
Di sebuah pagi yang indah, Toro sedang merokok di luar kelas. Dia mendengar beberapa siswa sedang berbicara, “Apakah kamu sudah mendengarnya? Indra dari sekolah kita sudah mati kemarin. Aku dengar kepalanya hancur berantakan seperti ditimpa barang berat.”
“Astaga, beneran ini? Indra takut Sutomo datang mencari masalah, dia selalu membawa belasan anak buah di sampingnya!”
“Emang kenapa dengan belasan anak buah itu? Semuanya juga sudah mati, dan mereka mati dengan mengenaskan. Aku dengar sampai ibu kandung mereka tidak bisa mengenali yang mana anaknya. Sekarang total ada 13 mayat di dalam kantor polisi, dan dua orang sisanya menjadi orang gila karena saking takutnya!”
“Astaga, kamu jangan membohongi kamu. Di belakang Indra ada Geng Tiga Sakit, kenapa dia bisa mati mengenaskan?”
“Siapa yang membohongimu, sepertinya Geng Tiga Sakti juga tidak peduli, mereka sudah mulai mencari anak baru. Kakak kami ingin mendapatkan posisinya, dia memberikan 200 ribu kepadaku dan menyuruhku datang malam nanti!”
“Hah, kalau beneran mulai bertarung, kamu mungkin akan kencing di celana.”
“Sialan kamu, kamu yang kencing di celana!”
Toro tersenyum dingin, dia mendengar dari Novianto kali ini Tinju Besi yang berangkat ke sana. Bocah itu kejam juga, kenapa tidak dibunuh dan malah harus menghajarnya sampai ibu kandung pun tidak bisa mengenali anaknya. Tapi dipikir-pikir memang seperti itu, orang yang besar dari tempat seperti itu, pasti sangat aneh semuanya!
Sambil berpikir, dia mengirimkan pesan kepada Novianto. Dia menanyakan apa yang terjadi, pembunuh organisasi hitam itu bukan maniak pembunuh, kenapa harus begitu kejam? Walaupun Toro tidak menolaknya, tetapi dia juga harus mengetahui kondisi anak buahnya.
Setelah 3 menit kemudian, Novianto membalas pesannya, isi pesan adalah Darah Merah suka membunuh dengan cara melepaskan tangan dan kaki, dan hanya menyisakan kepala dan badan, membuat orang mati dalam ketakutan. Si Buas membunuh orang dengan melipatnya menjadi 3 bagian, untuk membuktikan kekuatannya. Tinju Besi dan Macan Hitam kurang lebih sama, mereka sudah menghancurkan kepala orang. Yang membedakannya adalah Tinju Besi menggunakan tinjunya untuk menghancurkan kepala orang, dan Macan Hitam menggunakan kakinya.
Gorilla Merah suka melempar orang sampai mati. Kalau yang lain lebih suka menggunakan senjata, senjata yang bisa mematikan dalam sekali serang.
Toro membuang puntung rokok dan mencuci tangannya. Dia kembali ke kelas dan duduk kembali di tempatnya, tiba-tiba dari luar masuk 3-4 orang anak muda, salah satunya bertanya, “Siapa yang bernama Kak Alura?”
Tidak perlu dipikir lagi, mereka pasti orangnya Sutomo. 200 juta itu memang sangat menggoda, dia tidak berani menelannya tanpa bekerja sama sekali. Alura bangun dari tidurnya dan berkata, “Aku!”
Jam 11.45, Toro yang duduk di kantin sudah setengah kenyang, dia melihat Alura membawa makanan sambil tersenyum ke arahnya, “Kak Toro, aku sudah mengerjakannya dengan baik. Dia setuju membantu kita, jadi dia menyuruhku untuk bertanya bagaimana dia harus membantu kita?”
Toro bertanya, “Sekarang dia punya berapa orang?”
