
Toro melihat Macan Hitam menggendong Sutomo di punggung dan penuh dengan darah. Sutomo terlihat setengah mati, dia terus mengeluarkan kata-kata “Tolong aku tolong aku”.
“Apa yang terjadi?” Tanya Toro.
Alura merebut teh Novianto dan meminumnya, “Tidak tahu siapa mereka, ketika bertemu mereka langsung menembak dalam kondisi pagi hari. Kalau bukan aku larinya cepat, mungkin kami bertiga pergi untuk membawa mayatnya.”
Sutomo terbaring di lantai dan terus berteriak sakit. Karena sudah ada dua orang yang menahan tangannya, Darah Merah menggunting bajunya dan menggunakan alkohol untuk membersihkan darah. Kemudian dia menggunakan pisau bedah untuk membuka luka dan mengeluarkan pelurunya. Sutomo yang kesakitan sudah hampir pingsan.
Phoenix Hitam sudah menyuruh orang lain untuk membersihkan bekas darah di luar, sebisa mungkin tidak meninggalkan bekas apapun. Toro sangat tenang karena ada Phoenix Hitam. Melihat peluru sudah dikeluarkan, kemudian dioleskan obat dan dijahit lukanya……
10 menit kemudian, Sutomo sudah berbaring di sofa. Pinggang dibalut dengan kain kasa yang lebarnya lebih dari 30 cm. Dia sedang meminum air gula merah yang dibelikan oleh Alura. Keningnya penuh dengan keringat dingin, dia berkata, “Kak Alura, terima kasih telah menyelamatkanku!”
Alura sudah ganti baju, seperti tidak terjadi apapun, “Kamu jangan berterima kasih kepadaku. Terima kasihlah kepada Kak Toro! Dia yang menyuruh teman-teman untuk menyelamatkanmu.”
Sutomo melihat Toro sebentar, dia merasa pernah bertemu dengannya. Lalu dia membuka mulutnya, tetapi tidak tahu mau berkata apa. Karena tidak tahu harus berbicara apa, dia hanya berkata, “Kak Toro, terima kasih!”
Toro berjalan ke depannya dan tersenyum ramah, “Kamu istirahat dulu. Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan. Tapi kamu harus menjawab pertanyaanku dulu. Kamu seharusnya bukan bos Geng Wustang, apakah Geng Wustang yang mengutus orang untuk membunuhmu?”
Macan Hitam memijat lehernya dan berkata, “Kak Toro, orang yang mengejar kami itu memiliki teknik menembak yang hebat.”
“Sialan, apakah kakimu kram? Macan Hitam, kamu masih sanggup gak?” Kata Tinju Besi menyindirnya.
Toro tidak ada waktu mendengar ocehan mereka. Dia menatap ke Sutomo, Sutomo mengepalkan tinjunya dan berkata, “Geng kecil di sini tidak mungkin punya pistol. Kalau bukan Geng Wustang pasti geng Tiga Sakti. Tapi geng Tiga Sakti tidak akan menyerangku karena Indra mati, mereka sudah mengatur orang baru. Jadi pasti orang dari Geng Wustang!”
“Kenapa geng kecil tidak mungkin memiliki pistol? Para pengawal bos juga kadang membawa pistol!” Toro merasa bocah ini terlalu yakin.
“Sepertinya kalian masih tidak mengerti dengan pinggiran barat. Dari sini 80 km ke arah barat adalah daerah pegunungan, di sana ada tentara kelompok ketiga Indonesia. Jadi kontrol terhadap senjata sangat ketat, apakah kalian tidak tahu pertarungan antar organisasi hitam, bahkan di kota Intan juga jarang kelihatan pistol?”
“Emang kenapa dengan area militer?” Toro tidak mengerti. Di Israel banyak orang bersenjata yang berani melawan tentara, walaupun di sini Indonesia, seharusnya tidak susah mendapatkan pistol.
“Pinggiran barat sangat luas, jumlah orang yang datang pergi juga banyak. Di sini sangat kacau, semua jenis orang ada di sini. Tetapi kantor polisi hanya ada 1 dengan belasan polisi dan belasan mobil polisi. Satu kekuatan kecil saja lebih banyak dari mereka, jadi tidak mungkin bisa mengontrol kondisi yang sudah kacau seperti ini. Ketika muncul pertempuran skal besar, polisi hanyalah pajangan. Hanya tentara dari gunung barat sana yang bisa menahannya!”
“Lanjutkan!”
“Aku ingat waktu itu Geng Bumi Langit, Geng Pelindung Naga dan Geng Naga Biru pernah bertempur dengan skala puluh ribuan orang di sini. Waktu itu aku masih seorang siswa dengan prestasi yang baik.”
__ADS_1
“Sialan, apakah bisa tidak mengungkit masa lalumu?”
“Gendut, diam!”
