
Setelah beberapa jam, Byakta duduk di rumahnya dengan kesal, ada koyo yang menempel di kepalanya. Dia menelepon ayah Kirania, dan baru tahu kalau ayahnya juga tidak tahu kalau Kirania sudah punya pacar. Setelah berpikir sesaat, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon lagi, ketika teleponnya tersambung, dia berkata, “Sunakim, aku Byakta Mandala. Bantu periksa seseorang untukku.”
Lawan bicaranya sedang memikirkan bagaimana bisa mempunyai hubungan dengan orang kaya, ketika mendapatkan telepon dan merasa dirinya akan berguna untuknya, dia langsung tersenyum dan berkata, “Kak Byakta, sejak berada di kasino kemarin, kita tidak pernah berbicara lagi. Ada masalah apa anda mencariku, selama bisa aku lakukan, yang lain pasti juga akan membantu kak Byakta!”
Byakta yang mendengarnya langsung merasa lega, dia tidak mengatakan kenapa Toro mengganggunya. Dia hanya menyuruh Sunakim untuk mencari tahu latar belakang orang ini, kalau dia tidak punya latar belakang, maka mereka akan pergi menghajarnya. Sepasang tangan dan kaki masing-masing 200 juta, kalau empat-empatnya cacat, akan ditambahkan 200 juta lagi.
Sunakim adalah bos kecil di sebuah kasiono, dia memiliki belasan bawahan. Byakta tentu tidak peduli dengannya, dia hanya mengenalnya di kasino. Tapi karena bertemu dengan kejadian seperti ini, dia harus mencari orang ini, karena segala sesuatu yang bisa diselesaikan dengan uang, dia akan sangat senang memelihara bawahan seperti ini.
Sebenarnya Toro tentu tahu bahwa Byakta tidak akan melepaskannya begitu saja walaupun tanpa peringatan dari Kirania. Dia menggunakan komputer di salon untuk melihat email pribadinya, di dalamnya penuh dengan pesan dari sahabatnya yang menanyakan kabarnya. Ada seorang sahabatnya yang meninggal ketika menjalankan tugas. Dia tidak sedih, karena sudah terbiasa dengan orang-orang yang datang dan pergi di sekitarnya.
Pada malam hari, Felysia memberikan sebuah seragam baru. Sambil tersenyum dia berkata, “Kak Toro, seragam ini dipesan langsung oleh kak Kirania. Lebih bagus dari seragam satpam yang biasanya, cepat ganti!”
Kirania berjalan menghampiri, Felysia menyapanya dan berjalan pergi. Dengan ekspresi dingin berkata, “Cepat ganti bajunya, dan pergi berjaga!”
Toro tidak mempedulikannya, dia tentu tahu Kirania sedang memarahinya. Dia berjalan ke kamarnya, ketika sedang membuka bajunya, dia melihat pintunya terbuka. Kirania melihat Toro sebentar, kemudian duduk di ranjangnya.
“Kenapa kamu ikut masuk?”
__ADS_1
“Melakukan hal yang aku suka!” Kata Kirania sambil mendengus. Toro hanya tersenyum, dia mulai melepaskan pakaiannya sampai hanya tersisa ****** ********. Kirania sekali lagi menaruh perhatian ke bekas luka di tubuh kekar itu, mungkin karena dia yang selalu hidup di kota, jadi sangat penasaran dengan hal seperti ini.
“Bagaimana kamu bisa mendapatkan luka seperti itu?” Kata Kirania yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Bagian mana maksudmu?” Kata Toro dengan senyuman yang menggoda dan sedikit tidak sopan, dia berkata, “Bekas luka 30 cm di punggung adalah luka tebasan pisau, ditebas oleh pisau Gurkha.”
Sambil berkata, dia membalikkan badannya. Ada beberapa luka berantakan seukuran ibu jari di sisi kanan tubuh bagian atas, dia berkata, “Yang ini disebabkan oleh Remington Model 870.” Kemudian dia menunjuk ke arah pahanya, “Yang ini, karena jeratan tali kawat!”
Kirania terus mengangguk seperti anak ayam yang sedang makan padi, dia merasa sangat terkejut. Bekas luka ditubuh Toro sangat banyak, dia berkata, “Semua ini bekas luka ketika masih muda, aku tidak memperkenalkan satu per satu lagi. Kalau tidak, hari ini tidak perlu kerja!”
Toro menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak pernah. Tapi aku pernah menjadi pengawal pribadi dan menerima pelatihan tentara. Kenapa? Sudah puas lihatnya?”
“Pergi!” Kata Kirania sambil melototnya, “Cepat pakai bajunya dan pergi jaga pintu. Aku tidak ingin melihat para pria busuk masuk ke dalam.”
Jam 8 malam, beberapa pelanggan wanita mulai berjalan masuk. Toro membantu membukakan pintu mobil, ada beberapa yang tidak jago menyetir, dia harus membantu mereka memarkirkan mobilnya. Beberapa nona dan nyonya juga tidak bisa menahan diri untuk menatap satpam tampan ini, bahkan ada yang memberikan tips 100 ribu sampai 200 ribu kepadanya.
Selesai memarkirkan mobil, Toro membawa tipsnya dan pergi memberi Sigaret Kretek Mesin (SKM). Ketika ingin membukanya, dia melihat sebuah mobil Buick G18 model tua berhenti di depan pintu. Dia sedikit bingung, wanita biasanya jarang menggunakan mobil seperti ini untuk datang ke salon kecantikan.
__ADS_1
Dia memasukkan rokoknya dan bersiap untuk membukakan pintunya mobilnya, tetapi pintunya tiba-tiba terbuka, dari dalam turun seorang pria berkulit hitam yang terlihat sangar. Kemudian dari mobil juga turun kira-kira 8 anak muda bertato. Mereka langsung menatap ke arah salon kecantikan sini.
“Ini dia!” Pria yang memimpin di depan mengangguk, dia memakai singlet berwarna hitam dan memperlihatkan otot kekarnya. Di bahunya ada tato naga merah yang melewati bahu, kepala naganya berada di dada bagian kiri atas, setengah dari kepala naganya tertutup oleh singlet.
Melihat beberapa orang berjalan ke arah salon, Toro langsung menahannya, “Ini adalah salon kecantikan wanita, kami tidak menerima pelanggan pria!”
Pria yang memimpin di depan melotot ke Toro, dan langsung mendorongnya, “Tahu diri sedikit, kami datang berbisnis dengan bos kalian!”
“Berbisnis?” Toro tidak mengerti, dia tidak mendengar bahwa hari ini akan ada yang datang. Dia memang memperkirakan Byakta akan datang mencari masalah, tapi orang-orang ini sudah masuk ke dalam salon, dia pun juga mengikuti.
Tok Tok!
Baru masuk, salah satu anak muda langsung mengetuk meja resepsionis dan terus melihat tubuh Felysia dari atas ke bawah, dia berkata, “Adik kecil, Kami datang untuk bersenang-senang, cepat keluarkan semua wanita cantik di sini!”
__ADS_1