Alura makan sesendok nasi dan berkata dengan tidak jelas, “Yang berani bertarung ada 200 orang, ditambah orang-orang luar mungkin sekitar 400 orang!”
“Oh!” Toro mengangguk dan berkata, “Orang luar tidak usah dihitung. 200 orang terlalu sedikit, suruh dia cari lagi orang yang tidak sayang nyawa, minimal harus 500 orang. Dengan ketakutan yang kita berikan, dia pasti akan mendengarkannya. Tetapi uang juga tidak boleh kita kurangi. Kamu bawa 200 juta lagi untuknya.”
“Kak Toro, kamu masih ada berapa banyak uang? Bagi aku sedikit boleh? Belakangan ini pengeluaranku melebihi batas!”
“Kalau kamu kurang, minta ke Geng Wustang saja. Aku juga terbatas, beberapa hari sekolah sudah menghabiskan 600 juta!”
“Kak Toro, kamu jangan begitu pelit!”
“Boleh juga, kita keluar ke pohon di depan kantin sana, aku akan memberikanmu di sana!”
“Kalau, kalau begitu sudahlah!” Alura memegang sakunya dan mengeluarkan beberapa uang sisa di sakunya, “Aiya, sisa segini, bagaimana aku bisa hidup seterusnya!”
“Kak Alura, belakangan ini susah mendapatkan anak buah. Pertarungan dengan Indra kemarin ada 2 orang anak buahku yang meninggal, aku harus memberikan uang santunan. Lalu ada belasan anak buah yang berada di rumah sakit, aku harus membayar biaya rumah sakit. Setelah dipilih-pilih, aku hanya tersisa 100 orang yang berani bertarung. Kamu mau 500 orang? Minimal? Kamu bunuh saja aku!” Kata Sutomo sambil menggelengkan kepalanya.
Alura menepuk bahunya dan berkata, “Sutomo, kamu juga bukan pertama kali. Anak buahmu mengikuti kamu karena punya nama, kedua karena bisa mendapatkan uang dan bisa meniduri wanita. Sekarang gaji bulanan anak buah kamu berapa?”
__ADS_1
“1,2 juta!”
“Sialan, bukannya 1 juta?”
“Sudah naik harga, semua harga barang pokok juga naik, sekarang 1 juta gak ada yang peduli!”
“Semalam bukannya aku sudah memberikan 200 juta, kenapa kamu tidak bisa mengumpulkan anak buah dengan uang itu, apakah kamu ingin mengambil uangnya dan pura-pura tidak tahu?”
“Kak Alura jangan marah dulu, kita tidak boleh berkata begitu! Aku kasih tahu, uang santunan kepada anak buah 20 juta per orang, biaya rumah sakit juga harus 100 juta, sisa 60 juta aku gunakan untuk menyerang Indra kemarin. Siapa sangka bocah itu tidak pergi, aku menggunakannya untuk menghibur teman-teman, Aku beneran miskin sekarang!”
Sutomo juga tidak bodoh, dalam 2 tahun dia tidak bisa membunuh Indra. Tetapi Alura hanya menggunakan 1 kata dan sudah membereskannya, kekuatan yang begitu menyeramkan. Jadi dia tidak ingin menyinggung orang seperti ini.
Alura mengeluarkan cek dengan kesal berkata, “Sialan, aku kira bisa menghemat beberapa puluh juta, ternyata kamu memakan uang. Tapi kalau kamu berani macam-macam dengan uang ini, hati-hati kepalamu!”
“Baiklah, Kak Alura tenang saja, dengan uang ini pasti tidak masalah!”
Melihat Alura pergi dengan kesal, Sutomo langsung menyimpan ceknya dengan cepat. Dia mengoceh, “Dasar orang bodoh, uangmu banyak juga. Kamu ingin 500 orang, aku akan mengumpulkan 500 orang. Apapun yang terjadi, mereka juga anak buah aku.”