“Mereka bertarung selama 3 malam, jalanan pagi hari penuh dengan mayat. Hal ini akhirnya membuat pihak atas marah, mereka menurunkan tentara. Tetapi ketiga organisasi hitam yang besar ini punya senjata, bahkan ada yang memiliki tank, mereka sama sekali tidak takut dengan tentara. Tetapi para organisasi hitam ini hanyalah kekuatan yang bergerak di bawah tanah. Mereka mana berani bermusuhan dengan negara, pada akhirnya mereka menghentikan pertempurannya. Pihak atas mengutus seseorang untuk berdiskusi dengan ketiga bos geng itu, pada akhirnya terbentuk satu perjanjian, dilarang menggunakan segala jenis senjata api. Tapi pinggiran barat sudah bukan pinggiran barat yang dulu, sejak saat itu pribumi asli juga mulai meninggalkan daerah sini. Pemerintah sangat marah, kalau ketahuan geng mana yang menggunakan senjata api, mereka pasti akan menangkap ketua gengnya dan ditembak mati. Jadi sekarang sangat susah melihat pistol.”
Toro hanya berkata ooh. Ternyata di sini pernah ada sejarah yang begitu megah. Tapi orang yang tidak hidup di sini pasti tidak tahu, tidak ada media yang berani memberitakannya. Toro berpikir dalam hati kalau sekarang dia mendapatkan beberapa granat dan Ak-47 dan berhasil membunuh Abraham, Geng Pelindung Naga pasti akan ikut hancur.
Alura berkata, “Kak Toro, apakah kamu punya ide bagus?”
Toro batuk sekali dan berkata, “Masih belum ada. Sudahlah, biarkan Sutomo istirahat dulu. Gendut, Pisau Tajam dan juga Novianto kalian berempat, ikut aku ke atas.”
“Sekarang kita masih belum bisa menyentuh 3 geng itu. Yang penting kita jaga diri sendiri dulu. Apakah kalian ada pendapat lain?” Kata Toro sambil melihat ke semuanya, “Baik kalau tidak ada. Sekarang yang penting adalah anak buah Sutomo, kita harus mendapatkannya.”
Alura sedikit kesulitan dia berkata, “Kak Toro, kamu juga tahu, para anak buah Sutomo tidak bisa diselesaikan dengan uang. Mereka yang mengikutinya semuanya setia, kecuali Sutomo yang mengatakannya, kalau tidak, kita tidak bisa mengatur mereka.”
Toro mendengus dingin, “Tunggu dia muncul, semangat anak buahnya sudah hilang. Sekarang dia mengalami luka tembak, dengan pengalamanku seharusnya butuh waktu 1 bulan untuk sembuh. Menurut kamu dengan waktu 1 bulan, apakah Geng Wustang tidak bisa mencari orang untuk menggantikannya? Jangankan 1 bulan, dalam 3 hari pasti ada seseorang yang lebih hebat dari Sutomo. Saat itu semua investasi kita akan menghilang. Kalau diulang lagi, tidak tahu apa yang akan terjadi lagi.”
“Kak Toro, aku lebih bodoh, tidak tahu pemikiranku benar atau tidak!” Kata Pisau Tajam sambil berbisik.
“Kita adalah teman, katakan apa yang ingin kamu katakan!”
Dia belum selesai bicara, Toro langsung mengerti, “Betul kata Pisau Tajam. Memang tidak perlu sampai segitu, bocah ini pasti merahasiakan sesuatu, ayo kita tanya!”
Hendrawan berkata kepada Herman, “Herman, bocah ini boleh juga!”
“Kak Toro bilang ingin melatihnya, kamu suruh bos kasih tahu Phoenix hitam, biar dia yang latih bocah ini langsung.”
Punggung Pisau Tajam langsung keringat dingin, dia menoleh ke belakang dan menelan ludah, “Kakak berdua, aku hanyalah seorang siswa, mohon ampuni aku!”
“Kak Toro! Kak Alura!” Melihat Toro mereka turun, Sutomo langsung memanggil mereka.
Toro berkata, “Sutomo, aku punya pertanyaan dan butuh penjelasan kamu.”
“Kak Toro, silahkan!”
__ADS_1
“Kamu adalah orang Geng Wustang, seharusnya mengumpulkan anak buah akan membuat mereka senang. Karena dengan menambahkan sedikit, semua anak buah akan menjadi milik mereka. Kenapa mereka malah mau membunuhmu?”
Tiba-tiba, ekspresi Sutomo menjadi sangat jelek. Dia terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
Toro langsung mencekik lehernya dan berkata, “Cepat katakan. Kalau tidak, aku akan mengembalikan kamu ke Geng Wustang.”
