
Satu jam kemudian.
“Nik, aku ke toilet dulu ya!”
“Iya!” kata Nikita sambil menunjuk ke arah toilet. Dia kemudian mengangkat gelas kopi dan meneguknya, tiba-tiba dia kaget, “Nes, tunggu bentar. Aduh, kenapa sih hari ini?”
Melihat temannya sudah membuka pintu, Nikita langsung berlari ke arahnya. Tetapi di dalam tidak ada orang sama sekali, orang yang dipanggil Agnes itu tersenyum, “Kenapa? Kamu nyembunyiin pria di dalam?”
“Ti, tidak, mana mungkin!” kata Nikita mendorongnya masuk ke dalam, “Siapapun tahu aku wanita suci di dunia film, mana mungkin aku menyembunyikan pria!”
“Baguslah!” kata Agnus sambil menutup pintu.
“Ke mana Toro pergi?” Nikita mulai curiga kalau Toro sudah pergi, dia mencari di seluruh sudut rumah dan tidak menemukan Toro.
“Beneran sudah pergi? Aduh, kenapa dengan aku ini, ada saja yang dilupakan!”
Toro tentu belum pergi, dia sedang merias dirinya di dalam, ketika sudah selesai, dia hanya perlu mencari sebuah pakaian wanita. Ketika ingin keluar diam-diam dan mengambil baju Nikita, pintunya tiba-tiba terbuka.
Ketika mendengar suara wanita itu, dia langsung meloncat dan bersembunyi sudut. Dia pasti bisa bertahan sampai wanita ini pergi, sekarang dia hanya bisa berdoa, “Jangan angkat kepala, jangan angkat kepala, aku mohon kakak!”
Namun, Toro mulai memperhatikan Agnes, umurnya seharusnya lebih tua 3 – 4 tahun dari Nikita. Pakaiannya terlihat sangat biasa dan tingginya sekitar 170 cm. Dia memakai korset berwarna putih di pinggangnya yang membuat kedua dada yang membanggakan itu semakin menarik perhatian.
Apalagi ketika dia sedang duduk, gayanya sangat mirip seperti seorang ratu. Dari kerah bajunya, Toro bisa melihat dua bongkah kulit putih yang begitu menggoda. Ketika wanita itu sedang mengatur posisi, kedua bongkahan itu ikut bergerak, kelihatannya begitu lembut. Semua ini membuat Toro sedikit bergairah, dia mulai merasa dirinya adalah penguntit.
Tiga menit kemudian, Toro mulai merasakan panas pada hidungnya, kaki dan tangan mulai terasa pegal. Wanita itu pelan-pelan melepaskan korset, kemudian membiarkan kedua gunung yang sangat lembut itu terpampang keluar, setelah membenarkan bra, dia memakai korsetnya lagi.
Dengan pengalaman Toro selama ini, besar dan lembut serta tidak keras, ditambah pantulan cahaya dari kulitnya yang putih itu, seharusnya bisa digenggam dengan satu tangan. Jika punya kesempatan menghabiskan malam dengan wanita ini, apa mungkin dia bisa membantunya memperbesar kedua gunungnya itu?
“Aah!” suara teriakan wanita terdengar ke seluruh villa.
Toro merenggangkan kaki dan tangan, kemudian pelan-pelan turun ke bawah. Sambil mengibaskan poni (sebenarnya dia tidak punya), dia mengulurkan tangan ke arah wanita itu, “Kamu tidak apa-apa?”
“Kenapa?” Nikita sudah masuk ke dalam. Dia tertegun melihat Toro masih berada di dalam. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan pria di depannya sekarang.
Wanita itu pelan-pelan berdiri, dia meantap Toro dengan kaget. Lalu bertanya, “Nik, sekarang akhirnya aku mengerti kenapa kamu tidak mau cari pacar!”
“Nes, dengarkan penjelasanku. Dia tidak sengaja, aduh, tolong dengarkan penjelasanku!”
Namun, ada yang aneh dengan tatapan Toro pada Agnes, Agnes menghampiri Nikita dan menepuk punggungnya, “Ternyata kamu sudah mulai melangkah ke global, tapi seleramu kayaknya agak buruk? Puft…haha…” dia berjalan keluar sambil tertawa.
Ketika Toro perlahan berbalik, akhirnya dia mengerti kenapa Agnes bisa tertawa sekeras itu. Ternyata sekarang Toro adalah seorang wanita, dia merias dirinya menjadi seorang wanita. Walaupun jelek, tetapi orang asing tidak akan bisa mengenalinya. Tetapi karena Toro memakai jas yang rapi, makanya Agnes jadi salah paham.
“Nes, bukan seperti yang kamu bayangkan. Dengarkan penjelasanku dulu!”
“Kalau begitu jelaskan, aku akan mendengarnya!”
“Aku normal!”