Dia berjalan ke depan anak buahnya dan melemparkan kalung emasnya, dia berkata, “Sialan, setiap hari memakai kalung emas ini membuat leherku sakit, tidak gampang berlagak hebat di dunia ini! Ayo, kita pergi makan dulu.”
Toro sedang berjalan di area sekolah, tiba-tiba dua orang siswa menahannya, “Teman, aku melihat tubuhmu bagus, apakah kamu ingin mendapatkan uang tambahan?”
Kemudian dia mengeluarkan uang merah 12 lembar dan berkata, “Ikut kak Sutomo, kalian dijamin mendapatkan uang bulanan dan keuanganmu juga akan semakin bertambah.”
“Teman gendut yang satu ini, kamu ingin kaya tidak?”
Alura mendorong anak buah itu dan berkata, “Sudah, kasih tahu Sutomo, kak Alura cukup puas dengan penampilannya, dilanjutkan lagi!”
Alura berkata, “Kak Toro, Sutomo sepertinya cukup hebat, apakah perlu kita bawa ke geng kita?”
Toro berpikir sebentar dan berkata, “Preman yang menyukai uang tidak cocok dengan tim kita. Oiya, kita juga harus hati-hati, aku takut bocah ini tidak terkontrol dan menyerang kita kembali!”
Alura mengangguk dan berkata, “Sepertinya bocah ini tidak terlalu bisa diandalkan!”
“Ei, gendut kamu ternyata mengerti juga!”
“Tentu saja!” Alura teringat sesuatu dan berkata, “Kak Toro, kita keluar cari tempat tinggal lain. Di sini sudah tidak cocok untuk kita.”
Phak!
Bahu Alura ditepuk dan membuatnya kaget. Ketika melihat Pisau Tajam, dia langsung menendangnya, walaupun tidak kena dia tetap memarahinya ,”Pisau Tajam, sialan kamu emang hantu ya? Kenapa tidak ada suaranya ketika jalan, mau menakuti aku?”
Mata Pisau Tajam yang tampan terlihat penuh kemesraan dan berkata, “Kalian berdua mau tinggal di luar, apakah kita masih teman baik?”
“Ayo, sepertinya kita tidak bisa menutupinya lagi. Sini pisau kecil, kita main-main sebentar!”
“Sialan, beneran lagi!” Kata Pisau Tajam sambil menjambak rambut sendiri dengan wajah sedih.
__ADS_1
“Sudahlah, jangan mengacau lagi. Aku setuju tinggal di luar, kamu yang atur!” Toro beneran tidak berdaya dengan mereka berdua.
Dulu tidak takut preman mengelak, tetapi takut preman berbudaya. Sekarang gantian takut preman yang punya uang, karena siapa yang punya uang siapalah bosnya. Sutomo dalam 3 hari menambah kecepatannya dan menembus 600 orang. Tentu hal ini membuat kekuatan lain di dalam sekolah bengong, terutama Geng Timur Laut, Geng Barat Laut dan Geng Harimau Perang, mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan Sutomo. Apakah dia ingin mempersatukan sekolah teknik bintang cemerlang?
Walaupun terlihat ceroboh, tetapi cara kerja Alura membuat Toro tenang. Hari kedua setelah dia mengatakannya, dia sudah menemukan satu tempat tinggal. Total 2 lantai dengan luas 700 meter persegi, ada halaman kecil dengan harga 10 juta perbulan. Harga sewa yang sangat adil.
Tapi seiring bertumbuhnya jumlah orang, Toro mulai merasa tidak tenang. Karena di sekolah yang kacau ini, banyak geng besar yang akan tahu hal ini. Terutama bos dari Sutomo ataupun Alura akan mulai melirik hal ini.
Hanya saja, urusannya menjadi lebih ribet dari pemikiran Toro.
Kantor pusat Geng Pelindung Naga, bertempat di daerah kota utara.
