membawa Turman naik bus kembali ke kota. Sepanjang jalan, Turman terus mengatakan mobil ini berharga berapa ratus juga, mobil itu berapa miliar. Toro sedikit menyesal membawanya keluar, kalau bocah ini melihat Lamborghini milik dia, pasti akan sangat terkejut.
Dan setelah 2 jam, ketika Toro membuka Lamborghininya, wajah Turman langsung menjadi sangat menarik. Rahangnya terbuka lebar seperti mau copot, sampai Toro membunyikan klakson, baru dia sadar dan duduk di samping Toro dengan gemetar. Dia mulai melihat sana sini, “Kak Toro, kamu beneran generasi kedua yang kaya!”
Toro tersenyum dan berkata, “Aku bukan generasi kedua yang kaya, kakek aku iya!”
“Sialan!” Turman beneran terdiam.
Sebuah mobil Lamborghini hitam yang menarik perhatian terparkir di depan Universitas Intan. Sekarang jam 6 sore, masih ada 1 jam. Toro mengajak Turman pergi makan sate dulu. Mungkin Turman tidak tahu identitas Toro, tetapi demi menghindari penjara dia setuju menjadi anak buahnya. Tapi ketika melihat mobil ini, dia memutuskan untuk setia, tidak ada yang lebih senang dibandingkan ketemu bos yang kaya seperti ini.
“Kak Toro, kalau aku menjadi anak buahmu, apa yang harus aku lakukan?” Walaupun tidak mengerti, tetapi dia masih tahu sedikit, “Apakah kita harus merebuh daerah kekuasaan seperti di dalam film?”
Toro mengangguk, dia berkata, “Merebut daerah kekuasaan pasti harus dilakukan, tapi bukan saatnya. Sekarang hanya kita berdua, kamu juga harus dilatih, jadi mungkin harus menunggu beberapa hari lagi!”
“Dua? Dua orang?” Turman menatap Toro dengan aneh, tiba-tiba dia teringat, “Kak Alura, bukannya dia bersama dengan kita?”
Tiba-tiba, ekspresi Toro menjadi sangat serius. Dia berkata, “Turman, aku kasih tahu. Walaupun Alura memanggilku Kak Toro, tetapi pada akhirnya dia bukan orang kita. Ada beberapa hal yang perlu aku jelaskan pelan-pelan. Aku percaya kamu adalah orang pintar, mulai sekarang kamu harus hati-hati dalam bergerak, mengerti?”
Turman seperti mengerti sesuatu, tapi juga tidak mengerti sepenuhnya. Dia hanya mengangguk dan berkata, “Kak Toro, namaku terlalu biasa, tidak ada rasa kejam sama sekali. Sepertinya orang-orang di organisasi selalu memiliki julukan. Aku sudah mendapatkan julukan sendiri, panggil aku si Pisau Tajam!”
__ADS_1
Mungkin sekarang Toro merasa dia masih kekanak-kanakan, tapi nama pisau tajam ini memang adalah seorang siswa yang terlihat tidak menakutkan dan sangat lemah, kedepannya nama ini akan menghebohkan kota Intan dan juga mendapatkan kekuasaan yang besar untuk Toro. Dia akan menjadi tangan kanan Toro, sahabat seumur hidup.
“Wanita, wanita cantik!” Turman, eh bukan. Air liur si pisau tajam sudah menetes ke lantai. Toro mengerutkan keningnya dan menatap ke arah sana. Ternyata memang wanita cantik semua, dari 4 orang itu ada Janice di antara mereka. Tapi Toro juga melihat seorang wanita yang familiar, bukankah terlalu kebetulan? Kenapa wanita ini bisa bersama dengan Janice?