Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Menawan


__ADS_3

Di ranjang putri yang indah ini, sebuah lengan yang kekar sedang dijadikan bantal. Rambut pendek berwarna biru muda terkulai di dada Toro, rasa lembut menyelimut badani mereka. Janice meraba jenggot pendek toro sambil berkata, “Kak Toro, lenganmu masih begitu nyaman, lebih nyaman 100 kali lipat dari bantal.”


Toro meraba rambut pendek Janice, semuanya tampaknya telah kembali ke sebelumnya. Dari seorang pengawal pribadi dia naik ke atas ranjang Janice. Entah kenapa dia memiliki rasa kuat untuk melindungi wanita ini, tiba-tiba dia tersenyum dan berkata, “Lenganku ini akan selalu ada untukmu.”


Janice mengangguk sampai tersenyum, satu tangannya diletakkan di pinggang Toro, lalu berkata, “Kalau begitu seperti terakhir kali, kita tidur seperti itu!”


Toro punya rasa sayang yang tidak bisa diucapkan, terkadang dia merasa bukan rasa cinta, seperti rasa sayang kakak kepada adiknya. Dia berkata, “Kamu masih saja seorang putri yang belum dewasa.”


Janice bermalas-malasan di pelukan Toro, setelah sejenak dia berkata, “Kak Toro, aku sudah ngantuk. Aku mandi dulu baru tidur!”


“Pergi mandi sana!” Kata Toro sambil memukul pantat kucing malas ini.


Toro juga pergi mandi di kamar mandi satunya lagi. Dia memakai handuk dan duduk di atas ranjang, sambil mengeluarkan rokok, dia menyalakan dan mulai menikmatinya. Ketika dia sedang menikmati suasana ini, ponsel di celananya berbunyi. Dia berdiri dan mengeluarkan ponselnya, dia melihat sebuah pesan dari Kirania: Kapan kamu pulang?


Toro tiba-tiba merasa sangat tidak nyaman, dia pernah bertemu banyak wanita. Tapi semuanya memiliki sikap terbuka yang tidak terikat. Dia pertama kali bertemu dengan wanita seperti Kirania, dia tidak tahu harus pulang atau tidak sekarang. Setelah berfikir sejenak, dia membalasnya: Aku sangat sulit masuk ke dalam duniamu.

__ADS_1


Tidak sampai 20 detik, Kirania sudah membalas: Kamu sudah masuk.


Diberikan petunjuk seperti itu, Toro mulai merasa ragu. Sejak Kirania mengubah sikap dari membenci sampai seperti sekarang, dia merasa Kirania adalah orang yang baik. Dirinya juga memiliki kesan baik kepadanya. Tapi Kirania pasti tidak mengerti dunianya, apakah beneran ingin membawanya masuk?


Ketika Toro tidak tahu harus membalas apa, Kirania mengirimkan pesan lagi : Kenapa tidak berbicara?


Toro merasa kesulitan dalam hati, pada akhirnya dia menjawab : Biar aku pikirkan dulu.


Kirania baru selesai mandi, dia sedang berdiri di depan cermin dan mengagumi keindahan tubuhnya. Dia berpikir pria mana yang tidak akan tertarik padanya. Tetapi ketika melihat pesan dari Toro, dia langsung jongkok ke lantai dan mulai menangis. Dia sudah mengatakan begitu terang-terangan, kenapa Toro masih tidak mengerti, apakah Toro tidak menyukai dirinya?


Kembali ke ranjang, dia menghapus air matanya dan membalasnya : Aku mengerti. Setelah itu, dia mulai berpikir sendiri, Toro pasti sedang bersama adik kecil itu. Dia terus membaca ulang pesan dari Toro, lalu mencoba menghibur diri sendiri : Ternyata ini adalah rasanya cinta, tapi pria seperti ini membuat dirinya semakin mencintainya. Toro, aku tidak akan menyerah padamu.


Sekarang, di dalam hati Toro juga bergejolak, dia teringat semua kejadian dengan Kirania. Ketika dia sedang bengong, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Janice bertanya dari luar, “Kak Toro, apakah aku boleh masuk?”


Toro berusaha menenangkan diri, sambil tersenyum dia berkata, “Ayo masuk!”

__ADS_1


Ketika Janice mendorong pintu masuk, kedua mata Toro menyipit, ponselnya juga terjatuh ke ranjang.


Janice memakai pakaian tidur yang seksi dan menggoda. Dia juga terlihat berdandan dengan sepenuh hati, wangi parfumnya menyelimuti seluruh kamar. Toro terus menatap pakaian tidur berwarna hitam yang seksi itu, bagian dadanya berbentuk V yang sangat dalam. Kedua dada yang membanggakan itu terpampang keluar setengah. Di antara itu, dia bisa melihat kedua buah ceri yang berwarna merah muda.


Dia mengenakan celana pendek berbahan sutra putih yang mencolok di bawah tubuhnya, yang menunjukkan sosoknya yang menawan sepenuhnya.


Melihat Toro yang bengong, Janice merasa senang dalam hati. Dia berbalik dan menutup pintunya, kedua bokong yang indah itu membuat detak jantung Toro semakin cepat. Janice mematikan lampunya, di bawah cahaya lampu meja, dia langsung berbaring di dada Toro yang lapang itu tanpa mempedulikan Toro.


Kedua dada yang montok itu menempel erat di dada Toro, kekenyalan dan kelembutannya membuat Toro yang sudah lama puasa mulai merasa haus akan birahi. Bagian tubuh di dalam celana pendeknya mulai berdiri, dia berusaha tidak menyentuh tubuh indah Janice. Tapi seluruh tubuhnya terasa sangat tidak nyaman sekarang.


Janice menggerakkan rambut pendeknya yang basah, tetesan air seperti es beku yang terjatuh di tubuh Toro. Suara Janice terdengar centil, dia berkata, “Kak Toro, kita kembali lagi ke malam di mana kamu pergi itu. Seperti kamu tidak pernah meninggalkan aku.”


Tubuh Toro melengkung, seperti udang yang habis dimasak, karena takut Janice akan menyentuh bagian yang keras itu. Dia juga khawatir gerakannya akan terlalu besar, dan Janice akan menyadarinya. Seketika dia tidak tahu harus berbuat apa.


Janice sudah menyadari ereksi Toro dari tadi. Walaupun dia tidak pernah melakukannya, tapi dia mengetahui dari film, tv ataupun buku, bahwa ini adalah reaksi normal seorang pria. Pertama kali melihat barang seperti ini, hatinya sangat tegang, tetapi juga ada perasaan menanti dan menantang.

__ADS_1


“Janice, bukannya kamu sudah ngantuk? Kenapa tidak tidur?” Kata Toro yang berusaha mengalihkan pembicaraannya. Agar dia juga bisa menenangkan dirinya sendiri.


Tangan Janice mengikuti punggung Toro dan meluncur ke bawah, ketika sampai di bagian bokong yang kuat itu, dia meremasnya dengan sedikit kuat, “Sekarang aku tidak ngantuk, bolehkah kamu lebih dekat denganku?”


__ADS_2