Nama Naga Hitam adalah Alfredi, umurnya sekitar 23-24 tahun, memiliki wajah tampan, tetapi rambutnya setengah merah dan setengah hijau. Kalau di orang lain, pasti terlihat norak, tetapi di dia malah terlihat berkelas. Dia sedang duduk di sofa dan mendengarkan laporan dari anak buahnya.
“Alfredi, kamu sibuk lagi dengan urusan sekolahmu itu? Paman kasih 1000 orang, kamu tidak perlu mengajari mereka lagi, terlalu ribet!” Kata seorang pria berumur 30an tahun dengan jas rapi sambil tersenyum.
“Aku tidak ingin mengandalkan kalian. Aku sendiri bisa. Paman Erlangga, kamu keluar dengan ayahku lagi?”
“Kami akan makan bersama Abraham, bocah itu masih tahu moral di dunia ini!” Pria paruh baya yang berbicara itu menerima pistol dari bawahannya dan disimpan ke pinggangnya, “Gimana? Tertarik untuk melihat dunia yang lebih besar denganku?”
“Aku tidak ingin pergi, masih ada beberapa urusan yang harus dikerjakan!” Melihat dua orang itu berjalan keluar, Naga Hitam meraba gelang giok di tangannya yang berharga mahal itu dan berkata, “Kamu bilang anak buah Geng Wustang sedang mengumpulkan anak buah secara masif? Apakah kamu sudah mengetahui maksud mereka?”
“Kak Naga Hitam, masih belum jelas, mereka belum bergerak. Aku hanya tahu Sutomo mendapatkan uang dari luar, jadi sekarang sedang mengumpulkan bawahan. Dia pasti memiliki rencana lain!”
Naga Hitam tersenyum jahat dan berkata, “Seorang bocah ingusan, membiarkannya juga tidak akan menjadi apa-apa. Tapi kamu harus periksa lebih dalam, dari mana dia mendapatkan uang itu. Apakah di belakangnya ada kekuatan baru yang sedang bergerak!”
“Aku mengerti!”
Penampilanmu tidak buruk, 100 juta ini kamu ambil. Tapi jangan sampai ketahuan, kamu akan tahu akibatnya!”
“Kak, Kak Naga Hitam, aku mengerti!”
Kantor Pusat Geng Wustang.
“Bos, apakah bawahanku Sutomo sudah keterlaluan? Indra dari Geng Tiga Sakti meninggal, dia langsung mulai merasa sombong, apakah perlu aku menyuruhnya untuk menahan diri?” Yang berbicara adalah bosnya Sutomo, julukannya Nasuto, bos kelas tengah di Geng Wustang.
Orang yang dipanggil bos oleh Nasuto, adalah salah satu dari 5 kakak besar di Geng Wustang, orang-orang memanggilnya Kak Leo. Orang ini bukan termasuk yang kekar, tetapi otot di seluruh tubuhnya terasa lancar. Luar dan dalam tangannya penuh dengan bekas luka, sepertinya ahli dalam bertarung dan juga senjata.
“Nasuto, kamu sudah begitu lama di dunia ini, apakah perlu aku ingatkan lagi? Kamu tidak perlu urusin hal kecil seperti ini, serahkan kepada bawahanmu saja. Semakin besar dia semakin berguna untuk kita. Apakah kamu tidak tahu anak buah Yakub juga mengumpulkan orang ke sekolah itu? Kalau dia bisa menyelesaikannya lebih awal untuk kita, kita bisa mendapatkan keuntungan ketika Geng Naga Biru sedang bertarung dengan Geng Pelindung Naga! ”
“Oh, saya mengerti!”
Kak Leo ini tiba-tiba teringat sesuatu, “Oiya, dia berhubungan dengan pengeluaran narkoba kita di sekitar sekolah. Jangan sampai terjadi kesalahan di sana. Kalau menyadari dia berani berkhianat, langsung bunuh saja!”
“Aku akan menyuruh orang mengawasinya, kak Leo, kalau tidak ada urusan lain, aku…...”
“Pergilah!”
__ADS_1