Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Ulang Tahun Sahabat


__ADS_3

Toro ditarik semakin dekat, dia juga mulai merasa tegang, tetapi lebih ke bergairah. Bagian bawah tubuhnya seperti akan menusuk keluar dari celananya. Janice malah meletakkan kedua pahanya di atas paha Toro dan sengaja menggesekkannya.


Toro berteriak dalam hati. Sepertinya putri ini akan menjadi ratu malam ini, dia juga tidak bisa tidur. Tapi, Toro bisa menyentuh wanita manapun, tetapi tidak dengan Janice yang baru kehilangan keluarganya. Dia berusaha menahan api dalam tubuhnya, tiba-tiba dia berkata, “Janice, sudah malam, besok aku masih ada urusan. Jangan mengacau.”


Dari awal Janice sudah panik, ketika mendengar ucapan Toro, dia langsung menarik kakinya. Tetapi badannya masih menempel di pelukan Toro, dia suka dengan pria yang memiliki rasa aman ini, hanya saja dia tidak pernah melakukan hal yang begitu berani seperti sekarang kepada pria ini.


Toro memeluk pinggang ramping itu dan berusaha menjaga jarak. Akhirnya perasaannya pelan-pelan tenang kembali. Tapi Janice tetap tidak mau tenang, kedua tangannya terus mengelus pipi dan dada Toro. Kali ini Toro lebih menderita lagi, dia terpaksa menahan diri dan berharap Janice mundur sendiri.


Tapi Janice mengira Toro menerimanya, dia semakin berani. Bibir seksinya mulai mencium dada Toro, terkadang dia menjulurkan lidah dan menjilatinya. Dia mengikuti dagu Toro dan terus mencari mulutnya.


Ketika kedua mulutnya saling beradu, teknik ciuman yang sangat mentah ini begitu menggoda. Toro mulai menatap seluruh tubuh yang menggoda di balik pakaian tidur yang seksi itu, ketika merasa tidak bisa menahannya lagi, tiba-tiba di pikiran Toro muncul ekspresi wajah Kirania. Dia seperti tersadar dari mabuk birahinya, tangannya langsung menepuk pantat Janice dan berkata, “Janice, tidak boleh nakal lagi!”


Janice malah tidak menghindar, dengan ekspresi yang bahagia dia langsung memeluk Toro dan berkata dengan manja, “Aku akan nakal untukmu!”


Api birahi menyerang tubuh Toro, tapi dia tetap menahan diri dan menarik tangannya, “Kalau kamu asal pegang lagi, aku akan tidur di ruang tamu!”


Janice yang kaget langsung melepaskan tangannya, tapi dia tetap tidak mau menyerah dan membuang nafas panas ke telinga Toro, “Kalau begitu Kak Toro cium aku dulu, harus cium mulut!”


Toro tidak berdaya, setelah menelan ludah, dia langsung mencium mulut Janice. Kemudian langsung berbalik dan tidur terlentang, sekarang Janice seperti seekor monyet yang merangkak di dada Toro, sambil mengambil lingkaran dia bertanya, “Kak Toro, apakah kamu masih menyukaiku?”


“Tentu suka!” Jawab Toro dengan pelan, “Kamu akan selalu menjadi Janice aku!”


“Apakah cinta aku juga?”


Toro juga tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Sama dengan Kirania, dia juga tidak berharap Janice masuk ke dunianya. Paling tidak sekarang tidak boleh, dia mencubit hidung Janice dan berkata, “Cepat tidur, kalau tidak aku tidak mau menemanimu lagi.”


Janice menjulurkan lidahnya dan akhirnya tenang. Walaupun malam ini dia tidak berhasil, tapi waktu masih panjang, suatu hari Toro akan menjadi miliknya. Sambil berfikir dia tersenyum sendiri, tapi mungkin karena sudah malam, Janice juga langsung tertidur.