“Lalu, gimana dengan orang itu?”
“Sulit dijelaskan!”
“Jadi ya tidak perlu dijelaskan. Kenapa harus omong kosong agar orang lain percaya?”
“Toro, cepat hapus riasanmu. Siapa suruh dia menertawakanku, cepat buat dia ketakutan.”
Toro terdiam, dia baru saja mengagumi ketampanannya, kenapa Nikita malah berkata seperti dia memiliki wajah yang jelek. Tetapi dia sudah mulai melepaskan wig dan menghapus riasan di wajahnya. Lebih baik ada seorang pria di rumah, daripada membuat orang lain mengira Nikita sudah tidak normal!
“Haha…nah gimana sekarang?” kata Nikita ketika melihat Agnes bengong menatap Toro yang begitu tampan. Selain memiliki aura bangsawan, dia juga memiliki 1/3 darah biru.
__ADS_1
Tentu saja semua itu adalah anggapan Toro sendiri. Dia tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Agnes, “Halo, aku Toro.”
“Agnes!” kata Agnes sambil mengulurkan tangannya setelah beberapa saat, setelah mereka saling berjabat tangan, “Tadi…”
“Tadi aku tertidur!” kata Toro sambil tersenyum, “Kayaknya aku pernah melihatmu!”
Nikita akhirnya berhenti tertawa, dia sudah terjatuh ke sofa karena kecapekan tertawa, “Toro, dia adalah penyanyi, kamu tidak pernah melihatnya di tv?”
Toro berusaha mengingatnya, sepertinya dia memang pernah melihatnya. Dengan ekspresi yang beragam, hanya perlu satu tatapan, memang betul hanya dengan tatapan saja dia bisa membuat penggemar marah hingga menangis. Dialah penyanyi, diva yang sangat berpengaruh di dunia hiburan. Hanya saja terlihat berbeda dengan ketika berada di tv.
Agnes tidak berani berbicara, dia juga tidak tahu harus berkata apa. Apa yang telah dia lihat tadi? Apa yang aku lakukan tadi? Apa dia melihat semuanya? Ah, mau taruh di mana mukaku? Nikita sialan, kenapa tidak bilang ada pria di dalam?
Nikita menepuknya, “Nes, kamu kenapa?”
“Ti, tidak apa-apa!” kata Agnes dengan wajah memerah. Dia tidak memiliki akting sebagus Nikita, apalagi melihat Toro yang duduk di sofa dan meminum kopi dengan tenang.
“Nes, ngakak banget!”
“Diam, kalau kamu berani ketawa, aku tidak akan menjengukmu lagi!”
Toro menggaruk kepala dan bertanya, “Apa yang lucu? Sepertinya aku ketinggalan.”
Agnes memelototinya, “Kamu lagi minum kopiku!”
“Oh, maaf!”
Toro tertegun, hatinya seperti digenggam erat olehnya tadi. Entah kenapa hanya dengan satu tatapan tajam saja bisa begitu mempesona. Sebuah perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, mungkin ini adalah aura ratu yang dibicarakan orang-orang. Bahkan penerus Ratus dari salah satu negara yang pernah Toro temui juga kalah dengannya.
Mereka bertiga terlihat sangat canggung, setelah berbicara beberapa kata, mereka kembali ke kondisi canggung. Agnes lalu berdiri, “Sudah malam, aku pulang dulu!”
Toro juga, “Aku juga mau pulang!”
Nikita hanya mengiyakan, “Kalau begitu jangan lupa datang ke sini kalau ada waktu. Toro, kamu antar Agnes saja.”
Setelah keluar dari rumah Nikita, kedua wanita itu saling berpelukan, setelah itu Agnes menyuruh Nikita kembali. Nikita takut Agnes marah jika dia tidak mau, jadi dia segera kembali ke rumah.
Toro menggunakan keahliannya, cuma smartlock doang, kan? Dia bisa membukanya dengan gampang, lalu mengemudikan mobilnya dari rumah dan berhenti di depan Agnes. Dia membuka jendela mobil, dan berkata, “Nes, biar aku anter!”
Agnes memelototinya lagi, “Jangan ikutin aku, aku tidak tertarik padamu.”
“Tapi aku tertarik padamu, kalau hari ini kamu tidak masuk ke mobilku, aku akan memberitahu Nikita tentang kejadian hari ini!”
Agnes akhirnya masuk ke dalam mobil, dia duduk di samping Toro dengan wajah memerah, “Siapa tadi namamu, cepat…”
“Toro!”
“Iya, Toro, aku peringatkan ya, kalau kamu berani menyebarkan kejadian hari ini, aku tidak akan mengampunimu!”
“Itu semua tergantung kamu!”
“Huh, oke, mau ke mana? Cepat jalan.” kata Agnes memelototi Toro, “Kalau sampai para fans ku tahu aku masuk ke mobil orang asing, aku pasti akan mampus.”