Mungkin karena menyentuh luka Sutomo, dia langsung berteriak kesakitan. Keringat dingin terus bercucuran dari keningnya. Tapi mulutnya masih tetap keras, dia tidak mengatakan sesuatu yang penting. Dia hanya cerita bahwa mungkin orang Geng Wustang takut dia membuat geng baru.
Alura tersenyum dingin di samping, “Sutomo, aku juga orang Geng Wustang. Walaupun tidak tahu bos kamu menyuruh kamu melakukan apa, tapi pasti bukan ini. Kamu sebaiknya berkata dengan jujur, karena sekarang kamu tidak ada jalan mundur lagi. Mengikuti Kak Toro selain bisa hidup, kamu juga bisa ikut berhasil.”
Ketika Toro melepaskannya, Sutomo berpikir 1 menit lebih. Dia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Sebenarnya karena penjualan narkoba di pinggiran barat, semuanya dikerjain oleh aku dan bawahanku. Penjualan Geng Wustang di sini mencakup 60% dari seluruh kota Intan.”
Toro teringat kejadian di tempat disko kemarin, dia bertanya, “Berapa jumlah spesifiknya?”
“Dalam 1 – 2 bulan sekitar 3.000 kg – 4.000 kg. Kita juga harus melihat jumlah pemesanan barang dari luar!”
Toro berpikir dalam hati, 50 kg juga ada 60 lebih bungkus lebih, “Barang sebanyak itu, semuanya diserahkan kepada kamu?”
“Kak Toro, kamu jangan lupa. Walaupun aku tidak begitu masuk kelas, tapi aku juga siswa di sini. Selain itu, aku juga penduduk lokal, sehingga sangat jelas dengan area sini. Walaupun ketahuan oleh polisi, aku bisa menggunakan anak buah. Yang paling penting adalah Geng Wustang tidak akan terpengaruh.”
“Masuk akal!” Kata Toro sambil menepuk area yang diperban, membuat Sutomo berteriak sakit.
“Tidak mungkin tempat seperti ini bisa berkembang. Tidak perlu dorongan pemerintah, tidak sampai 3 tahun semua orang yang menggunakan narkoba pasti akan mati!” Toro menghela nafas. Sepertinya sistem di sini sudah harus diperbaiki, mungkin sudah saatnya untuk pergi mencari kepala daerah yang baru itu. Ada kelemahan ini di tangan Toro, dia pasti akan mengalah lebih banyak lagi.
“Sutomo, kenapa geng lain bisa menahan diri dengan Geng Wustang?”
Sutomo tersenyum pahit, dia berkata, “Karena aku sudah memutuskan untuk mengikuti kalian, aku akan berkata jujur. Geng besar seperti Geng Bumi Langit, Geng Pelindung Naga dan Geng Naga Biru, mereka tidak tertarik dengan keuntungan kecil narkoba. Mereka lebih suka penyelundupan, membuat perusahaan dan IPO. Lalu geng kelas dua seperti Geng Wustang dan Geng Tiga Sakit, mereka tentu tidak akan membiarkannya. Indra yang dibunuh oleh kalian juga melakukan hal yang sama denganku!”
“Sebenarnya dulu pinggiran barat ada pengembangan. Waktu itu pemerintah sudah membeli banyak tanah dari rakyatnya, generasi orang tua kami sudah mendapatkan banyak uang. Yang sedikit ada ratusan juta, lalu paling banyak bisa sampai miliaran. Tapi, geng kelas dua membuat sebuah kesepakatan, mereka memasukkan heroin ke dalam pil ekstasi. Orang-orang yang memiliki uang pasti akan melakukan hal jahat, mereka mengira pil ekstasi tidak masalah. Tetapi mereka tidak pernah menyangka bisa dijebak. Setelah menyentuh barang-barang itu, orang-orang akan menjadi buas dan liar. Kemudian mereka memasukkan tempat judi. Narkoba dan judi langsung mendatangkan pemasukan ke dompet mereka.”
“Sutomo, aku telah meremehkanmu. Ternyata kamu tahu begitu banyak hal!” Kata Alura sambil mengacungkan jempol.
Toro juga terkejut dengan proses operasionalnya. Melihat sebuah tempat punya uang, dengan dua acara tadi, dalam beberapa tahun tempat itu akan menjadi pinggiran barat yang baru. Mungkin di antaranya ada sesuatu yang tidak boleh diungkapkan, tetapi hal seperti ini hanya perlu kita ketahui, tidak boleh dibocorkan.
Alura melotot sebentar ke Toro, Toro tahu Alura sedang bertanya harus bagaimana sekarang. Toro hanya bisa memijat keningnya, dia sudah lama tidak melakukannya. Tetapi itu membuktikan dia juga tidak tahu harus bagaimana sekarang. Tapi geng kelas dua ini sudah keterlaluan, mereka sudah melakukan hal yang terlalu jahat, hati nurani mereka sudah hilang juga.
__ADS_1