Toro malah tidak bisa tidur, di benaknya sangat kacau sekarang. Janice yang begitu aktif membuat dia tidak mengerti apa yang dia inginkan. Dia baru saja kehilangan ayahnya, sekarang dia menjadi keluarga satu-satunya Janice. Kalau dia menolaknya dengan keras, putri ini pasti tidak bisa menerimanya! Kalau terus begini, pasti akan terjadi masalah. Bagaimana kalau suatu hari dia tidak bisa mengontrol dirinya? Dan juga ada Kirania, ini juga masalah yang memusingkan.


Ketika bangun, Toro malah dikejutkan oleh dirinya sendiri. Tidak tahu sejak kapan, dia sudah membuka baju tidur Janice. Dagunya bersandar di bahu Janice, tangannya sedang memegang dada yang membanggakan itu, jari-jarinya juga menjepit buah ceri yang berwarna merah itu. Rasa ini membuat Toro sampai lupa melepaskan tangannya.

__ADS_1


Setelah tertegun lama, Toro akhirnya melepaskan tangannya. Walaupun sebenarnya dia tidak rela. Janice yang merasakan kepergian tangan besar dari dadanya langsung membuka matanya dengan lebar, sambil menggigit bibir mungilnya dia berkata, “Kak Toro, aku adalah wanitamu!”


“Apanya wanitaku?” Toro langsung duduk sambil merokok, dia berkata, “Ketika dua orang saling mencintai, baru bisa dinamakan pasangan. Kita tidak punya cinta.”


“Aku menyukaimu, kamu juga menyukaiku, bukannya ini cinta?”


“Cinta bukan seperti itu!”


“Kalau begitu kamu kasih tahu aku apa itu cinta?”


Toro juga susah menjawabnya, dia tidak tahu Janice sengaja atau tidak. Setelah memakai celananya dengan buru-buru, Toro berkata, “Sudah, hari ini bukan waktu terbaik untuk membahas ini. Aku masih ada urusan yang harus dikerjakan!” Selesai berkata, dia bergegas ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah keluar, dia melihat Janice sedang memotret dengan ponsel, Toro berkata, “Janice, malam ini aku pulang lebih malam, kamu makan sendiri saja!”


“Tapi kamu harus pulang!” Janice duduk dan menatap dada Toro yang begitu kekar, dia melanjutkan, “Semalam apapun, aku akan menunggumu pulang!”


Toro hanya tersenyum tidak berdaya. Setelah berpakaian rapi dan berpamitan, dia langsung membawa mobil ke salon. Hari ini dia harus menemani Kirania untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya.


Ekspresi Kirania terlihat seperti mengeluh, dia berkata, “Felicia bilang semalam kamu tidak tidur di salon, kamu ke mana?”


Di tanya seperti itu, Toro kaget karena ternyata ada mata-mata di sampingnya. Dia juga tidak bisa memberitahu yang sebenarnya, karena takut Kirania berfikir yang aneh-aneh. Dia lalu berkata, “Semalam aku bertemu beberapa teman dan main kartu semalaman di rumahnya. Ayo kita pergi beli hadiah untuk sahabatmu!”


“Benaran?”


“Benar! Kamu pergi atau tidak?”


“Baiklah, aku sementara percaya kepadamu. Ayo kita pergi!”


Duduk di mobil Toro, Kirania mulai melihat sana sini dan berkata, “Felysia bilang kamu bawa Lamborghini, aku kira dia salah orang, ternyata mobil ini beneran punyamu!” Seperti menemukan sesuatu, dia berkata, “Kamu masih bilang bukan generasi kedua yang kaya?”


Toro menggelengkan kepalanya, dia berkata, “Jujur aku kasih tahu, adikku yang membelikannya untukku. Kamu belum mengaji aku, mana ada uang?”

__ADS_1


“Apakah kamu tidak menyiapkan hadiah untuk sahabatku?” Kata Kirania menatap ke Toro.