“Tenang saja, aku akan membawamu ke tempat yang tidak ada fans mu, semuanya adalah fans ku!”
“Kamu juga penyanyi?”
“Hehe, kamu akan tahu saat sampai!”
Pinggiran barat, tempat disko Banara.
__ADS_1
“Sialan!”
“Beruntung sekali!”
“Bener-bener cantik!”
Suara kaget para preman tak hentinya terdengar, Toro sudah menendang sekitar 3 orang, “Sialan, hari ini aku sudah booking tempatnya. Selain teman-temanku, orang lain tidak boleh masuk!”
“Kak, kak Toro, bukannya itu si dia? Giaman kamu mendapatkannya?!” kata Alura yang kesemsem.
Toro tersenyum dingin, “Sebenarnya sangat gampang! Hanya saja…”
“Hanya saja kenapa?”
“Aku tidak boleh mengatakan rahasia ini!”
“Sialan, kak Toro tidak setia kawan!”
“Hehe, sebenarnya aku fans mu, boleh minta tanda tangan tidak? Langsung di lenganku saja!” kata Sutomo yang juga sama saja, “Kamu hanya perlu menuliskan Agnes pernah datang ke sini, boleh? Kok diam saja, tidak boleh? Kalau begitu tulis saja Sutomo, Agnes suka padamu. Sialan, boleh atau tidak?!”
“Aku juga mau, aku juga mau!” para teman-teman geng Naga Langit yang lain juga mulai heboh.
Agnes ketakutan sampai bersembunyi di belakang Toro, “Hei, tempat apa ini? Kenapa kamu membawaku ke sini? Cepat antar aku pulang!”
Toro marah, “Pergi semua, minggir. Hari ini seperti biasa hanya boleh wanita yang masuk, selain teman-teman sendiri, berapapun uang yang mereka tawarkan, tidak ada yang boleh masuk!”
“Sejak kapan ada aturan seperti itu?” kata Iblis sambil berjalan kemari dengan 11 orang pengawalnya, ketika melihat Agnes, dia langsung melemparkan jaket kulitnya, “Tuhanku, ternyata Engkau masih ada.”
Agnes bertanya kepada Toro, “Siapa kalian sebenarnya?”
Toro menaikkan bahunya, “Teman-teman, kasih tahu si cantik kita, siapa kita sebenarnya?”
“Geng Naga Langit!”
“Organisasi hitam!”
“Sudah dengar? Kami adalah geng Naga Langit, apa ada pertanyaan lain?”
Setelah 1 jam kemudian, tempat ini penuh untuk pertama kalinya sehingga jadi berdesakan. Selain para pria geng Naga Langit, semuanya adalah fans wanita Agnes. Toro sudah berjanji kepadanya, setelah tiga lagu, dia akan mambawanya pergi. Agnes sedang bersiap di ruang dandan sekarang.
“Kak, kamu sangat disayangkan jika tidak masuk organisasi hitam!”
“Kenapa?”
“Huh, sekarang di depan penuh dengan preman-preman yang ingin bergabung dengan geng Naga Langit, sepertinya seorang artis sangat berpengaruh!”
“Hehe, periksa baik-baik. Jangan sampai mata-mata geng lain masuk ke tempat kita.”
“Tidak masalah.”
Toro masuk ke dalam ruang dandan, dia melihat Agnes sudah memakai pakaian berwarna perak dengan sayap kecil. Pakaian yang seksi ini memperlihatkan kulit putihnya yang mulus. Dia memelototi Toro dan berkata, “Ternyata kamu seorang bos. Tetapi kamu tidak boleh mengingkar janji, kamu harus membawaku pergi setelah selesai.”
“Pasti, aku tidak pernah ingkar janji. Sebenarnya aku membawamu kesini hanya berharap bisa membuat tempatku lebih ramai lagi, tidak ada maksud lain!”
“Oke, aku akan mempercayaimu, tapi kalau kamu berani bersikap keterlaluan, aku juga kenal orang organisasi hitam, dan juga pasti lebih hebat darimu. Kamu tunggu saja nanti!”
Toro tersenyum, sebenarnya ketika melihat Agnes berpamitan dengan Nikita, dia sudah tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya. Iblis sudah menyinggung geng Pelindung Naga, jadi dia membutuhkan lebih banyak anak buah lagi. Dengan pengaruh seorang artis, ditambah Iblis yang baru saja membunuh Cahaya, nama geng Naga Langit pasti akan semakin bersinar.
Semuanya akan berkata: Geng Naga Langit sangat hebat, selain namanya yang sedikit norak, ketua geng Naga langit membunuh ketua geng Pelindung Naga, dan mereka juga bisa mengundang seorang diva, kita tidak salah bergabung dengan geng sehebat ini.
__ADS_1