Toro berkata, “Sekarang aku adalah pacarmu, kalau kamu sudah siapkan sudah cukup. Lagian aku tidak tahu harus memberikan apa untuk wanita, kalau kamu merasa tidak bisa, kita bisa pergi beli dulu, uangnya potong dari gaji.”


“Sudahlah, sudah terlambat. Sahabatku menyuruhku datang lebih awal, sekarang sudah sangat malam!”


Sampai ke rumah sahabatnya, mobilnya terparkir di halaman sebuah rumah 3 tingkat. Dari semua mobil yang terparkir, ada 20an lebih mobil yang berharga miliaran. Walaupun Lamborghini Toro juga tidak bisa terlihat keren, bahkan ada beberapa yang bernilai belasan miliar.


Ketika mereka berjalan masuk, seorang wanita berumur 23 24 tahun datang menyambut mereka dengan pakaian seorang putri yang cantik. Dia memeluk Kirania sebentar dan berkata, “Kak Kirania, aku sudah menyuruhmu datang lebih awal, kenapa sekarang baru sampai?”


Kirania tersenyum dan berkata, “Macet di jalan, kamu juga tahu!”


“Ei, ini adalah pacarmu?” Wanita itu melihat Toro dari atas ke bawah, dia berkata, “Ternyata memang terlihat sangat tampan dan berbakat. Kak Kirania memang hebat, kalau ada pria tampan seperti ini juga boleh kenalin aku!”


“Dayana, kamu jangan genit gitu!” Kata Kirania sambil melirik ke Toro, dia berkata, “Namanya Toro Margens!”


“Halo kak ipar, namaku Dayana Fransiska!”


Melihat tangan yang kecil, Toro menjabatnya dengan pelan dan berkata, “Halo, selamat ulang tahun. Kirania, cepat keluarkan hadiah kita!”


Setelah menerima hadiah Kirania, Dayana tidak sabar untuk membuka hadiahnya. Di dalam kotak itu ada batu giok Maitreya. Tekstur batu gioknya sempurna dan sangat bagus. Jelas sekali nilainya sangat tinggi. Dia segera memeluk Kirania dan berkata, “Aku tahu bahwa Kak Kirania adalah yang paling baik!” Dia juga berkata kepada Toro, “Terima kasih. Kakak ipar!”


“Sama-sama!” Kata Kirania menatap ke dalam, dia berkata, “Mana Paman Carlos? Kenapa tidak melihatnya?”


“Dia sedang menyapa teman-temannya. Kita tidak perlu mempedulikannya!” Kata Dayana yang terlihat tidak berdaya, dengan suara kecil dia bertanya, “Kapan kalian akan mengadakan acara tunangan? Aku ingin menjadi pengiring pengantin!”


Kirania yang ditanya langsung malu, dia sudah menyatakan cinta kepada Toro semalam, tapi tidak mendapatkan jawaban yang jelas. Tapi juga tidak ditolak, hatinya masih penuh dengan harapan. Mana mungkin tidak malu sekarang, dia dengan wajah memerah menjentikkan jari ke kening Dayang, “Dayana, kenapa kamu menjadi jahat? Kita belum mempertimbangkannya!”


Dayana tertawa senang, sebagai sesame wanita dan juga sahabatnya Kirania, mana mungkin dia tidak tahu pemikiran sahabatnya. Walaupun pertama kali bertemu Toro, tapi pria ini memberikan rasa nyaman ketika berada di sampingnya. Dia juga merasa iri dengan Kirania, “Kak Kirania jangan marah! Jangan lupa beritahu aku nanti ya!”


Kirania yang ingin berbicara terdiam lagi, dia takut Dayan mengatakan sesuatu yang membuatnya canggung lagi. Dia langsung mengalihkan pembicaraannya.

__ADS_1


Saat ini, beberapa anak muda turun dari mobil mereka, salah satu yang berada di depan adalah Byakta. Ketika sedang menyapa temannya, dia melihat Toro, tatapannya langsung menjadi kesal.


__ADS_2